
“Lebih baik asumsi dan spekulasi kita simpan dulu Wah, sampai kita mendapatkan sesuatu yang masuk diakal”
“Mudah-mudan bengi iki ( malam ini) keadaan gak berubah kayak kemarin Gel, tapi aku yakin kalau malam ini ada saja yang mulai ingin menunjukan dirinya Gel”
Aku kembali ke meja teman temanku, kami setuju untuk kembali ke hotel malam ini dengan catatan apabila terjadi sesuAtu yang membahayakan maka kami sepakat untuk pergi dari sana.
“Mbah Joyo, sedoyo pinten niki (mbah Joyo semuanya berapa ini)” tanyaku sambil menghitung dan memberitahu kepada mbah Joyo tentang apa saja yang kami pesan
“Semuanya 75 ribu mas” jawab mbah Joyo
Setelah aku membayar sejumlah uang kepada mbah Joyo kami pun menuju ke hotel Waji, selama perjalanan dari warkop menuju ke hotel, kami tidak merasakan adanya sesuatu yang mengerikan sama sekali. Tetapi ketika kami mulai memasuki gerbang hotel, suhu udara dan suasana pelan palan berubah.
“Jam berapa ini Gel” tanya Blewah
“22.15 Wah”
Kami langkahkan kaki melewati halaman gelap hotel yang lumayan luas, dan seperti biasanya aku merasa ada yang sedang mengamati kami, aku merasa ada seuatu yang sedang melihat ke arah kami yang sedang jalan.
“Mas, sampeyan merasa sesuatu ndak mas” tanya Tifano
“Jelas merasa Tif, hawane adem disini kan” jawabku singkat sambil melihat sekeliling halaman ini
Lampu halaman depan ini hanya ada di dekat pohon mangga, lampu itu pun redup, sama sekali tidak terang cahayanya, sehingga mulai dari gerbang hotel sampai di pohon mangga ini situasinya gelap!.
“Situasine tambah asik ae rek timbang tadi waktu sebelum kita ngopi nang mbah Joyo” teriak Blewah tiba-tiba
“Ssssst Wah jangan teriak teriak rek, ngawur ae situasi gini kamu malah teriak teriak gak karuan c*k” kata Glewo yang dari tadi hanya diam saja
Kami jalan pelan pelan, mataku selalu awas melihat ke sekeliling halaman hotel, karena semakin kesini, aku merasa semakin banyak yang mengamati kami dari berbagai sudut.
“Eh mas, eeee kita jadi masuk ke kamar ta mas. Apa ndak baiknya kita kembali ke warkop ae mas” tanya Broni yang keliatanya sedang ketakutan
“Ngapai nang warkop Bron, kita disini saja, jangan khawatir Bron, disini aman kok” jawabku
Kami sudah ada di depan kantor hotel yang nampak suram kalau dilihat dari sini, apalagi penerangan kantor itu hanya ada di tengah lorong kamar-kamar hotel.
Blewah bener-bener berani, sedari tadi dia selalu melihat ketiap sudut halaman hotel , tidak terkecuali di pohon mangga yang ada di depan kantor hotel. Kami berjalan memasuki celah yang tembus dengan lokasi bungalow.
Kamar 1+ sudah ada di depan kami , kamar itu gelap sekali keadaanya, bahkan aku bisa melihat meja kursi yang ada didalam kamar, hal ini karena gorden kamar itu tidak dalam keadaaan tertutup.
__ADS_1
Ketika kulirik kamar no 1+ itu aku melihat dengan jelas ada sesuatu yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada didalam kamar itu.
“Wah, sinio” kutarik Blewah yang posisinya ada di depan kami
“Liaten yang ada di kamar no 1+ itu Wah, koyoke ada yang sedang duduk di kursi dalam sana ya”
“IYo Gel, tadi aku juga wis lihat, tetapi aku diem aja, aku ndak mau bikin kalian ketakutan” bisik Blewah
“Tapi masalahe yang duduk disana itu keliatan nyata banget Wah, beda dengan mahluk halus, dia lebih terlihat nyata meskipun aku ndak bisa lihat dengan jelas” kataku kepada Blewah sambil kembali jalan
“Ada apa Gel” tanya Glewo
“Liaten yang ada di kamar nomor 1+ Wo” bisikku
“Heheheh kalau itu aku sudah lihat dari tadi Gel , ada yang lagi duduk santai disalam sana rek, mungkin dia sedang capek karena habis perjalanan luar kota” jawab Glewo
Kami sekarang melewati kamar no2+ yang kemarin kami lihat ada sesuatu yang berambut panjang dan kering melalui jendela samping, karena kemarin jendela bungalow ini tertutup rapat, tetapi sekarang keadaanya lain , gorden depan dalam keadaan terbuka.
Kutoleh ke arah kanan, karena aku penasaran dengan yang ada disana, tetapi ternyata kamar itu kosong. Tidak ada siapapun yang ada dialam kamar itu, tapi dak tau lagi kalau di lihat dari jendela samping. Bisa bisa ada sesutu yang sedang duduk di meja kamar
“Mas udarane semakin ke dalam sini kok semakin panas mas. Padahal kita kan ada di kaki gunung mas” tanya Broni makin curiga
Setelah melewati lima kamar yang didalamnya bener-banar gelap mencekam, kecuali kamar no 1+ yang tadi ada sesuatu sedang duduk di dalamnya, Akhirnya kami tiba juga ke kamar 6+. Satu satunya kamar yang memiliki Ac di sini.
“Ayo semua masuk kamar dulu aja, kalian cuci muka kalau bisa usahakan sholat sebelum tidur” kata Glewo
“Eh Gel, liaten di taman sebelah kanan, di bawah pohon sukun iku, rasane kok ada yang sedang berdiri di sana. Memang gelap Gel, tapi aku bisa lihat sesuatu yang sedang berdiri dan menghadap ke sini” kata Blewah
“Gel, tadi waktu kita pergi , ada yang matikan Ac dan lampu dalam ndak? Tanya Glewo tiba tiba sambil melihat keadaan dalam melalui jendela depan
“Gak lah Wo, tadi kita pergi kan lampu dan acnya nyala semua rek” jawabku “Eh sik, kalian jangan masuk dulu, biar aku dan Blewah yang masuk, kalian tunggu di teras saja dulu”
Aku dan Blewah membuka pintu depan perlahan lahan, aku merasa ada sesuatu didalam sana, ketika pintu depan kubuka ternyata hawa panas berhembus keluar, luar biasa panas hawa yang berasal dari dalam, persis seperti kalau kita buka magicj ar waktu nasi baru saja matang.
“Uuggh panas sekalli udara yang keluar dari kamar ini, ada apa sebenarnya di dalam kamar ini, padahal kemarin lusa waktu aku kesini bersama totok, hawa didalam sini tidak sepanas ini, meskipun aku sempat lihat hal yang mengerikan di dalam” gumamku
“Sik tak nyalakan dulu lampu dan Acnya rek, kalian tunggu diluar dulu aja, biar kamar ini dingin dulu baru kita masuk rek” kataku kepada temanku
Lampu redup sudah nyala, pendingin udara juga sudah nyala, keadaan kamar sekarang lumayan lebih sejuk daripada tadi.
__ADS_1
******
Ukik, Tifano dan Glewo sudah pada tidur, tinggal aku dan Blewah saja yang sama sekali tidak ngantuk, bahkan mataku seakan akan lebih jelas dari pada sebelumnya.
“Keliatanya malam ini aku ndak tidur Gel,” kata Blewah yang bersamaku sedang duduk di kursi ruang tamu kamar sambil melihat ke arah luar
“Podo Wah, aku ya keliatanya ndak tidur ini, dari tadi aku merasa banyak sekali yang sedang melihat kearah kita, tapi aku ndak tau apa yang sedang melihat kita Wah”
“Sipitno matamu Gel, biar keliatan” kata Blewah yang sempat membuatku kaget. Bagaimana bisa dia tau aku bisa lihat ghaib dengan menyipitkan mata, dan dia kan juga pernah ngomong kalau mbah putri pernah memberikan aku sesuatu.
“Wah, awakmu tau dari mana nek aku bisa liat ghaib dengan menyipitkan mata”
“Hehehe, aku lho ngerti, sudah lama aku ngerti sejak mbahmu ngasih sesuatu di dalam tubuhmu Gel” jawab Blewah yang makin bikin aku pensaran.
“Yo wis nek kamu wis eruh Wah, lha awakmu kok bisa lihat mereka juga Wah, dapat dari mana kamu” tanyaku kepada Blewah
“Podo Gel, aku yo dikasih mbahku, gak sengaja dia ngasih itu. Waktu mbahku sakaratul maut deke manggil adiku , adiku lak cucu kesayangan mbahku Gel. Terus waktu aku dan adiku ada di samping mbahku tiba-tiba mbahku minta tangan adiku”
“Lha adiku ndak mau kasih tanganya, jarene takut nek mbah masukin sesuatu yang mengerikan. Sik sik...., mmhh waktu itu mbahku wis merem, jadi dia ndak tau nek disebelah adiku itu ada aku. Akhire adiku nyuruh aku supaya megang tangan mbahku”
“Lhaaaa dari situ aku dimasuki sesuatu dan sampai sekarang akhirnya aku bisa liat yang aneh aneh Gel” cerita Blewah
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 22.55. semua teman kami sudah tidur, kecuali aku dan Blewah. Aku merasa semkin malam disini suasananya semakin mencekam.
Berkali kali aku mendengar suara beberapa orang yang sedang ngobrol dan tertawa, seolah olah ada yang sedang berkumpul dan mereka bercerita sambil tertawa tawa.
“Tadi kamu dengar sesuatu mirip suara orang berbicara dan tertawa Wah, dari arah dalam sana kayaknya suaranya”
“Iya aku dengar juga Gel, tetapi harap diingat , yang namanya iblis setan dan sejenisnya itu licik, bisa saja suara itu adalah pancingan agar kita cari suara itu, dan akhirnya kita tinggal ketiga teman kita yang notabene tidak mempunyai kelebihan seperti kita kan” kata Blewah
“Bisa saja ketika kita tidak ada disini , mereka akhirnya berbuat sesuatu dengan teman kita itu” lanjutku
“Sebentar lagi tengah malam Wah, perasaanku ndak enak setelah ini Wah” aku berkata kepada Blewah tetapi mataku tertuju pada sosok menyerupai manusia yang sedang berdiri di taman belakang
“Diem Gel, kamu dengar suara aneh ndak?” kata Blewah yang sedang memiringkan kepalanya untuk mendengarkan suatu suara yang aku sampai saat ini belum mendengarnya
“Suara apa Wah” bisiku sambil berusaha untuk nendengarkan suara yang kata Blewah aneh itu
“Ada suara samar samar teriakan, teriakan minta tolong, ada suara perempuan ada juga suara laki-laki, mereka semua berteriak minta tolong” kata Blewah tanpa melihat ke arahku.
__ADS_1
“Suara itu koyoke berasal dari depan, mungkin dari kantor hotel Gel” kata Blewah yang masih memiringkan kepalanya