
Aku juga merasa sebentar lagi mbah putri akan datang menemuiku, karena biasanya selalu didahului oleh listrik yang tiba-tiba mati.
“Ndah ayo kita ke kamar mbah putri saja, kita siap-siap kalau mbah putri tiba-tiba datang dan memanggil kita”
“Gimana Ndah, apa perlu aku cerita tentang kejadian tadi Ndah, aku takut kalau mbah putri marah Ndah, karena kelalaianku akhirnya Blewah jadi korbannya”
“Terserah mas Agus lah, tapi pada intinya mbah putri keliatanya tau deh mas, apa yang mas Agus lakukan”
Seperti sebelumnya, mbah putri selalu minta ngobrol di kamarnya apabila dia ingin mengatakan sesuatu, jadi aku dan Indah sekarang sudah ada di kamar mbah putri yang juga merupakan kamar Indah sekarang ini.
Sebenarnya aku takut kalau harus berhadapan sama mbah Putri, gimana-gimana beliau ini kan juga mahluk halus, jadi mesti merinding kalau harus bertemu dengan beliau.
Aku berdiri didepan lemari kaca, sedangkan indah ada disebelahku.Tidak lama kemudian lampu kamar menyala redup seperti biasanya kalau mbah putri datang.
Kemudian di kursi meja rias perlahan-lahan muncul cahaya yang semakin lama berubah wujud menjadi sosok mbah putri.
Mbah putri seperti biasanya sedang menyisir rambutnya dan memberi minyak yang botolnya warna hijau itu sebelum bicara denganku.
Setelah beliau menggelung rambutnya menjadi kecil kemudian beliau berkata tanpa menoleh ke arahku.
“Koe ngerti sopo sing mbok lawan Gus?” tanya mbah putri tanpa meliat ke arahku
“Mboten mbah” jawabku singkat
“Kalau kamu tidak tau siapa yang kamu lawan, lalu bagaimana kamu bisa tahu siapa yang sebenarnya kamu tuju dan bagaimana kamu menilai lawanmu Gus?. Dan buat apa kamu melawannya kalau kamu tidak tau apa-apa”
“Tugasmu kan hanya menemukan jasad Indah dan menemukan siapa yang mengakibatkan lagumu bisa membunuh orang”
Sejenak kemudian hening karena mbah putri membenahi rambutnya lagi, beliau menyisir ulang rambutnya yang mungkin dianggapnya kurang rapi.
“Kamu membunuh Induk semang dari ratusan anak-anak penghibur disana, sekarang disana suasananya makin berantakan, karena sudah tidak ada yang bisa mengurus ratusan anak-anak kecil”
Suasanya hening kembali, mbah putri menatap cermin yang ada didepanya terus menerus, dan yang mengerikan bagiku adalah, tidak adanya bayangan wajah mbahku di cermin meja rias itu.
“Indah, anak-anak kecil yang diluar itu suruh masuk ke dalam saja, agar orang kampung tidak merasa takut kalau jalan di depan rumah ini” suruh mbah putri kepada Indah
“Piye Gus, opo sing mbol lakoni kui wis bener? (gimana Gus, apa yang kamu lakukan itu sudah benar?)” lanjut mbah putriku
“Lha bingung mbah, kami ndak tau harus musnahkan siapa dan yang mana mbah, lagi pula Blewah itu lho mbah yang tau-tau sudah bergerak kesana kemari mbah, aku kan cuma selamatkan Blewah saja mbah”
__ADS_1
“Selamatkan tapi menghancurkan tatanan yang ada disana, itu sama saja menghancurkan kehidupan disana secara pelan pelan Gus”
“Guuus gusss… olah pikiran dan tubuhmu dengan serius agar lebih peka. Ojo sembarangan saja yang kamu habisi, alam semesta butuh keseimbangan, ada kejahatan dan ada pula kebaikan. Yang jahat belum tentu memang jahat, yang baik bisa saja lebih jahat!”
“Sing bentuke elek ora mesti nyusahno koe, justru sing apik bagimu, ora mesti apik untukmu” (yang bentuknya jelek belum tentu nyusahkan kamu, justeru yang baik bagimu, belum tentu baik untukmu)
“Koe kudu paham alam ghaib kui tidak beda dengan alam nyata, nek nganti koe ora paham, koe bakal susah dewe”
Setelah berkata seperti itu mbahku kemudian pergi dari hadapanku, listrik rumah kembali nyala. Malam ini mbah putri marah kepadaku.
Aku belum sempat tanya soal Blewah dan bagaimana cara menyembuhkan Blewah, tetapi mbahku sudah keburu pergi dari hadapanku.
Terus terang aku sama sekali tidak paham apa yang dikatakan mbahku, apakah aku salah dengan memusnahkan ndas dan mahluk mengerikan berbentuk aneh itu?
Apakah mereka itu marah karena aku berbuat hal yang tidak baik bagi mereka, dan apakah ndas glundung itu bukan yang harus dihancurkan?
“Indah tau apa yang mas Agus pikirkan, Indah juga tidak tau apa yang terjadi disana itu mas. Mungkin sama juga dengan di dunia manusia, dengan istilah salah sangkanya”
“Apakah yang aku hancurkan itu sebenarnya tidak jahat? Apakah mereka begitu karena untuk melindungi haknya? Dan apakah ndas glundung itu juga tidak jahat? Lalu kenapa dia hisap Blewah?”
“Mas Agus, ingat tidak waktu kita temukan mas Blewah, dia kan sudah dalam keadaan tertidur dan dihisap oleh ndas itu kan, kita kan tidak tahu bagaimana awal terjadinya hingga dia dihisap seperti itu mas?”
“Iya Ndah, kita tidak tau bagaimana kejadian awalnya. Mereka pun tidak ada yang menyerangku Ndah, termasuk Induk semang anak-anak itu”
“Begini saja mas, karena semua sudah terjadi, sekarang yang paling penting memahami mas Blewahdulu mas, karena menurut Indah yang ada di dalam tubuh mas Blewah itu adalah ndas itu, kita coba berkomunikasi dulu dengan dia mas”
“Ndah, sebenarnya sampai sekarang aku belum tau kepada siapa aku harus melakukan tindakan , karena benar mbahku, tujanku kan hanya menemukan jasadmu dan menemukan siapa yang mengutuk laguku kan Ndah?”
“Tetapi ternyata apa yang aku lakukan malah melebar hingga ke berbagai macam masalah”
“Aku takut gara-gara salah tindakan ini mengakibatkan kekacauan disana, dan kekacaukan itu akan menimbulkan kekacauan lainya, dan akhirnya benar juga kata mbahku tadi Ndah”
“Ya sudah mas, sing penting sekarang kita amati Blewah saja mas, siapa tau dengan begitu kita bisa tau apa saja yang ada disana mas”
“Aku tidur dulu Ndah , mumet ndasku. Dipikir sesuk ae Ndah” aku keluar dari kamar mbahku dan menuju ke kamar depan untuk bergabung dengan ketiga temanku
Ruang tamu yang sepi ini ternyata tidak sepi, keempat anak kecil itu sedang tidur di sofa ruang tamu, mereka keliatanya senang setelah pergi dari hotel Waji.
Lampu ruang tamu kumatikan dan aku masuk ke kamar depan, aku harus bisa tidur untuk menjaga kesehatanku, karena untuk masalah ini keliatanya semakin lama semakin melebar.
__ADS_1
Aku harus fokus dan sekarang harus bisa tidur!.
*****
Adzan subuh berkumandang keras dari mushola sebelah rumah, bener-bener nikmat apabila subuh kami laksanakan berjamaah di mushola sebelah.
Aku bangun ketika Blewah menendang kakiku dan menyuruhku untuk bangun.
“Gel, ayo subuhan dulu, nanti setelah itu tidur lagi saja kalau kamu masih ngantuk Gel” dengaren Blewah nyuruh subuhan dengan dilanjutkan solusi tidur kalau aku masih ngantuk
“Iyo Waah,” jawabku singkat
Aku duduk di sisi tempat tidur, Glewo yang masih ngorok pun kupaksa untuk bangun, karena adzan subuh sudah berkumandang. Tetapi dimana Blewah?
Kasur bawah sudah tertata rapi dan Blewah tidak ada disitu, ndak biasanya koyok gini, biasanya aku yang selalu menendang mereka untuk bangun, dan ndak biasanya kasur Blewah sudah rapi setelah dia bangun, ada yang agak aneh disini.
Kubuka pintu kamar untuk berwudhu saja, karena waktu sudah mepet untuk melaksanakan subuhan dengan berjamaah di mushola sebelah rumah.
Ternyata pintu kamar mandi tertutup, dan ada suara orang yang sedang mandi, jadi kami putuskan untuk berwudhu di mushola saja dari pada nunggu orang yang sedang mandi itu.
“Ayo ndang ke langgar dulu ae Gel, iku paling Indah sing adus. Blewah paling wis nang langgar Gel”
“Iyo wis Wo, kita ke langgar dulu ajalah, dari pada telat subuhan”jawabku
*****
“Blewah kok gak ono disini Wo?” bisikku kepada Glewo ketika kami sedang duduk di teras mushola menikmati hawa pagi yang menyegarkan setelah selesai sholat subuh
“Lho yo mbuh Gel, dari tadi ndak ada Blewah kok disini” jawab Glewo
“Opo tadi yang mandi itu Blewah yo, hehehe, deke wis berapa hari ndak mandi Wo?”
“Blewah iku minimal tiga hari ndak mandi, nek deke sekarang mandi berarti memang wayahe awake butuh siraman air yang menyegarkan heheheh”
Kami berjalan menuju ke rumah, matahari masih belum mau menampakan sinarnya sehingga suasana yang nyaman ini semakin sejuk dan dingin.
Sesampai kami di pagar rumah, aku dikejutkan oleh seseorang yang sedang menyapu halaman rumah, seseorang yang berambut panjang keriting dan sedang sibuk dengan sapu lidinya.
“Lho Wah, kok rajinme awakmu c*k hahahaha, isuk-isuk wis wangi sisan” kata Glewo
__ADS_1
“Halamanya kotor mas, masak kalau kotor ndak disapu mas” jawab Blewah dengan suara yang halus
Aku melongo dengar suara Blewah , begitu juga Glewo yang melihat ke arahku dengan tatapan yang tidak percaya.