INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 114 (KEADAAN PETRO YANG MENGERIKAN)


__ADS_3

Ibu pemilik kos bersama Indah duduk di ruang tamu, hanya kami bertiga yang akan masuk ke kamar Petro. Dengan alasan kami bertiga adalah yang sudah lama kenal Petro. Sedangkan Indah jelas Petro tidak mengenalnya.


Kos kosan ini termasuk kos yang sederhana tapi mewah, kos ini meskipun terletak di dalam gang buntu tetapi tiap kamar disediakan pendingin udara. Mungkin sewa tiap bulannya bisa mencapai lebih dari 1.5 juta.


"Wo, siap liat keadaan Petro ta?"


"Siap Gel, apapun yang terjadi ya harus dihadapi bareng-bareng Gel" jawab Glewo berusaha tegar


"Eh mbak Mirah, seumpama Petro minta maaf kepada kami, lalu bagaimana dengan sakitnya itu mbak?


"Inshaallah bisa sembuh mas, karena sakit teman mas Agus itu sebenarnya bukan penyakit medis yang asalnya dari virus, bakteri, dan semacamnya, tetapi sakitnya itu dari hatinya dia yang kotor  mas"


"Sedangkan Bawok dan gigitan anjing itu yang menggambarkan kotornya hati itu melalui luka-luka yang dideritanya, apabila hati dia bersih, luka-luka itu akan hilang dengan sendirinya mas"


"Semakin dia tulus minta maaf dan semakin hatinya bersih, maka penyakit itu juga akan hilang secepat bersihnya hati dia mas" bisik Blewah eh Sumirah


"Ya wis kalau gitu, sekarang kita masuk ke dalam dan..., eeh terus gimana caranya agar Petro minta maaf kepada kita rek?"


"Ya ndak bisa disuruh mas, semua tergantung pada diri teman sampeyan mas, kalau teman sampeyan merasa bersalah ya sepatutnya dia meminta maaf kepada kalian mas"


Hmm benar juga apa yang dikatakan Sumirah , memang harus dari dalam diri Petro yang meminta maaf kepada kami, semua ya harus berasal dari hati Petro yang terdalam lah.


Kubuka pintu kamar Petro sedikit dan pelan-pelan, seketika hembusan udara yang amat dingin dan bau amis tercium dari dalam kamar Petro.


Wuuih bau amis ini mirip sama bau congek telinga, dulu aku sering kena congekan di telingaku, ada cairan yang keluar dari lubang telingaku, dan baunya luar biasa sedap hehehe.


Atau bisa juga mendekati dengan bau cantengan yang biasanya terjadi di sela kuku jempol kaki, cantengan itu ada nanah di sela sela kuku, sakit sekali dan bau sekali  hehehe.


Yah seperti itulah bau yang tercium dari ujung pintu kamar, padahal aku belum buka pintu ltu lebar-lebar lho ya, hanya sedikit untuk mengintip aktifitas Petro saja.


Kubuka lebih lebar kamar Petro, dan akhirnya kami bertiga masuk ke dalam kamar Petro yang gelap gulita dengan keadaan pendingan udara yang nyala dengan suhu yang keliatanya di set paling rendah.


"Asalamualaikum Tro, ini aku Dogel, Glewo dan taman kita yang paling ganteng Saytonirozim" aku tidak berani menyebut nama Blewah atau Nanta, takutnya Sumirah akan berubah menjadi Blewah


Nama SayTonirozim adalah nama BLewah atau Nanta ketika mengikuti  acara Penghuni Terakhir, jadi cukup aman kalau kusebutkan.


"Waalaikum salam  rek uggh bagaimana kabar kalian" kata Petro dengan suara yang lemah dan serak

__ADS_1


Posisi kami saat ini masih di dekat pintu kamar, kami belum berani mendekat ke arah Petro, kami harus memastikan dulu keadaan sudah aman disini.


Setelah Sumirah memberikan tanda aman di sekita kamar ini, baru kami berpikiran untuk berani mendekat ke tempat tidur Petro yang letaknya ada di pojokan kamar.


Meskipun kamar ini gelap, tapi masih ada celah dari kisi-kisi ventilasi yang ditutup, mungkin agar udara dingin tidak keluar dari kamar.


"Alhamdulillah, kami sampai saat ini baik-baik saja dan masih sehat Tro" aku tekankan dengan kalimat baik-baik saja dan sehat, agar lebih mengena di hati Petro


"Kamarmu dingin sekali Tro, gelap sisan. Apa lampunya putus?" tanya Glewo iseng


"Gak Wo, aku seneng koyok gini, gelap dan dingin, karena aku ......." Petro tidak melanjutkan kata-katanya, dia kemudian diam


"Kamu sakit apa Tro, terus terang kami kesini karena perasaanku ngomong kalau ada apa-apa sama kamu Tro. Tadi kami tau alamatmu dari bekas tempat kerjamu Tro"


"Kami kesini karena rasa persaudaraan kita Tro, aku merasa kamu sedang tertimpa masalah, makanya kita segera ke sini dari tempat kami tinggal"


"He'eh Gel, terima kasih kamu masih anggep aku sebagai saudaramu meskipun aku ....." Petro kembali tidak melanjutkan omonganya, aku ndak tau kenapa dia sudah dua kali tidak melanjutkan omonganya.


"Boleh tau sakitmu apa Tro, kalau kami boleh tau Lho ya Tro"


"Ojok lah Gel, aku ndak mau kalian ketularan sakitku" jawab Petro dengan suara lemah tanpa mau menjelaskan sakitnya apa saja, tetapi aku tidak mau diam begitu saja.


Petro diam saja ketika aku mulai menyentuh hatinya, aku tau dia itu butuh teman yang seperti kami , bukan teman-temanya yang ada di sekitar dia.


"Boleh kami mendekat Tro, siapa tau kami bisa bawa kamu kerumah sakit dan siapa tau penyakitmu bisa sembuh Tro, dan harap diingat kita kesini karena aku merasa kamu tidak sedang baik –baik Tro"


"Gak eruh Gel aku ini sedang sakit apa, pokoknya tubuhku dan kulitku rasanya panas dan gatal, apalagi kalau kena sinar matahari atau sinar lampu, kalau kamu ndak takut dan ndak jijik ya ndak papa"


"Troo, kita ini sudah jadi saudara belasan tahun, mulai masih gak karu-karuan sampek kita seperti ini, dari mulai kamu suka tinggal tiap hari di rumah Glewo sampai kamu bisa kos yang ada ac nya koyok gini. Dari kamu berangkat kerja naik sepeda engkolnya Glewo sampai kamu punya mobil sendiri"


"Jadi janganlah rusak persaudaraan kita ini hanya karena ada sesuatu yang sifatnya hanya sementara Tro"


Petro terdiam ketika aku memaparkan arti persaudaraan yang belasan tahun ini, dia mungkin terasa dengan omonganku ini, tapi memang ini tujuanku agar dia meminta maaf kepada kami.


Kami bertiga lebih mendekat ke arah Petro, bau anyir dan bau amis nanah semakin tajam ketika kami makin dekat dengan dia, tetapi kami belum bisa melihat keadaan Petro, karena keadaan kamar yang gelap gulita.


Aku hanya bisa lihat tubuh Petro yang sedang tidur di atas tempat tidur dengan bau amis, anyir dan ada sedikit bau busuk yang menusuk hidungku.

__ADS_1


"Tro gimana kita bisa lihat sakitmu kalau dalam keadaan gelap gulita seperti ini. Boleh kunyakakan sebentar lampunya Tro agar tau apa yang sedang kamu alami Tro. Paling tidak kita bisa bawa kamu ke rumah sakit , agar segera ditangani sakitmu"


"Kami ini saudaramu yang peduli denganmu Tro, jangan anggap kami adalah musuhmu, disini kami ikhlas menolong kamu"


"Aku gak bisa ngomong apa-apa Gel, aku saat ini merasa bahagia karena masih ada orang yang masih perduli sama aku Gel, dan orang itu yang ....." lagi-lagi Petro tidak melanjutkan omonganya.


"Wis gak usah banyak omong Tro, suaramu lemah sekali, kamu diam saja lah, sementara aku akan lihat sampai seberapa parah sakitmu Tro, aku wis memaafkan semua tindakanmu kepada kami kok Tro"


"Ya wis Gel, Wo tolong nyalakan lampunya, tetepi sekali lagi aku minta tolong kalian jangan takut ataupun jijik dengan yang sedang aku alami ini rek" kata Petro dengan suara lemah


Glewo menyalakan lampu kamar, kamar yang gelap gulita ini menjadi terang benderang, akibatnya mataku menjadi buta sementara, karena mata ini harus menyesuaikan cahaya dari gelap gulita menjadi terang bendarang.


Pelan-pelan mataku mulai bisa melihat temanku yang sedang terbaring di tempat tidur, pelan-palan mataku mulai bisa melihat dengan jelas apa yang ada didepanku


...ASTARGFIRULLAH...


Sosok Petro yang sedang dalam keadaan tidur itu benar-banar diluar prediksiku. Petro yang ada di depanku ini sudah tidak berbentuk Petro karena sebagian kulit dan dagingnya sudah terkelupas dan mencair.


Kepala dan bagian wajah yang paling parah dan mengerikan, daging pipi dan wajah sebalah kanan sudah tidak ada, daging dan kulit bagian kanan itu mbenyeyek dan berair, beberapa belatung sedang menggerogoti wajah sebelah kanan Petro.


Tulang pipi dan sebagian tulang dahi sudah kelihatan, mata sebelah kanan yang sedang terpejam pun sudah mulai digerogoti belatung dan kondisinya berair berbau busuk.


Tubuh Petro bagian kiri juga tidak kalah menakutkanya, sebagian daging dan kulitnya berair dan mbenyenyek puluhan belatung juga sedang pesta pora diantara busuknya daging dan kulit Petro.


Sprei tempat tidur petro basah oleh cairan tubuh yang berwarna merah muda, dan sebagian lagi  cairan bening yang berbau busuk.


Keadaan Petro yang seperti ini jelas tidak mungkin dibawa ke rumah sakit, dokter jelas akan memvonis Petro tidak bisa diselamakan lagi.


Saat ini Petro hanya merem dan sama sekali tidak membuka matanya, mungkin dia silau atau bagiamana.


"Ya Allah Tro, apa yang kamu rasakan sekarang saudaraku" aku bertanya dengan hati


"Gatal dan mati rasa Gel... tolong aku Gel, aku ndak kuaattt, aku ndak mau mati dalam keadaan penuh dosa dan dalam keadaan begini" nah inilah saatnya, Petro sudah mulai mencair dan mulai berterus terang apa yang sedang dirasakanaya


"Buka matamu Tro dan lihatlah kami"


"Ndak bisa Gel, aku sudah tidak bisa merasakan mataku lagi, wajahku gatal dan tebal kalau digaruk, tolong aku Gel, bawa aku ke rumah sakit Gel" mata Petro yang tinggal satu itu mengeluarkan air mata

__ADS_1


"Ternyata Petro belum tau kalau sebagian wajahnya sudah hancur"


__ADS_2