
Aku rebut kunci gembok ruko dari Dogel, aku tau dia ndak akan kasih kunci itu ke aku kalau tidak aku rebut. Ternyata dia lebih pengecut dari pada Glewo. Tapi biarlah, siapa tau dengan adanya aku yang maju, dia akan bersemangat lagi.
“Lho Wo, lapo mbok rebut kuncine, aku lho memang ada rencana mau buka pintu itu?” kata Dogel
“Baru rencana kan Gel, wis gak usah kakehen cocot, kamu kalau ndak mau masuk tunggu saja di mobil sana”
Kesabaranku sudah mencapai puncak dengan berbagai alasan yang dikemukakan Dogel ini, tapi meskipun aku tidak mempunyai kekuatan apapun, tapi aku masih bisa lihat berbagai mahluk halus yang ada disekitarku, berkat abah Fuad hehehe.
“Wah sik Wah tunggu aku rek, aku kan juga harus siap-siap dulu kalau mau masuk ke sana” sahut Dogel yang ada di dekat mobil
“Siap-siap ngapain ? siap-siap lari dari sini ta Gel, wis ah aku ndak mau ngurusi awakmu, nek kamu mau pergi ya silahkan pergi dari sini, biarkan aku masuk ke dalam dan kucari sebab dari semua masalah yang ada disini”
Tiba-tiba Dogel menghampiriku, dia menghampiriku di depan pintu harmonica toko.
“Opo maneh se Gel, aku iki sudah bosen sama kelakuanmu Gel, nek iya... ya ayooo, nek ndak ya minggatto sana!” kataku dengan kasar kepada Dogel
Pintu harmonica ini sudah terbuka sedikit, mungkin ada celah sekitar 10 cm an, tapi belum bisa untuk dilewati tubuh manusia karena yang bagian luar masih ada rantai dengan gembok sebagai pengaman kedua setelah kunci pintu.
Rupanya orang yang mengaku bernama Totok itu sudah berhasil membuka pintu , tetapi dia tidak bisa membuka rantai yang digembok dari luar, sehingga percuma juga dia berhasil membuka pintu.
Gembok rantai sudah kubuka, sekarang aku harus mendorong pintu harmonica ini berlawanan arah agar terbuka dengan lebar.
“Gel, sekarang kamu mau bantu aku apa ndak. Nek iya, tolong tarik pintu ini sementara aku mendorong dari sini”
“Ya mesti tak bantu lah Wah , mosok sama teman sendiri aku ndak mau bantu rek hehehe, tapi sik bentar ya, aku mau liat apa yang ada di samping toko ini dulu” kata Dogel kemudian pergi dari hadapanku dan menuju ke samping toko
“Udah lah Gel kamu di sana saja lah, biar aku buka sendiri saja pintu ini. Atasane bukak pintu kok pakek eker-ekeran disik sih?” gerutuku
Kudorong dengan menggunakan kakiku untuk menggeser pintu yang sudah lama tidak pernah dibuka hingga engsel-engsel dan roda pintu kelihatannya sudah karantan.
Udara pengab dan bau busuk keluar dari dalam toko, aku mundur beberapa langkah untuk menghindari bau busuk yang keluar dari dalam toko.
“Uuugh bau ini luar biasa mengerikan Gel, kamu ndak penasaran ini bau apa Gel?”
“Nggak Wah, gak penasaran sama sekali aku hehehe, lebih baik kita hindari saja, bau busuk gini ini banyak bakteri dan virusnya, jadi lebih baik jauh jauh saja Wah” jawab Dogel yang membuat ku makin emosi
__ADS_1
“Ya udah kalau gitu, kamu pergi saja sana, biar aku yang mencari laki-laki yang kemarin katamu sempat membuat Indah berubah”
Tidak ada jawaban dari Dogel, aku bener-bener ndak habis pikir dengan Dogel yang sudah berubah secepat ini.
“Yo wis lah Wah, ayo ke sana, tapi kita harus hati-hati siapa tau yang ada di sana lebih mengerikan dari yang kita duga” kata Dogel
Meskipun siang, keadaan didalam toko gelap gulita dan bau.
“Hmmm harusnya kan di dalam sini ada lampu, bukannya listriknya masih ada kan? Batinku
Aku belum masuk ke dalam toko, aku masih ada di depan pintu harmonica bersama Dogel yang mungkin sedang ketakutan. Tapi ndak uruslah, mau takut atau ndak, pokoknya aku harus masuk ke sana lah.
“aku kan punya hp yang ada senternya, kenapa ndak aku pakek aja hp itu, dasar telat mikir gara-gara bauk busuk!”
“Wah, awakmu siap masuk ke sana ta? Bukanya kamu ndak punya apa-apa buat melindungi dirimu sendiri?” kata Dogel seakan akan mengejek aku
“Ndak papa Gel, aku masih punya Allah dan sapu lidi ini buat nyapu mulutmu kalau masih aja ngecace mbacot ngomel ndermimil nggacor!”
Setelah senter hp kunyalakan aku kemudian masuk ke dalam toko. suasana toko yang mengerikan dengan beberapa patung manekin yang sudah berdebu dan seakan akan menatapku.
Lantai toko yang penuh debu, tapi debu itu sudah awut-awutan, seakan akan ada yang habis berkelahi disini, juga ada jejak jejak langkah kaki di atas debu yang tebal, jejak kaki itu tanpa alas kaki, tapi bukan hanya sepasang jejak kaki. Ada lagi jejak lainnya yang lebih besar .
“Gel, aku ke belakang, kalau kamu mau ikut aku ya ndak papa, tapi nek kamu mau balik ke rumah mbahmu yo monggo. Aku masih punya teman kok, si Sumirah masih setia bersamaku Gel” kataku dengan nada Pelan
Tapi yang kupanggil Dogel itu tidak merespon sama sekali , mungkin dia saat ini sudah kembali ke mobilnya, aneh juga si Dogel, selama aku kenal dia, dia itu tidak mempunyai sifat jelek seperti itu. Tetapi ketika kami disini dan mengurus masalah, tiba-tiba dia sekarang berubah sifat menjadi seperti itu.
“Tapi tenang aja, kau masih punya SUMIRAH yang tersayang hehehe” aku berguman sendiri dari pada ndak ada yang diajak bicara
“Tenang aja mas, Mirah tetap ada sama mas Blewah kok” jawab suara yang ada di kepalaku
“Lho kamu bisa bicara sama aku Sumirah?” tanyaku keheranan plus gembira
“BIsa mas, tadi mas Blewah kan memanggil Sumirah mas. Jadi ya Mirah datang menemani mas Blewah aja hihihi” jawab suara yang ada di kepalaku
“Jadi kita ber 217 an dong Mirah “
__ADS_1
“Berdua tujuh belas agustusan ta mas?” Tanya Mirah dengan lugunya
“Berdua satu tujuan Mirah hihihihi” jawabku sambil kusorotkan senter hpku untuk mencari sumber bau busuk ini berasal
“Kalau mas Blewah yang pemberani ini ingin tau dimana bau busuk ini berasal. Mas bisa tanya ke mbah Saripah aja atau menuju arah belakang toko mas” jawab suara yang ada di dalam kepalaku
“Kok aku curiga bau ini berasal dari patung ini Mirah, tunjukku pada manekin yang ada di sekitar ku ini
“Hehehe mas Blewah ini teliti juga, tapi tetap kurang teliti, karena yang ada didalam manekin itu sudah kering dan tidak berbau sama sekali mas, yang masih bau itu ada dibelakang sana mas ihihiih”
“Whaat, jadi manekin yang ada didepan itu dalamnya adalah mayat?” aku kaget juga dengan penjelasan Sumirah
“Kok mas Blewah kaget, gak usah kaget mas, mayat yang ada di sana itu sudah belasan tahun, dan sudah menjadi batu, mereka berasal dari pembunuhan yang ada di waji mas hihihihi”
“Gimana kamu tau kalau yang ada di dalam itu adalah bekas pembunuhan di Waji Sumirah?”
“Gampang mas, tadi Sumirah masuk ke dalamnya ternyata mayat itu bau hotel Waji , jadi Mirah simpulkan bahwa mayat itu berasal dari sana mas”
“Kita sekarang sudah ada di halaman belakang Sumirah, dan jejak kaki itu mengarah ke kamar yang ada di sebelah kamar mandi itu, gimana kita masuk ke dalam atau ndak”
“Mirah ndak bisa lihat apa yang ada didalam sana mas, tapi kalau mas Blewah mau ke sana ya ndak papa, siapkan saja sapu lidinya untuk menyapu banyak kotoran yang ada di sana hehehe”
“Maksudmu di sana banyak demit jeleknya? Kalau sama aku jelek mana Mirah hihihihi”
“Jelas gantengan mas Blewah lah mas, tapi Mirah ndak tau apa yang ada di sana, karena Mirah hanya bisa merasakan saja mas” jawab Mirah dengan tenang
Berarti wong gendeng pinggir jalan yang ngomong sendiri ini mungkin koyok aku sama MIrah gini ya. Aku sama Mirah bisa ngobrol dengan nyaman, tapi mungkin bagi yang lihat aku, akan berpikir dua kali untuk mendekatiku, karena disangka aku wong edan.
“Idiiih ndak ada yang ngira mas Blewah ini wong edang, beda mas sama wong edan heheheh, kalau kita kan satu tubuh dipakai berdua. Sedangkan wong edang itu bicara karepe dewe mas, gak ada yang ajak dia bicara” jawab Mirah
“Lho kamu kok bisa baca pikiranku sih Mirah?”
“Heheheh kan Mirah satu badan sama mas Blewah jelas Mirah bisa baca apa yang mas Blewah pikirkan mas”
“Tapi kok aku ndak bisa baca pikiranmu Mirah?” tanyaku penasaran
__ADS_1
“Hihihihi belajar dulu mas, ada tahapannya kok, lama-lama mas Blewah bisa kok baca apa yang Mirah pikirkan mas hehehehe”
“Yuk kita masuk ke kamar itu Mirah, aku penasaran dengan yang ada di sana” Kataku sambil kusorot sinar senter Hp ke pintu kamar di depanku