INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....22. Suruhan Marwoto di pasar


__ADS_3

Malam hari aku dan Ginten seperti biasanya jualan pakain bekas di pasar Gebang, pasar yang kalau sore hingga tengah malam ramai oleh pembeli yang berasal dari daerah sekitarnya.


Seperti biasanya aku menggelar lapak di pinggir jalan pasar dan tidak dekat dengan lampu penerangan jalan, hal ini  karena info dari Ginten agar jualan tidak dekat dengan lampu jalan.


Selama satu jam disini sudah ada tiga potong pakaian yang laku terjual. Untuk saat ini aku belum punya rencana atau gambaran  apa yang akan aku lakukan apabila pakaian bekas ini sudah habis terjual.


Karena sampai saat ini aku belum punya gambaran, kemana aku harus beli pakaian bekas untuk dijual lagi, tapi mudah-mudahan setelah selesai urusan dengan Marwoto aku bisa cari tempat yang berjualan pakaian bekas.


“Man… pakaian ini biar saya saja yang jaga, tolong kamu carikan bahan makanan, sapu dan obat pel… ini uangnya”


“Bahan makanan itu apa mie instan seperti biasanya Ten?”


“Iya itu saja, jangan lupa belikan telor juga.”


Aku pergi menuju sebuah toko yang  berjualan aneka macam barang, mulai dari bahan makanan, minuman, hingga ada juga sapu dan peralatan rumah tangga lainya.


Toko ini cukup ramai dengan pembeli, mungkin karena murah sehingga pembeli lebih suka datang ke toko ini dari pada toko dengan jenis barang yang sama yang ada di sebelah kirinya.


Ketika aku masuk… ternyata hawa toko ini panas luar biasa.. Seakan akan ada api di sekitar bagian dalam toko ini. Tapi ketika aku cari sumber panas itu, aku tidak menemukan apa-apa.


Kuputuskan untuk keluar dari toko yang ramai ini…


Aku lebih baik ke toko yang sepi sajalah… itung-itung bagi-bagi rejeki. Kasihan juga kalau dagangan seseorang tidak laku, karena aku juga pernah mengalami tidak laku ketika pertama kali berjualan disini.


Ketika aku masuk ke dalam toko yang sepi ini, hawa disini adem dan lebih bersinar dari pada toko yang  ada di sebelah itu.


Pemilik toko ini juga melayaniku dengan gembira, mungkin bagi dia satu orang yang belanja disini sangat membantu daripada sama sekali tidak ada yang kesini.


“Terimakasih sudah belanja disini pak” kata pemilik toko itu sambil memasukan  barang yang aku beli


“Sama sama pak.. Kita bagi bagi rejeki.. Saling membantu pak…”


“Bapak ini kan yang berjualan pakaian bekas yang di pojokan itu kan?” tanya penjual toko itu


“Benar, saya yang jualan baju bekas”


“Saya tidak nyangka…bapak yang berjualan pakaian bekas mau datang ke sini. Karena menurut pedagang disini  harga barang di toko saya ini mahal, padahal harga barang disini ya unda-undi pak” kata penjual itu


“Rezeki itu akan datang pada orang yang banyak melakukan kebaikan kepada orang lain pak. Saya belanja di toko bapak karena memang  saya mau membagi rezeki kepada bapak”


“Banyak terima kasih pak… omongan bapak itu benar juga… apa mungkin toko saya ini sepi karena saya kurang berbagi dengan orang lain?” tanya penjual  itu


“Tidak juga pak, hanya saja memang belum waktunya ramai saja.. Nanti kalau sudah waktunya ramai ya pasti akan ramai juga pak. Ditambah dengan bapak mulai senang berbagi, maka  akan bertambah pula rezeki bapak”


Aku keluar dari toko dan menuju ke lapak pakaian bekas dimana Ginten saat ini sedang melayani seorang pembeli yang sedang menimang-nimang pakaian yang dia akan beli.


“Lha ini masnya hehehe, saya yang kemarin borong pakaian disini” kata pembeli itu


“Oh iya bu..saya ingat ibu …. Monggo dipilih pakaiannya bu”


“Sudah mas,.. Ini sudah dapat dua.. Saya mau beli empat baju untuk suami saya, eh masnya habis dari mana?”


“Ini.. disuruh istri saya untuk beli mie instan dan alat untuk mengepel lantai”


“Eh belinya di toko ramai kan, jangan yang sebelahnya itu mas”


“Memangnya kenapa dengan toko yang sebelahnya itu  bu?” tanya Ginten


“Yang sepi itu kabarnya suka main dukun, makannya sekarang tokonya sepi”


“Oh gitu to, memangnya kok tau kalau toko yang sepi itu main dukun bu?”


“Iya mas… saya diberitahu oleh tetua desa kami.. Pak Marwoto, dia kan tau apa-apa soal hal begituan…”


“Yang punya toko itu  penduduk desa sebelah… “


“Kata pak Mar.. dulunya orang itu kaya raya karena main dukun, tapi setelah pak War bertindak.. Tokonya jadi sepi… dosa besar orang itu buka dagangan dengan pake jasa dukun”


“Oh gitu.. Kalau toko yang ramai itu penduduk desa mana bu?”


“Satu desa sama saya dan pak Mar….


Ibu itu pergi dari lapak kami selesai membeli empat potong pakaian laki-laki. Dia berjalan ke arah parkiran sepeda motor, keliatanya suaminya ada disana sedang menunggu perempuan itu.

__ADS_1


Aku tidak nyangka kalau pengaruh Marwoto sebegitu berpengaruhnya kepada penduduk di desanya, sehingga banyak orang yang terpengaruh dengan omongannya.


Aku yakin ada yang tidak beres dengan toko yang kelewat ramai itu.


“Man….kamu tadi berbelanja di toko yang mana?”


“Yang sepi lah Ten, tapi sebelumnya aku masuk ke toko yang ramai.. Hawanya panas, kayak ada api di sekitar  bagian dalam toko yang ramai itu”


“Aku ya malas lah karena sangat panas. Lagi pula penjualnya sibuk sekali”


“Kemudian aku pindah beli di toko yang sepi, disana adem dan bercahaya… tapi sepi heheheh”


“Ada yang gak beres ini sama Marwoto Man.. tadi kamu dengar kan apa yang dikatakan sama ibu-ibu tadi?”


“Iya Ten, dari awal aku masuk toko yang ramai itu aku merasa ada yang gak beres disana , koyoke ada bantuan ghaib untuk melariskan toko itu”


“Man.. coba kamu perhatikan toko-toko yang ada di pasar ini.. Selalu ada yang sangat ramai tapi ada yang sepi sekali, mereka berjualan dengan barang yang sejenis… Coba kamu perhatikan Man”


“Iya Ten.. aku dari pertama ke pasar ini sudah perhatikan hal itu juga”


“Kalau menurutku yang ramai itu pasti toko yang pemiliknya tinggal di desanya Marwoto…Eh kamu jaga dulu disini Man, saya mau jalan-jalan sebentar”


Aku tidak tau apa yang akan dilakukan Ginten dengan jalan-jalan itu, tapi kemungkinan dia akan melihat toko-toko yang ramai di sekitar pasar ini.


Dengan mendengar omongan ibu-ibu itu aku menjadi was-was juga berdagang pakaian bekas disini.


Ada kemungkinan apabila pakaian bekas ini ramai, pasti nanti ada pesaing yang berjualan dengan jenis pakaian yang saya dengan yang aku jual.


Dan pesaing itu bisa jadi berasal dari desanya Marwoto hihihihi.


Aku sih senang  saja dengan adanya pesaing yang akan menggunakan Ghaib untuk melariskan dagangan.


Jadi aku bisa tau aku bersaing dengan siapa, dan otak dari semua itu siapa hehehe.


Sudah ada sekitar sepuluh menit Ginten pergi, tapi tidak lama kemudian dari kejauhan nampak Ginten yang berjalan ke sini dengan tersenyum.


“Hehehe, benar dugaanku Man…toko dan lapak  yang ramai itu berasal dari desanya Marwoto”


“Gimana kamu bisa tau kalau mereka berasal dari desanya Marwoto Ten?”


“Ah mosok seeee mulut itu buat ngemud Ten hihihihi”


“Sudahlah, gak usah bahas ngemud ngemud tan. Pokoknya penjual yang ramai itu berasal dari desanya Marwoto, sedangkan yang se itu dari desa kita Man”


“Ten…dagangan kita ini kan lumayan rame, hal ini karena hanya kita yang berjualan pakaian bekas, padahal aku juga baru berjualan tiga empat hari saja disini”


“Tapi Ten… ada kemungkinan orang yang akan berdagang dengan jenis pakaian bekas yang sama dengan kita, dan ada kemungkinan itu berasal dari desanya Marwoto”


“Nah gini Ten… aku terus terang agak jengkel juga dengan permainan klenik semacam ini, jadi kalau besok ada orang yang berjualan dengan barang yang sama, kita bisa buat mainan mereka Ten”


“Aku akan buat mainan demit-demit busuk itu hingga mereka akan lapor bosnya bahwa ada yang mengusir mereka Ten”


“Halah Man.. ngapain!... keseuweeeen. Mending demit demit yang ada di tiap toko itu saja yang kita buat mainan”


“Tapi….di tiap toko yang ada sekarang ini tidak ada demitnya Ten!”


“Sopo yang ngomong ndak ada demitnya Man… itu di atas genting tiap toko yang ada di sana … ada yang sedang nongkrong sambil buang hajat”


“Genting toko yang ramai itu penuh dengan tai demit demit suruhan, makannya hawanya jadi panas heheheh”


“Pantesan Ten… ternyata mereka ada di atas genting tiap toko yang ada disini.. Masuk akal juga Ten.. yang namanya syilit itu kan hangat, sedangkan tai kan berasal dari syilit heheheh”


“Ayo kita kerjain mereka Ten!”


“Bersihkan lapak kita ini dulu saja Man.. baru kita kerjain mereka, saya yakin, toko yang demitnya pergi akan terasa berbeda, karena demit itu berhenti ngeseng (buang hajat) sembarangan hihihih”


Lapak pakaian bekas sudah kami bereskan, sisa pakaian sudah masuk ke dalam karung, terpal juga sudah kami lipat, sekarang waktunya bersenang senang dengan demit suruhan seseorang yang ada di desa kekuasaan Marwoto.


Aku berjalan santai mendekati toko ramai, Ginten ada di sebelahku.


Sekarang kami sedang menyaksikan demit jelek dengan tubuh penuh luka bernanah, wajahnya sangat jelek karena banyak luka dan nanahnya juga.


Demit itu sedang jongkok untuk ngiseng ( buang Hajat) dengan santainya, dia tidak memperhatikan kami berdua yang melihat demit itu dengan gemes!

__ADS_1


Tapi yang bikin aku kagum adalah kuntila demit itu yang luar biasa panjangnya.


Kuntila demit  yang saking panjangnya sampai-sampai dia kalungkan di lehernya.


“Hihihi.. Lihat itu Ten… kuntilanya panjang kayak selang air ya hihihi”


“Nggilani Man.. ayo cepat kita kerjain dia”


“Ambil kerikil dan ludahi Man, kemudian lemparkan ke tubuh demit itu”


Aku ambil satu buah kerikil kecil, kemudian kerikil itu aku ludahi…begitu  juga Ginten, dia juga mengambil kerikil dan meludahi kerikil itu.


Kemudian dengan kencang aku dan Ginten melempar kerikil itu hingga mengenai tubuh demit yang sedang ngiseng.


Kerikil itu mengenai tubuh demit, tubuh demit yang terkena kerikil  itu  memercikan api.


Demit itu kaget dan terpeleset hingga tubuhnya terkena tainya sendiri!


Demit itu melotot dan kemudian melihat ke arah kami berdua…Dia menghentikan aktifitas ngisengnya, dan melompat ke arah kami.


“Man..kita sebaiknya ke tempat yang sepi saja, agar orang-orang disini tidak terganggu dengan kita”


Aku dan Ginten dengan setengah berlari menuju ke area yang lebih sepi dan gelap. Dan area itu juga ada beberapa demit yang sebagai penunggu daerah itu.


Tapi demit-demit penunggu daerah itu segera menyingkir ketika aku dan Ginten mamasuki areanya.


Demit suruan yang tadi ada di atas rumah itu sudah ada di hadapanku dan Ginten, dia sangat marah karena ulah kami berdua.


“Heh demit jelek.. Jauh-jauh dari kami, tubuhmu nggilani dan bauk sekali”


“Siapa kamu, berani beraninya mengganggu pekerjaanku!”


“Gak perlu tau siapa kami berdua.. Kamu akan saya binasakan, dari pada bikin masalah disini!”


“Kamu tau ndak kalo kamu itu bauk!”


“Siapa yang suruh kamu berak diatas genting rumah itu!... dasar demit goblok gak punya otak”


“Kalau rumahmu diberakin orang mau gak kamu demit goblok!”


“Siapa yang suruh kamu berak disana.. Ayo jawab!”


“Atau jangan-jangan kamu gak punya otak untuk menjawab pertanyaanku demit tolol yang otaknya ada di ujung kuntulmu!”


“Segera pergi dari sini atau kamu aku hancurkan hingga kamu tidak bisa melihat neraka!


“Uhhh semakin kamu emosi batu tubuhmu semakin gak karuan gblok!, ayo kita binasakan saja Ten”


Aku menantang demit itu, dia  makin lama makin emosi dengan perkataanku, sementara itu Ginten hanya diam saja disampingku.


Ginten  sudah bersiap untuk menghancurkan demit jelek itu, aku juga sudah siap dengan ndak tau apa yang aku punya heheheh.


Aku tau bahwa aku dan Ginten ini jauh lebih tua dari pada demit yang ada di depan kai ini, dia hanya iblis rendahan yang mau jadi budak manusia dan kerja dengan imbalan makan atau ancaman.


“Heh…. kamu manusia keturunan iblis….Kenapa kamu  bersikap jahat kepada sesama iblisnya” kata demit itu mulai bisa berbicara.


“Tolol…aku ini memang setan.. Tapi aku lebih bermartabat, aku tidak mau jadi suruhan manusia!”


“Dan aku ini jauh lebih tua dari kamu demit goblok…. Kami bisa kirim kamu ke syurga agar kamu kapok!”


“Jangan.. Jangan kirim saya ke syurga.. Jangan siksa saya dengan mengirim ke syurga!” jawab iblis itu


“Asal kamu tau demit…Musuh kita ini manusia…dasar demit goblok, jadi kamu jangan mau jadi suruhan atau pembantu manusia!


“Siapa yang suruh kamu dan apa ancaman manusia itu apabila kamu tidak menuruti kemauannya!”


“Dia akan menyiksa saya dan menambah luka saya semakin banyak dan semakin bernanah… tugas saya hanya berak diatas rumah itu saja atau orang itu akan menambah luka saya” jawab iblis itu


“Halah… demit kok takut sama luka dan nanah… kamu itu dari neraka, di neraka dan tubuhmu harus banyak luka dan nanahnya, agar sesuai dengan tempat asalmu  goblok!”


“Katakan… siapa yang suruh kamu untuk berak di atas rumah itu!”


“Saya tidak bisa katakan… saya takut dengan orang yang sakti itu”

__ADS_1


“Ya sudah… kamu tidak perlu menjawab siapa orang itu,  cukup dengan jawab iya atau tidak saja!”


“Apakah yang menyuruh kamu untuk berak di atas rumah itu adalah  MARWOTO?”


__ADS_2