INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....9.Keluarga sombong


__ADS_3

Ketika aku sudah ada di pasar Gebang… ketika aku akan membuka lapakku di bawah lampu penerangan…


“Jangan buka lapak disini, kembali ke tempatmu yang kama Rochman!”


“Apa ada masalah apabila saya buka lapak disini Ginten!” aku mulai risih.. Tapi gimana lagi, karena aku sudah mengiyakan apa yang dia minta


“Jangan membantah.. Pindahkan ke tempat semula!”


Kuturuti apa yang dikatakan Ginten, aku tidak tau apa yang dia maumi, tetapi paling tidak aku harus coba dulu, siapa tau memang rejekiku ada di tempat yang lama.


Memang tempat pertamaku itu agak gelap sehingga orang-orang mungkin malas juga apabila memilih pakain di tempat yang agak gelap.


Lapak sudah aku buka…pakaian laki-laki dan perempuan sudah aku tata sedemikian rupa hingga rapi…


Sekarang aku tinggal menunggu pembeli datang!


*****


Aneh juga… semua pakaian yang kubawa terjual… aku bisa pulang dengan membawa uang, bukan kayak kemarin pulang membawa pakaian yang belum laku terjual!


Setelah kubenahi semua… karung dan terpal sudah aku lipat dan kutaruh di dekat stang sepeda… aku mengayuh sepedaku dengan perasaan senang.


Tapi apakah itu adalah bantuan Ginten..,apakah karena Ginten ikut campur tangan?


Malam ini seperti biasa aku selalu melewati telaga yang ada di sisi kiri jalan, sebenarnya kalau dari jalan ini, telaga itu tidak kelihatan karena harus berjalan masuk beberapa puluh meter lagi.


Tapi anehnya tiap lewat sini bulu kuduk ku berdiri, meskipun aku tidak takut karena  sebelumnya aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini.


Setelah perjalan pulang yang singkat, karena sepeda ini kukayuh dengan kecepatan di atas rata-rata.. Aku curiga dengan keadaan rumah yang kayaknya tidak seperti biasanya.


“Kenapa rumah ini rasanya berbeda?”


“Seperti ada sesuatu yang menyebabkan hawa  rumah ini agak lain”


Kutuntun sepeda milik pak Peno masuk ke dalam rumah, karena sepeda ini memang aku letakan di ruang tamu dalam rumah.


Lampu ruang tamu yang memang tidak terlalu terang ini sempat membuatku merasa tidak enak.


“Masuk ke kamar sini Rochman… ada yang akan saya ingin bicarakan kepadamu” suara Ginten muncul lagi, tapi saat ini berasal dari kamar Tidur yang gelap gulita


“Kenapa tidak kamu saja yang kesini Ginten… ke ruang tamu… saya tunggu kamu di ruang tamu saja”


“Heh… jangan melawan apa kataku… cepat masuk ke kamar tidur!”


“Iya…iyaaaaaa”


Aku masuk ke kamar tidur depan.. Hanya karena gelap saja aku malas masuk ke kamar tidur itu. Tapi kuturuti saja apa kemauan Ginten, tetapi  aku juga harus waspada dengan kemauan dia.


“Duduk di tengah kamar!” perintah Ginten lagi


Kuikuti apa yang Ginten katakan meskipun aku sebenarnya sebel juga dengan Ginten… karena Ginten yang ini kayaknya berbeda dengan Ginten ketika bertemu di masa lalu.


“Ada apa Ginten… apa maumu!”


“Duduk saja..jangan bicara, biarkan saya yang bicara dengan kamu”


“Rochman….kamu akan saya bikin sukses dengan usaha dagangmu, bahkan akan saya bikin kamu punya toko yang lengkap dan dengan pelanggan yang akan membeli pakaian mu terus menerus”


“Kamu hanya perlu bantu saya saja… dekati dan jadikan pacar tiga mahasiswi yang pernah ada dikontrakan ini.. Itu saja permintaan pertamaku! Paham…!!!!”


“Disini sebelumnya ada empat mahasiswi Ginten… yang mana yang harus aku dekati dan aku jadikan pacar?”


“Gobblok… tiga mahasiswi yang kamu kenal sebelumnya itu tollol!” bentak Ginten lagi


“Heh Ginten… tidak usah bicara kasar denganku!... aku akan penuhi apa yang kamu suruh selagi tidak memberatkan aku”


“Tapi aku tidak bisa mendekati mereka begitu saja.. Aku bukan apa-apa….aku hanya orang kecil yang suka bantu-bantu di desa ini saja!”


“Hahahah tenang saja Rochman… kamu akan sukses..akan saya buat kamu sukses sehingga ketiga perempuan itu yang akan mendekati kamu setelah kamu sukses dan menampakan wajahmu kepada mereka”


“Apa tujuanmu sebenarnya Ginten?!”

__ADS_1


“Tidak usah banyak tanya Rochman…yang akan kamu lakukan adalah apa yang saya suruh!”


“Untuk saat ini bangunlah kerajaan Rochman dulu dengan menjual pakaian. Apabila stok pakaianmu menipis, carilah pengepul pakaian bekas di kota M sana!”


“Untuk sementara ini yang masih tersisa empat karung itu kamu jual dulu semuanya, setelah itu kamu cari dikota M, nanti saya yang akan menuntun kamu”


“Pagi ini kamu ke desa sebelah… kamu datangi rumah saya atau rumah Juriah, dan usahakan untuk bisa tinggal di rumah saya atau rumah Juriah, jangan kembali kesini lagi paham!”


“Tapi di desa sebelah ada Marwoto… dia sudah mengusir saya dari sana Ginten”


“Datangi rumah Marwoto… di rumah Yu Jipah, dia saat ini tinggal di rumah istrinya… Suparmi!”


“Dan ingat… Marwoto yang akan kamu temui itu berbeda dengan yang kamu temui di masa lalu.


Setalah berkata seperti itu, Ginten pun akhirnya pergi.. Sayangnya aku hanya bisa mendengar suaranya saja, aku tidak bisa melihat sosok Ginten.


Apakah memang aku sudah kehilangan kesaktian sama sekali, sehingga aku tidak bisa lali melihat makhluk ghaib yang ada di sekitarku ini?


Sebenarnya apa tujuan Ginten dengan menyuruhku untuk tinggal di desa sebelah dan tinggal di rumah Ginten atau rumah Juriah yang keadaannya rusak.


*****


Pagi hari…


Rencanaku hari ini tidak keliling desa untuk menawarkan bantuan kepada penduduk desa, rencanaku hari ini ke desa sebelah untuk menemui Marwoto yang ada di rumah Suparmi.


Aku tau rumah Suparmi.. Karena aku dulu pernah ada disana untuk melindungi rumah itu… tapi waktu itu aku hanyalah Hantu.


Bahkan aku juga pernah dimarahi ibu Marwoto yang bernama Painah.. Dia memarahiku karena dia bisa membaca pikiranku..


Tapi itu kan dulu.. Dulu lain dengan sekarang heheheh.


Kukayuh sepedaku menuju ke desa sebelah dengan bersemangat… entah kenapa aku merasa apa yang diomongkan Ginten itu ada manfaatnya untukku


Sepeda yang bisa dikatakan tua ini begoyang dan terantuk antuk ketika harus melewati jalan yang berbatu dan jelek di jalan tembusan menuju ke desa sebelah..


Pagi ini aku banyak bertemu dengan para petani yang berjalan ke sawah, maupun pesepeda yang juga sedang menuju ke kota atau ke desaku.


Kukayuh sepeda ini menuju ke perempatan jalan, yang kalau ke kiri ke rumah Ginten dan Juriah, dan kalau ke kanan bisa ke rumah Suparmi maupun WIdodo yang sudah musnah.


Belokan ke kanan… setelah itu aku akan pelankan sepeda…. Ciri rumah Suparmi adalah ada banyak tanaman kaktus hias di depan pacarnya.


Apakah di jaman ini dia masih membudidayakan tanaman kaktus dalam pot atau tidak.


Ternyata dari jauh aku bisa lihat aneka kaktus kecil di depan rumah Suparmi.


“Ternyata dia masih menanam tanaman kaktus di depan rumahnya!”


Bearti rumah Suparmi dan Marwoto itu benar yang itu…


Tapi apabila Marwoto tinggal di rumah itu, lalu bagaimana dengan ibunya si Painah biadab.. Apa sudah meninggal atau masih ada di suatu tempat?”


Ah tentang Painah nanti saja aku bisa tanyakan ke Marwoto….yang penting sekarang aku harus berbicara dengan dia dulu.


“Permisi kulonuwun…..”


Aku pantang mengucapkan assalamualaikum… bukan karena apa-apa, bukan karena aku tidak percaya sama Tuhan…


Tapi kadang pengucapan salam oleh orang-orang ini dengan lafal saya salah dan kadang dengan seenaknya mereka ucapkan tanpa berpikir dulu.


Kadang mereka hanya menyingkat manjadi salamlekom.. Atau kadang juga samlekom saja.


Jadi daripada salah pengucapan, lebih baik tidak usah mengucapkan sama sekali kan.


“Permisi kulonuwuunnn pak Marwotoooo”


“Ya.. siapa di luar sana” jawab suara perempuan


“Nama saya Totok bu .. dari desa sebelah, saya mencari pak Marwoto”


“Sebentar.. Suami saya masih  mandi.. Ada perlu apa?”

__ADS_1


“Tidak ada apa-apa bu, hanya mau ngobrol sedikit, kemarin sempat ketemu di perempatan sana, tapi saya tidak sempat ngobrol banyak


Perempuan yang mengaku sebagai istri Marwoto itu tidak keluar untuk bicara denganku, tetapi dia ada di dalam rumah, dia bicara di dari balik pintu denganku.


Sungguh tidak sopan cara berbicara seperti itu.


Mentang-mentang mereka berdua yang sudah menyatukan dua wilayah ghaib, sekarang mereka kurang sopan dalam menyapa tamunya.


Tapi tidak papa, ini kan baru permulaan juga, nanti mereka juga akan tau siapa saya.


“Tunggu di luar saja, nanti suami saya akan menemui kamu”


“Baik bu.. Eh baik bu Suparmi”


“Heh… jangan lancang… panggil saya bu Marwoto saja!” teriak suara perempuan itu dengan nada angkuh


Ah masak Suparmi dan Marwoto bisa berubah seperti ini..dulu mereka kan sangat sopan dan membantu sesama.


Tetapi sekilas bicara dengan Suparmi sepertinya dia sudah berubah di hari tuanya.


Apa mungkin ini akibat dari mereka berdua yang diberi kekuatan dan kekuasaan?


Aku tetap berdiri didepan pagar rumah mereka…


Ketika aku sedang menunggu. Tiba-tiba pintu rumah terbuka…


Seorang laki-laki muda yang ganteng dan gagah yang mungkin berumur sekitar 20 tahunan itu keluar dari dalam rumah.


Tubuh laki-laki tinggi besar dengan kulit sawo matang itu keluar berjalan ke arahku yang ada di depan pintu pagar rumahnya


Laki-laki itu melihatku dengan tajam….


Duuuh tatapan matanya malam bikin aku berkeringat dingin… apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?


“Eeeeh sampean siapa mas, dan sedang mencari siapa?” tanyanya padaku


“Saya sedang mencari pak Marwoto” duuuh suara yang keluar dari mulut laki-laki gagah ini sangat menggetarkan ndogku


“Oh bapak sedang sarapan bersama ibu, tunggu saja dulu mas… eh maaf tolong sepedanya agak minggir dulu dari pintu ini… karena saya mau keluarkan motor mas”


“Iya…iya mas… eh ini pasti anak dari pak Marwoto ya”


“Betul… saya putra dari pak Marwoto.. Nama saya Suharto”


Orang yang bernama Suharto itu kemudian mengeluarkan motornya dari dalam ruang tamu rumahnya, dia memundurkan motornya, sehingga aku bisa lihat bokhongnya yang montok itu.


“Biar saya  bantunya mas” aku menawarkan bantuan kepada anak Suharto agar aku bisa mendekati tubuhnya dan mencium oroma laki-laki yang keluar dari tubuhnya..


“Tidak usah mas.. Kamu tetap ada disana saja, jangan dekat-dekat dengan saya” kata anaK Suharto dengan sombongnya


Sialan… ternyata di jaman ini mereka adalah keluarga yang sombong sombong… mereka tidak tau bagaimana anak-anak Sutopo menyatukan kedua orang tua Suharto itu.


“Sudah .. sampeyan tunggu saja disini, dan jangan masuk ke dalam rumah sebelum orang tua saya menyuruh sampean masuk” kata Suharto yang ternyata tidak beda dengan kedua orang tuanya.


“I..iya mas….” Asyuuuu.. Orang ini benar-benar sombong.. Tak doakan kamu diperkhosa humu di tengah jalan nanti chok!.


Setelah orang sombong itu pergi dengan motornya.. Kini aku sendiri lagi depan rumah Suparmi.. Matahari sudah ada di sekitar pukul 09.00 sehingga panasnya mulai menyengat.


Tapi Kenapa Marwoto belum juga muncul dari rumahnya.. Apa Suparmi lupa menyampaikan kepada Marwoto apabila aku ada di sini.


Lebih baik kupanggil sekali lagi saja… agar mereka keluar dari dalam rumah…


“PERMISI..KULONUWUUUUUUUN!” teriakku dari luar pagar yang mulai panas


“Heh.. tidak usah teriak teriak… saya sudah tau… kamu tunggu saja di luar.. Suami saya belum selesai makan!” jawab suara yang sama dengan ketika pertama aku datang tadi


“I..iya bu…”


Kembali aku berdiri di depan pagar…


Pantas saja mereka memelihara tanaman kaktus.. Karena di luar pagar ini sangat panas sekali.. Padahal matahari belum ada di atas kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2