
“Hahaha mending paku paku kita lempar masuk ke dalam rumah Marwoto lagi aja Ten. biar rumah mereka penuh dengan barang yang aneh-aneh”
“Tapi saya jijik kalau harus megang barang gituan Man… kamu aja yang megang paku berkarat itu”
“Sik Ten.. bau yang berasal dari dalam rumah ini semakin lama semakin busuk ya… kayaknya ada tenaga dalam yang mirip kentut yang keluar terus menerus dari dalam rumah ini Ten”
“Iya Man… itu adalah energi terakhir bagi seorang yang mempunyai kelebihan ilmu hitam di dalam tubuhnya, biasanya sebentar lagi pemilik ilmu hitam itu akan mati kalau tidak ada yang menyelamatkan”
“Berarti kemungkinan besar yang ada di dalam rumah itu sudah mati ya Ten?”
“Bisa jadi Man… ayo diselamatkan Man, dari pada terjadi sesuatu dengan orang yang ada di dalam sana, dan kita yang tau harus menyelamatkan orang itu”
Benar Ginten… meskipun kita bermasalah dengan Marwoto, tetapi apabila ada sesuatu yang terjadi disini, kita harus selamatkan mereka.
Dan bau busuk itu bisa jadi berasal dari sisa penghabisan energi yang dipunyai oleh orang yang ada di dalam rumah itu, dan kemungkinan besar dia adalah seorang dukun yang disewa Marwoto untuk melakukan kejahatan.
Dan sayangnya kekuatanku dan Ginten lebih kuat dibanding dengan yang saat ini sedang melakukan sesuatu untuk kami berdua.
Aku dan Ginten harus segara mendobrak pintu dan melakukan sesuatu dengan mereka yang ada di dalam rumah itu. Sebelum ada yang terjadi dengan mereka yang ada di dalam sana itu.
“Ayo Ten kita masuk ke sana sekarang….”
Aku dan Ginten masuk ke teras rumah Marwoto… bau busuk seperti bau bangkai dan bau ban yang dibakar itu semakin menyengat…
Pasti ada sesuatu yang sedang terjadi , karena tenaga yang tadi menyerang kami semakin melemah dan makin melemah.
Ketika kami sudah ada di depan pintu rumah Marwoto… aku buka pintu depan rumah itu. Dan ternyata sama sekali tidak terkunci ….
Pintu depan rumah Marwoto sudah terbuka, dan bau busuk itu tiba-tiba keluar dari dalam rumah seperti ada yang mendorong keluar.
“Ten… kamu cari bantuan cepat!.. Atau bunyikan kentongan yang ada di depan rumah ini, aku yakin ada yang sudah mati di dalam rumah Marwoto”
Aku masuk ke dalam rumah yang baunya makin tidak karuan… sementara itu Ginten tidak memukul kentongan, tetapi dia menuju keluar, kelihatannya dia sedang menghampiri seseorang atau ke rumah tetangga sebelah.
Ruang tamu rumah Marwoto ini benar-benar berbau sangat busuk, seperti bau bangkai yang sudah lama, tetapi hingga sekarang aku belum menemukan seorangpun di ruang tamu yang gelap dan bau busuk
Mendadak di depan rumah ada tiga orang yang masuk ke dalam rumah, dan salah satunya adalah Ginten.
“Ada apa ini … kenapa dalam rumah ini baunya busuk sekali” kata orang yang sedang bersama Ginten
“Siapa mereka ini Ten…”
“Mereka penjaga malam Man, kebetulan tadi saya melihat mereka di perempatan jalan, jadi ya saya ajak mereka kesini saja”
“Apa yang terjadi disini?” tanya salah satu dari mereka
“Ya saya ndak tau pak, tadi saya dan istri saya sedang lewat sini, tiba-tiba di dalam sini bau sekali pak”
“Ya sudah…..”
“Pak Marwotoooo….. Bapak ada dimana?” panggil salah satu orang yang datang
“Bapak Marwotooooo. Bapak ada di mana ini?” panggil orang yang tadi memanggil Marwoto
“To…long s…sayaa” kata suara lemah yang berasal dari dalam kamar
Kedua penjaga malam itu terdiam… mereka berdua bingung harus apa. Suara minta tolong itu berasal dari dalam salah satu dari dua kamar yang ada di sini
Yang aneh… kenapa tidak ada kemunculan Suharto anak dari Marwoto, kenapa yang ada disini hanya dua penjaga malam dan aku serta Ginten.
“Pak.. cepat tolong itu” perintahku kepada dua penjaga malam
“Min.. minta tolong warga saja sekalian, agar kalau ada apa-apa kita tidak disalahkan Min”
“Ya sudah Ran,,, saya bunyikan kentongan dulu….”
“Lho kenapa tidak segera ditolong sih pak?”
“Biar Gimin yang panggil warga dulu saja mas…. Ehm masnya dan mbaknya ini siapa ya?”
“Kami yang ada di rumah Ginten pak.. Kebetulan tadi saya dari hutan dan mencium sesuatu yang aneh, makanya saya dan istri saya ini datang kesini, dan ternyata disini sedang ada sesuatu pak”
__ADS_1
“K..kalian ini yang kemarin lusa kami temu itu?”
“Benar pak.. Waktu itu bapak ini lari sambil meneriaki kami setan”
Beberapa warga sudah berkumpul dengan cepat. Salah satu dari mereka adalah orang tua yang kemudian masuk ke dalam rumah.
“Ayo kita tolong orang itu…Tapi sebelumnya cari tombol lampu disini, agar kita bisa menolong orang yang ada di dalam itu “
“Gimin..Tukiran …cari tombol lampu, dan kemudian cepat buka pintu kamar itu, saya akan bantu kalian dari sini” kata bapak tua yang kemudian melihat aku dengan heran
“Kamu siapa… nanti saya mau bicara sama kamu” kata orang tua itu ketika ruang tamu ini sudah dalam keadaan terang
Ketika pintu kamar dibuka… bau yang sangat busuk keluar dari kamar itu, bau yang sangat busuk, bau bangkai yang mungkin sudah berumur satu mingguan.
Dalam kamar itu masih dalam keadaan Gelap, tapi karena ruang tamu sudah terang, maka secara samar bisa kelihatan ada sosok Marwoto yang sedang duduk bersila bersandar di tembol dalam keadaan lemas.
Kemudian di sebelah marwoto ada Suparmi yang dalam keadaan duduk bersila bersandar di tembok juga, tetapi tubuh dia miring ke samping.
Dan yang mengerikan di depan mereka terbujur sesosok jasad yang sudah membusuk, perut jasad itu sudah terbuka lebar sehingga isi perut jasad itu sudah terbuarai keluar.
Di dalam tubuh jasad yang terbuka itu ada ribuan benda putih yang bergerak gerak, kadang benda putih itu bisa loncat ke sana kemari.
Semua orang yang ada disini mengucapkan astaghfirullah hal adzim. Aku tidak tau apa artinya dan kenapa kok semua orang menyebut kata itu.
Bukannya malah menolong tapi mereka menyebutkan kata itu berulang kali.
“Setan apa yang merasuki Marwoto dan Suparmi… hingga mereka melakukan ritual perjanjian dengan setan” kata pak tua itu
“Heh pak tua, jangan ngawur… gak ada itu perjanjian dengan setan.. Yang ada adalah kedua orang ini melakukan apa yang dilakukan oleh setan, dan mereka itu sudah layaknya jadi setan” aku gak terima dengan omongan orang tua itu
“Asal bapak tau…setan itu gak mau berurusan dengan manusia, karena manusia itu suka menipu setan… Yang ada adalah mereka meniru dan mempelajari apa yang setan biasa lakukan”
“Manusia itu plin plan, mereka meniru yang dilakukan setan, tetapi setelah gagal total, mereka kembali ke jalan Tuhan… jadi setan kok setengah-setengah….”
“Kamu siapa anak muda!” bentak orang tua itu
“Sudah pak… tolong saja orang itu.. Saya muak dengan orang yang selalu menyalahkan setan untuk sesuatu yang manusia lakukan dengan meniru apa yang dilakukan setan”
“Ayo Ten… kita pergi dari sini saja, biarkan Marwoto dan Suparmi merasakan akibat dari apa yang mereka lakukan”
Aku nggak peduli dengan apa yang mereka lakukan, dan apakah mereka masih diterima penduduk sini atau tidak setelah kejadian yang bagi penduduk disini mengerikan itu.
Pokoknya penduduk sini untuk saat ini sudah tau siapa itu Marwoto dan Suparmi.
“Man.. apalah yang kamu katakan tadi itu tidak berlebihan?”
“Nggak Ten… sama sekali tidak… Aku ini setan Ten, dan selama ini manusia selalu memaksakan kehendaknya untuk belajar ilmu setan”
“Tetapi setelah mereka berhasil… mereka malah balik menyerang setan. Bahkan ada yang malah terpuruk dalam kesesatan, dan yang disalahkan itu selalu setan”
“Selalu setan dan setan..padahah setan itu hanya menggoda manusia dengan hal yang bermacam-macam”
“Setan juga gak mau ngajari ilmu kepada manusia kecuali setan itu dalam keadaan terpaksa dan sedang butuh asupan energi sehingga mau maunya dia berkhianat kepada sesama setan”
“Omonganmu tambah ngelantur Man… gak usah membahas setan… setan jaman sekarang itu beda dengan setan jaman dulu Man”
“Setan jaman sekarang ini mudah kena bujuk rayu manusia Man, hingga setan mau aja di suruh suruh manusia”
“Iya Ten… karena manusia jaman sekarang sudah banyak yang mencuri rahasia ilmu setan , sehingga manusia tingkahnya bisa melebihi setan Ten”
“Besok kita ke sini lagi saja Ten, akan kita lihat perkembangan Woto dan Parmi…
Kami berdua meninggalkan rumah Marwoto yang mungkin saat ini sudah sangat ramai oleh orang-orang desa yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Marwoto
Aku jelas gak peduli dan gak punya rasa kasihan kepada Marwoto, biar dia tanggung sendiri apa yang dia lakukan.
Besok aku dan Ginten akan ke rumah Marwoto lagi untuk meneror dia agar mau pindah ke desa sebelah.
“Ten.. kita bubuk di mana malam ini, mosok di kamar rahasiamu yang kasurnya banyak tingginya itu Ten”
“Gak usah tidur… kamu kan setan Man. mosok setan harus tidur?”
__ADS_1
“Aku hanya bekas setan Ten.. bukan setan beneran heheheh”
“Bekas setan… tapi di dalam dirimu masih ada unsur setan-setannya, kamu masuk neraka baru tau rasa kamu Man”
“Lhooo salah kamu Ten.. di neraka itu tempat paling diidam-idamkan setan… jangan sampai masuk syurga maksudmu Ten”
Malam ini kami putuskan untuk pulang ke desa sebelah saja, aku khawatir apabila nanti ada orang yang datang ke rumah Ginten untuk meminta informasi ini itu yang berhubungan dengan Marwoto
*****
“Selamat pagi pak Peno.. bagaimana kabar hari ini?”
“Pagi juga mas Tok hehehe…kemarin malam Tol ani bilang kalau KTPnya mas Totok dan bu Gintan akan jadi tiga hari ini”
“Tapi nanti kalian berdua harus foto dulu di kantor kecamatan. Tapi sayangnya Tol ani tidak bisa antar kalian foto, karena dia ada interview pekerjaan sebagai driver di sebuah rumah sakit yang ada di kota M”
“Oh gitu pak,... eh untuk KK nya gimana pak?”
“KK akan diberikan bersamaan dengan ketika mas Tok akan mengambil KTP, eh nanti di kecamatan mas Tok akan ditemani rekanya TOLani yang akan membantu mas Tok dan bui Ginten
“Oh baik kalau begitu pak… saya tunggu kabarnya saja”
“Oh iya mas Tok… apakah mas Tok sudah dengar ada masalah di desa sebelah?”
“Masalah apa pak, kok saya belum dengar pak?
“Tadi pagi setelah subuhan istri saya kan ke pasar kaget yang ada di jalan tembusan antara desa ini dan desa sebelah”
“Banyak ibu-ibu yang ngerasani masalah pimpinan desa itu yang sudah melakukan kegiatan klenik mas.. Dan akhirnya semalam ilmu hitam itu telah menyerang balik ke tubuhnya”
“Oh itu pak… kalau itu saya dan Ginten tau pak,. Bahkan kami berdua juga ada di rumah itu”
“Orang itu namanya adalah Marwoto pak, dulu dia tinggal desa ini kan pak?”
“Hmm Marwoto… yang ibunya bernama Painah itu?”
“Betul pak… tapi Painah kan sudah meninggal pak, makanya dia sekarang tinggal di rumah mertuanya pak”
“Hmm gitu ya.., disini kalau tidak salah Painah punya dua rumah mas, yang satu di pinggir hutan, satunya lagi tidak jauh dari masjid desa”
“Kalau seumpama orang itu pindah ke desa ini bagaimana pak?”
“Tidak masalah mas Tok. dia kan harusnya tinggal di desa ini, disini dia punya rumah, makam ibunya pun pasti disini juga kan”
“Dari pada rumah Painah itu kosong dan mengerikan, jadi kalau menurut saya mereka seharusnya tinggal disini dan merawat rumah peninggalan ibunya”
“Tapi masalahnya ada pada penduduk sini mas Tok.. apakah penduduk disini mau menerima seorang yang berprofesi sebagai seorang dukun ilmu hitam… itu saja sih yang menurut saya menjadi masalah”
“Ya sudah mas Tok….saya mau siap-siap untuk berangkat kerja dulu heheheh”
*****
“Jadi berita tentang Marwoto semalan itu sudah tersebar disini Man?”
“Iya Ten..,.coba nanti kamu iseng tanya ke istrinya pak Peno kalau pak Peno sudah berangkat kerja”
“Kita butuh info agar kita tau apa yang harus kita lakukan nanti di rumah Marwoto Ten”
“Maksudnya gimana Man?”
“Jadi gini.. Aku kepingin tau berita apa saja yang sekarang menyebar di masyarakat, karena jangan sampai Marwoto itu diusir warga sana dan warga sini”
“Jadinya malah tujuan mbok Painah agar Marwoto pindah ke desa ini gagal”
“Hmmm bener juga omonganmu Man… nanti aku ke bu Peno untuk tanya-tanya soal Marwoto Man”
Pagi ini aku dan Ginten harusnya ke desa sebelah, tetapi lebih baik nunggu Ginten bicara dengan bu Peno dulu saja, baru setelah itu kita ke desa sebelah untuk bicara dengan Marwoto,.
Pokoknya jangan sampai ada penolakan dan pengusiran kepada Marwoto ketika ada di desa ini.
Karena apabila ada penolakan warga maka kerja kami akan semakin sulit, kami harus membamgun kepercayaan warga kepada Marwoto dan Suparmi lagi.
__ADS_1
Dan tentu saja sangat sulit membangun kepercayaan warga, tetapi kami pasti bisa melakukannya, hanya saja untuk saat ini kami belum tau apa yang akan kami lakukan nanti.
Ginten sekarang sudah ada di dalam rumah bu Peno, dia sedang mencari informasi dari bu Peno tentang kejadian tadi malam.