INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 169 (VILA SAUDARA CHANDRA YANG .....)


__ADS_3

“Pak Tembol kalau seumpama saya tidak bawa baju gimana pak, dari pada di dalam kamar saya nanti ketemu yang aneh-eneh pak” kata Winna yang masih ketakutan


“Begini nak Winna, alasan kenapa saya paksa kalian untuk ambil seluruh pakaian adalah, agar  tidak terjadi apa apa dengan kalian. Pakaian meskipun sudah dicucipun itu masih melekat aroma tubuh kalian, apalagi pakaian dalam”


“Nah setau saya, aroma atau bau badan itu identik dengan tubuh tiap-tiap orang, dan bau itu bisa berbeda dengan tiap orang. Nah yang saya takutkan dengan pakaian kalian, apalagi pakaian yang belum kalian cuci itu bisa digunakan Totok untuk mengguna-gunai kalian nak”


“Dari bau badan yang menempel di tubuh itu, Totok bisa mencari kalian atau mengganggu kalian dengan ilmu hitamnya, dia juga bisa melacak kalian dengan bantuan ghaib yang selalu ada di sekiar kalian, itu yang saya takuti nak” jelas pak Tembol


“Makanya saya selalu suruh untuk membawa seluruh pakaian kalian, apalagi pakaian dalam kalian nak, dan juga tidak lupa sisir, alat makeup dan sebangsanya. Jadi ada baiknya kita bawa semua benda yang sudah bersentuhan dengan tubuh dan kulit kalian berkali kali” kata pak Tembol


“Kalau begitu pak Tembol saja yang masuk ke sana pak, dan tolong ambil semua pakaian saya pak, di atas lemari itu ada kopor yang berukuran besar, dan bisa menampung seluruh pakaian dan semua yang ada di laci meja rias saya pak” kata Winna lagi


“Bagaimana nak Indah, apakah di dalam sana keadaanya sudah aman?” tanya pak Tembol


“Poci itu masih ada di dalam sana pak,  tapi lebih baik kita hajar saja pak Poci itu, karena dia  tidak akan keluar dari sana dalam jangka waktu yang lama pak, dia ada di pojokan kamar pak” kata Indah lagi


“Sebentar pak, hmmm keliatanya poci itu ada disana karena benda hitam yang sudah bapak ambil tadi itu, karena bau yang ada di benda hitam itu sama dengan poci yang ada disana pak” kata Indah lagi


“Nah kan nak Winna, apa kata saya. Benda yang ditaruh Totok disana itu memang milik kuburan, dan kemungkinan besar milik dari mayat yang baru meninggal. Nanti lama-lama banyak mahluk ghaib di kamar itu nak”  kata pak Tembol sambil membuka pintu kamar, dan kemudian menyalakan lampu kamar Winna


“Nak Winna tunggu di luar saja, biar saya dan nak Petro yang masuk ke dalamnya, dan ngeringkesi pakaian nak Winna”


Aku masuk ke kamar Winna ini rasanya berbeda dengam masuk ke kamar Chinta, kalau kamar Winna ini kesan mistinya kental sekali, mungkin karena adanya lemari hitam besar yang ada disana itu.


Tapi akhirnya aku dan pak Tembol sudah berhasil memasukan semua pakaian termasuk jeroan jeroanya heheheh, ya rodok nderedeg juga sih sakjane megang jeroan-jeroan iku.


“Ayo sekarang kita bisa segera pergi dari sini nak, semua sudah ada di dalam kopor ini” kata pak Tembol sambil menunjuk ke kopor milik Winna yang berwarna kuning cerah


“Kita langsung ke tempat saudara nak Chandra ya. Eh nak Chandra apa sudah hubungi saudaranya yang disana, karena kita sudah perjalanan menuju ke sana nak” kata pak Tembol


“Sudah pak, tadi waktu perjalanan ke sini, kita ke arah prgn ya, kebetulan kunci rumah sudah dititipkan ke penjaga rumah yang sudah menunggu kita disana” kata Chandra


“Lho apakah itu sebuah vila nak Chandra, saya pikir kita ke rumah saudara nak Chandra yang ada penghuninya” kata pak Tembol


“Iya pak, itu vila, vila kosong yang biasanya disewakan, tetapi karena ini bukan hari libur maka vila itu kosong pak” jelas Chandra

__ADS_1


“Pokoknya semua sudah tersedia disana, kita tinggal tempati saja, dan bersihkan apabila kasus kita sudah selesai” lanjut Chandra


Perjalanan dilanjutkan menuju ke kawasan pegunungan yang dingin pastinya, tetapi sayangnya aku masih merasa kalau kita sedang dibuntuti oleh sesuatu, sesuatu itu membuatku merasa tidak nyaman.


“Eh nak Petro kenapa, apakah nak Petro juga merasakan apa yang saya rasakan dari tadi nak?” tanya pak Tembol sambil berbisik karena ketiga perempuan itu sudah tertidur di bangku belakang


“Iya pak, bahkan ini sudah dari tadi sewaktu kita berangkat dari kos kosan Chinta pak. Tadi bapak dan lainya tertidur, tinggal saya, Blewah, dan Dogel yang masih melek pak”


“Tadi saya tidak tidur nak, saya hanya memejamkan mata sebentar untuk melemaskan otot mata saya yang tegang, saya mendengar pembicaraan kalian, dan bermaksud membahasnya nanti setelah kita sampai di tujuan” kata pak Tembol yang duduk bersama Blewah, dan Eko yang saat ini sedang tidur juga


“Mas Blewah teliti juga ya dengan memperhatikan dan menganalisa apa yang dikatakan Jono tadi, nanti lah kita bahas kalau sudah ditujuan bersama ketiga teman perempuan kita ini” kata pak Tembol lagi.


“Nanti kalau sudah masuk kawasan prgn saya akan bangunkan nak Chandra nak, sekarang kalian focus saja dengan jalan yang sepi ini nak” kata pak Tembol


Saat ini sudah pukul 00.35, perjalanan yang cepat karena keadaan disini yang sepi, selain itu karena kami merasa diikuti oleh sesuatu dari mulai di sby sampai di kawasan pegunungan ini.


*****


“Nak Chandra bangun nak, kita sudah masuk kawasan Prgn ini, dimana letak vilanya saudara nak Chandra itu?” tanya pak Tembol


Kita ke arah kiri dari pertigaan yang ada di depan itu pak, nanti lurus saja dan pelan-pelan karena vila itu ada di pinggir jalan letaknya, pagarnya tinggi dan terbuat dari kayu hitam pak, nomornya 69 pak ” kata Chandra yang kelihatanya pernah kesini sebelumnya


Mobil kembali dijalankan Dogel sesuai instruksi dari Chandra, setelah belok ke kiri, kami sekarang mencari sebuah pagar hitam yang tinggi dengan nomor 69 hehehehe.


Sekitar lima belas menit kemudian Chandra menyuruh Dogel untuk memelankan laju mobilnya.


“Pelan -pelan maassss, uggh biar enak liat pagar dan nomornya heheheh” kata Chandra


Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah pagar yang tinggi, pagar yang terbuat dari kayu hitam atau kayu ulin yang biasanya berasal dari Kalimantan. Di pagar itu tertulis dengan cat warna putih angka 69.


“Sebentar Chandra mau telepon dulu ke penjaga vilanya pak, semoga orangnya tidak ketiduran karena lama menunggu kita datang” kata Chandra yang kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi si penjaga vila


Aku tidak tau apa yang dibicarkan Chandra dengan penjaga vila itu, karena dia telpon di luar mobil bersama pak Tembol. Terus terang aku capek dan ngantuk sekali , karena seharian belum micek blas, sedangkan ketiga perempuan dan pak Tembol ****** micek meskipun hanya beberapa menit saja.


“Sebentar lagi orangnya datang pak” kata Chandra kepada pak Tembol yang menemaninya di luar mobil

__ADS_1


“Mas, Indah kok rasanya aneh ya disini mas, tapi Indah belum bisa menebak apa yang akan terjadi di sini mas” kata Indah kepada kami yang ada di dalam mobil


Memang aneh sih, kami ada di pinggir hutan pinus dan di luar pagar vila pada jam seperti ini, sepertinya kami adalah jagoan yang tidak takut pada apapun hehehehe.


Tidak lama kemudian muncul dari arah bawah laki-laki yang mungkin sekitar umur 30 an. Dia memakai celana training dan kaos  warna putih. Laki-laki itu memakai jaket parasit yang menutupi kaos putihnya.


“Dengan mbak Chandra?” tanya pemuda itu di kaca mobil


“Saya Chandra mas. Ini apa benar mas Slamet?” panggil Chandra yang ada di pinggir pintu gerbang kayu vila


“Iya mbak, saya Slamet alias slatem alias metals mbak. Tadi saya sudah nunggu mbaknya mulai maghrib tadi mbak” kata Slamet


Lhoooo kok mulai maghrib dia nunggu disini, bukanya Chandra hubungi saudaranya tadi mulai pukul 20.00 an?, tapi aku diam saja dengan keanehan ini, nanti saja kubahas dengan kedua temanku sajalah.


“Ya sudah mbak, ini kunci vilanya.  Semua ruangan dan kamar sudah saya bersihkan mbak, gas untuk air panas dan untuk kompor sudah saya ganti baru mbak. kemudian di dapur sudah ada beras dan mie instan  sesuai dengan standart di vila ini mbak” kata Slatem lagi


Slamet membuka pintu gerbang vila, sebuah vila yang tidak begitu besar namun asri terlihat di depan kami, halaman vila yang  tidak begitu besar dan sebagian sudah disemen yang bisa digunakan untuk parkir mobil.


Sebuah bangunan tua yang sudah di renovasi menjadi dua lantai terpampang di depan kami, teras vila yang di depannya terdapat meja kursi rotan jaman penjajahan yang masih teronggok dengan apiknya hehehe.


“Vila ini ada tiga kamar, dua kamar ada di bawah dan satu kamar ada di atas. Di sini ada dua kamar mandi, satu di bawah dan satunya lagi ada di atas. Nah kami bertiga tidur di kamar bawah saja, karena kamar yang besar ada di bawah” kata Chandra


“Di atas bisa digunakan untuk tiga orang, tapi kamar yang bawah lebih sempit mungkin hanya dua orang saja pak” kata Chandra lagi


“Ya sudah nak, saya dan nak Eko di kamar bawah saja, sedangkan kalian bertiga ada di atas saja ya” kata pak Tembol kepada kami bertiga


Kami masuk kamar sesuai dengan jatahnya masing-masing. Dogel menggendong mbak Bashi yang kini matanya membesar dengan pupil yang budar besar juga, telinga mbak Bashi juga tegak berdiri, mungkin dia sedang berusaha memahami vila ini.


Pukul 02.30 pagi sudah menjelang dengan cepat, kami yang sudah membersihakan badan kami sekarang sudah mulai ngantuk, karena hawa dingin yang menggigit disini. Begitu pula yang ada di bawah, aku cuma bisa mendengar suara ngorok dari salah satu dari dua kamar yang ada di bawah.


Ngot dan Indah sekarang sedang mengexplore sekitar vila ini, yah ada enaknya juga punya teman hantu, jadi kita tidak takut masuk ke tempat-tempat yang asing bagi kami.


Ketika aku sudah mulai memejamkan mata, samar-samar tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar mandi yang ada di kamar atas ini terbuka dan kemudian menutup.


Suara air kran yang dinyalakan menadakan ada seseorang yang sedang menggunakan kamar mandi itu untuk buang air besar atau mandi.

__ADS_1


“Mungkin pak Tembol atau Eko iki sing ngising. Yancoook jam segini kok sempate ngising chok”


__ADS_2