
Sedikit catatan penulis:
Pembaca pasti tidak akan mengira bahwa karakter Rochman dan Ginten seperti itu, dan berbeda jauh dengan ketika mereka ada di novel yang lainnya.
Mereka bisa bersenda gurau seperti orang-orang pada umumnya, mereka bisa saling membantu dan tidak ada rasa saling menguasai satu sama lain, bahkan mereka berdua bisa memikirkan bagaimana caranya untuk bisa hidup dengan berjualan pakaian.
Dalam hal ini sudah merupakan sifat manusia, patut di cermati bahwa setiap makhluk pasti sisi yang berbalik seratus delapan puluh derajat, istilahnya mereka punya sisi clometan seperti anak kecil, sisi keinginan untuk menikmati hubungan sesama dan sisi lainnya.
Dimana sisi Ginten dan Rochman berbanding terbalik dengan Ginten dan rochman yang selama ini kita tau.
Lalu kenapa mereka berdua disini seolah olah baik dan saling membantu?...
karena ini lah yang terjadi pada mereka yang kita tidak pernah kita tau. Selama ini kita taunya mereka berdua ini sebagai tokoh yang selalu kaku, jahat, dan tidak pernah bergurau.
Iya memang, inilah sisi lain dari mereka…. Karena saat ini mereka belum merasakan nikmatnya kekuasaan.
Kita miss cerita tentang Rochman.. Bagaimana dia setelah dibinasakan oleh anak- anak Sutopo, dan bagaimana dia bisa menjadi kaya raya dengan nama Totok dan Nabil.
Jadi menurut penulis… nikmati saja dulu selagi Rochman dan Ginten masih saling bekerja sama untuk melakukan suatu kebaikan.
Tetapi hasil dari kebaikan itu pasti akan memunculkan rasa bangga, rasa bangga itu akan terus memacu untuk memunculkan keinginan untuk suatu kemenangan, keinginan suatu kemenangan itu akan mengakibatkan munculnya suatu kekuasaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Kenapa.. Ada apanya di atas tempat tidurmu itu!”
“Sudah jangan banyak tanya Man.. kalau kamu mau bukti ya sana tidur saja di atas tempat tidur saya, saya sih jelas nggak mau tidur disana”
“Banyak omong kamu Ginten… aku capek mau istirahat sejenak kok tidak boleh?”
“Ya sana Man…..”
Aku tau Ginten itu bohong, agar aku tidak istirahat dan bantu dia bersih bersih rumahnya.
Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur yang bersprei abu-abu yang kelihatannya nikmat untuk ditiduri.
Ternyata empuk juga tempat tidur ini…
Ginten melihatku dengan tatapan aneh sambi dia terus menerus memeriksa apa saja yang ada di ruangan ini.
Satu menit diatas tempat tidur ini rasanya ada sesuatu di punggungku.
Kayak ada yang sedang berusaha menembus pakaian.. Bukan satu.. Tapi banyak yang berusaha menembus pakaianku!
“Adooouwwww opo ikiiiii!”
Tiba-tiba dengan bersamaan sesuatu yang jumlahnya banyak itu membuat rasa gatal dan sakit di punggunku.
Aku loncat dari tempat tidur dan membuka pakaian ku..
“TEEEEN OPO IKIIII…PUNGGUNGKU PERIIH DAN GATAL!”
“Hahaha ..kan tadi saya sudah bilang sama kamu Man.. jangan tidur di sana…”
“kamu nekat ae tidur di tempat tidur yang sudah aku kasih sebarkan tinggi yang akan membuat tubuh seseorang yang tidur disana merasakan nikmatnya gatal-gatal disentuh Tinggi hahahahah
“Sialaaaalan kenapa kau sebar kutu kasur itu di tempat tidurmu!”
“Lalu gimana ini aduuuh perih dan gatal sekali Ten!…”
“Heheheh biar gak ada orang lancang yang tidur disitu…. Ayo sini, saya coba kasih minyak tanah dulu punggungmu”
“Kalau nggak salah saya dulu simpan satu botol besar minyak tanah di sekitar sini”
“Cepetan ten!... jangan kelamaan!”
“Iyooo sek ta Man… saya masih cari botol itu… ingetku dulu saya pernah simpan di sekitar sini satu botol besar minyak tanah”
Kulepas pakaianku yang ternyata bagian luar pakaian itu sudah ada banyak bintik bintik hitam yang menempel.
Aku gak tahan dengan rasa gatal dan perih yang ada di punggungku….aku mendekat ke tembok rumah Ginten, kemudian aku geser geserkan punggungku ke tembok kamar ginten itu.
“Hihihi.. Biasanya orang digigit tinggi itu tidak langsung gatal lho Man… biasanya butuh beberapa jam waktu baru rasa perih dan gatal itu muncul heheheh”
“Tapi mungkin saat ini tingginya sudah lama tidak menghisap darah orang hihihihi….”
“Ayo sini .. saya kasih minyak tanah.. Agar rasa gatal itu berkurang, ini aku sudah menemukan botol minyak tanah yang mungkin sudah berumur puluhan tahun man heheheh
*****
“Ini Man… surat kepemilikan tanah dan rumah, cuman kan pada saat itu yang mengelurakan kan hanya dari pejabat setempat waktu jaman penjajahan dulu”
__ADS_1
“YA kayaknya sih untuk saat ini harus didaftarkan lagi ke kantor yang berhubungan dengan masalah tanah Ten. tapi masalahnya…apa kamu punya tanda pengenal, mungkin yang namanya KTP itu tanda pengenalnya”
“Hahaha mana punya gituan saya Man.. ingat kita ini sudah mati dan sekarang hidup karena suatu hal, mana bisa kita bikin tanda pengenal?”
“Gini aja Ten, kita tanya ke pak Peno aja.. Bagaimana cara membuat tanda pengenal agar kita bisa tinggal disini”
“Sekarang surat itu kamu simpan yang benar dulu saja, ambil apa yang kamu perlukan saja Ten”
“Sudah.. Aku punya simpanan perhiasan ketika aku masih hidup. Kita bisa jual perhiasan emas ini di pasar Man”
“Kalau perhiasan emas ya jualnya di toko emas Ten…di Gebang ada toko emas, aku pernah melihat waktu sore itu sedang mengatur lapak dagangan”
“Ayo sekarang saja kita ke Gebang Man.. mungkin uangnya nanti bisa kita gunakan untuk beli sesuatu atau kita gunakan untuk membuat KTP atau apalah yang dibutuhkan disini”
“Heh Ten.. kalau dari desa ini ke Gebang ya jauhlah.. Apa kamu sudah lupa ya?”
“Ya jangan lewat jalan memutar lah.. Kita lewat hutan belakang rumah saya ini saja”
“Berarti kita lewat rumah putih?”
“Ya jelas lah Man.. kenapa kamu takut lewat sana?”
“Gak takut sih Ten, cuma mengingatkan pada masa lalu heheheh. Eh apakah Dimas ada disana ya?”
“Gini Man… saat ini kita ada dimasa yang berbeda ketika kita sedang bertempur dengan anak-anak Sutopo, dimana mungkin Dimas juga sudah mereka binasakan”
“Kalau kamu mau lewat rumah putih ya tidak masalah, tapi kamu jangan kaget dengan keadaan disana yang kemungkinan besar sudah hancur, dan jangan sekali kali menginjakan kaki ke rumah putih itu”
“Sejarah sudah berubah Man, jangan sampai kita ngutak ngutik sejarah itu lagi”
“Tujuan Kamu dan saya disini hanya membenahi sejarah yang sedikit berbelok saja!”
“Wah heheheh ternyata seorang Ginten punya pemikiran yang hebat juga heheheh”
“Ya sudah Ten, kita tidak usah mendekati apa yang pernah jadi sejarah bagi kita..aku setuju dengan omonganmu Ten”
“Eh Ten,...eh… kamu ini ternyata kalau diperhatikan cantik juga ya hehehe, sayang aku tidak minat sama kamu hihihihi”
“Nanti suatu saat Man.. kamu akan saya sembuhkan dan kamu akan menikmati milik perempuan yang digila gilai laki-laki hehehe”
“Ayo Man kita jalan ke Gebang sekarang saja”
Aku tau jalan ini…jalan yang menembus hutan dan akan tiba di rumah putih tempat semua kenangan disana ketika aku masih menjadi hantu dan jadi anak buah Dimas.
Di dekat gubuk itu ada pohon besar yang mengerikan dan di batang pohon itu ada pintu yang menuju ke rumah putih…
Aku ingat waktu itu aku ditinggal sendirian oleh pak Tembol yang bergabung dengan anak-anak Sutopo akibat pergeseran waktu yang terjadi disana waktu itu.
Tapi semua itu merupakan kenangan yang tidak akan aku ingat dan tidak akan aku lakukan lagi. Aku sekarang sudah hidup normal bersama Ginten.
“Sebentar lagi kita keluar dari hutan Man…kok rasanya deg deg an ya Man hehehe”
“Sama Ten.. aku juga rasanya deg deg an kok.. Apakah karena kita punya masa lalu yang kelam disini ya hehehe”
“Ah sudahlah Man.. ayo kita jalan terus dan jangan memikirkan apa yang pernah terjadi dirumah putih itu”
Kami berdua sudah ada di jalan utama…
Kami belok ke kiri ke arah menurun ke arah Gebang yang akan melewati rumah putih.
Aku dan Ginten berjalan turun tanpa bicara sama sekali, keliatanya aku dan Ginten sedang dalam keadaan tegang karena akan melewati rumah putih.
Beberapa belas meter sebelum rumah putih…
“Ten.. disana kok ada rumah kayu ya.. Siapa yang tinggal disana?”
“Mbuh Man.. sudahlah gak usah pengen tau soal rumah kayu itu…
“Dan juga tidak usah pingin tau juga tentang rumah putih… rumah itu sudah jadi sejarah, kita sudah tinggalkan rumah putih itu”
“Hidup kita sekarang harus ditata ulang Man, jangan lagi mendekati masalah, karena perasaan saya, disana sedang ada masalah lagi”
“Ah masak iya Ten disana lagi ada masalah lagi?”
“Itu kan perasaanku saja Man, tapi kalau menurutku masih ada masalah disana, tapikan bukan urusan kita lagi Man”
“Iya Ten.. akunurut kamu saja lah, kok kayaknya kamu sekarang lebih bijaksana dari pada dulu heheheh”
“Ya sudah.. Ayo jalan terus dan jangan membahas rumah putih lagi, kalau bahas tentang fisik rumah putih sih nggak masalah… tapi bahas tentang apa yang ada di sana saya pikir sudah tidak perlu lagi Man”
Benar kata Ginten.. Aku sudah harus menata hidupku, karena sekarang aku sudah jadi manusia, aku sudah tidak perlu ikut campur masalah rumah itu lagi apabila memang ada yang terjadi disana.
__ADS_1
Aku lama-lama kagum juga dengan Ginten, meskipun dia dulu hantu yang gemuk jelek dengan rambut yang selalu di gelung cepol.. Tapi sekarang berbeda.
Memang ciri khasnya masih ada. Rambut yang digelung cepol, tetapi jauh lebih muda dan tidak gemuk seperti dulu.
Kami sudah melewati rumah putih…
Keadaan rumah putih sekarang jauh berbeda dengan ketika aku dan Ginten ada disana pada masa lalu.
Saat ini rumah itu sudah penuh dengan semak belukar , bahkan ada bagian yang hancur, pokoknya rumah itu sekarang terlihat lebih mengerikan daripada dulu.
Yang tidak berbeda itu suasana disini, masih sepi kayak dulu, bahkan selama aku dan Ginten jalan, belum bertemu dengan orang yang jalan disini.
Jaman sudah berbeda.. Tetapi suasana disini tidak berubah… apakah hal ini karena ada makam kuno di bawah rumah putih itu ya?
Apakah karena ada makam kunonya sehingga aura disini sangat berbeda dengan yang ada di desa maupun di Gebang?... bisa jadi seperti itu
Suasana disini tetap sama dengan di masa lalu, tidak ada rumah penduduk, tidak ada kemajuan yang berarti, hanya saja sudah ada tiang listrik dan kabelnya saja.
Yang aneh..kenapa tidak ada rumah di sekitar rumah putih itu selain rumah kayu yang tadi itu. Itu yang jadi pertanyaanku.
Tapi ah sudahlah… itu bukan urusanku lagi.
*****
Suasana Gebang yang berbeda dengan sore hari menjelang malam
Parkiran Pasar Gebang pun didominasi oleh mobil mobil dan sepeda motor.
Orang-orang hilir mudik di sekitar pasar dan beberapa toko yang ada disini.
“Man… saya kok pusing ya lihat keramain Gebang ini?”
“Hehehe aku juga Ten.. beda sama sore dan malam hari.. Kalau sore area parkiran ini sepi..yang ada malah pedagang sayur dan kebutuhan dapur”
“Lha ini sekarang parkiran itu penuh mobil mewah.. Apakah mereka ini wisatawan yang menginap di daerah sini ya Ten?”
“Kalau dilihat dari penampilan mereka.. Mereka ini ya wisatawan yang nginap di sekitar sini, daerah ini kan daerah dingin, dan cocok digunakan untuk sekedar berwisata Man”
“Eh Man… dimana toko tempat jual beli emas itu…”
“Sebelah sana Ten.. sebelah depot rawon itu”
Kalau sore hari waktu aku membuka lapak.. Aku selalu lihat depot nasi rawon itu.
Kayaknya enak sekali, karena depot rawon itu tidak pernah sepi oleh pengunjung. Tapi nanti sajalah kalau aku sudah punya uang lebih, akan ku traktir Giten makan disana.
“Wih depot nasi rawon ini penuh juga ya Man”
“Kamu pernah makan disini nggak Man?”
“Hehehe….Dapat uang dari mana untuk makan nasi rawon ini Ten..harganya pasti mahal lah hehehe”
“Nanti kita makan di sana Man…setelah aku jual perhiasan ini”
Aku ada di sebuah toko perhiasan, disini kayaknya toko ini satu satunya yang berdagang perhiasan emas.
Ginten sedang ada di etalase kaca, petugas atau pemilik toko ini sedang memeriksa perhiasan kecil yang dibawa Ginten tadi.
Aku berusaha untuk tidak ikut campur urusan jual beli ini,karena perhiasan itu kan milik Ginten, dan dia yang berhak menentukan harga jualnya.
Aku hanya duduk di kursi panjang sambil menunggu Ginten yang sedang tawar menawar perhiasan itu.
*****
“Wuiih saya tidak nyangka Man.. perhiasan kecil ini bisa laku mahal”
“Ya jelas lah Ten.. kamu belinya jaman apa dengan mata uang rupiah jaman itu kan”
“Sekarang dengan nilai mata uang rupiah yang berbeda jaman ya harganya menyesuaikan dengan harga sekarang lah”
“Kamu kan belum tau harga kebutuhan pada zaman ini Ten hehehehe”
“Iyaa aku tau Man.. tapi perhiasan kecil ini tadi bisa laku enam juta rupiah, karena kata penjualnya emas punya saya ini emas langka dan kuno.. Mereka berani harga tinggi Man”
“Wah hebat jeh…jadi gimana, siang ini kita jadi makan rawon Ten?”
“Iya jadilah Man… ayo kita masuk ke depot rawon itu….mumpung saat ini keadaanya tidak seramai tadi”
Aku dan Ginten masuk ke depot nasi rawon…
Ada yang aneh ketika aku dan Ginten untuk pertama kalinya masuk depot rawon ini… seperti ada sesuatu yang mengagetkan aku.
__ADS_1
Tapi aku tidak pedulikan, karena memang niat kami berdua hanya untuk makan disini