INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....24. Kemarahan Marwoto


__ADS_3

Siang hari ini aku dan Ginten bersih bersih di rumah Ginten…


Rumah yang pada awalnya sangat kotor itu perlahan lahan kami bersihkan bagian dalamnya.


Hanya bagian dalam saja, lalu bagaimana dengan semak belukar dan rumput gajah yang setinggi satu meter itu.


Rumput dan ilalang kami biarkan dulu, agar orang-orang tidak serta merta melihat perubahan rumah Ginten….Yang terpenting bagian dalam rumah ini kami bersihkan sehingga bisa kami tempati.


Demit-demit yang tinggal di sekitar rumah Ginten pun tidak kami usir, karena mereka sudah lama ada disini dan kasihan juga kalau kami usir mereka.


Harapan kami  demit yang ada disini akan menjaga rumah ini dan membantu aku dan Ginten.


Bagaimana dengan tetangga kiri dan kanan?... mereka kelihatannya belum tau disini sedang ada kegiatan bersih-bersih rumah.


Nanti juga akan aku dan Ginten beritahu apabila semua sudah selesai dibersihkan.


Siang ini matahari lumayan terik…angin yang biasanya semilir menggoyangkan rumput gajah yang tinggi itu sekarang tampaknya malas untuk berhembus.


Tapi itu tidak menghalangi kami untuk tetap membersihkan rumah Ginten.


“Man… kayakya Marwoto nanti akan kesini deh”


“Dia pasti akan dilapori  salah satu demitnya yang kita usir itu Man”


“Biar saja Ten…memang kan niat kita seperti itu… kita matikan satu persatu lahan uang haram dia yang mempekerjakan demit-demit yang seharus nya bahagia ada di neraka”


“Pokoknya kita buat dia miskin dan harus pindah ke rumahnya yang ada di desa sebelah, karena aku rasa di dalam tubuh dia dan Suparmi itu ada semacam aura yang bisa membuat suatu daerah menjadi lebih baik”


“Pokoknya kita harus usahakan agar dia  segera pergi dari sini dan pindah ke desa sebelah, untuk tinggal di rumah ibunya”


Siang menjelang sore ketika kami selesai bersih bersih dan akan pulang ke desa sebelah dengan menggunakan sepeda kebo milik pak Peno.


Dari perempatan aku lihat Marwoto yang sedang berjalan menuju ke sini.. Dia hanya sendirian… tapi dalam penglihatan tak kasat mata dia tidak sendirian.


Ada pasukan ghaib yang menyertainya…. Tapi rata-rata demit yang bersama dia itu demit yang berusia muda.. Hanya yang bernama JoekowiYono yang agak sedikit lebih tua..


“Dia datang lagi Ten… bawa pasukan lagi hehehe”


“Tenang saja Man… kita jauh lebih kuat dari pada yang sedang bersama Marwoto itu… kita tunggu disini saja, jangan menghampiri dia, biarkan dia yang menghampiri kita”


“Pasti yang dibahas ya itu-itu juga.. Hanya masalah perKTPan saja…tapi memang itu satu-satunya senjata dia untuk mengusir kita dari sini Ten”


“Iya man… saya tau.. Tapi untuk kali ini kita harus pakai sedikit kekerasan agar dia tidak semena mena dengan kita”


Marwoto sudah ada di hadapan kami, untuk sejenak dia hanya diam saja, keliatnya dia sedang mempelajari keadaan disini.


Dia melihat aku dan ginten yang masih berdiri tanpa berkata apapun, tapi seharusnya Marwoto paham dengan diamnya kami berarti kami akan melakukan perlawanan.


“Kenapa kalian tetap ada disini?” tanya Marwoto dengan suara yang disangar sangarkan


“Ini rumah saya… saya berhak ada disini” jawab Ginten


“Hihihi bukti bahwa ini rumahmu itu apa?”


“Saya punya surat rumah ini, dan secepatnya akan saya rubah dan perbarui surat tanah jaman belanda ini”


“Coba saya lihat surat tanahmu?!”


“Tidak perlu kamu lihat… nanti  akan saya tunjukan kepadamu.. Tapi nanti di rumahmu!”


Aku tau akal Ginten yang tidak mau menunjukan surat tanah rumah dia…


Karena apabila Ginten akan menunjukkan surat tanah dan dia mengambilnya di tempat yang dirahasiakan, takutnya ada anak buah Marwoto yang mengintip dimana Ginten menyembunyikan surat berharga itu.


Meskipun surat berharga itu dia simpan di suatu tempat yang dilindungi oleh semacam pagar ghaib, kalau sampai ada demit yang tau dimana dia menyimpan.. Pasti Marwoto akan berusaha mengambilnya


“Sekarang saja tunjukan bahwa kamu memang memiliki surat itu!” bentak Marwoto


AKu jelas emosi.. Seorang Marwoto yang dulu dilindungi anak-anak Sutopo dan Ginten.. Sekarang dengan beraninya main bentak-bentak saja.


Aku melangkan maju untuk lebih dekat dengan Marwoto… tapi sayangnya Ginten memegang tanganku.


“Jangan Man…belum saatnya kamu lawan dia” bisik Ginten


“Kenapa.. Kamu mau melawan saya!” bentak Marwoto


“Nggak….saya cuma mau usir demit-demit yang jilatin kuntulmu itu… kamu humu ya Marwoto.. Kok ada demit di syelangkanganmu?”

__ADS_1


“Memangnya enak dijilatin demit gitu,... aku akan laporan ke Suparmi  kalau kamu humu ya hihihihi”


“Ayo Ten.. kita pulang saja, dan biarkan orang yang tidak tau diri itu bersama dengan demit humunya”


Kugandeng Ginten masuk ke dalam halaman rumah untuk mengambil sepeda kebo yang aku sandarkan di pagar bagian dalam.


Ketika aku sudah membonceng Ginten dan siap untuk mengayuh sepeda…


“Saya tau kamu berjualan baju bekas di pasar…dan kamu akan menyesal sudah bikin masalah dengan saya!”


“Iyaaaa…  kami berjualan di pasar, tapi maaf, kami gak jualan pakaian untuk humu seperti kamu.. Kami hanya berjualan pakaian untuk manusia normal saja hahahaha”


Marwoto sama sekali tidak melawan aku dan Ginten, dia hanya berdiri di depan rumah Ginten dengan wajah yang marah.


Aku tau nanti malam dia pasti akan bikin masalah dengan aku dan Ginten ketika berjualan di pasar.


Tapi aku yakin apa yang akan dikirim untuk mencelakakan kami itu bukan tandingan kami berdua.


“Hehehe apa kira-kira yang akan dia lakukan kepada kita Man?”


“Yang pasti dia akan bikin malu kita atau buat barang dagangan kita tidak laku Ten”


“Tapi aku punya akal, agar dia sibuk sendiri dan tidak akan membuat kita  susah Ten”


“Apa itu Man?”


“Aku akan usir tiap demit yang ada di atas toko yang ada di pasar itu, tiap demit yang jongkok sambil bung air besar di atap tiap toko yang ada disana”


“Jadi kita datang lebih awal saja Ten.. kemudian kita usir mereka yang ada diasa, agar demit-demit itu pulang ke induk semangnya dan melaporkan tindakan kita hihihi”


“Wah .. ayo Man.. saya setuju sam idemu ini”


Yah begitulah apa yang akan aku dan Ginten lakukan nanti,  kami akan buat kericuhan kepada demit-demit penglaris yang aku yakin itu berasal dari Marwoto.


Kenapa aku yakin mereka itu berasal dari Marwoto, karena demit yang penuh luka bernanah itu tadi ada di syelankangan Marwoto dan sedang menjilhati satu satunya barang antik milik Marwoto”


*****


Kami sudah ada di pasar lebih awal dari pada biasanya..


Udara sore hari ini lebih panas daripada hari sebelumnya…apakah karena kami datang terlalu awal


“Ten.. ternyata banyak juga yang menggunakan jasa Marwoto!...parah juga orang itu menyalahgunakan kekuatan yang diberi oleh Mak Nyat Mani dan Soebroto untuk membuka praktek dukun penglarisan”+


“Ya sudah Man.. pancing mereka semua yang ada di atas toko-toko untuk datang ke lapak kita, kemudian kita bakar  tipis tipis mereka agar mengadu ke Marwoto”


“Iya Ten… hehehe ternyata kekuatan yang diberi oleh Painah ini lumayan juga ya”


“Kamu tunggu disini saja Ten.. akan saya jaring mereka dan kubawa mereka kesini..kamu siap juga dengan apa yang akan kamu lakukan Ten!”


Memancing demit kayak gitu itu mudah… mereka itu tolol tolol, yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya berak sebanyak mungkin di atas rumah atau toko.


Jadi aku bisa dengan mudah memancing mereka agar datang ke Ginten yang sudah siap dengan sesuatunya.


Aku sudah ada di depan toko yang mulai rame… padahal toko itu baru buka sore ini, ketika kulihat di atas atap, ternyata sudah ada demit bertelinga  panjang macam keledai yang sedang berak di atas atap.


Seperti sebelumnya aku ambil kerikil kecil beberapa butir. Kemudian ludahi sedikit, dan lempar pada demit yang ada di atas itu.


Dan ternyata kena… demit itu kesakitan sambil garuk-garuk tubuhnya yang kepanasan terkena kerikil yang kulempar..


Dia mendatangiku sambil marah….


“Kenapa marah.. Kamu harusnya pergi saja ke syurga, jangan disini” bentak ku


“Siapa kamu…beraninya mengganggu pekerjaan saya” jawab Demit itu nggak mau kalah


“Aku yang akan buat kamu terbakar… kalau kamu mau melawan aku.. Panggil teman-temanmu lainya!”


“Kamu tidak akan mampu melawan aku sendirian hihihihi”


Demit itu ternyata maju ke arahku dan ketika dia akan memukulku… aku meludah, tepat kena wajahnya.


Seketika wajahnya luka dan berlubang…


“Saya kan sudah bilang.. Kamu gak akan mampu melawanku kalau kamu sendirian… cepat panggil yang lainya atau kamu akan aku buat lebih sakit lagi”


“Kamu yang akan kami sakiti… kamu ternyata  bukan manusia, kamu iblis yang menjelma menjadi manusia” kata demit yang sedang kesakitan

__ADS_1


“Hahahahaha, terserah saya iblis atau bukan,yang penting kamu bisa aku bikin sakit, dan tentu saja aku bisa bikin kamu lebih parah lagi kalau kamu tidak memanggil temanmu untuk bicara dengan aku”


“Aku tunggu disana.. Di lapak pakaian bekas… cepat pergi dan panggil semua temanmu!”


Aku tetap ada di sekitar toko toko, agar aku bisa lihat apakah demit yang tadi itu melakukan apa yang aku perintahkan.


Ternyata  benar…demit yang tadi kubikin sakit itu sekarang sedang mengadu kepada teman-temannya sesama penghobi berak di atas  atap toko dan rumah.


Aku berlari kecil menuju ke lapak baju bekas, dimana Ginten sedang menunggu aku.


“Gimana Man.. mereka terpancing kamu nggak?”


“Iya dong Ten.. mereka itu bodoh-bodoh..kasihan juga sebenarnya, mereka kerja kan karena perintah dari Marwoto, mereka bodoh… pokoknya dikasih makan, pasti akan mau melakukan apapun”


“Tapi mungkin ada juga yang dipaksa untuk bekerja… jadi intinya mereka ini kasihan kalau menurutku lho ya Ten”


“Kalau kamu kasihan ya biarkan mereka bekerja disana Man hihihih”


“Enak aja… kita ini kan pasukan pemberantas kejahatan Ten”


“Terserah apa katamu Man.. yang penting segera kumpulkan dan siapkan semua ludah dan riakmu.. Untuk kita semburkan ke arah mereka itu”


Yang akan kami lakukan ini sama saja dengan sebelumnya, dengan  menyemburkan ludah saja bisa membuat mereka kesakitan dan meminta ampun.


Ada sekitar tujuh demit dengan aneka rupa warna dan bentuk yang  sekarang hadir di depan lapak kami.


Dan tentu saja wajah mereka tampak marah melihat aku dan Ginten yang hanya berdiri sambil tertawa mengejek mereka.


“Kalian ini jelek jelek semua… seharusnya kalian tidak ada disini!...ngapain kalian ada disini dan membikin masalah?” aku mulai mengejek mereka agar membuat mereka semakin marah.


“Apa urusanmu manusia… kami sudah ada disini sebelum lapak barang bekasmu ada disini, atau kamu mau kami buat agar jualanmu tidak laku?”


“Hahahah,sudahlah.. Gak usah bikin aku tertawa, sekarang segera tinggalkan tempat ini atau aku bikin kalian kesakitan dan akhirnya kembali ke neraka”


“Sudahlah Man.. ayo kita selesaikan saja. Kita jangan banyak bicara dengan mereka, derajat mereka itu lebih rendah dari pada kita Man”


Dari tadi aku sudah berusaha mengumpulkan ludah yang aku coba simpang di tenggorokan, begitu juga Ginten yang juga mengumpulkan ludahnya.


Kemudian tanpa aba-aba demit itu maju menyerang kami…


Tentu saja kami sembur semburkan ludah yang sudah dari tadi kami siapkan  untuk meludahi demit sialan itu.


Dan ternyata berhasil.. Tujuh demit jelek itu lari menjauh… tanpa beraani mendekati kami lagi.


Ketika kami selesai dengan kegiatan kami…ternyata ada beberapa orang yang melihat apa yang kami lakukan dengan meludah sembarangan.


Orang-orang itu melihat kami dengan jijik dan penuh tanda tanya, termasuk beberapa pak Becak yang sedang mangkal di sini.


“Maaf… maaff buibu pak bapak.. Tadi kami meludah karena tenggorokan kami tiba-tiba terasa gatal” kataku kepada orang yang tadi melihat apa yang aku dan Ginten lakukan


“Kalian ini jangan meludah sembarangan ..hampir saja kena saya tau!” kata seorang pengunjung pasar


“Iya maaf bu tidak akan saya ulangi lagi….”


Tentu saja mereka tidak bisa melihat kami yang sedang berperang dengan Demit, yang bisa mereka lihat hanya gerakan ku dan Ginten yang merubah seenaknya


Beberapa orang yang  melihat apa yang kami lakukan itu sudah membubarkan diri, kecuali satu pak Becak yang sedang berdiri di sebelahku.


“Tindakan kalian sangat berani mas… sebentar lagi pemilik setan setan itu akan datang dan akan menyerang kalian” kata pak Becak yang sudah tua umurnya.


“Apa bapak lihat apa yang tadi saya lakukan?”


“Tentu saja saya bisa melihat kalian yang sedang bertarung melawan demit penglaris itu”


“Banyak orang sini yang berusaha mengusir demit-demit itu, tetapi tidak berlangsung lama, karena pemiliknya akan datang  dan membuat perhitungan dengan kamu mas”


Ternyata sebentar kemudian ada sepeda motor yang berhenti di depan lapak kami.. Awalnya aku tidak tau siapa yang datang itu, karena orang itu menggunakan helm tertutup full face.


Tetapi tidak lama kemudian dia melepas helmnya dan turun dari motor mendekati aku… aku tersenyum saja melihat orang yang jahat itu menghampiri aku.


“Kamu sudah bikin kacau bisnisku!... kamu akan menerima pembalasan”


“Bisnis kamu yang mana yang aku bikin kacau Marwoto.. .. bisnis penglarisan dengan menaruh demit-demit di atas toko yang membayar kamu dengan mahal?”


“Kamu apa tidak kasihan dengan toko yang sangat sepi yang menjual barang yang sama?”


“Sekarang apa maumu Marwoto?”

__ADS_1


“Kamu akan aku habisi…ingat.. Kamu tidak akan pulang dengan selamat!”


__ADS_2