
Sudah seminggu semenjak kepergian anak-anak yang KKN.
Sudah seminggu aku tidak melihat wajah mas Ilham yang begitu mempesona.
Sudah seminggu aku masih dengan pekerjaan rutin membersihkan rumah dan pekarangan penduduk sini sekaligus mulai memilah pakaian yang masih layak jual dan tidak layak.
Aku mulai mengumpulkan uang dari hasil membersihkan pekarangan, kadang sebagai tenaga angkat ketika ada salah satu penduduk sini yang melakukan bisnis jagung pipilan.
Pokoknya semua pekerjaan aku lakukan agar aku dapat uang untuk melanjutkan bisnis penjualan pakaian bekas.
Uang hasil kerjaku sebagian ditabung untuk membeli payung besar dan terpal. Payung besar dan terpal akan kugunakan untuk lapak jual pakaian bekas yang rencananya nanti ada di sekitar pasar Gebang.
Untungnya penduduk sini mau menerimaku, dan selama empat minggu ada di sini, aku sama sekali tidak melakukan hal negatif kepada penduduk di desa ini.
Selama empat minggu ini aku belum pernah pergi dari desa, tapi nanti malam aku punya rencana untuk ke Gebang… yah sekedar untuk melihat keadaan di sana dan mencari payung besar dan terpal yang murah saja.
Siang hari ini aku sedang ada di warung mbok Nah… hampir tiap hari aku ada disini untuk makan… dan untungnya mbok Nah orangnya baik.
Saya hanya perlu membayar harga makanan 50% saja dari harga normal, karena aku juga bantu-bantu mbok Nah di rumah nya.
Sebenarnya warung ini lumayan rame juga meskipun letaknya ada di sebuah desa, pembeli warung ini ya hanya dari orang sekitar desa ini… mungkin mereka sedang malas untuk masak hehehe.
“Toook.. Totoook” panggil mbok Nah ketika aku sedang menyapu halaman rumah dia yang lumayan lebar.
“Iya mbok… ada apa…”
“Kalau sudah selesai makan, bantu mbok Nah di kebun pisang belakang rumah ya”
“Ada beberapa buah tandang pisang yang sudah matang”
“Iya mbok…”
Seperti siang ini, setelah makan aku menuju ke halaman belakang rumah mbok Nah, ternyata disana ada tiga pohon pisang yang buahnya sudah siap untuk diambil.
Sore hari setelah selesai dengan urusan pisang, aku pulang dengan beberapa sisir pisang yang sebagian sudah menguning, jenis pisang yang ada di halaman mbok Nah ini berjenis pisang kepok.
Sebagian pisang ini harusnya bisa dijual di pasar, karena jelas terlalu banyak kalau hanya aku pakai untuk makan..
Sesuai rencanaku malam nanti aku mau ke Gebang, karena pasar Gebang biasanya rame pada malam hari, aku bisa jual pisang ini di sana sekalian melihat keadaan pasar.
*****
Sore menjelang malam.. Aku meminjam sepeda tetangga sebelah untuk ke pasar, aku beralasan menjual pisang pemberian dari mbok Nah.
Sebenarnya ada jalan yang lebih singkat untuk menuju ke Gebang, yaitu lewat tengah hutan yang akan tembus ke vila putih.
Karena jalan yang sekarang ini memutar dan tentu saja lebih jauh daripada yang lewat tengah hutan itu.
Tapi aku tidak mau… aku tidak mau mengingat ingat jalan itu dan masa lalu yang sudah kutinggalkan, aku masih bisa hidup saja sudah sangat beruntung.
Tidak seperti Juriah dan Widodo yang sudah hilang entah ke mana.
__ADS_1
Sepeda yang katanya adalah sepeda gunung ini kayuh agak kencang, agar aku sampai di pasar tidak terlalu malam.
Keadaan jalan yang kulalui ini memang sepi, tapi masih ada sepeda motor yang lewat, bahkan ada juga penduduk sini yang berjalan di gelapnya malam menuju ke arah Gebang.
Mungkin hampir seperempat jam dengan kecepatan yang lumayan aku sampai di pasar Gebang… untungnya pasar Gebang ini masih ramai dengan orang yang berbelanja.
Kuhampiri pedagang yang menjual anek sayur untuk kutawarkan tiga sisir pisang yang sebagian sudah menguning itu.
Setelah selesai dengan menjual tiga sisir pisang, aku sekarang menuju ke sebuah toko yang tadi kulihat menjual terpal dan plastik.
Akhirnya dengan uang hasil membersihkan rumah dan uang penjualan pisang yang tidak berapa aku pulang dengan satu buat terpal ukuran dua kali satu meter.
Aku tidak jadi membeli payung besar, karena harganya yang cukup malah dan uangku tidak cukup untuk membeli payung.
Terpal ini nanti akan aku gunakan untuk berdagang pakaian bekas yang sudah dipilah pilah sebelumnya.
“Hari ini satu langkah lagi menuju sukses yang nampak di depan mata” teriakku di tengah perjalanan menuju ke arah rumah
Ketika aku akan melewat telaga yang dulunya pernah kulewati ketika bersama anak Sutopo dan mahasiswi.. Tiba-tiba aku mencium bau bunga.
Aduuuh jangan lagi… aku sudah muak dengan ghaib dan segala masalahnya…Aku tidak mau berurusan lagi dengan hal-hal ghaib!
“Tolong jangan ganggu aku… aku hanya mau hidup normal sajaaaa!!!!” teriakku ketika melewati area telaga.
“Aku tau kalian ada disana.. Tapi tolonglah…saya tidak mau berurusan lagi dengan kalian semua!”
“Aku sudah muak dengan kalian setan-setan!…jangan ganggu aku!.. Hidupku sudah normal!”
Aku tau kalau kemungkinan besar masih ada ghaib yang mengenaliku meskipun aku sekarang sudah ada di jaman yang berbeda.
Tapi aku tetap tidak mau berurusan dengan mereka!
Kukayuh sepeda ini lebih cepat., agar aku bisa sampai di rumah.
“Huuuhh.. Akhirnya sampai juga di rumah”
Aku harus mengembalikan sepeda ini kepada pemiliknya, sepeda ini sebenarnya tidak pernah dipakai oleh pemiliknya.
Hanya tergeletak di samping rumah dengan tidak terawat.. Tetapi setelah kubantu untuk memperbaiki dan membersihkan…, akhirnya aku diperbolehkan meminjam sepeda ini sewaktu waktu.
Harapanku nanti suatu saat aku bisa membeli sepeda ini dari pemiliknya..
“Assalamualaikum pak Peno…. Saya mau kembalikan sepeda pak” sapaku di depan rumahnya
“Waalaikumsalam mas Totok…dari Gebang tadi ngapain mas?”
“Saya tadi jual pisang pemberian dari mbok Nah, sekalian saya beli terpal ini pak” kutunjukan sebuah terpal yang terlipat rapi
“Terpal ini besok malam akan saya gunakan untuk menjual pakaian bekas di Gebang pak”
“Wah hebat juga kamu mas Totok, kamu orangnya ulet juga…. Eh kalau besok mau jualan ke Gebang, pakai saja sepeda saya untuk transportasinya mas” kata pak Peno
__ADS_1
“Terima kasih banyak pak Peno… nanti suatu saat apabila saya ada uang… sepeda ini akan saya beli pak”
“Sudahlah…pakai dulu saja sepedanya kalau memang memerlukan. Yang penting usaha mas Totok bisa berjalan dengan lancar”
“Sekali lagi terima kasih pak Peno… kalau pak Peno butuh bantuan saya, saya akan membantu pak Peno dengan senang hati pak”
“Sudahlah mas Totok… saya senang lihat mas Totok seperti ini, ulet, pekerja keras, dan pantang menyerah”
Malam ini aku habiskan untuk sekali lagi menyortir pakaian yang masih layak digunakan dan pakaian yang sudah tidak layak digunakan.
Oh iya… selama aku ada disini, pemilik rumah yang baik itu masih memperbolehkan aku untuk memasang satu lampu.. Hanya satu lampu yang ada di ruang tengah saja.
Dia menggratiskan pembayaran listrik yang ada di rumah ini, dan sebagai balas jasanya, aku selalu menawarkan bantuan untuk apapun kepada pemilik rumah ini.
“Untuk besok cukup sepuluh potong pakaian saja.. Lima potong pakaian laki-laki….sisanya yang lima lagi pakaian perempuan”
Pagi hari berikutnya kulalui dengan kegiatan seperti biasanya… aku berkeliling desa untuk menawarkan bantuan jasa bagi yang membutuhkan.
Untungnya hari ini ada tambahan pemasukan dari jasa apa saja yang kutawarkan dengan gratis, dan untungnya orang sini malah memberi aku uang dengan nominal yang berbeda beda atas jasa ku.
Hari sudah sore.. aku sudah siap untuk berjualan baju di sekitar gebang.
Ini adalah hari pertamaku untuk berdagang, berbisnis, berniaga.
Seperti kemarin, aku meminjam sepeda kepada tetangga sebelah rumah, untuk transportasi ke Gebang.
*****
Lapak sudah kubuka.. Terpal sudah ku gelar.. Pakaian bekas sudah ku tata rapi..
Tetapi belum ada seorangpun pembeli yang datang ke lapaku!
Sudah cukup lama juga aku ada disini, tetapi tetap saja belum ada orang yang mampir kesini.
Hingga ketika aku sudah putus asa untuk pulang karena keadaan pasar yang semakin sepi, tiba-tiba ada perempuan datang mendatangi lapak pakaian bekasku.
“Permisi mas… pakaian laki lakinya bisa saya lihat?” tanya perempuan yang kemudian jongkok di depan lapakku
“Oh monnggo bu.. Kebetulan saya hanya bawa lima potong saja”
“Ndak papa mas… seharusnya masnya jualan pakai lampu dong, agar pembeli kelihatan dengan jelas. Atau masnya jualan di bawah lampu penerangan jalan saja”
“Hmmm saya ambil hem ini saja mas… kalau sampai rumah ternyata pakaian yang mas jual ini bagus. Besok saya ke sini lagi untuk melihat model yang lainya”
“Alhamdulillah bisa laku juga bu heheheh”
“Baiklah bu.. Besok saya akan jualan di bawah lampu penerangan saja”
Syukurlah hari ini bisa laku satu biji, tapi besok aku akan pindah ke bawah lampu penerangan agar penjualan pakaian bekas ini laku banyak.
Besok aku akan perbanyak pakaian yang akan kubawa, agar pembeli bisa memilih mana yang cocok bagi mereka.
__ADS_1