
“Mereneo Le, mlebuo, mbah sudah lama nunggu koe datang ke rumah mbah lho Le” suara mbahku yang pelan itu semakin membuat bulu kudukku berdiri
Sekarang aku sudah ada di samping pintu kamar mbahku, aku belum berani untuk masuk ke kamarnya, apalagi barusan suara mbah putri memanggilku.
Aku harusnya bangga karena mbahku masih ingat dengan cucunya meskipun mbahku sudah meninggal belasan tahun silam.
Tapi ya kenapa pakek acara menakutkan gini, kalau umpama hanya mimpi kan enak, lha ini malah suasana mengerikan yang muncul.
Yang ada di dalam diriku sekarang ya cuma ketakutan, kenapa ndak paket acara lampu terang ada makan-makan saja.
kenapa harus ngeri kayak gini sih, iya kalau aku ndak sakit jantung, coba kalau aku sakit jantung ,apane hak masuk UGD.
Kakiku yang sudah kaku malah jadi gemeter ndak karuan, dadaku menjadi sesak, kepalaku terasa makin membesar berdenyut-denyut, dan terasa makin merinding di seluruh tubuhku.
Apa yang harus aku lakukan, aku sudah tengah jalan, jelas tidak mungkin aku kembali ke kamarku, kalau aku kembali ke kamar pasti besok mbahku akan mendatangiku lagi , dan mungkin juga akan marah kepadaku.
Akal sehatku menyuruh untuk terus masuk ke dalam kamar mbahku, tetapi perasaanku menyuruhku untuk mundur saja.
Aku akan turuti akal sehatku saja, karena kalau aku turuti perasaan yang ada hanya besok mbahku pasti akan datang lagi dan lagi.... begitu seterusnya hingga aku berani bertemu mbahku.
Aku perintahakan kakiku untuk melangkah mendekati kamar mbahku yang pintunya terbuka separuh dan bersinar remang-remang ini.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... mbah putri, nuwun sewu...”
Sebelum aku masuk kedalam kamar aku harus pastikan mbah aku akan balas ucapan salamku dengan baik seperti yang aku dengar ketika mbahku menirukan suara ku waktu aku melafakan ayat kursi.
“waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.... ayo masuk sini Gus”
Mbah putriku menjawab salamku dengan suara yang pelan namun jelas, aku yakin yang ada didalam itu adalah mbahku.
“Mbah nuwun sewu saya mau masuk ke kamar mbah sekarang, tolong jangan serem serem ya mbah”
Aku berusaha menenangkan perasaan dan otakku dulu dengan cara sedikit bergurau , meskipun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.
Ya sudahlah, memang situasinya ndak bisa dibuat guyonan lebih baik aku langsung masuk ke dalam kamar mbah putri saja
Meskipun kini aku berusaha merubah mindset ku untuk menenangkan diriku agar tidak merinding, tetapi tetap saja tidak bisa, aku tetap merinding karena membayangkan apa yang ada di dalam kamar itu.
Perasaanku ini tidak bisa dijadikan patokan ketakutanku, karena sebenarnya aku belum tau apa yang ada didalam sana.
Keadaan rumah ini masih saja gelap kecuali kamar mbah putri yang terlihat bersinar cahaya temaram.
Kuintip sedikit apa yang ada di kamar mbah putriku, aku melihat lemari besar yang nempel tembok, lemari besar ini terdiri dari kaca yang lebar sehingga isi di dalamnya yang berupa jarik dan pakaian mbah putri terlihat olehku.
Aku beranikan lagi untuk lebih melongok kedalam, sebelum seluruh tubuhku masuk ke dalam kamar itu.
Ternyata cahaya yang ada di kamar ini berasal dari bohlam kamar yang memancar sedup temaram.
__ADS_1
Aneh juga, padahal listrik rumah ini kan padam, kenapa bohlam kamar ini menyala meskipun redup temaram.
Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar, ternyata kamar ini kosong, lho kenapa kok kosong, tidak ada siapapun yang ada di kamar ini.
Di dalam kamar ini terdapat sebuah lemari kaca yang besar, besarnya hampir menutupi dinding sebelah selatan.
Di seberang lemari kaca ada sebuah tempat tidur kuno yang terbuat dari besi, tempat tidur besi itu dilengkapi dengan kelambu persis filem-filem hantu.
Di sebelah tampat tidur besi ada sebuah meja rias mbahku , sebuah meja rias kecil lengkap dengan kursi kecilnya
Di meja ini ada beberapa pernak pernik milik mbahku seperti bedak, sisir, jepit rambut, minyak rambut hijau yang tadi sempat tercium baunya dan beberapa asesoris macam peniti dan sejenisnya.
Aku masih memandang berkeliling kamar ini, kamar ini tenyata tidak berubah sama sekali setelah belasan tahun aku tidak pernah kesini, ya setelah mbah putriku sedo, aku tidak pernah kesini lagi.
Aku sempat merasa mengingat masa lalu, ketika itu aku masih SD , kalau aku ke rumah mbahku ini , aku selalu tidur di kolong tempat tidur besi ini, karena di bawah kolong ini dingin udaranya.
Ketika aku sedang melamun mengingat masa lalu tiba-tiba bahuku ku ditepuk seseorang , aku kaget sekali
“Astargfirullah….. ya Allah aku sempat melamun di kamar mengerikan ini” gumamku sambil menoleh ke belakangku karena aku merasa ada yang menepuk bahuku dsri belakang
Di belakangku tidak ada siapapun, aku semakin merinding, belum juga hilang rasa takutku, kemudian aku melihat sebuah bayangan yang sedang duduk di kursi kecil meja rias.
Bayangan itu nampaknya sedang menyisir rambut panjangnya, sebuah bayangan yang lambat laun semkin jelas, dan akhirnya menjadi jelas sekali.
“M…mbah put…putri” kataku tergagap kaget ketika melihat mbah putri sedang menyisir dan memberi minyak rambutnya dengan minyak yang botol nya berwarna hijau itu
“M..mbah P..putri , apa yang mbah mau dari a..aku?. Ke...kanapa mbah mau ketemu aku mbah?”
Aku belum bisa melihat wajah mbah putri secara langsung, karena mbah putri sedang menghadap ke arah kaca rias berbentuk oval , sedangkan di kaca rias itu tidak memantulkan wajah mbaku sama sekali.
Aku hanya bisa melihat rambutnya yang klimis panjang dan agak keriting itu disisir dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merapikan rambut itu.
Mbahku saat ini hanya memakai daster panjang berwarna putih kegemaranya, memang mbahkku kalau akan tidur selalu memakai daster, di lemari kaca besar sampingku ini banyak sekali daster milik
mbahku.
Mbahku belum juga menjawab pertanyaanku, beliau masih sibuk dengan menata rambutnya.
Biasanya setelah beliau menyisir dan memberi minyak, kemudian beliau akan menggelung kecil rambutnya.
Dan benar saja, setelah beliau menyisir dan memberi minyak, kemudian beliau menggelung rambutnya menjadi sebuah gelungan berbentuk kecil.
Mbah putriku belum juga menjawab pertanyaanku, kini dia sedang merapikan sisir dan minyak rambutnya.
Mbahku ini terkenal orang yang bersihan dan rapi, sehingga tidak heran kalau mbak Puji disewa untuk menbersihkan rumah ini.
Perlahan-lahan mbah putriku memutar tubuhnya dan menghadap ke arahku, aduuhh wajah mbah putri nampak mengerikan sekali....
__ADS_1
Wajah putih pucat kurus dengan kerutan kerutan diwajahnya, kelopak mata yang terlihat cekung dan mata yang tajam melihat kepadaku.
“Kamu ndak usah takut Gus, mbah Cuma mau ngasih sesuatu buat kamu, sesuatu ini juga atas pemintaan mbah kakung waktu masih hidup dulu”
"Untuk memberikan sesuatu ini kepada cucunya yang masih ingat kepada mbahnya"
Kamudian mbah putri mengangkat lengannya, dia menyuruhku mendekat kearahnya, beliau keliatanya sedang menggengam sesuatu di telapak tangan kanannya.
“Mendekat sini Gus, mbah punya sesuatu yang harus kamu ambil di tangan mbah, ayo sini Gus jangan takut sama mbah”
Mbahku berbicara tanpa ada ekspresi di wajahnya, beliau memintaku mendekat, aku bener-bener ketakutan, ketakutan yang sudah ada di di ubun ubun.
Tapi aku harus berani, gimana-gimana beliau kan adalah mbahku sendiri, aku harus berani menghadapi mbahku.
Aku maju perlahan ke arah mbahku, hingga jaraku dengan mbahku hanya sekitar empat puluh cm an.
“Buka tanganmu Gus, terimalah ini dari mbah kakung buat kamu, jangan kamu tolak Gus, karena mbah tau kamu sedang ada masalah, semoga pamberian mbah kakungmu ini bisa membatu masalahmu Gus”
Aku membuka telapak tanganku, aku heran kenapa mbahku kok bisa tau masalahku, apakah semua mahluk ghaib itu bisa tahu masalah orang lain?
Ketika aku buka tanganku, secepat kilat telapak tangan mbah putri memegang tanganku seperti orang sedang salaman.
Tangan mbah putri awalnya terasa dingin sekali, tetapi perlahan-lahan menjadi hangat dan panas, sepertinya dia sedang memberiku suatu benda, benda aneh itu rasanya masuk kedalam melalui pori-pori telapak tanganku.
Aku bisa merasakan sesuatu yang masuk melalui telapak tangan, tubuhku terasa hangat dan nyaman ketika sesuatu itu berjalan di tiap pembuluh darahku.
Aku bisa merasakah sesuatu itu seperti memboosting apa yang ada di dalam tubuhku.
Contoh gampangnya paru-paruku, aku sekarang bisa bernafas dengan lebih lega dari pada sebelumnya.
Tiba-tiba mbahku melepaskan tanganku, mbahku masih duduk diam tanpa ada ekspresi diwajahnya, kemudian beliau menunjuk ke dalam lemari atas bagian atas.
Di dalam lemari bagian atas itu ada sebuah kotak dari kertas karton yang berukuran sekitar 30x30, keliatanya aku disuruh ambil kotak itu.
Tangan kurus mbahku terus menunjuk ke arah dalam lemari ke arah kotak karton itu, entah apakah aku disuruh mengambil kotak karton itu?
Pelan-pelan kubuka lemari kuno milik mbahku ini, suara berderit keras menyertai ketika aku membuka lemari yang berisi semua pakaian mbahku.
Tangan mbahku masih saja menunjuk ke arah kotak karton yang ada di bagian atas lemari , memang posisinya agak tinggi, tetapi dengan aku jinjit akhirnya bisa kuraih kotak kertas itu.
Kotak ini terasa ringan dan sedikit berdebu, ndak tau apa sisi kotak ini kok rasanya ringan sekali, kemudian kotak karton ini aku taruh di meja rias mbahku.
Mbah putriku hanya melihat kontak itu saja tanpa berkata apa-apa hingga beberapa menit kemudian dia menyuruh aku untuk membuka kota karton itu.
“Bukaen kotak iku Gus, ben koe ngerti ada apa di dalamnya”
Ternyata mbahku ingin agar aku membuka kotak ini, apakah kotak ini ada sesuatu yang penting atau gimana, hingga mbahku menyuruhku untuk membukanya.
__ADS_1
Tutup kotak kuangkat, isi kotak itu kemudian terlihat olehku, isi kotak itu adalah benda berharga bagi mbahku ketika sedang berpergian.