INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 62. APA YANG TERJADI DISINI


__ADS_3

“Gelap c*k pasti akeh setane disini hehehe” kata Blewah


“Hussh ojok cak cok ae nek di daerah koyok gini syu!” tegur Glewo


Kedua temanku itu memang ada ada saja, tetapi dengan adanya mereka paling tidak kalau terjadi sesuatu denganku maka akan ada yang membatuku, apalagi hotel ini sepertinya keadaanya berbeda dengan kemarin.


Baru saja memasuki pintu gerbang kami sudah disambut dengan hawa yang berbeda dengan yang ada diluar gerbang, disini rasanya dingin tetapi dinginya ini agak anyep gitu, jadi dinginnya itu nanggung, dingin tapi agak lengket kayak keringat lah gampangnya. Padahal diluar gerbang dinginnya khas kaki pegunungan.


Nah yang bikin heran kemarin disini masih ada cahaya dari lampu yang tidak begitu terang, tetapi sekarang sudah tidak ada cahaya sama sekali, yang ada hanya cahaya bulan yang sedikit cukup menerangi taman dari hotel ini, sehingga jarak pandang kami benar-benat terbatas.


Kami berjalan pelan terus menujuk ke arah kantor hotel, anehnya rumput yang kuinjak ini rasanya beda dengan kemarin, sekarang rumput ini tinggi sekali, sepertinya rumput ini lama tidak dipotong, kenapa berbeda dengan waktu aku kesini kemarin ya.


Sebelah kananku pohon beringin yang dari posisiku ini nampak besar dan rimbun, sulur sulurnya pun panjang sekali hingga menyentuh tanah, bau segarnya daun beringin membuat rasa takutku sedikit berkurang, tetapi tetap saja aku masih takutlah.


Kantor hotel yang gelap sudah terlihat dari jarak pandang kami yang sekarang mendekati pohon mangga, pohon mangga tempat aku kemarin memarkirkan mobil Totok. Pohon mangga ini juga keliatanya lebih rimbun dari pada kemarin waktu aku kesini.


Sepertinya disini ada yang berubah, semua yang kulihat dan kurasakan berbeda dengan kamarin. Suasananya pun benar benar sunyi sepi, yang aku rasakan ini bukan sunyi sepi yang nikmat untuk dirasakan, tetapi sunyi sepi yang mengerikan.


Kadang kita sebagai manusia kepingin refreshing berpergian ke suatu daerah pegunungan yang dingin sunyi dan sepi untuk menenangkan pikiran dari rutinitas pekerjaan. Tetapi disini sunyi sepinya ndak bisa nenangkan pikiran, yang ada malah kepikiran  tingkat tinggi.


Apalagi ditambah dengan keadaan angin mati, di dalam sini aku sama sekali tidak merasakan adanya hembusan angin, sehingga tidak ada suara daun bergesekan karena terkena hembusan angin.


Tapi terus terang aja meskipun disini tidak ada hembusan angin, tetapi dari tadi ada saja daun yang bergoyang dengan sendirinya hehehe, dari tadi mulai dari pohon beringin ada saja daun yang goyang sendiri, tapi aku yakin mereka tidak bermaksud mengganggu kami lah.


“Gel hpmu kan ada senternya, apa ndak kamu nyalakan sentermu Gel,  takutnya kita injak Ular Gel, soale keliatnya hotel ini sudah lama ndak dihuni rek, tamannya lebar sekali, rumputnya tinggi-tinggi dan ngerik, siapa tau ada ular disini” kata Glewo


“Katamu hotel ini ada yang jaga Gel, lha kok sekarang malah koyok Hotel yang keliatanya sudah tidak beroperasi bertahun tahun lamanya Gel, pohon beringin besar di taman depan itu lho, sampek akar akarnya berjuntai panjang sekali” kata Glewo


Aku tidak menjawab pertanyaan Glewo karena aku tidak tau harus menjawab apa, memang keadaanya beda jauh dengan kemarin aku kesini.


“Aku gak berani nyalakan senter Wo, takutnya ada orang yang jaga di kantor hotel itu, apane gak bonyok kalau kita ketahuan masuk tanpa permisi”


“Eehhmm mayak rek, ada yang mulai cari gara-gara di depan kita rek, padahal dari tadi yo banyak disini, tetapi rata-rata cuma liat kita tok. Lha kok yang ini mulai menghalangi kita” kata blewah yang kadang bisa lihat aneh aneh


Aku coba lihat dengan cara menyipitkan mataku, apa betul yang tadi dikatakan Blewah itu. Astaga ternyata di depan kami sudah berdiri poci yang tingginya lebih dari dua meter, wajah poci itu sedang melihat ke arah Blewah yag siap melakukan perlawanan.


“Aku gak wedi karo koen c*k! ayo majuo, tak idoni raimu c*k!  (aku ndak takut sama kamu c*k, ayo maju , tak  ludahi wajahmu c*k) ” teriak Blewah yang sempat membuat poci itu bergetar

__ADS_1


Aneh juga kenapa poci kok takut dengan blewah, yang nyata-nyata Blewah ini adalah manusia yang harusnya ditakut takuti oleh para pengganggu ketentraman hidup itu, apa karena wajah Blewah  yang lebih menakutkan dari pada pocinya?


Kapan kapan akan saya aplod foto kami bertiga, tapi saya tidak mau aplod foto Totok, takutnya saya dianggap pendukung aksi legalitas eLGiBiTi hehehehe.


  “Rek siapno idumu, akan banyak yang datang kesini, keliatanya poci tadi wadul ke teman temannya rek” kata Blewah


Bener juga kata Blewah, melalui mata sipitkuaku bisa lihat ada sekitar lima poci yang sedang melayang menuju kesini. Terus terang aku agak takut dengan kehadiran mereka, tetapi Blewah nampak nya maju terus pantang mundur, aku akhirnya ikut bersemangat.


“Tenang ae Wo, pokoknya kemana kita ngidu ( meludah) kamu ikuti sisan, pokoknya siapkan ludahmu , riakmu, umbelmu yang paling muuambu rek” kata Blewah


Pada saat ini posisi kami ada di bawah pohon mangga, sedangkan poci itu berdatangan dari arah bungalow belakang. Padahal poci dan mbak kunti yang ada di pohon beringin sama sekali ndak ngurus kami datang kesini.


Aku sudah siap menghadapi mereka, tetapi sedetik kemudian mereka tiba-tiba menghilang, tidak ada apapun yang nampak didepan kami, hanya lahan taman yang tidak terawat saja.


“Aneh mereka hilang Gel, sekarang nyalakan sentermu Gel, disini kan ndak ada orang juga” kata Glewo


“Ngawur ae Wo, mana kita tau ndak ada orang, sudahlah kita jalan pelan sajalah” aku masih takut untuk menyalakan senter hpku, aku takut apabila ada Baldy yang tiba tiba datang kearah cahaya senterku


“Gini ae Gel, kita intip dulu kantor hotel yang ada di depan kita dulu, bagaimana keadaan didalam sana, dinding yang bertuliskan kantor itu kan terdiri dari kaca besar besar, bahkan pintu itu sebagian besar kaca, hanya list pintunya saja yang terbuat dari kayu”


Kami menuju ke arah pintu kantor hotel yang berdebu cukup tebal kuhapus debu itu sedikit menggunanakan telapak tanganku, ketika kuintip ke dalam ternyata di dalam keadaanya gelap kosong dan berdebu, meja resepsion pun kosong.


“Wis yakin ya Gel, di dalam sana ndak ada apa apa ya, jadi untuk lebih amannya nyalakan senter hpmu, agar kita terhindar dari ular yang mungkin bersarang di rumput taman hotel” kata Glewo


Iya siih memang hotel ini keadaanya kosong, dan kelihatanya sudah lama ditinggalkan, lalu kemarin itu apa, kenapa kemarin keadaanya terawat bahkan ada pejaganya yang mengerikan itu. Kuambil  hpku kemudian kunyalakan senternya, aku iseng menyinari keadaan didalam kantor hotel.


Astagfirullah ..... banyak sesuatu yang berwarna hitam di lantai kantor hotel!


“Eh rek iku opo kok koyok cat warna hitam yang asal disebar dilantai gak beraturan gitu” tanyaku kepada kedua temanku.


“Iku bukan cat, itu darah” jawab Blewah pelan “banyak darah didalam sana, mungkin bahkan di dalam kamar-kamar itu juga ada darah, kita kan hanya bisa lihat yang ada di lantai kantor saja”


“Coba arahkan cahaya setermu ke dinding kantor hotel ini Gel, siapa tau ada sesuatu yang bisa dilihat” suruh Blewah


Kusorotkan lampu senter hpku ke dinding kantor hotel , memang sih sinar dari senter hpku ini tidak terlalu terang, tetapi paling tidk ada cahaya yang bisa membuat kami melihat keanehan yang ada didalam kantor hotel.


“Stoop, agak kekiri Gel, aku lihat sesuatu di tembok itu” kata Blewah yang ternyata bermata paling tajam diantara kami

__ADS_1


“Itu cap darah kering dari telapak tangan yang kelihatanya tidak sengaja tertempel di dinding” kata Blewah “ada beberapa telapak tangan penuh darah yang menempel di dinding, kelihatanya ada perlawanan dari pemilik telapak tangan itu kepada sesuatu yang menyerangnya”


Aku tidak tau apa yang terjadi disini , tetapi apakah hanya kita yang kesini, apakah tidak ada orang iseng macam kami yang kesini untuk melihat keadaan hotel  ini?


“Ayo pergi dari depan kantor ini rek, makin lama ada didepan kantor hotel ini rasanya makin aneh, seperti ada yang berusaha menarik kita untuk masuk dan melihat lebih dalam ke ruangan itu” kata Blewah


“Kita ke taman belakang ae rek, disana tempat aku lihat sesuatu yang kuceritakan tadi pagi itu” ajaku kepada kedua temanku


Kami berjalan kembali ke arah pohon mangga yang telihat lebih besar dari pada waktu aku kesini kemarin malam, senter hpku sekarang dibawa oleh Blewah yang berjalan duluan didepan, dia memang kadang paling berani, dan kadang dia juga paling  penakut diantara kami.


“Setelah lewat pohon mangga, di depan kami ada semacam pintu yang membatasi antara disini di taman depan dengan kamar-kamar yang berbentuk bungalow rek, disana nanti hanya ada enam kamar yang lumayan besar dan mewah” bisikku


Kami berjalan memasuki pintu pemisah yang berupa celah kecil sederhana diantara pohon mangga itu.


Bungalow di kanan kami nampak mengerikan dengan kaca berdebu tanpa gorden sehingga kita bisa lihat gelapnya keadaan didalam bungalow, kadang juga kita bisa lihat bayangan kursi diruang tamu bungalow ketika sinar Hp mengenai kaca depan salah satu dari bungalow itu.


“Aku kepingin liat keadaan dalam kamar itu rek, ayo kita kesana” ajak Blewah ke kamar yang bertuliskan 1+


“1+ itu apa artine Gel, apakah plus itu menandakan sesuatu macam pijat plus plus, hihihihi” tanya Glewo


Aku ndak jawab pertanyaan Glewo yang aneh aneh, yang aku perhatikan sekarang adalah taman di samping kananku yang tanamanya tumbuh liar tidak terawat, padahal kan disitu tempatku bersembunyi kemarin.


Kami berjalan ke arah kamar no 1+ hanya karena Blewah yang penasaran dengan keadaan didalam sana, jendela besar yang berkaca lebar tanpa kelambu dan ditambah senter hp yang lumayan bisa menerangi keadaan di dalam kamar itu.


“Di dalam sini ndak ada keanehan apapun , cuma meja kursi yang kotor berdebu saja, tapi di sebelah dalam sana aku lihat sesuatu, koyoke penghuni kamar ini, tapi biarlah selama tidak mengganggu kita rek” kata Blewah


“Sopo Wah, poci atau kunti?” tanya Glewo


“Bukan Wo, kalok Poci dan kunti dari tadi buanyak, dipohon mangga dan beringin sana banyak, tapi yang ini bukan , dia di dalam kamar sana, ndak keliatan dari sini” kata Blewah sambil terus menyenteri keadaan dalam kamar nomor 1+


.....KRIIIEEETTT....BRAK!!!!!....


Asyu!...., suara pintu terbuka dan tertutup!


“C*k!, garai kaget ae, dimana itu Gel” tanya Blewah


“Janc*k untung gak duwe penyakit jantung aku c*K” sahut Glewo

__ADS_1


“Ssssstt ojok berisik ae c*k, kita cari ae di sekitar sini koyoke suarane, karena kalau suara pintu kantor hotel ndak gitu rek, kantor hotel ini kan pintune sebagian besar kaca, jadi suarane ndak kayak gitu” jawabku


__ADS_2