INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 63. ADA DIMANA KAMI INI


__ADS_3

“Suara pintu terbuka dan  tertutup itu ndak jauh dari sini keliatanya rek, karena tadi aku dengarnya ada di sebelah depan  sana rek” kata Glewo


“Apa lebih baik kita langsung kesana ae, atau kita liat situasi di dalam kamar kamar itu?” jawab Blewah


“Jangan-jangan itu jebakan agar kita ke sana agar kita mendatangi arah suara itu, dalam situasi  begini lebih baik kita berpikir lebih cermat rek, segala pancingan baik berupa suara atau apapun harus kita pikir kan dulu rek”


“Iya Gel, bener awakmu sih,  lebih baik kita tetap periksa kamar demi kamar dulu saja, jangan  tergesa gesa untuk mendatangi arah suara yang belum tentu itu adalah yang kita tuju” kata Glewo


Kami sekarang akan pindah ke kamar no 2+. Setiap bungalow atau kamar selalu berbatas dengan tembok yang lumayan tinggi, sehingga kalau kita akan ke kamar sebelah kita harus keluar dari taman salah satu  bungalow ini.


“Hmm hawa di kamar no2+ ini beda dengan kamar sebelumnya, disini hawanya sedikit hangat rek, pasti disini banyak yang aneh aneh heheheh” kata Blewah


“Ada baiknya kita harus lebih berhati hati Wah masalahe kita ada di tempat yang asing, ojok sampek bikin masalah disini, tetapi kamar ini kenapa jendelanya tertutup kelambu ya, kenapa yang sebelumnya tidak ada kelambunya?”


“Bentar Gel, pasti ada alasanya kenapa kelambu itu terpasang di jendela kamar yang hawanya lebih hangat dari pada yang sebelumnya” jawab Blewah


“Kita cari jendela yang agak sedikit terbuka kelambunya rek, kita harus bisa intip yang ada didalam sana rek, karena kayaknya di tiap kamar ini berbeda beda isinya” jelas Blewah sambil  mencari celah  jendela yang tidak berkelambu.


Bungalow disini ini mempunyai jendela yang lebar-lebar , mungkin fungsinya agar yang menempati disini akan merasa nyaman dan kerasan karena bisa melihat taman yang asri di sekeliling tiap kamar. Jadi tiap bungalow ini dikelilingi taman pribadi, taman depan, samping kiri dan kanan.


“Rek coba kita ke samping sana, siapa tau ada jendela lagi, tetapi pastinya itu jendela kamar, karena posisinya ada disamping” kata Blewah berusaha memberi cahaya pada sekeliling taman samping


“Koyoke aman Wah, taman samping ndak ada tanaman rumbuk rumbuknya kok” Kata Glewo


Kami menuju jendela samping yang merupakan jendela kamar yang didalamnya ada dua tempat tidur itu, dan benar juga jendela kamar ini tidak tertutup selambu sama sekali.


Jendela yang kotor debu itu kami usap menggunakan telapak tangan hingga keadaan gelap gulita di dalam kamar pun telihat dari luar.


“Siap gak siap kamar ini tak senteri yo rek, nek misale ada sesuatu yang mengerikan segera saja berdoa kuat kuat rek heheheh” kata Blewah yang memang agak kurang waras dibanding aku dan Glewo


Sinar senter dari Hpku pun akhirnya menembus jendela kamar dan menyorot apa yang ada di dalam kamar. Sesuatu yang hitam terlihat ada di atas kursi meja kamar, sesuatu itu seolah olah sedang duduk bersandar pada kursi.


Sinar senter menyorot ke arah sesuatu itu, kami fokuskan mata kami ke arah sinar senter, ternyata sesuatu itu lebih mirip seperti benda yang keriput  yang ada rambut rambutnya.


“Astagfirullah...opo iku rek!” bisik Glewo sambil mundur beberapa langkah dari jendela

__ADS_1


“Wis Wah , jangan sinari iku, aku yakin iku mayat perempuan yang didudukan di kursi, mayat yang sudah lama dan mengering. Ayo pindah ke kamar 6+ ae rek! Makin gak karuan ae disini” kataku


Blewah menuruti apa kataku kemudian kami keluar dari wilayah bungalow no2+ dan langsung menuju ke kamar nomor 6+ tempat aku mengalami hal hal yang mengerikan dengan munculnya  anak setan kecil yang sedang memakan tubuh manusia.


Aku merasakan pebedaan suhu dan hawa disini, semakin ke arah taman belakang aku semakin merasa bahwa suhu udaranya semakin meningkat, sampai ndak terasa keringatku mengalir dari kepalaku.


Pasti naiknya suhu udara ini ada  hubunganya dengan pemasangan pengatur suhu di kamar 6+, tapi ya ndak tau lagi kalau memang di semua kamar ada Acnya.


 Sayangnya tadi aku tidak memperhatikan dari kamar 1+ hingga 5+ apakah disana juga dipasang pengatur suhu udara atau tidak, tetapi seharusnya satu dipasang ya dipasang semua lah.


“Eh rek kalian merasa makin panas ndak”


“Iyo Gel, makin kesini makin hangat suhu udaranya, padahal ini kan malam hari, harusnya udaranya ya sama dengan yang di depan sana.  Tapi aneh juga bisa bisanya suhu udaranya panas, bearti makin banyak setanya disini heheheh” kata Blewah


“Eh kalian tadi perhatikan ndak, tiap kamar ada ac nya ndak rek? Dari mulai no 1+ sampai no 5+ apa kalian lihat ada mesin ac yang diluar itu ndak rek?” tanyaku


“Aku ndak perhatikan, lagi pula mana keliatan kan gelap, kecuali kalau tadi Blewah nyenterin dinding luar bungalow, pasti keliatan lah, lha dari tadi yang dia senterin cuma bagian dalam tok kok” kata Glewo


“Gak ada, gak ada AC nya rek, masio gak tak senteri aku masih bisa liat tiap dinding disini ndak ada Ac outdoornya” sahut Blewah yang sedang menyinari bungalow nomor 6+ tempatku kemarin menginap


“Awas rek, perasaanku gak enak rek, kalian jangan putus doa pokoke. Aku merasa yang ada di kamar 6+ ini bukan mainan anak anak rek” kata Blewah


Bungalow kamar no 6+ ada di sebelah kanan kami,  jendelanya tanpa gorden dan kacanya pun tampaknya bukan kaca berlapis kaca film, kaca kamar 6+ ini berdebu tetapi warnanya putih biasa , berbeda dengan kaca kamar lainya yang berlapis kaca film agak gelap.


Dan seingatku kemarin kaca bungalow ini berlapis kaca film seperti kaca lainya, tetapi kok yang sekarang ini hanya kaca biasa, meskipun berdebu tetapi kaca ini  bening dan tanpa susah payah kita bisa lihat apa yang ada didalam sana.


“kalian siap lihat apa yang ada di dalam sana tak rek?” tanyaku


“Hahahah aku gak tau gak siap Gel, pokoke maju tok prei mundur lah” kata Blewah dengan mantapnya


Blewah sudah ada di depan kaca jendela yang lebar, dia usapkan telapak tanganya ke debu yang menempel di tiap kaca jendela, kemudian dia sorotkan sinar senter ke dalam ruang tamu. Terlihat dengan jelas situasi ruang tamu yang rapi tanpa ada sesuatu apapun.


“Gak ada apa apane gini lho Gel, tapi memang disini lebih panas dibanding lainye c*k, opo kita senteri bagian kamar nya ae Gel” ajak Blewah


Aku yang pada dasarnya kemarin kesini dan mengalami hal aneh hanya bisa diam saja dengan ajakan Blewah, tetapi karena Blewah dan Glewo sudah ada di samping untuk melihat keadaan didalam kamar, terpaksa aku juga ikut mereka ke samping bungalow.

__ADS_1


Kami sekarang sudah ada di depan jendela samping, sayangnya jendela samping ini dicat hitam sehingga kami tidak bisa lihat apa yang ada di dalamnya. Aneh juga kenapa kok jendela ini dicat hitam, padahal kemarin aku disini jendela kamar ini tidak dicat hitam.


Blewah tetap menyinari jendela yang dicat hitam itu, kemudian dia mendekatkan kepalanya di jendela dan memperhatikan cat hitam yang ada pada bagian dalam kaca.


“Ini bukan cat hitam, ini darah!” gumam Blewah sambil terus memperhatikan jendela yang ada di depanya dengan teliti


“R....ruangan didalam ini keliatanya dicat darah semua!” kata Blewah dengan suara yang bergetar “Di cat atau diperciki darah, pokoknya kamar ini dipenuhi darah yang sudah mengering di tiap dinding dan kacanya”


Ya tuhan, apa apaan ini. sebenarnya kita ini ada di jaman kapan, aku bingung dengan keadaan yang aneh ini, apakah kami sekarang mundur ke beberapa tahun kebelakang atau kami malah maju ke beberapa tahun di depan? Aku bingung karena kemarin kan aku ada disini dan semua terlihat biasa biasa saja.


Tetapi kenapa ketika aku bersama dua temanku kesini keadaan disini berubah drastis, sebenarnya yang sekarang kami alami ini benar benar nyata atau kami mengalami kemunduran waktu? Atau mungkin kami ada di jaman masa depan?


“Gimana ini Gel , kita sudahi penyelidikan ini atau bagaimana” tanya Blewah yang saat ini dalam keadaan ketakutan


“Tapi kenapa selama ini tidak ada orang yang melapor ke polisi tentang keadaan hotel ini, kenapa semua penduduk disini tidak mendengar adanya suara teriakan dari para korban yang mati disini?” tanya Blewah


Kami bertiga memutuskan untuk meningalkan kamar nomor 6+ ini , aku yakin yang ada di dalam kamar itu bukan untuk mainan kami yang hanya mengandalkan ludah untuk mengusir poci dan kenti eh kunti.


“Ayo kita pergi dari sini , untuk sementara cukup ini saja yang kita lihat disini rek, ada baiknya kita kesini pada siang hari saja sehingga bisa lihat apa yang ada di dalam sana dengan tenang tidak ketakuan.


“Kita pindah ke depan saja  rek, kita periksa di kantor hotel saja dulu, siapa tahu pintu kantor hotel tidak terkunci dan bisa kita buka” usul Blewah


“Apa perlu Wah? Apa perlu kita harus masuk ke dalam kantor Hotel?” tanyaku


“Sekalian Gel, kamu wis ajak kami sesini, kamu sudah ngajak aku area mengerikan, kan kamu tau kalau aku ini paling suka dengan yang namanya hurur hurur. Kalau au pulnag harusnya ada alasan yang tepat Gel”


“Aku tau di rumah mbahmu itu juga ngeri, tetapi aku kuarang tertantang untuk mencari disana, apalagi ada Indah di kamar belakang, aku makin males Gel hehehe” lanjut Blewah.


Akhirnya kami berjalan balik menuju ke kantor hotel yang ada di depan pohon mangga, keliatanya disana ghaibnya tidak segawat dibelakang sini, buktinya disana suhu udaranya masih dingin beda dengan di belakang sini.


Sekarang kami sudah ada di depan pintu kantor hotel yang terbuat dari kaca yang lebar dan besar, sekali lagi Blewah nengarahkan sinar senternya ke dalam kantor.


“Aman didalam sana, ayo kita coba buka pintu itu rek” suruh Blewah


“Aku menghampiri handle pintu dengan ragu ragu, kupegang handle pntu dan kutikan kebawah.

__ADS_1


.......CEKLEK....KRIIIIEEEEEEETTT....


__ADS_2