
Tidak ada yang bisa diperbuat, tidak bisa pula dihindari, kabut kelabu itu datang bergulung-gulung kepada kami berempat. Aroma amis tercium ketika kabut itu menerpa wajahku, dingin, bau amis dan gelap.
Dua detik setelah kabut kelabu itu menerpa kami, tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan diantara gelap dan pekatnya kabut.
“Kok ada Broni bersama seoarang perempuan cantik yang sedang melihat ke arah mayat yang tertelungkup di jalan, apa kalian juga lihat Wo, Ndah, Wah?”
“Iku lak Broni anak gank Sutopo yang kapan hari itu datang ke tempat kita rek, apa yang sedang dilakukan di kabut ini?” tanya Glewo
Yang bisa kulihat dengan samar adalah sosok Broni bersama seorang perempuan yang sedang melihat sesosok mayat yang tertelungkup di pinggir jalan, kemudian Broni pergi dari sana bersama perempuan cantik itu.
Kabut tebal masih menghalangi jarak pandang kami, tetapi kemudian aku melihat bayangan lain. Tifano, kemudian Wildan yang terbang melayang, Broni, perempuan cantik, dan seorang tua yang botak kepalanya, dan beberapa orang berpakaian putih macam dokter sedang ngobrol.
“Gel, kamu liat apa yang juga kulihat barusan ndak?” tanya Glewo
“Iyo Wo, itu kenapa Wildan bisa melayang, kok aneh ya apa yang kita lihat di dalam kabut ini?”
Pelan-pelan kabut-kabut itu hilang, kami bisa melihat secara normal lagi, tidak ada yang namanya bayangan-bayangan aneh lagi. Gelapnya suasana taman vila ini makin menambah serem setelah datangnya kabut mengerikan yang membawa gambaran keadaan teman-temanku.
“Ayo kita pergi dari sini, keadaanya sudah kembali semula, semoga nanti kita tidak ketemu kabut ngeri itu lagi”
“Tadi Indah lihat juga mas, ada dua orang dari mereka itu adalah teman mas Agus yang pernah kerumah kan mas. Indah masih ingat wajahnya kok”
“Iya Ndah, kelihatanya ada apa-apa dengan mereka. Wo, besok pagi coba kamu telpon mereka, ayo sekarang kita pulang saja”
“Disini banyak keanehan-keanehan mas. Saya merasa ada sesuatu yang sedang terjadi, tetapi kejadianya tidak ada disini. Pokoknya ada kejadian yang terjadi di vila ini, hanya saja saya tidak tau ada dimana itu mas” kata Sumirah yang ada di dalam tubuh Blewah.
“Ayo kita pulang, sudah hampir pukul 01.40 pagi ini”
“Mas, di kamar atas itu ada sesuatu yang mengerikan, kita harus lihat, tapi tidak sekarang mas. Lebih baik kita besok saja kesininya, Indah merasa ada energi yang luar biasa mengerikan disini”
Kami sudah ada di dalam mobil, jalan yang menurun dan rusak mengakibatkan aku tidak bisa mengemudikan mobil dengan cepat, sayanglah kalau mobil ini kuhajar di jalan yang remuk iki.
Tepat sebelum warung yang mengerikan, tiba-tiba di depanku ada kabut lagi, kabut yang mirip dengan kabut yang tadi kami temui di dalam halaman vila.
__ADS_1
“Aduuuh kabut iku lagi jeh, gimana ini, jelas kita ndak bisa jalan terus rek”
Segera kuhentikan mobil, aku tidak berani menjalankan mobil dalam keadaan kabut tebal. Kiri ku adalah jurang dan kanan tebing dengan pohon dan semak belukar.
“Stop dulu ae Gel, bahaya kalau kita jalan diantara kabut koyok gini” kata Glewo yang ada disebelahku
Ketika mobil kuhentikan kabutpun mulai menerjang mobil, kabut yang aneh karana ketebalanya hampir nyata, aku tidak bisa lihat apapun yang ada di sekelilingku.
Tiba-tiba seperti terproyeksi, di depan aku bisa lihat sebuah kereta kuda atau andong yang berjalan ke arah kami. Harusnya andong itu tidak nyata, karena hanya berupa bayangan saja.
Tetapi ketika andong itu mendekati mobl, andong berserta kudangya itu menembus kami, dia menembus mobil. Andong yang ternyata berisi beberapa teman Sutopo yang tadi sempat terproyeksi ketika kami ada di dalam taman vila.
Yang ada di dalam andong hanya melihat lurus ke depan, mereka tidak melihat kami sama sekali. Andong itu berjalan menembus kami hingga hilang .
Kabut masih menyelimuti mobil yang kami tumpangi, tidak lama kemudian ada sesuatu yang aneh di sebelah kiri mobil, ternyata disana ada warung bobrok yang pernah aku datangi bersama Totok.
Ketika kuperhatikan lamat-lamat ternyata di depan warung itu ada totok bersama nenek tua yang mengerikan, mereka melihat ke arah mobil, mereka sambil tertawa. Totok malah menunjuk kami dengan wajah yang mengerikan.
“Iyoo aku eruh , iku Totok sama nenek tua yang namanya Kara, aku pernah kesana dan malahan aku ditanya macam-macam sama nenek tua mengerikan iku”
“Mas Agus, Totok melihatku mas, dia menyeringai kepadaku mas” kata Indah yang ketakutan
“Tenang mbak Indah, itu bukan nyata kok, itu hanya bayangan atau proyeksi dari suatu masa, disana tidak da apa-apa mbak , hanya kabut tebal saja” kata Blewah yang sedang dalam kekuasaan Sumirah
Kabut tebal itu kemudian berubah menjadi kabut putih yang mirip asap. Asap putih itu tidak menggambarkan apapun, hanya berupa kabut asap biasa saja.
Tidak lama kemudian kabut putih itu hilang dengan sendirinya, hanya meninggalkan asap tipis dan jalan yang berlubang di depan kami.
“Kabutnya sudah hilang, sekarang kita bisa teruskan perjalanan lagi” gumamku
Jalan yang berlobang dan dalam keadaan yang jelek sangat mengganggu laju mobil, tetapi hal ini tidak seberapa menyeramkan dibanding dengan yang barusan kami temui.
Saat ini pukul 02.35 kami akan melewati hotel Waji, hotel yang mungkin ada sangkut pautnya dengan vila putih sesuai dengan pesan dari mbah Joyo sebelumnya.
__ADS_1
“Mas, nanti di depan pagar hotel kita berhenti sebentar mas, ada yang mau saya tunjukan kepada kalian” kata Sumirah
Tepat di depan pagar Hotel mobil berhenti, Sumirah atau Blewah mengajak Indah untuk turun dari mobil.
“Mas nanti lihat ya di halaman hotel, ada apa dan ada siapa disana mas” kata Sumirah yang kemudian menyuruhku untuk tetap memperhatikan apa yang ada dibalik halaman hotel
Ternyata tidak lama kemudian Bawok turun dari mobl, dia berjalan kaku menuju ke dalam halaman hotel , kemudian dia hilang di gelapnya hotel Waji. Beberapa menit kemudian Sumirah memberi tanda kepada kami untuk melihat apa yang ada didalam halaman hotel.
Tepat pukul 03.00 halaman hotel berubah menjadi terang kemudian di dalam halaman ada Totok dan nenek tua yang sedang melihat kami, mereka berdua meringis menakutkan dankemudian tertawa sambil menunjuk ke arah kami.
Kejadian itu hanya berlangsung tidak lebih dari sepuluh detik, kemudian keadaan hitam gelap sepi sunyi lagi.
Sumirah dan Indah kembali masuk ke dalam mobil lagi, mereka masih diam belum mau membicarakan apa yang barusan terjadi.
“Ayo kita pulang mas, dan jangan tanya-tanya dulu apa yang terjadi tadi” kata Indah
Mobil kuarahkaan menuju ke Mjkt, tidak ada pembicaraan apapapun di dalam mobil, kami semua diam hingga kami hampir mencapai kota Mjkt.
“Tadi yang ada di vila waktu Totok dan nenek tua tertawa dan menunjuk ke arah kita itu sama dengan yang ada di hotel Waji” kata Sumirah
“Kabut tadi memproyeksi ketika nenek tua dan Totok itu berada di hotel Waji beberapa tahun silam ketika akan terjadi pembunuhan di Waji mas” kata Sumirah
“Tetapi tepat pukul 3.00 kita selalu bisa melihat perputaran waktu meskipun hanya beberapa detik saja, kecuali kalian ada di dalam sana, kalian bisa lihat perputaran watu hingga satu jam lamanya. Kalau kalian ada disana , perputaran waktu biasanya dimulai pada pukul 01.00”
“Perputaran waktu itu akan berulang terus menerus, dan dibagi menjadi beberapa bagian yang akan berulang sesuai dengan jadwalnya” lanjut Sumirah
“Kalau mas Agus siap menghadapi Totok, mas Agus bisa masuk ke sana dalam jangka waktu satu jam saja, tetapi kalau dalam satu jam belum juga keluar, maka mas Agus akan terperangkap disana.
“Sik sebentar mbak Mirah, tadi mbak Mirah kok bisa tau kalau proyeksi kabut itu kejadianya sama dengan yang ada di hotel Waji?”
“Tadi yang kasih tau si Bawok mas, Bawok bilang kalau apa yang terlihat di kabut itu kejadian sebenarnya itu ada, Dan ketika tadi Totok dan nenek tua itu tersenyum, kejadianya ada dan munculnya itu bersamaan dengan yang tadi muncul di hotel waji”
“Sedangkan tadi yang katanya teman mas Agus naik andong itu, itu juga ada kejadian sesungguhnya, hanya saja untuk kejadian yang ada di vila putih, baik saya dan Bawok tidak bisa menjelaskanya, karena saya dan Bawok hanya ada di hotel Waji saja”
__ADS_1