INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....14. Tugas dari Painah


__ADS_3

“Kamu tidak akan pernah tau setelah kamu dimusnahkan anak-anak Sutopo itu kamu kemana dan sedang ada ada dimana”


“Saya juga tidak tau apakah kamu selamat atau tidak”


“Apakah kamu melakukan perjalanan waktu atau tidak"


“Yang kamu harus tau....


banyak perubahan yang terjadi disini ketika anak saya marwoto menikah dengan Suparmi”


“Dulu saya sangat membanggakan anak saya yang mendapat kepercayaan dari Soebroto untuk melakukan perubahan dengan menyatukan dua wilayah yang sangat berbeda”


“Sebenarnya urusan saya sebagai orang tua sudah selesai ketika Marwoto dan Suparmi menikah, saya juga bangga punya anak yang seperti itu”


“Tetapi apa yang saya angan-angankan itu tidak sesuai dengan yang saya harapkan, sehingga saya masih harus turun tangan lagi”


“Tapi sayangnya saya tidak bisa mengurus anak saya  sendiri”


“Kemudian yang terjadi anak saya meninggalkan saya di rumah yang dari kuburan ini lurus kemudian belok ke kanan itu”


“Hanya seminggu sekali Marwoto mendatangi saya.. Itu pun kalau dia masih ingat dengan saya”


“Begitu juga dengan Suparmi…,dia juga banyak berubah setelah menikah dengan Marwoto..”


“Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan itu semua.. Yang saya bingung itu mereka sudah tidak memperdulikan keadaan desa ini”


“Seharusnya mereka menyatukan kedua desa ini , baik yang ghaib maupun yang nyata”


“Beberapa kali saya mencari Mak Nyat Mani untuk bicara mengenai ini, tetapi jawaban Mak Nyat..urusan itu sudah bukan tanggung jawab dia lagi”


“Sebenarnya harapan saya adalah saya akan bertemu dengan anak-anak Sutopo, tetapi ternyata yang datang adalah kamu Rochman” kata mbok Painah dengan tersenyum


“Yah tidak papa.. Semoga saya tidak salah pilih dengan meminta bantuan kepada kamu untuk menyelesaikan masalah Marwoto”


“Desa ini lama kelamaan akan hilang karena ketimpangan alam yang dilakukan Marwoto”


“Saya tau kamu sekarang tidak mempunyai kekuatan sama sekali…dan itu bagus karena saya bisa isi kamu dengan hal yang baik”


“Dan semoga kekuatan yang saya berikan ini bisa kamu pergunakan dengan sebaik baiknya”


“Kamu akan dibantu oleh Ginten… Ginten selama ini bersama saya disini hingga kamu terdampar di desa ini”


“Ginten yang akan mendampingi dan mengarahkan kamu”


“Ginten.. Tadi sudah dilakukan pembersihan?” tanya mbok painah kepada GInten


“Sudah.. dan kami berdua juga sudah minum air sumur sampai mual mual”


“Hehehe gimana rasanya pembersihan itu Rochman.. Apakah kamu mau kalau dilakukan pembersihan lagi?”


“Eh,... jangan”


“Saya tidak mampu kalau harus melakukan yang bertentangan dengan hati saya!”


“Itu juga agar kamu kembali normal, jangan kamu tolak apa yang dikatakan Ginten Man”


“Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena keadaan ghaib desa ini semakin memprihatinkan. Dan sewaktu waktu bisa hancur dengan sendirinya”


“Apabila hal itu terjadi, maka alam nyata desa ini juga akan hancur…banyak kematian dan ditinggalkan penduduk desa”


“Apabila itu terjadi maka makam besar ini tidak akan ada yang merawat, akibatnya kalian berdua bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi”


“Untuk kamu Rochman.. Semoga dengan pengalaman masa lalumu kamu bisa berubah menjadi baik seperti yang kamu lakukan kepada penduduk desa ini”


“Penduduk desa ini suka sekali dengan bantuanmu yang tanpa pamrih, dan semoga itu akan tetap ada pada dirimu Rochman”


“Sekarang cari delapan kuntum bunga kamboja yang berserakan di atas makam saya… masing-masing delapan”


Aku heran… kenapa aku disuruh untuk membenahi Marwoto.. Tapi apa aku mampu membenahi orang itu?


Tapi memang kelakuan Marwoto itu sangat sombong dan harus ada orang yang mengingatkannya, tapi masak untuk mengingatkan dia aku harus diberi energi lagi.


Sebenarnya aku sudah malas berhubungan dengan  yang namanya ghaib dan energi yang bisa mempengaruhi pola pikir kita.


Kenapa kok bisa mempengaruhi pola pikir?..... Karena kita merasa hebat, kita merasa paling kuat dan paling berkuasa.


Contohnya dengan anak Painah ini… dia punya energi  yang luar biasa, akibatnya dia sombong dan tidak peduli kepada ibunya.


Sampai sampai ibunya sendiri tidak bisa mengontrol anaknya.


Tapi ya sudah lah… aku akan bantu semampuku saja.


Aku sudah mendapatkan delapan biji kamboja yang diminta Painah..


Jangan sampai aku disuruh makan delapan biji bunga ini…apalagi saat ini perutku sudah penuh sama air yang berasal dari sumur tadi itu.


Ginten yang ternyata  nggemesi dan bahenol itu juga sudah mendapatkan delapan kuntum bunga kamboja.


Delapan kuntum bunga kamboja ini jelas besar dan wangi… jadi kalau harus  dimakan ya aku tidak sanggup


“Sekarang delapan kuntum bunga itu kalian kalian pegang saja”

__ADS_1


“Delapan kuntum itu enam  kuntum melambangkan  mata, telinga, hidung, mulut, tangan, dan kaki.  Kalian ramas remas sampai hancur dulu”


“Kemudian kalian balurkan di sekitar area yang tadi saya sebutkan…”


“Untuk bagian mata, oleskan di kelopak mata saja, lakukan sekarang, untuk yang dua lagi akan saya beritahu nanti”


Wah hihihih aneh aneh saja Painah ini.. Malah bikin acara perawatan tubuh di tengah kuburan gini, bisa bisa demit yang ada disini juga minta diajari melakukan perawatan tubuh juga hehehe.


Kulihat Ginten…dia dengan senang hati melakukan apa yang disuruh oleh Painah. Seluruh bagian tubuh yang tadi disebutkan mbok Painah dibalurkan bunga kamboja oleh Ginten.


Aku heran dengan GInten… bukannya dia sudah memiliki kemampuan.. Kenapa dia ikut ikutan dalam acara seperti ini?


Ah sudah lah… nanti saja aku tanyakan.


”Sekarang yang sisa dua itu melambangkan bagian dalam tubuh kalian yang sebelah kiri dan sebelah kanan”


“Kunyahlah dua kuntum bunga itu… ketika kalian menelan bayangkanlah bunga itu masuk ke bagian kiri dan kanan tubuh kalian dengan seimbang”


“Waduuuh saya tidak bisa makan kembang Mbok”


“Dicoba dulu, kalau belum kamu coba kamu tidak akan pernah tau kan”


“Ok akan saya coba….”


Satu kuntum.. Ah kesuen..langsung dua kuntum bunga kamboja aku makan.


Kukunyah dengan perlahan lahan…


Sensasi pertama yang kurasakan adalah wangi di mulutku.. Kemudian setelah aku kunyah..ada rasa getir pahit.


Setelah rasa getir dan pahit selanjutnya ada sedikit rasa manis yang aneh…


Sebelum rasa manis itu berubah… langsung aku telan saja dua kuntum bunga ini…


Getir…pahit dan bergetah..dan sedikit wangi sekarang menghiasi rong mulutku.


Ketika kulihat Ginten.. Ternyata dia juga sedang berusaha menelan bunga kamboja itu juga.. Tapi kelihatannya dia dengan santainya menelan bunga itu tanpa kendala sama sekali.


Yang terasa aneh adalah ketika dua kuntum bunga itu masuk ke dalam lambungku.. Rasanya ada yang hangat dari dalam lambung.


Kemudian rasa hangat itu berjalan menuju ke enam are yang tadi aku kasih bunga yang sudah aku hancurkan… kemudian rasa hangat itu menuju ke arah paru-paru, ke bagian dadaku juga.


Setelah itu wajahku dan terakhir ke arah bagian dalam kepala… rasanya aneh , bagian dalam kepala hangat dan rasanya segar.


“Sudah selesai….. Energi yang ada di dalam tubuh Ginten dan Rochman sudah menyatu dengan tubuh kalian, dan sekarang kalian bisa gunakan dengan sebaik baiknya”


“Untuk Ginten hehehe, maaf ya .. kamu tidak bisa balik lagi jadi hantu yang gentayangan..”


“Yang harus kalian ingat… sekali kalian melakukan kejahatan.. Energi itu langsung akan hilang dengan sendirinya, dan kalian berdua kembali seperti semula”


“Seperti semula maksud saya Ginten balik jadi demit… dan kamu Rochman balik lagi tanpa punya kekuatan sama sekali”


“Setelah ini apa yang harus kami lakukan mbok?” tanya Ginten


“Ya segera saja kalian pindah ke desa sebelah… berlaku sewajarnya disana sambil mengamati dan mendekati Marwoto”


“Semua terserah kalian berdua apa yang akan kalian lakukan… pada intinya sadarkan Marwoto dan istrinya.. Apabila tidak bisa, lakukan dengan kekerasan”


“Sekarang kalian bisa pergi dari makam.. Sudah hampir pagi ini”


Kami keluar dari area pemakaman dengan perasaan bingung, karena sekarang aku bukan bersama hantu lagi… tapi aku sekarang bersama Ginten yang seharusnya bisa bikin hasrat bhirahiku memuncak.


Masak aku harus ajak dia ke rumahku… gimana kalau penduduk disini tau bahwa aku memasukan perempuan di dalam rumah.


Aku berjalan bersama Ginten keluar dari kuburan…


Tapi sekarang perasaanku berbeda dari pada tadi. Sekarang aku tidak khawatir lagi apabila bertemu dengan penjaga malam desa.


Malahan aku dan Ginten dengan santainya berjalan di pinggir jalan menuju ke rumah bekas kontrakan mahasiswi itu.


“Eh Ten… kamu mau ke mana ini?”


“Tidak tau.. Saya kan tidak punya tempat tinggal.. Saya sudah berubah jadi manusia”


“Eh Ginten.. Kamu tau nggak apa itu KTP?”


“KTP? Makanan atau suatu tempat?”


“Ndeso kamu Ten… KTP itu benda yang selalu ditanyakan orang disini dan disebelah sana”


“Marwoto dan petugas rumah sakit kecil yang ada di desa sebelah selalu menanyakan tentang KTP”


“Lha kamu punya apa tidak Man?”


“Ndak punya Ten…”


“Kalau kita tidak punya KTP apakah ada masalah Man?”


“Iya”


“Masalahnya apa Man…?”

__ADS_1


“Kita tidak bisa tinggal di rumahmu yang di desa sebelah itu Ten.. karena Marwoto selalu bertanya tentang KTP”


“Terus apa yang bisa kita lakukan Man….?”


“Nggak tau Ten…”


“Kamu ikut aku aja ke rumahku, sementara itu kita tinggal di rumahku saja dulu Ten”


“Eh Ten,... aku baru ingat… kalau disini namaku bukan Rochman…tapi T o t o k”


“Namaku Totok.. Jangan lupa lho ya heheheh”


“Ya udah .. namaku aku ganti juga jadi G I N A saja Man”


“Pueeehh.. Gak panten Ten.. mosok awaknya GINTEN  jadinya GINA…  atau ganti aja jadi  GENDENG”


Tidak tau kenapa aku mendadak senang ada teman yang berasal dari masa lalu juga.. Meskipun dia dulu adalah musuhku.


Tapi sekarang aku sama Ginten sudah akrab…mungkin akrabnya itu akibat pembersihan diri di sumur Painah itu.


Hanya saja  masalahnya.. Dimana Ginten harus tinggal, masak dia tinggal bersama aku, meskipun aku tidak doyan sama Ginten sama sekali.


Malam menjelang pagi ini aku sama sekali tidak melihat keberadan penjaga malam yang biasanya selalu keliling desa.


Jadi aku bisa bawa Ginten pulang dengan selamat.


Sesampai di rumah….


“Ten… aku biasanya tidur di sini diruang tamu. Kalau kamu mau tidur di kamar, bersihkan dulu kamarnya, di dalam sana ada kasur peninggalan  mbak-mbak mahasiswi yang dulu pernah  ada disini bersama pak Tembol dan anak-anak”


“Aku tidur di ruang tamu sama kamu aja Man.. gak enak ah kalau tidur sendirian”


“Ngawur ae.. Kita kan bukan suami istri Ten.. gak boleh tidur dalam satu ruangan”


“Sopo sing ngomong gak boleh Man.. kamu kan sebenarnya gak doyan perempuan, kenapa takut tidur berdua sama aku?


“Ah karepmulah Ten.. aku mau tidur dulu.. Besok kita pikir lagi apa yang kan kita lakukan”


*****


Pagi hari yang sejuk.. Ketika aku bangun ada yang berubah dengan keadaan ruang tamu ini…


Baju baju bekas yang berserakan sekarang sudah tertata rapi di pojokan, sebagian sudah terlipat dan sebagian masih belum dilipat.


Pintu kamar yang biasanya aku tutup sekarang dalam keadaan terbuka….dilam kamar  ada Ginten yang sedang membersihkan kamar.


Pagi ini rumah dalam rumah ini terlihat rapi..


Ketika aku duduk sambil terheran heran… ternyata di pojokan dekat jendela sudah ada kopi yang tersaji.


Apa-apan ini…kenapa semua jadi berubah gini..


Pasti kerjaan Ginten iki!


“Ten… kok semua kamu rapikan sih.. Biar aja kayak biasanya”


“Heh man… memang disini sebelumnya hanya ada kamu, dan kamu terbiasa dengan jorok, tetapi sekarang ada saya, jadi kamu gak bisa jorok lagi”


“Harus bersih.. Bukanya enak kalau bersih itu Man…”


“Terserah kamu aelah Ten.. pagi ini kita ada kegiatan apa?”


“Gimana kalau ke desa sebelah Man..lihat rumahku”


“Iya Ten… tapi aku harus lapor ke tetangga sebelah kalau ada kamu disini, takutnya kalau ketahuan bisa digrebek kita Ten”


“Lha enaknya gimana Man.. kamu bilang ke tetanggamu aku ini siapa Man?”


“Itu yang aku masih bingung Ten… soale sepeda yang kubuat riwa-riwi itu kan kepunyaan tetangga sebelah, kadang dia juga datang kesini untuk melihat keadaanku”


“Mosok aku harus lapor bahwa ketemu kamu di kuburan sana.. Terus kamu tak bawa pulang, mosok gitu Ten?”


“Coba saja Man.. siapa tau tetanggamu akan percaya sama omonganmu”


Huff apa yang harus aku lakukan dengan adanya Ginten disini…


Aku bingung harus apa,  karena untuk pergi pun sepedanya gak akan mampu dipakai untuk boncengan, masak kita harus jalan kaki kemana mana.


Apalagi kalau malam aku kan harus dagang pakaian bekas di pasar, gimana cara bawa Ginten ke sana, jelas gak mungkin lah.


Bisa saja Ginten tidak aku ajak, dia aku biarkan saja di rumah ini, tapi ya kasihan juga kalau kubiarkan ada di rumah.


Tapi lebih baik aku lapor ke tetangga sebelah, dari pada ada masalah dengan adanya Ginten disini….


Apakah aku harus terus terang siapa itu Ginten, tapi jelas tidak mungkin untuk terus terang, jelas dia tidak akan percaya dengan perkataanku.


Kalaupun aku harus berbohong.. Apa yang harus aku katakan tentang Ginten?”


Susah juga cari alasan siapa itu Ginten..


Aku kan disini tidak punya sanak saudara, jelas aku tidak mungkin mengaku  kalau Ginten itu adalah saudaraku.

__ADS_1


__ADS_2