
Aku juga sempat memegang handle pintu yang menuju ke bagian belakang rumah, dan memang terasa hangat handle pintu itu, aku penasaran apakah bagian belakang rumah ini sama seperti yang dikatakan Indah waktu di dunia nyata yang ada kolam renangnya?
“Waktu kita tidak banyak nak, kita harus kebelakang sana, anjeng itu juga dari tadi tidak melepaskan pandanganya dari pintu itu nak” kata pak Tembol
Pak Tembol kemudian mulai membuka pintu yang menuju ke halaman belakang, dia memutar handle pintu perlahan lahan hingga terdengar bunyi klek tanda bahwa pintu itu dalam keadaan terbuka.
Pak Tembol kemudian mendorong pintu itu hingga terbuka sedikit demi sedikit, pelan-pelan pak Tembol mendorong hingga pintu itu terbuka lebar. Hawa panas keluar dari halaman belakang menuju ke arah kami. Anjing itu merunduk menghindari hawa panas yang keluar dari bagian belakang rumah.
Keadaan di bagian belakang rumah ini berbeda dengan dibagian depan, bagian belakang ini berkabut dan agak bau busuk atau lebih tepatnya amis. Aku ndak tau apa yang menyebabkan bau busuk atau amis ini, tetapi yang pasti disana ada teman kami yang harus kami selamatkan.
“Uuugh kabut bau ini menghalangi pandangan kita pak, kita tunggu hingga kabut ini hilang dulu atau bagaimana pak?” tanya Dogel
“Nak Petro coba anjing itu kamu elus-elus lagi nak. Siapa tau dia akan mambantu kita mengatasi masalah dengan kabut tebal ini nak”
Saat ini Anjing sangar ini sedang duduk sambil merunduk seperti sedang ketakutan, aku kemudian jongkok disampingnya dan kemudian kuelus kepalanya perlahan-lahan, hingga telinga anjeng itu berdiri tegak dan kemudian seperti mendapat semangat baru, hingga anjing itu berdiri lagi.
“Gel, aku heran kenapa sesuatu itu kalau dielus itu bisa berdiri tegak membahana dan berwibawa gitu ya hihihiih”
“Cangkemmu Tro, gak usah guyonan disik, aku sik konsentrasi penuh iki” jawab Dogel
Anjeng itu kemudian melihat ke arahku, mungkin kalau aku paham bahasa asyu, mungkin dia mengajak kami untuk menuju ke arah belakang dari rumah ini.
“Kabut yang ada di rumah ini tidak bergerak sama sekali nak, dan tidak akan hilang dalam jangka waktu yang lama, maka dari itu kita harus menembusnya nak, itu sudah merupakan resiko kita nak” kata pak tembol
“Biarkan anjng ini berjalan duluan pak, aneh juga kenapa dia tiba-tiba menjadi baik dan menurut dengan kata-kata yang saya bisikan pak”
Akhirnya anjeng itu berjalan pelan memasuki kabut tebal yang ada di bagian belakang rumah ini, aku ada di belakang anjeng itu, kemudian pak Tembol, dan kemudian Dogel. Kenapa aku ada di belakang anjeng itu, karena anjeng itu selalu menoleh ke belakang setiap dia berjalan beberapa langkah.
Kami melangkah pelan-pelan hingga anjeng yang ada di depanku berhenti dan duduk sambil menoleh ke arahku, keliataya ini adalah akhir dari tujuan kami disini, Karena anjeng itu hanya diam dan duduk sembari melihat ke arahku berkali-kali.
Di depan kami hanya ada kabut tebal yang entah ada apanya di dalam kabut itu. kami menunggu hingga kabut itu sedikit hilang dari pandangan kami. Ketika kabut itu sedikit berkurang, di depan kami ternyata ada kolam renang persis seperti yang ada di dunia kami.
Kolam renang yang pernah dibahas oleh Indah dan Ngot, ketika mereka masuk ke dalam rumah Nabil yang ada di dunia kami. Kolam renang yang kata Indah airnya berwarna hijau, dan apakah yang ada di depan kami juga berair hujau juga?
__ADS_1
“Untung anjeng itu berhenti, kalau tidak kita sudah masuk ke dalam kolam renang yang pasti dalamnya lebih dari satu meter itu nak” kata pak Tembol
Kolam yang lumayan besar dengan air yang berwarna hijau mirip dengan yang dikatakan Indah di dunia kami, kolam yang airnya tenang karena memang tidak ada angin sama sekali disini, dan juga kolam yang nampak mengerikan karena kita tidak tau seberapa dalam kolam itu..
“Apakah teman kita ada disana pak” tanyaku kepada pak Tembol
“Bisa jadi ada disana nak, karena anjeng yang menuntun kita berhenti dan duduk di pinggir kolam ini nak”
“Lalu apa yang bisa kita lakukan pak, saya sama sekali tidak bisa berenang pak, lagi pula kita tidak tau apa yang ada didalam kolam itu pak, karena airnya berwarna hijau dan nampaknya sudah lama tidak pernah dibersihkan pak”
“Biar aku cobanya Tro, kamu sama pak Tembol tunggu disini saja” kata Dogel yang kemudian maju ke depan
Dogel jongkok di depan kolam yang ber air hijau lumut itu, kemudian untuk pertama kali dia menyentuh air yang hijau itu, dan ternyata tangan dia tidak basah. Dogel kembali menyentuh air hijau itu dan lagi-lagi tangannya tidak basah sama sekali.
“Apa yang terjadi disini, ini bukan air pak, tangan saya masih kering ketika harus menyentuh air yang berwarna hijau lumut ini pak” kata Dogel
“Di seberang sana ada anak tangga yang menempel di dinding kolam renang nak, kita kesana dulu nak, kita coba menuruni anak tangga itu” kata pak Tembol setelah melihat anak tangga yang ada di seberang kolam renang
“Saya akan turuni tangga ini ana-anak, kalau memang aman, kalian juga ikuti saya turun ke dasar kolam ini anak-anak” kata pak Tembol yang kemudian menuruni tangga menuju ke dasar kolam renang
Pak Tembol tanpa ragu ragu memegang tangga stainless steel itu, kemudian dia dengan perlahan-lahan menuruni anak tangga itu hingga separuh tubuh pak Tembol berada di air kolam yang berwarna hijau itu. Kemudian secara perlahan lahan dia turun lagi hingga kepalanya masuk ke dalam air berwana hijau itu seluruhnya.
Setelah beberapa saat pak Tembol ada di dalam air, kemudian pak Tembol muncul lagi ke atas permukaan air hijau lumut mengerikan itu.
“Ini bukan air nak, ini semacam kabut juga, kabut yang tebal dan menyerupai air berwarna hijau nak. Ayo kalian juga ikut turun nak, aman kok disini” kata pak Tembol yang masih berpegangan dengan tangga
Kam mengikuti ajakan pak Tembol untuk turun ke dasar kolam renang yang memang ternyata bukan berupa air itu, ini hanya semacam kabut berbau amis macam bau pemutih pakaian. Biasanya cowok tau bau amis baeklin pemutih pakaian itu bagaimana baunya.
Kami turuni tangga yang menuju ke dasar kolam ini, dan ternyata memang kami masih bisa bernafas meskipun kami ada di dalam kolam yang bewarna hijau ini. Kami pun bisa melihat dengan jelas apa yang ada di kolam renang ini, disini ternyata bukan kolam biasa yang kami tau.
Ternyata dalam juga kolam renang ini saat ini kami baru sampai di tengah-tengah sebelum sampai ke dasar kolam.
Semakin turun semakin ke dasar warna hijau pun semakin hilang dan semuanya menjadi normal kembali. Kami bisa melihat dengan jelas dan bisa bernafas seperti biasanya juga.
__ADS_1
Dasar dari kolam renang ini seperti semacam aula yang besar kalau aku rasakan, aku sedang berada di sebuah lapangan indoor yang biasanya digunakan untuk pertandingan basket.
“Disana ada semacam jalan menuju tempat lain atau seperti lorong yang akan menuntun kita ke tempat lain pak” kata Dogel tiba-tiba menunjuk ke sebuah pintu masuk ke sebuah lorong yang gelap
“Ayo kita kesana nak. Oh iya anjeng itu apa ikut kita nak Petro?” tanya pak Tembol
“Tidak pak dia ada di atas pak, dia duduk dan menunggu kita keluar dari sini pak”
Kami berjalan menuju ke sebuah pintu atau lebih tepatnya lorong yang ada di pojokan dasar kolam renang ini. Terus terang kami ini nekat, karena tidak tau apa yang ada disana, dan tidak tau kita akan bertemu dengan apa disini.
Lorong itu sudah ada di depan kami, dan yang terlihat hanya gelap saja, aku agak ragu untuk masuk ke sana lebih dalam lagi karena jelas aku ndak tau apa yang bakal menyerang kami disana.
“Pak Tembol akan masuk ke sana pak, apa bapak yakin untuk masuk ke sana pak?”
“Iya nak Petro, kita sudah kepalang basah ada disini, kalau kita tidak kesana lalu kita harus bagaimana. Masak harus balik lagi nak. Apalagi kita disini kan punya tujuan menjemput teman kalian yang terkurung disini nak” kata pak Tembol
Akhirnya kita putuskan untuk memasuki lorong itu dengan pelan-pelan dan penuh kehati-hatian.
“Usahakan berjalan dengan mepet atau menempel tembok anak-anak, untuk meminimalkan terjadinya benturan dengan sesuatu yang ada di depan kita” kata pak Tembol
Lorong gelap tempat kami jalan ini semakin kedalam semakin tidak terlalu gelap karena ada semacam cahaya di ujung lorong ini, apakah memang di dunia tak kasat mata juga ada lorong macam begini.
“Kita sudah hampir sampai di ujung nak, dan diujung itu ada cahaya yang tidak begitu terang, dan saya yakin disana kita bisa bertemu dengan teman kalian nak” kata pak Tembol dengan penuh keyakinan
Kami berjalan lagi ke arah ujung lorong yang bercahaya tidak terlalu teran itu. semakin dekat aku semakin gugup dan semakin takut, aku takut kalau kami bertemu dengan hal yant tidak kami duga sebelumnya.
“Di depan itu adalah ujung dari lorong ini anak-anak, dan saya makin merasakan bahwa di ujung sana adalah sebuah ruangan tempat teman kalian sedang terkurung nak, dank alia harus bersiap menerima keadaan tentang teman kalian itu”
“Sekali lagi yang namanya gaib itu tidak bisa kita perkiraan sebelumnya nak, semua bisa terjadi dengan mudah hingga kita tidk bisa memikirkannya nak” kata pak Tembo lagi.
Ruangan yang bercahanya remang remang sudah ada di depan kami, kemudian pak Tembol berjalan masuk kedalamnya kamipun dengan perasaan gak karuan mengikuti langkah pak Tembol.
Akhirnya kami bertiga ada di ruangan yang bercahaya minim itu, dan ternyata disana itu terdiri dari kamar-kamar berjendela dan berpintu dari besi. Kamar-kamar yang berjajar dan berhadapan di sisi kiri dan kanan kami itu leibh mirip ruangan tahanan dari pada sebuah kamar tidur.
__ADS_1