
“Kamu siapa.. Tinggal dimana?”” tanya salah satu penjaga malam
“Saya orang desa sebelah, Kebetulan saya dan istri saya yang merupakan keluarga Ginten sedang ada di rumah Ginten, dan sedang bersih bersih”
Kedua orang itu bengong sambil melihat aku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Rumah Ginten sudah lama kosong.. Itu rumah hantu ,tidak ada orang yang berani kesana. Ginten juga tidak punya sanak saudara atau pun keluarga… kamu pasti bohong!” kata penjaga kedua
“Saya tidak bohong pak.. Ayo kita ke sana, akan saya kenalkan pada istri saya yang merupakan kerabat dari Ginten”
“Tidak ada orang disana kecuali…. “
“Kecuali apa pak. Saaya dan istri saya ada disana sekarang pak”
“Kecuali boneka Ginten yang mengerikan itu…. Kamu tinggal bersama boneka Ginten?”
“Hahaha bapak-bapak ini ada-ada saja.. Memang disana ada boneka Ginten, tapi boneka itu tidak menakutkan sama sekali, dan saya tinggal disana bersama istri saya yang merupakan keluarga Ginten juga”
Tapi dua penjaga malam ini hanya diam saja, ketika aku melangkah ke arah rumah Ginten.
Mereka tidak bergerak mengikutiku…
Mereka malah terpaku dengan sinar senter yang mengarah ke bawah.
“Ayo pak.. Akan saya kenalkan pada istri saya yang merupakan keluarga Ginten, dari pada bapak tidak percaya dengan saya”
Mereka berdua hanya diam.. Aku tau mereka sedang ketakutan, karena memang rumah itu mengerikan, apalagi ada boneka Ginten yang selalu ada di jendela dan melihat keluar.
“Begini saja pak… saya bukan hantu, saa juga bukan maling.. Saya hanya mau pulang ke rumah Ginten, karena sekarang saya dan istri saya yang keluarga Ginten itu tinggal disini”
“K..kapan bapak ini pindah ke sini?” tanya penjaga malam yang pertama
“Barusan… mungkin satu jam lalu kami datang kesini hihihihi” aku coba pancing dengan tertawaan ala hantu hantu model kunti.
“Ayooo saya undang kalian untuk bertamu ke rumah kami hiiiiiii hihihihi”
“K..kamu..s..setaaaaaannnn!”
Dua orang itu lari pontang panting…mereka meninggalkan senter milik mereka yang jatuh ketika mereka berdua lari ketakutan.
Aku harus beritahu Ginten.. Keadaan ini bisa bahaya apabila sampai seluruh penduduk desa ini menyerbu rumah Ginten karena dua orang penjaga malam ketakutan karena ulahku.
Aku yakin malam ini mereka berdua tidak akan berani lagi kesini, tetapi besok pagi pasti Marwoto dan beberapa warga desa akan datang kesini untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.
*****
“Jadi gitu yang ada di rumah Marwoto Man… jadi ada penjaganya juga?”
“Iya, aku harus bisa bujuk penjaganya agar mau memberiku jalan untuk memasukan demit-demit ke sana Ten”
“Iya mas… saya paham untuk yang rumah Marwoto…. Lalu bagaimana dengan rumah ini Man, kita harus apa?”
“Sik Ten.. rasanya sulit juga.. Karena takutku.. Rumah mu dan mungkin juga rumah Juriah itu akan dibongkar, agar tidak menakutkan bagi warga yang ada disini”
“Satu-satunya cara agar kita dianggap sebagai pemilik rumah ini adalah kita harus ber KTP dan surat rumah itu harus atas nama kamu”
“Man kamu ini congok apa tholol… jelas rumah ini atas nama saya kan!”
__ADS_1
“Iyaaaa Ginten sayaaang… tapi kan mereka beberapa penduduk disini dan di desa sebelah taunya kamu itu kan istriku.mosok namamu sama dengan nama yang ada disini….G I N T E N!
“Harus pake nama itu Man… jadi nanti KTP tetap atas nama G I N T E N…”
“Ten.. koyoke untuk masalah kepemilikan rumah ini ruwet deh.. Pokoknya yang penting kita bikin KTP dulu saja. Ayo kita balik ke desa sebelah saja.. Besok pagi saya akan bicara dengan pak Peno untuk bikin KTP.
“Kita pulang sekarang Man?”
“Iya sekarang saja… dari pada besok pagi keburu ada orang-orang yang datang kesini”
“Nanti setelah punya KTP baru kita berani menantang si Marwoto”
“Surat kepemilikan rumah dan tanah ini kamu sembunyikan dulu di tempat yang tidak akan orang lain lihat”
“Iyaaaaa.. Sik bentar Man.. aku sembunyikan lagi dulu ini”
“Cepat… mumpung dua penjaga malam itu ketakutan dan lari, kita bisa pulang dengan selamat”
Setelah semua selesai dengan, dan mengecek keadaan rumah.. Aku dan Ginten keluar dari rumah untuk menuju ke arah desa sebelah.
Ketika aku dan Ginten sudah ada di perempatan jalan, ketika kami akan belok ke kanan. Tiba-tiba di depan kami berdua muncul mahluk hitam yang tadi menjaga rumah Marwoto.
“Joekowiyono…ngapain kamu ada di depan kami?”
“Saya dapat laporan bahwa kamu menakut nakuti penjaga malam desa ini?”
“Bukankah setan seperti itu kerjaanya..kita musuh manusia…. Kamu saja yang sok menjaga manusia Joe”
“Minggirlah…kami akan pulang dulu”
“Stoopp…” joe melihat Ginten yang ada di sebelahku
“Ya.. saya Ginten, ada apa?”
“Yang saya tau kamu adalah penjaga desa ini jaman dulu.. Kamu dan Juriah”
“Memang… lalu kenapa?” tanya Ginten lagi?”
“Apa kamu mau pulang ke rumahmu?” tanya setan yang dipanggil Joe itu
“Iya nanti saya akan pulang kesini, untuk sementara ini saya tinggal di desa sebelah”
“Sekarang biarkan kami lewat dulu. Kamu harusnya tau siapa yang kamu lawan, jangan asal memberhentikan dan menuduh sembarang
an”
“Orang itu suami kamu Ginten?”
“Iya dia suami saya. Kenapa kamu tanya tanya terus…?”
“Saya selalu mengagumi boneka kamu yang ada di rumah itu. Tidak hanya saya.. Marwoto pun sering ke rumahmu untuk melihat boneka kamu”
“Saya sudah tau, dan tolong jangan sampai Marwoto tau… tolong jaga rumah saya dari Marwoto , saya akan kesini besok malam lagi”
Demit yang mengaku bernama Joe kowiyono itu memberi kamu jalan, kelihatannya dia suka dengan Ginten.
Tidak hanya memberi kami jalan, dia juga mengikuti aku dan Ginten hingga di gapura desa.
__ADS_1
Setelah itu dia kembali ke rumah Marwoto.
“Hihihih Ginten… ternyata di desa itu yang suka sama kamu banyak ya Ten”
“Jangan dibahas Man… saya nggak suka kamu bahas ini”
“Tapi kan lumayan kalau misal kita butuh bantuan,kita bisa minta bantuan Joe saja kan”
“Ngawur kamu itu Man.. kayak kamu itu belum kenal demit saja…. Tiap demit yang menawarkan bantuan pasti di belakangnya ada apa-apa”
“Mereka pasti minta imbalan Man”
*****
Pagi yang cerah.., di rumah kontrakan yang nikmat dari pada di rumah Ginten yang gak karuan. Setelah aku bangun tidur dengan nikmatnya
“Ginten.. Aku mau ke rumah pak Peno dulu ya”
“Kamu bikin apa gitu terserah lah untuk sarapan kita saja”
“Iya.. disini tinggal ada mie instan dan telur saja Man”
Aku keluar dan menuju ke rumah pak Peno yang bersebelahan dengan rumah yang kami tinggali.
Untungnya saat ini pak Peno sedang ada di depan rumahnya, dia sedang mencuci motornya yang biasa digunakan untuk kerja.
“Selamat pak pak Peno….”
“Selamat pagi mas Tok.. oh iya mas Tok.. untuk ban dan beberapa perlengkapan sepeda sudah saya belikan.. Nanti mas Totok bisa minta ke istri saya saja ya mas”
“Iya pak Peno.. nanti akan saya kerjakan secepatnya”
“Eh…saya kesini mau menanyakan tentang satu hal”
“Mas Tok mau tanya apa?”
“Begini pak Peno.. eh bagaimana cara bikin KTP pak?”
“Hehehe mudah mas .. tapi mungkin sulit bagi mas Totok dan istrinya”
“Karena yang dibutuhkan untuk pembuatan KTP itu adalah kartu keluarga”
“Aduh pak… bentuknya KTP saja saya tidak tau , apalagi kartu keluarga pak”
“Sebentar mas Tok.. akan saya ambilkan KTP dan kartu keluarga saya”
Pak Peno masuk ke rumahnya untuk mengambil KTP dan kartu keluarga yang dia miliki. Dan bagaimana cara membuat kedua kartu itu.
Tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa sebuah kartu kecil berwarna biru dan selembar kertas yang cukup besar.
“Ini yang namanya KTP mas..isinya berbagai macam informasi tentang kita. Seharusnya mas Totok kan bisa buat KTP di desanya mas Totok”
“Tanya saja sama RT, RW, dan lurah nya . itu semua mudah kok mas, asal mas Totok punya kartu keluarga”
“Ini contoh kartu keluarga mas” kata pak Totok sambil menunjukkan aku selembar kertas yang juga berisi data-data keluarga
Duh repot ini nek masalah KTP dan kartu lainya..
__ADS_1
Gimana cara buatnya dengan posisi aku ada disini ya.
Atau aku minta tolong pak Peno apabila aku tinggal disini..maksudku alamatku dan Ginten disini.