
Masuk ke rumah dalam keadaan capek, badan lusuh bau keringat dan bau asap mobil, kami istirahat dan duduk di sofa.
Ndak tau kenapa malam ini bener-bener apes.
Kok bisa-bisanya kami mau ngantar demit pulang ke makamnya, kok bisa aku dibujuki sama Indah.
Tapi kok aneh juga kenapa Indah bisa setega itu, padahal kita sudah kayak teman disini.
“Apes rek, mau maunya kita disuruh ngantar Indah pulang ke kuburanya, ternyata dia itu ada makamnya kan, kenapa kemarin dia bilang jasadnya dibuang ke pingir kali” tanya Blewah
“Emboh Wah aku ya heran kok , kok bisa kita percaya gitu saja sama demit, ayo mandi disik ae timbangane beras, eh timbagane gak adus”
Malam ini kami cepat sekali tidur, seperti biasa aku dan Glewo ada di tempat tidur atas, sementara Blewah ada di bawah, kedua temanku sudah pada ngorok, tinggal aku yang belum.
Aku merasa jengkel sama Indah, seorang yang sudah kupercaya bahkan aku sempat bilang kalau suka sama dia, meskipun dia itu hantu.
Tetapi kok ya teganya dia ngerjain kita, untungnya becak yang kita pakek ini bukan yang model pancal, coba kalau yang model panca, yo iso remek rek!
Sebenarnya gak begitu jauh jarak dari sini ke daerah makam panjang itu, tapi yang bikin jengkel itu kenapa kok bisanya kami yang dikerjain demit itu, kenapa bukan orang lain saja.
Sedangkan kami ada disini kan karena ada masalah, kami kan sedang sembunyi dari suruhan jutawan kaya, bukan karena kehendak kami sendiri kan.
Aku lihat jam dinding, sekarang sudah pukul 23.15, harusnya aku sudah tidur, karena biasanya aku jam 21.00 aja sudah ngantuk luar biasa.
Seperti biasa lampu di seluruh ruangan rumah ini tidak aku matikan, tak biarin nyala semua meskipun ndak begitu terang.
Kenapa aku nyalakan semua lampunya, ya agar demit-demit ndak ngganggu aku, biar ndak keliatan aneh2 lagi, biar semua keliatan nyata.
Aku berusaha agar bisa tidur, pusing juga kalau berusaha mikir tetapi ndak ada yang bisa dipikir, jadinya aneh juga.
Aku ini tipe pemikir, selama di Kota M aku selalu berpikir bagaimana agar jualan buburku bisa habis dalam sehari, karena untuk jenis bubur kan tidak gampang cara menyimpannya apabila ada sisa.
Lha disini aku ndak mikir apa-apa, otaku yang biasanya buat untuk mikir ini dan itu sekarang malah nganggur sama sekali ndak ada yang bisa kupikir.
Lama-lama utegku iso strok kalau gak pernah dibuat mikir, disini malah yang tak pikir hal-hal ghaib, bukan mikir yang berguna.
Intenet gak ada meskipun ada hp, buka sosmed gak berani , pokoknya disini serasa di desa terpencil, ndak ada yang bisa aku kerjain.
Setelah beberapa kali mencoba untuk bisa menjadi ngantuk, akhirnya aku merasa ngantuk juga,... kulirik jam , ternyata saat ini sudah pukul 24.10. Aku bisa tidur juga akhirnya.
Aku mulai masuk ke alam tidur, mulai ngorok, mulai masuk ke alam mimpi.....
Tiba-tiba ada yang mencoleku, ada yang berusaha membangunkanku, sesuatu itu terus menerus mencolek bahuku hingga aku membuka mataku.
“Uuugh siapa sih itu, kenapa colek-colek tanganku kayak gitu” batinku sambil melihat di dalam keadaanya yang gelap gulita.
Gelap gulita!... Kamar ini gelap, listriknya mungkin njeglek lagi kayak kemarin, tapi kenapa ada yang membangunkan aku, kenapa ada yang berusaha bangunin aku.
Mataku belum membiasakan diri dengan keadaan yang gelap seperti ini, tetapi aku masih bisa memegang temanku Glewo yang ada disebelahku.
__ADS_1
Kuguncang-guncangkan tubuh Glewo, tetapi sama aja seperti kemarin, mereka tidak ada yang terbangun, yah terpaksa pasrah aja lah, mungkin mbah putriku kepingin bertemu lagi denganku.
Perlahan-lahan mataku sudah bisa membiasakan diri dalam keadaan gelap, kamar ini meskipun gelap tetapi ada sedikit cahaya lemah yang ndak tau berasal dari mana cahaya itu.
Kayaknya cahaya itu berasal dari dalam lemari. Ya, lemari hitam kuno itu sepertinya memancarkan cahaya yang sangat lemah, sehinga mataku bisa sedikit melihat di sekeliling kamar.
Aneh, kok bisa kayu kemari ini bisa ada cahayanya, mana ada kayu yang bisa menghasilkan cahaya sendiri, tapi bodo amat, pokoknya ada sedikit cahaya disini.
Ketika aku sedang asik memperhatikan lemari kuno yang memancarkan cahaya, tiba-tiba pintu kamar terbuka, pelan dan tidak bersuara, padahal setiap pintu yang ada di rumah ini akan bersuara kalau kita buka atau tutup.
Pintu kamar terbuka, ruang tamu di depan ku keadaanya gelap dan sepi, persis seperti kemarin waktu mbah putriku ingin bertemu denganku.
Pasti sebentar lagi mbah putri akan muncul lagi, kan aku dan teman-teman sudah nyekar ke makam mbah, mungkin ada lagi yang mau dibicarakan mbah putri kepadaku.
Sesuai yang dikatakan mbak Puji, mbah putri kan kepingin bicara sama aku, apa ini saatnya mbahku datang lagi, atau apakah yang datang ini bukan mbahku.
Pikiranku semakin bercabang-cabang karena di kursi ruang tamu belum juga ada yang duduk , kalau kemarin kan ada bayangan yang mirip mbah ku sadang duduk disana.
Lha sekarang kok kosong, ndak ada siapa-siapa di kursi itu, lalu aku harus ngapain ini? Apakah aku tunggu saja sampai mbahku muncul di sofa ruang tamu?
Seharusnya dengan tanda-tanda listrik yang padam dan pintu yang terbuka berarti ada sesuatu di ruang tamu itu, tetapi sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda adanya sesuatu disana.
Aku sekarang sudah mulai terbiasa melihat dalam gelap, aku bisa melihat Glewo yang sedang tidur sambil memegang totongnya yang segede
lombok ijo, aku juga bisa lihat Blewah yang tidur dengan mata setengah terbuka.
Ketika kualihkan pandanganku ke arah ruang tamu, sepertinya dari arah dapur ada cahaya, cahaya remang-remang yang bisa terlihat sampai diruang tamu, cahaya lemah yang memantul di sofa.
Apakah ini pertanda bahwa aku harus mendatangi cahaya aneh itu? tentu saja aku ndak mau , aku terlalu takut untuk berjalan keluar kamar yang gelap sekali.
Aku tidak berani melangkah ke arah dapur, karena dari dapur itu aku pernah mendengar suara bayi yang sedang menangis.
Lalu apa yang harus aku lakukan dengan keadaan yang seperti ini, keadaan yang aku ndak tau harus ngapain?
Cahaya itu tetap saja terlihat karena cahaya itu memantul ke kursi sofa dan lantai yang ada di depan kamar.
Kursi sofa dan sekitar lantai itu menerima pantulan cahaya yang entah dari mana asalnya.
Saat ini perasaanku berbanding terbalik dengan otaku, perasaanku mengatakan jangan kamu pergi ke luar kamar karena diluar ada sesuatu yang bebahaya bagi diriku.
Tetapi otaku berkata lain, aku sedang ditunggu mbah putri di kamarnya, karena mbah putri ingin bicara sama aku, sesuai dengan perkataan mbak puji.
Mana yang harus kuturuti, apakah aku harus turuti perasaanku yang gak jelas sama sekali?
Atau otaku yang sudah jelas mencerna adanya cahaya di ruang tamu, terbukanya pintu kamar, dan sesuatu yang berusaha membangunkanku.
Karena dari tanda-tanda itu sebenarnya menyuruhku untuk menuju ke arah keluar kamar.
Tapi aku terlalu takut untuk keluar dari kamar, tetapi anehnya rasa penasaranku bisa melebihi rasa takutku, aku harus bisa melihat apa yang ada di luar itu.
__ADS_1
Aku berdiri dari posisi duduku di pinggir tempat tidur, kemudian kumiringkan tubuhku agar tidak menginjak Blewah yang sedang tidur pulas dibawahku.
Pelan-pelan aku berjalan ke arah pintu kamar, tetapi aku tidak langsung keluar kamar, aku harus melihat apa dulu apa yang menyebabkan adanya cahaya remang-remang itu.
Sudah kukumpulkan semua keberanianku untuk melihat apa yang sedang terjadi di daerah sekitar dapur, cahaya apa yang menyebakan pantulan di sofa ini.
Aku sudah ada di ambang pintu kamar, tetapi aku masih belum berani untuk melihat apa yang terjadi di sana.
“Ah sudah kepalang basah, wis aku jabani ajalah cahaya itu” kataku dalam hati
Kutoleh ke arah kanan kulihat dari mana asal cahaya berpendar itu.
Aduh! ternyata cahaya itu berasal dari kamar mbah putri yang dalam keadaan terbuka separuh.
Duuuh ada apa lagi ini, kenapa kok ndak duduk di sofa kayak kemarin aja, kenapa aku harus masuk ke kamarnya?
Melihat hal ini berarti memang mbah putri yang mengundangku untuk masuk ke kamarnya, mungkin dia ingin berbicara
denganku, tapi apa yang mau dibicarakan kepadaku?
Semua ini sepertinya memang sudah di rencanakan, mbahku mungkin memang ingin bertemu dengan ku, sesuai yang dikatakan mbak Puji kepadaku.
Ya sudahlah tak datangi ae mbahku kalau gitu, tapi kenapa bulu kuduk ku harus meremang kayak gini, apa ndak bisa aku ndak merasa ketakutan sampai meremang gini?
Pelan-pelan aku keluar dari kamar depan, ruang tamu ini memang sangat gelap , tapi cahaya yang keluar dari kamar mbahku cukup memberiku penerangan.
Boleh percaya atau tidak tapi cahaya yang keluar dari kamar mbahku itu bener-bener menakutkan.
Cahaya kuning remang-remang yang mungkin berasal dari bohlam kuning yang kekurangan daya listrik.
Aku berjalan sangat pelan dan sangat hati-hati, aku tidak mau suara langkah kakiku terdengar oleh teman-temanku yang sedang tidur.
Ada rasa aneh yang menjalar di seluruh tubuhku, rasanya ada yang berusaha menarikku, sesuatu itu berusaha menarik tubuhku menuju ke arah kamar almarhum mbahku.
Aku berusaha melawan sesuatu yang terus menerus menarikku, tetapi semakin aku lawan semakin sesuatu itu lebih kuat menarikku menuju ke kamar mbahku.
Kemudian yang makin membuatku merinding karena ada bau bauan yang
aku cium , aku mencium bau bunga melati dan bau dari minyak rambut yang dulu sering dipakai mbahku.
Minyak rambut yang botol nya berwarna hijau dan botolnya itu berbentuk khas kayak daun besegi-segi gitu, tapi aku sudah lupa nama dan bentuk aslinya.
Bau bau ini merupakan ciri dari mbahku, bau khas yang sering ada ketika mbahku masih hidup, bau yang selalu ada apabila mbahku habis mandi.
Aku terus saja berjalan ke arah kamar tengah, keberanian ku sebenarnya sudah habis, tetapi sesuatu ini terus menarikku ke dalam kamar.
Aku kumpulkan keberanianku untuk bertemu dengan mbahku, karena aku yakin mbahku tidak akan menyakiti aku,
Aku yakin mbahku ingin bicara dengan ku karena ada sesuatu yang mungkin masih mengganjal.
__ADS_1