
“Jadi kalian jangan salah sangka dengan aku rek, aku ini ndak ada maksud untuk mengumpankan Blewah atau pun anak-anak ini kepada siluman anjing yang sudah jinak itu sekarang, sekarang dia sudah berubah jadi anjing ghaib kecil yang lutjuk hihihihi”
Memang anjing itu sudah jinak, dan dia juga tadi sempat mengatakan sesuatu tentang kematian mbah Joyo, bahwa dia tidak membunuh mbah Joyo melainkan ada mahluk lain yang melakukannya, tetapi aku tidak akan menceritakan kepada temanku dulu, karena aku perlu pembuktian kebenarannya.
Nanti setelah dari tempat Kipeli dan setelah Kipeli mengatakan kepadaku apa dan siapa yang mbah Joyo temui sebelum terjadinya pembunukan itu, dan kemudian kucocokan dengan cerita dari anjing itu, baru aku akan ceritakan kepada ketiga temanku.
“Sekarang sudah jam 20.00, kita sebentar lagi berangkat rek”
“Tapi aku gak mau kalok Ada Sumirah Gel, aku lak gak iso jalan-jalan ke hotel Waji kalau ada Sumirah gini ini c*k” kata tubuh Blewah yang saat ini sedang terisi oleh Blewah sendiri.
Memang tadi aku sengaja memanggil Blewah, karena aku kepingin teman-temanku tau bahwa aku tidak ada niatan untuk menjadi pengecut, melainkan memang aku belum saatnya untuk berbuat lebih sangar hehehe.
“Jadi yekopo iki Gel, kita kemana setelah ini” tanya Blewah yang begitu antusianya “Soale aku arep ambil buku tts yang tak taruh disana dengan sebuah pesan yang sudah tak tulis didalam nya Gel”
“Nek misale memang ada time traveling, pasti tulisanku ada yang jawab hehehehe” kata Blewah lagi
“Wis gak usah aneh-aneh Wah, iki semua gara-gara kamu yang ambil barang-barang disana itu c*k” kata Glewo
“Ndeh Wo, aku ini ambil yang ada disana iku ada alasane, nek gak ada alasane buat apa aku ambil dan meneliti barang-barang koyok peniti, dompet, buku tts, dan taring kecil sing ternyata punya arek cilik lucu iki hihihih” kata Blewah lagi
“Bener Glewo, untuk sementara iki kamu gak usah macem-macem dulu, nek kamu aneh-aneh lagi tak ganti sama Sumirah lho awakmu Wah” ancamku
“Wis karepmu Gel, aku tak ikut ae lah”Jawab Blewah yang sudah terpojokan dengan ancamanku tadi hehehe
“Mas Agus, anjing nya tadi dimana mas, kok Indah tadi intip ndak ada di luar sana mas?” tanya Indah
“Ada di rumah sebelah Ndah hehehe, wis tak taruh disana ae, dia sudah jadi anjeng kecil yang lutjuk kok, tapi kita tetep harus waspada dengan siluman itu, karena yang namanya siluman tetaplah siluman”
Blewah sedang bermain dengan keempat anak kecil yang memang lucu, aku selama kenal Blewah baru ini aku liat dia senang bermain dengan anak kecil.
“Ayo siap-siap rek udah jam 20.45 ayo budal sekarang rek. Wo kamu yang setir mobil yo, aku sama Indah tak duduk di belakang jadi juragan muda hehehe”
“Ndah, anak-anak diajak juga apa ndak ini?”
__ADS_1
“Jangan dulu mas, biarkan mereka dirumah dulu saja, indah ndak mau nanti ada yang mau ambil anak-anak itu dari kita mas, biarkan mereka aman dirumah ini mas”
“Ya wis kalau gitu Ndah, oh iya anjing lucu itu juga kusuruh untuk jaga rumah ini kok , kalau ada yang coba-coba kesini koyok Petro dan asu-asuanya pasti akan di bikin susah”
“Oh iyo rek, kabare Petro gimana ya?” tanya Glewo
“Mbuh, biarkan ae Petro iku, lama-lama lak deke kesini nek sudah ndak kuat hahahaha”
Pukul 21.15 kami start dari rumah menuju ke warkop mbah Joyo yang mungkin sekarang sudah ganti menjadi warkop Kipeli. Perjalanan berlangsung dengan aman, sementara itu Blewah aku biarkan menjadi Blewah, kecuali dia berbuat onar hehehe.
*****
Mobil diparkirkan di tempat biasanya agar tidak menyolok, kami berempat jalan menuju warung yang dijaga oleh Kipeli. Mungkin sudah hokky kami ke sini karena warkop dalam keadaan sepi, sehingga kami bisa lebih santai ngobrolnya.
Warung mbah Joyo tetap seperti biasa, tidak ada yang berubah pasca kematian mbah Joyo sebagai pemilik warung, tidak ada yang berubah kecuali penjaga warung yang bukan lagi mbah Joyo melainkan Zulkifli atau yang biasa dipanggil mbah Joyo dengan sebutan Ki peli.
“Assalamualaikum mas Kipeli” teriaku kepada penjaga warng yang sedang memainkan telepon genggamnya yang jadul, oh bukan memainkan melainkan sedang mencari gelombang radio dari hpnya
“Indah teh hangat saja mas” kata Indah yang tiba-tiba kepada Kipeli
“Lainya bikinkan kopi susu saja mas Peli. Gimana mas, ada yang mau mas Kipeli sampaikan kepada kami?”
Kipeli dengan cekatan membuat satu teh hangat dan tiga kopi susu untuk kami berempat, kalau kulihat dari wajah Kipeli tidak ada kesedihan sama sekali atas kematian mbah Joyo yang selama ini sudah menampungnya bekerja disini.
Satu teh hangat, dan tiga gelas kopi zhuzhu sudah ada di meja, termasuk Kipeli juga bergabung duduk diantara kami berempat.
“Jadi begini mas, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya tau tentang mbah Joyo sebelum meninggal, sebenarnya saya tidak tau apa yang selama ini sedang mbah Joyo lakukan di sini. Tetapi yang saya tau mbah Joyo itu selalu minta menjaga warkop ini hanya pada malam hari saja kan”
“Yang seharusnya seusia mbah Joyo itu lebih baik jaga warkop pada waktu siang hari saja, dan malam hari seharusnya saya yang jaga. Jadi setelah saya amati, mungkin kematian beliau ada hubunganya dengan hotel yang ada didepan warkop ini mas”
“Coba perhatikan posisi warkop ini, kenapa tidak mendekati pasar yang pastinya akan banyak pembeli yang akan datang kesini, kenapa malah menjauh dari pasar dan mendekati hotel Waji. Dari situ saja saya bisa menerka bahwa mbah Joyo sedang mengamati hotel itu”
“Saya curiga yang selama ini mbah Joyo lakukan bertahun tahun menjaga warkop pada malam hari disini adalan sedang mengamati hotel itu mas. Dan kejadian kemarin malam itu mungkin ada sangkut pautnya dengan hotel yang ada depan itu”
__ADS_1
“Memangnya mas Kipeli tau kemarin malam mbah Joyo melakukan sesuatu disini atau mungkin saja di hotel itu mas” tanya ku
“Waktu itu saya tidak sedang jaga mas, tetapi pada sekitar pukul 01.00, beliau menelpon saya untuk nenggantikan jaga warung karena katanya badanya lagi ndak enak, katanya lagi masuk angin mas. Jadi setelah menerima telepon saya segera kesini mas”
“Nah waktu saya kesini, kondisi mbah Joyo bener-bener nampak sakit, wajah dia pucat dan bajunya pun basah oleh keringatnya. Dan yang pasti ada sedikit darah yang selalu keluar dari dalam hidungnya”
“Saya tawari untuk mengantar beliau pulang, tetapi ditolaknya, beliau hanya bilang agar saya jaga warkop, apapun yang terjadi warkop ini harus tetap buka pada malam hari, jangan sampai tutup, begitu pesan mbah Joyo kepada saya”
“Beliau pulang dengan tergesa-gesa meskipun cara jalan beliau sudah sempoyongan. Paginya ketika saya menutup warung dan saya pulang kerumah, saya mendapati tubuh mbah Joyo sudah kaku dengan hidung dan telinga yang penuh darah.
“Setelah saya bersihkan darahnya, kemudian saya memberitahukan kepada Rt setempat tentang kematian mbah Joyo. Mbah Joyo meninggal dalam posisi tertidur dengan posisi kedua tangan sendakep di dada”
“Saya ingin bertemu dengan kalian kerena ada pesan dari mbah Joyo yang ditujukan untuk kalian, di meja kamar beliau ada surat yang ditujukan kepada kalian” kata Kipeli sambil menyerahkan selembar kertas yang di beberapa sisinya terdapat darah yang mengering.
...BUAT YANG KEMARIN KESINI...
...WAJI, VILA PUTIH GEBANG. CEPAT SEBELUM ADA KORBAN LAGI...
Itulah yang sempat ditulis mbah Joyo dengan huruf kapital yang berantakan dan terkesan kesusu atau tergesa-gesa pada selembar kertas yang disana sini terdapat darah yang mengering.
“Saya tidak paham dimana itu vila putih mas, tetapi mungkin kalian tau sehingga mbah Joyo menulis kertas ini. Yang kesini kemarin adalah kalian kan mas, tidak ada lagi orang lain yang pernah masuk ke tempat tinggal mbah Joyo kemarin kecuali kalian”
“Dan satu lagi mas, waktu kemarin kalian pulang setelah penyembuhan mas ini, beliau menyuruhku memberikan sapu kerik ini untuk kalian, kata mbah Joyo sapu ini suatu saat akan berguna bagi kalian” kata Kipeli yang memberikan benda yang terbungkus kain putih kepada kami
“Nah itu yang ingin saya sampaikan kepada kalian mas, amanah sapu lidi ini dan kertas yang ditulis untuk kalian”
“Dan apabila kalian butuh bantuan saya, saya akan siap untuk membantu, asalkan warung ini tetap buka pada malam hari, tidak boleh tutup sesuai dengan amanah beliau juga mas”
“Eh mas Kipeli, sebenarnya saya kemarin kesini itu ingin menanyakan kepada mbah Joyo tentang hotel yang ada didepan itu, tetapi ya sudahlah mungkin kami terlambat datang kesini”
“Apa yang mau ditanyakan mas, mungkin saya bisa bantu?” tanya Kipeli kepadaku
“Hmmm ndak ada mas, karena mbah Joyo sudah meninggal, ya sudah kita harus mulai lagi dari nol mas, mirip pom bensin hihihi”
__ADS_1