INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 134 (MAYAT SIAPA ITU?)


__ADS_3

Kucing hitam kelam dengan mata kuning kehijauan yang tajam itu yang kuberi nama mbak Bashi. Saat ini dia duduk sambil menoleh ke arah kami yang ada di belakangnya, mungkin dia sedang menunggu keputusanku, lorong mana yang akan aku pilih.


Kucing itu duduk sambil menjilati kaki kiri depannya,  apakah itu tanda bahwa aku harus masuk ke lorong sebelah kiri yang kata Mirah penuh dengan mayat?


“Kita masuk ke lorong yang ada di sebelah kiri itu saja Mirah”


Ketika aku baru selesai berbicara untuk masuk ke terowongan sebelah kiri, tiba-tiba mbak Bashi kucing hitam legam itu berjalan santai menuju ke lorong sebelah kiri.


“Eh Wah, lorong yang mbok pilih iki bener ndak?” tanya Petro penuh keraguan


“Bener ndaknya nanti kan bisa kita lihat kalau kita ada di dalamnya Tro, pokoke untuk saat ini kita masih meraba kemana arah lorong ini, karena kita lagi kejar laki-laki yang masuk ke dalam sini, tapi kita ndak tau dia mengarah kemana”


“Aku ikut kamu aelah Wah, pokoke aku akan bantu sebisa mungkin lah” jawab Petro


Kucing hitam yang aku kasih nama Mbak Bashi itu berjalan santai dan pelan ke dalam terowongan yang semakin dalam semakin keras bau busuknya.


“Mas, siap-siap saja kita ketemu sesuatu yang mungkin mengerikan bagi mas Blewah dan mas Petro.  Mirah khawatir kalau mas Blewah nanti ndak kuat ngadepin bau yang mengerikan itu mas”


“Tenang ae Mirah, kalau ndak dijalani ya mana tau. Pokoke selama ada kamu Mirah, aku ndak takut apa-apa, aku cuma takut kalau kamu pergi dari tubuhku aja hihihihi”


“Ah yang bener mas, selama ini ndak ada lho yang bicara begitu sama Mirah,  lha kok pas Mirah sudah jadi arwah baru ada manusia yang bicara seperti itu mas hihihi”


“Wah Blewah, awakmu iku ngomong sama dirimu sendiri ta,  mosok dari tadi aku cuma liat kamu ngomong dewe terus mbok jawab dewe, gendengmu kapan warase Wah?” potong Petro


“Lho mosok aku ngomong dewe tak jawab dewe Tro, perasaan aku ngomong dewe , dan yang jawab iku duduk aku, tapi Sumirah c*k”


“Sudah ah mas,  perhatikan saja itu mbak Bashi , dia koyoke sebagai Guide kalian mas” Kata Mirah


“Looo tooo,  ngomong dewe lagi kan,  gitu kok ndak ngaku awakmu iku Wah. Tambah lama tambah ndak waras Wah hahahah”


“Terserah Tro, pokoke yang ngomong itu bukan aku, tapi si cantik dan semlohai Sumirah  hihihih”


Mbak Bashi tiba-tiba berhenti berjalan, dia duduk lagi di lantai. Tapi kali ini kepala dia lurus ke depan dan telinganya agak merendah atau rebah kebelakang. Kalau menurutku biasane kucing kalau seperti itu karena melihat sesuatu yang mengganggu dia atau membuat dia tidak senang.

__ADS_1


“Mbak Bashi lihat apa mbak” tanyaku kepada kucing yang ada di depanku


Sebagai catatan, Aku suka sekali dengan kucing, dan kadang kalau di rumah aku bicara dengan kucingku. Dan yang membuat aku heran, kadang aku merasa kalau kucing itu paham dengan omonganku. Termasuk mbak Bashi ini, kelihatannya dia paham dengan apa yang aku omongkan.


Mbak Bashi mendesis sebentar kemudian dia terlihat biasa lagi, telinga dia sudah berdiri normal kembali, tidak rebah seperti tadi. Kini dia melihatku dengan matanya yang tajam, kemudian dia berjalan kembali ke  depan.


Tapi kali ini dia berjalan dengan pelan sekali, dan tiap langkah dia selalu menoleh ke arah kami, mungkin dia khawatir apabila kami tidak tidak mengikutinya.


Tidak lama kemudian mbak Bashi berhenti berjalan, dia duduk dan mulai menjilati bulunya yang rembyak-rembyak.


“Eh mas Blewah, eh kayanya mbak Bashi itu ingin menunjukan sesuatu kepada mas Blewah”  kata Sumirah


“Dia kepingin menunjukan apa mbak Mirah?” tanya Petro


“Hiiih mas Petro kok tanya-tanya ke Mirah sih, ya tanya sana ke kucingnya dong” kata Mirah yang menggunakan media suara Blewah dengan lagak endel


“Wakakakaka nek yang ngomong itu Sumirah, awakmu jadi koyok bantji Wah wahahahaha, suaramu berubah jadi endel hihihii” kata Petro


“Ayo wis Wah, sudah kepalang basah ini, ayo kita teruskan saja, meskipun baunya semakin ndak karuan” kata Petro dengan pasrah


Semakin kesini baunya semakin tajam dan jelas, tetapi sayangnya sinar lampu minyak belum mampu mendeteksi apapun disini karena sinar lampu minyak ini kurang terang. Yang bisa kulihat, lorong ini masih kosong melompong belum ada penampakan mayat atau apapun disini.


“Mirah, disini baunya semakin mengerikan, tapi kok belum ada keliatan mayat seperti yang kamu katakan tadi ya?”


“Coba pake senter Hp mas dan lihat di sekeliling kalian, apakah sudah terlihat sesuatu atau belum” kata Mirah


“Wah, lantai disini kayaknya basah ya, sepatuku koyok nginjak cairan yang ada di lantai terowongan, apa disini ini tembus ke sungai bawah tanah atau gimana Wah?” tanya Petro


“Tro, awakmu bawa Hp ndak, coba kamu pakek Hpmu buat terangi sekitar sini Tro, tadi kamu dengar apa yang Indah katakan kan?”


Tanpa pikir panjang Petro segera mengeluarkan Hpnya androidnya, kemudian dia nyalakan lampu blits yang digunakan untuk memberi cahaya apabila menggunakan fasilitas photo.


Ketika lampi blits hp itu nyala keadaan terowongna ini tidak belum terlihat apapun kecuali cairan hitam yang berbau busuk di lantai. Kemudian Petro mengarahkan cahaya yang berasal dari Hp nya itu ke segala arah, atas, bawah,  samping kiri  dan kanan.

__ADS_1


“Astargfirullahaladzim!... Waaah opo iku yang tergantung di atas langit-langit dan ya Allah apa itu yang ada di dinding!” teriak Petro


Di langit-langit terowongan yang lumayan tinggi! Ada beberapa mayat yang digantung. Selain yang tergantung di langit-langit terowongan ada juga mayat yang terpaku di dinding kiri dan kanan Terowongan!.


Mayat-mayat itu masih mengeluarkan cairan yang menetes dari tubuhnya, dan ternyata apa yang kami injak ini adalah cairah dari mayat yang terpaku di dinding dan yang tergantung di atas terowongan.


“Tenang Tro, mereka ini sudah mati, tenang!” aku merangkul sahabatku Petro yang hampir jatuh karena kaget dan ketakutan


Petro mematikan cahaya lamu hpnya, dia tidak ingin melihat  hal yang mengerikan itu lagi, Petro hanya terpaku di tempat dia berdiri tanpa berkata apapun.


“Ayo kita kembali ke tempat  mbak Bashi  sedang duduk saja,  disana tidak ada cairan ataupun mayat yang bergelantungan Tro” kataku sambil memapah Petro menuju ke arah kucing hitam itu sedang duduk


Pantesan kucing itu tidak jalan menuju kesini, dia hanya duduk di lantai yang kering, ternyata dia ingin menunjukan kepada kami tempat yang mengerikan ini.


Setalah kami berdua ada di tempat yang kering, kemudian kusuruh Petro untuk duduk, aku yakin mental dia sekarang sedang goncang setelah lihat beberapa mayat yang digantung dan juga mayat yang terpaku di dinding terowongan.


“Wah, tadi itu mayat siapa, dan itu ulah siapa, kok bisa sesadis itu menggantung mayat koyok nggantung sapi potong yang ada di rumah pemotongan hewan gitu Wah” tanya Petro


“Aku juga belum tau Tro, tapi semua ini adalah yang aku bilang itu. Kami bertiga aku, Dogel dan Glewo sudah terlalu jauh mencampuri urusan yang seharusnya tidak kami sentuh ini Tro”


“Semakin kesini semakin mengerikan soale Tro, apalagi ditambah Dogel yang sekarang mulai bertingkah aneh, dan Glewo yang sudah pulang ke tempat asalnya, dan Indah yang sudah hilang”


“Terpaksa aku sendirian bersama Sumirah yang ada di tubuhku ini yang harus selesaikan semua ini Tro”


“Ojok Khawatir Wah aku akan bantu, tapi aku butuh penyesuaian dulu Wah, aku gak bisa kalau ndadak mbok ajak ke tempat yang mengerikan gini dan lihat banyak mayat yang digantung gitu Wah”


“Mas Blewah, lebih baik mas Petro ini diajak ke tempat abah Fuad mas, dan juga mas Blewah laporkan ke abah Fuad tentang mas Dogel yang semakin aneh itu” kata Sumirah


“Kita selesaikan dulu saja terowongan ini, setelah itu baru kita lakukan langkah selanjutnya Mirah, soalnya kan sesuai dengan omongan abah Fuad, kita harus selamatkan teman kita yang ada di vila  putih kan Mirah”


Ketika kami sedang ngobrol, tiba-tiba kucing hitam kelam yang ku namai mbak Bashi itu mulai menggeram, suara geraman yang mengerikan itu menunjukan adanya sesutu yang dia anggap berbahaya.


Anehnya mbak Bashi malah menghadap ke arah berlawanan dari mayat-mayat yang bergelantungan, kucing itu menggeram menghadap ke arah ketka kami masuk ke terowongan ini.

__ADS_1


__ADS_2