INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 12, MBAH PUTRI DAN MBAH KAKUNG


__ADS_3

Aku sudah mulai curiga dengan keadaan Blewah yang ada disampingku ini, dia tidak melihat wajahku, tetapi dia terus terusan tertawa mengerikan didepanku tanpa sebab.


Dan yang aneh, di dalam kamar mandi, tidak ada suara Glewo sma sekali, kedua teman ku ini rasanya janggal, pasti ada sesuatu dengan mereka berdua.


Iseng-iseng kubaca ayat kursi yang memang sering aku baca di manapun


berada, karena dengan ayat kursi itu kadang bisa membantuku kalau aku dalam keadaan ketakutan .


Aku semakin curiga ketika aku sedang membaca ayat kursi, Blewah yang ada didepanku bergetar hebat dengan suara yang aneh keluar dari mulutnya.


Secepatnya aku tinggalkan Blewah yang masih ada di depan pintu kamar mandi dalam keadaan bergetar hebat dan bersuara sesuatu yang aku tidak pahami.


Sedikit berlari aku kembali ke kamar tidur yang posisi nya ada didepan.


Ketika kubuka pintu kamar, kedua temanku ada di dalam kamar, mereka berdua sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang aneh.


“Astargfurullah... huufff tadi aku diajak


setan ke kamar mandi rek, tadi Glewo minta antar aku ke kamar mandi, Blewah  juga ikut kesana”


“Ternyata mereka berdua setan, Untung tadi aku bisa lepas dari kedua setan yang menyamar jadi kalian rek"


"Tapi kalian kenapa kok keliatanya wajah kalian gitu rek, apa ada sesuatu juga yang mengganggu kalian?”


“Tadi ada yang colek lenganku, tak pikir itu kamu atau Blewah Gel, ketika aku membuka mataku, ternyata ada nenek-nenek tua dengan wajah marah berdiri di depanku gel” kata Glewo dengan wajah ketakutan


“Lha kamu kenapa Wah, apa yang mengganggumu”


“Gak ada apa-apa sampek tadi Glewo mbangunin aku c*k, waktu aku duduk di pinggir kasur, ada mukak yang ngerik, wajah anak kecil tapi tua keriput dan bertaring”


“Dia berusaha nakutin aku Gel, kan kurang ajar namanya itu, ya terpaksa tak ludahin muka dia, eeeh dia malah marah, aku disembur liur aroma busuk dari mulutnya, aku ndak takut, tapi aku jijik!”


Wajah Blewah menampakan wajah yang jengkel, aku percaya dia ini tidak takut dengan mahluk ghaib, karena disebelah rumahnya memang banyak macam mahluk ginian.


“Yawis lah huuff sekarang kita tidur lagi rek, besok kita pikirkan apa yang akan kita lakukan, apa lagi si Indah ndak kesini lagi, ndak tau dimana dia rek”


Aku sudah mulai ngantuk begitu juga  kedua temanku, mereka juga mulai memejamkan matanya, saat ini masih malam, dan suasananya hening sekali, karena kami sudah berhenti berbicara.


Dalam suasana hening kayak gini malah


telingaku semakin tajam mendengarkan suara-suara halus yang ada di sekitar kami ini.


Di dapur kayaknya banyak suara aktifitas, mungkin ada tikus disana yang jalan melewati piring dan gelas, karena aku mendengar seperti suara piring dan gelas yang seolah ditaruh di rak piring setelah dicuci.


Belum juga aku memejamkan mata, tiba-tiba listrik di rumah ini padam disertai dengan suara desiran angin dari arah ruang tamu.

__ADS_1


“Waduh gangguan apa lagi ini rek, apakah daya listrik disini ndak kuat karena semua lampu aku nyalakan agar susasana tidak gelap” gumamku


“Wo bangun, Listriknya mati Wo” aku mencolek temanku yang ada di sebelahku, tetapi dia kayaknya tidak bereaksi sama sekali


Aku tendang Blewah yang ada dibawahku tetapi dia hanya diam saja , dia sama sekali tidak bereaksi dengan tendanganku.


Untuk diketahui Blewah tidur di bawah menggunakan kasur kecil  yang ada dikamar ini , kasur kecil yang biasanya digunakan untuk saudara yang menginap disini dulu.


Aku semakin panik karena kedua temanku sama sekali tidak bereaksi ketika aku bangunkan, aku semakin panik ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar.


Pintu kamar terbuka lebar sehingga menampakan situasi ruang tamu yang gelap gulita, dalam situasi seperti ini aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.


Apakah aku harus bangun dan menutup pintu kamar yang terbuka tiba-tiba, atau aku hanya diam dan menutup pintu kamar saja hingga listrik rumah menyala.


Aku terduduk di samping dipan yang mengarah langsung ke pintu kamar yang terbuka lebar, sehingga aku bisa melihat samar sofa yang ada di ruang tamu.


Tiba-tiba aku mencium bau bunga melati yang sangat tajam, memang di taman depan ada tanaman melati yang lebat bunganya, melati ini tanaman kesukaan mbah putri jaman dia masih hidup.


Tetapi baunya ya ndak sampai setajam ini, bau ini sepertinya ada di dalam indera penciumanku, bukan dari luar hidungku.


Mataku saat ini sedang tertuju ke arah luar kamar, samar aku lihat kursi sofa


berbentuk L yang ada diruang tamu.


 Mataku tertuju dan menatap ke arah sofa yang ada di ruang tamu, karena di sofa itu nampak ada bayangan hitam yang sedang duduk dan keliatanya sambil menyilangkan kakinya.


Semakin lama aku semakin mengenal bayangan itu dengan hanya melihat cara


dia menyilangkan kakinya, sepertinya aku pernah tau tetapi aku lupa siapa dia.


Aku mulai berpikiran untuk membaca ayat kursi dan beberapa ayat suci Alquran. Ketika aku mulai membaca ayat kursi ada sesuatu yang lebih mengerikan


lagi dari yang sebelumnya.


Ada suara perempuan tua yang mengikuti suara ku ketika kulantunkan ayat kursi, malah suara itu lebih merdu dari pada


suaraku.


Setiap aku melantunkan satu ayat, bayangan hitam yang ada disana juga melantunkan hal yang sama, dia ternyata lebih hebat dalam melantunkan ayat suci Alquran dari pada aku.


Aku semakin bingung, apa yang harus aku lakukan lagi, aku sudah berusaha membangunkan Glewo dan Blewah , tetapi mereka seolah pingsan.


Aku bingung bagaimana cara mengenyahkah mahluk halus yang mengganggu ku ini, aku mengira yang ada di depanku sepertinya jin muslim.


Aku tetap menatap bayangan itu tanpa berkedip, kemudian kepala bayangan itu nampak bergerak kekiri kekanan, sepertinya kepala dia sedang pegal.

__ADS_1


Semakin lama bayang hitam itu semakin menunjukkan wujud tubuhnya, tetapi aku masih belum bisa menebak siapa dia, karena yang ada sekarang hanya wajah yang masih buram .


Keliatanya bayangan yang sedang duduk di sofa itu ingin menunjukan kepadaku bahwa aku kenal dengan dirinya, bahwa aku juga pernah kenal dia.


“Koe nyapo merene Gus, wis suwe koe ora sambang sareanku ( kamu ngapain kesini Gus, sudah lama kamu ndak datang ke kuburanku)” dia berkata kepadaku yang sedang dalam keadaan ketakutan yang amat sangat


Suara itu, suara itu suara yang aku kenal pada jaman dulu, suara itu suara mbah putri, mbah putriku sedang duduk di sofa


kesayanganya, dia duduk di posisi kesukaanya semasa dia hidup.


Posisi duduk kesukaanya adalah menghadap ke arah kamar ini dengan kaki yang disilangkan, aku hapal dengan cara duduk mbah putri karena dulu tiap akhir pekan aku selalu diajak kesini oleh orang tuaku.


Tetapi setelah beberapa belas tahun mbahku meninggal, dan setelah aku trasmigrasi ke kota S di jawa tengah, aku sudah tidak pernah ke rumah ini maupun ke sarean mbahku.


“Mbah P..putri, m.. maaf mbah” aku ketakutan menjeab pertanyaan mbah  putirku ini.


“A...aku dan t..temanku lagi d..dapat masalah mbah, a..aku mau t..tinggal disini untuk sementara mbah”


“Ora popo kamu sama temanmu disini Gus, tetapi kamu harus sowan ke mbah putri dan mbah kakung dulu, mbah sudah kangen sama kamu Gus”


“I..iya mbah, bes...besok  pagi aku ke makam mbah putri dan mbah kakung”


Pantasan tiap aku membaca ayat suci Alquran, bayangan yang ada di depanku


selalu mengikutiku suaraku, ternyata beliau itu mbahku.


Mbahku mahir kalau yang berhubungan dengan hapalan Aquran, beliau selalu sholat di mushola yang tidak jauh dari rumah ini, dan menghabiskan waktu mengaji disana.


Bayangan yang masih berupa kabut itu makin lama makin jelas, didepanku ada penampakan mbah putri yang lengkap dengan sanggulnya, mbah putri yang wajahnya cekung, kurus, dan keriput.


Mbah putriku memakai pakaian yang biasanya dia gunakan untuk berpergian, pakaian yang dia sukai semasa hidupnya yaitu bawahan jarik batik berwana coklat dengan atasan kebaya coklat.


Tidak seberapa lama kemudian, disebelah mbah putri ada bayangan hitam lagi yang muncul, perlahan lahan bayangan hitam itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki.


“Mbah kakung,..” ketika kulihat lelaki


berperut agak gendut dengan wajah bulat sedang tersenyum kepadaku, dia hanya


mengenakan kaos putih dengan sarung dan ikat pinggang yang besar, itu merupakan pakaian kegemaran mbah kakung semasa dia hidup.


Mbah Kakung hanya tersenyum kepadaku, dia tidak berbicara apapun kepadaku, untuk diketahui mbah kakung meninggal lebih dulu beberapa belas tahun dari pada mbah putriku.


Setelah kedua mbahku yang datang dan menemuiku, dengan cara yang sangat


menyeramkan, kemudian perlahan-lahan semua ini hilang, tiab-tiba listrik rumah

__ADS_1


menyala kembali seolah tidak terjadi apa-apa


__ADS_2