
Ketika sisa tali itu tinggal setengah meter..terdengar suara kecipak dari dalam sumut, yang artinya tiba yan berupa ember itu sudah menyentuh permukaan air sumur.
“Ginten ini dimana.. Katanya mau datang kesini”
Dari pada menunggu Ginten.. Lebih baik kuambil saja air yang ada di dalam sumur..
Pelan-pelan tali ini kugoyang goyangkan agar timba yang ada di permukaan air sumur bisa terisi penuh sebelum kutarik ke atas.
Setelah kurasa air ini cukup… dengan perlahan lahan aku tarik timba yang ada di dasar sumur…
Hampir lima belas meter dari bibir sumur ke dalam permukaan air sumur dengan berat air yang ada di dalam timba itu sekitar tiga kiloan.
Dengan hati-hati dan perlahan-lahan aku menarik timba itu, aku takut apabila tali timba itu putus, karena kedalaman bibir sumur ke permukaan air itu sekitar lima belas meter, dan jelas tidak mungkin kalau aku turun mengambil timba yang putus.
Perlahan lahan namun pasti aku menarik tali timba..hingga akhirnya timba yang berisi air itu ada di permukaan bibir sumur.
Kuangkat timba itu dari bibir sumur kemudian aku taruh di tanah sebelah sumur..
Ketika akan aku minum… kucium dan kujilat dulu air yang ada di timba…
“Janc*k.. Kok bau busuk gini… Janc****kkk bau bangkai hoooeeeghhh!”
Wah … Ginten kurang ajar…aku dikerjai Ginten ini kayaknya.. Bangsath juga setan perempuan itu!.
Tidak akan kuminum dulu…aku tunggu Ginten datang kesini, dan akan aku siramkan air bau busuk ini ke bayangan tubuh Ginten!”
Kutunggu lama Ginten ternyata belum muncul juga setan satu itu, hingga akhirnya aku sudah malas untuk menunggu Ginten..
“Kurang ajar.. Aku akan pulang saja!”
“Eiitsss tunggu dulu.. Jangan pulang dulu Man… kamu kenapa tidak mau tunggu saya!”
“Dari tadi aku sudah ada disini lama sekali, tetapi kamu tidak muncul juga Ginten!”
“Bukan begitu Rochman… tadi saya sedang bersama Painah…untuk mengambil air sumur ini harus minta ijin dengan painah dulu!”
“Kalau kita tidak minta ijin pemiliknya.. Maka air sumur ini penuh dengan bangkai tikus…”
“Kurang azar.. Pantasan….barusan aku ambil air sumur ini…dan baunya busuk sekali”
“Saya kan sudah bilang ke kamu untuk tunggu saya, kenapa kamu dengan lancang ambil air sumur itu. apa kamu tidak melihat banyak demit yang marah di sekitar sini karena kamu dengan lancangnya masuk kerumah”
“Ya karena kamu lama sekali.. Makanya kuambil saja air ini!... sekarang apa yang harus aku lakukan lagi?”
“Ambil lagi air ini.. Saya tadi sudah minta ijin Painah… dan air itu akan berubah.. Cepat ambil air itu!” teriak Ginten
Kulempar lagi ember yang terikat tali ke dalam sumur, tetapi anehnya…tidak ada satu detik .. timba itu sudh menyentuh permukaan air sumur.
“Lho kok aneh… sekarang air sumur ini penuh?”
“Makannya tunggu saya dulu hingga saya ada disini, baru kamu lakukan apa yang kamu harus dilakukan”
“Sekarang mandi dan minum air itu”
“Saya juga akan mandi disini bersama kamu”
“Apa….kita mandi bareng Ginten? Apa tidak salah dengar telingaku?”
“Iya lepas pakaian mu dan mandi disini cepat…”
“Saya juga akan mandi air sumur itu juga”
“Hahahahah kamu kan hantu Ginten.. Apa bisa kamu mandi disini hahahah”
“Kamu pikir sekarang aku hantu.. Lihat baik baik wujudku ini Rochman… ayo cepat lepas pakaianmu!
“Tapi..tapiii…. gak bisa Ginten!”
“Tapi apa…. Tapi kamu malu?...Buat apa kamu malu Rochman.. Bukanya kamu tidak berminat dengan yang namanya perempuan?”
“Memang sih saya dapat kabar kamu pernah minat dengan perempuan dan berakhir dengan penyakit kelhaminkan hahahah”
“Jangan pernah bahas itu lagi Ginten….pada waktu itu aku terlalu polos untuk ditipu!”
“Ya… memang sampai sekarang aku sama sekali tidak minat dengan perempuan, jadi jangan coba-coba menggodaku Ginten!”
“Ya sudah.. Kalau tidak minat dengan perempuan cepat buka bajumu dan mandi dengan air sumur itu!”
“Kemudian minum air sumur itu hingga kamu muntah-muntah.. Tujuannya untuk membersihkan bagian dalam tubuhmu!”
“Dan saya juga akan melakukan yang sama dengan yang kamu lakukan Rochman!”
“Sebenarnya apa tujuan kamu dengan ini semua Ginten!, kamu belum jelaskan sama sekali kepadaku!”
“Sudah jangan banyak bacot.. Cepat kita lakukan saja apa yang aku suruh sekarang”
Aku memang dari dulu gak doyan sama yang namanya perempuan…
Tapi pernah juga doyan, gara-gara Dimas dulu sering aja aku ke lokalisasi tempat yu lemu….lama lama aku kepingin juga sama perempuan.
Hanya saja waktu itu aku pernah ketipu.. Gara-gara kepincut harga murah, akhirnya aku kena kencing nanah. Dan untungnya Dimas mau mengantarku ke rumah sakit.
__ADS_1
Lha sekarang ini Ginten malah kepingin lihat tubuhku dalam keadaan telanjang bulat, tapi dia juga akan mandi di depanku.. aduuuuhh .
Seluruh pakaian ku sudah kulepas.. Begitu juga pakaian yang digunakan Ginten…
Kami berhadap hadapan dalam keadaan telanjhang bulat.
Tapi untungnya keadaan gela.. Hanya ada sinar bulan saja yang menerangi kami…
“Sekarang ambil air dari dalam sumur dan siram ke tubuhku…dan mandikanaku, begitu juga sebaliknya nanti”
“APAAAAAA!... a..aku harus memegang tubuhmu Ginten?”
“Iya..itu salah satu syaratnya…tidak boleh mandi sendiri dan harus tangan orang lain yang memandikannya”
“Aturan dari mana itu Ginten… tidak ada aturan seperti itu selama ini”
“Sudah jangan banyak bicara.. Waktu kita sempit… cepat guyur tubuhku dan mandikan aku Rochman”
Ya ampun… mimpi apa aku semalam, kenapa aku harus menyentuh dan memandikan tubuh Ginten. Bukannya aku takut.. Tapi aku jijik!
Aku tidak berani memegang bagian vital dari tubuh Ginten.. Apalagi yang berbulu bagian bawah itu… aku harus apaaaa?”
Tapi kalau dilihat lihat.. Ginten yang sekarang ini berbeda dengan ginten yang pernah aku kenal sebelumnya…
Ginten yang pada jaman ini lebih muda dan lebih cantik hihihi.
Tapi secantik cantiknya orang…..aku tetap setia dengan mas Ilham….
Kadang wajah mas Ilham sampai terbawa mimpi yang akhirnya berakhir dengan mimpi basah…
Tapi untuk Ginten yang sudah dalam keadaan bhugil ini agak mengerikan juga, karena ada beberapa bagian tubuhnya yang mengerikan hihihih.
“Ayo cepat…jangan cuma melihat tubuh saya saja… cepat mandikan saya Rochman!”
“I..iyaaaa tunggu aku kan harus siap mental dulu Ginten…lihat saja buktinya terongku sama sekali tidak berdiri ketika melihat kamu dalam keadaan telanjhang kan Ginten hihihihi”
“Sudah.. Jangan banyak bicara.. Cepat lakukan…..!”
Kuambil air dari dalam sumur.. Kemudian yang pertama dilakukan adalah aku guyurkan ke ke tubuh ginten dari ujung rambut hingga ke mata kaki.
Kuambil lagi timba air yang penuh… kemudian kuguyurkan ke tubuh Ginten lagi..
Sayangnya aku belum berani memegang tubuh Ginten… aku masih takut kalau menyentuh tubuh Ginten yang juga dalam keadaan kayak gini.
“Bersihkan tubuhku.. Jangan cuman diem aja sambil guyur air. Bersihkan semua sela-sela tubuhku Rochman!”
“Ter.. termasuk yang itu juga kah Ginten…”
“Iya… bawokku juga bersihkan… jangan sampai ada sisa kotoran, karena kita harus suci”
Tapi untungnya aku tidak doyan dengan yang namanya perempuan, jadi aku tidak masalah kalau hanya membersihkan bagian itu.
Kuguyur sekali lagi tubuh ginten dengan air yang dingin yang berasal dari sumur mbok Painah..
Aku mulai membersihkan seluruh tubuh Ginten… semua.. Semuanya!. Aku bertekad untuk membersihkan bagian yang sulit sekalipun.
Ketika aku akan membersihkan bagian diantara dua kaki yang berbulu itu aku merasa kesulitan, karena Ginten berdiri tegak sehingga bagian yang ditumbuhi bulu itu tidak akan bersih.
“Ginten.. Kamu duduk dan mekhangkhang dulu… saya mau bersihkan bagian itu dulu” aku dengan tenang menyuruh Ginten duduk sambil mekhangkhang.
“Seperti ini sudah kelihatan belum Rochman?” tanya Ginten sambil mekhangkhang
“Hmm sudah..aku sudah bisa memegang bagian yang itu…diam dulu..aku akan bersihkan bagian itu”
Dengan seember air kusiram sedikit demi sedikit bagian yang berbulu itu…kemudian dengan jariku kubersihkan bagian yang ada di dalam sana.
Rasanya aku menyentuh bagian yang empuk dan hangat… ternyata begini ya bagian yang disukai oleh laki-laki itu.. Tapi kenapa aku tidak suka ya…
Ketika dibersihkan dengan menggunakan telunjuk dan jari tengahku sambil tangan kiriku menyiram bagian itu dengan air, tiba tiba Ginten memaju mundurkan bagian pinggangnya.
Sehingga aku tidak susah payah membersihakan bagian dalam dari tempat yang ditumbuhi bulu itu..
“Bagus Ginten.. Teruskan maju mundurnya.. Jadi aku tidak susah payah bersihkan bagian dalamnya”
“Iya Man.. terusssskan bersssssihkan bagian dalam ituuuuuuhh”
“Tenang saja Ginten.. Pokoknya semua akan bersih. Tapi kamu tetap goyang..jangan berhenti lho ya”
Ginten terus menggoyang pinggangnya sambil sesekali seperti orang yang sedang kepedasan.. Dia mendesis persis seperti orang yang makan rujak.
“Jangan kayak orang yang sedang kepedasan Ginten… biasa sajalah”
“Diam kamu Rochman.. Ssssssaya sssedang konsssentrasssyi … agar berssyiih semuaahh”
“Iya…iya aku akan diam saja kok….”
Karena aku rasa bagian luar sudah agak bersih.. Kemudian kumasukan dua jariku itu lebih dalam lagi agar bagian yang ada didalamnya itu lebih bersih lagi…
“Oughhh kamu jangan nakal Rochmaaanhhh….!”
“Apa yang dalam itu kurang bersssssiihh Man?”
__ADS_1
“Jelaslah Ginten.. Bagian dalamnya kurang bersih.. Makanya jariku kumasukkan lebih dalam lagi.. Kenapa sakit ya?”
“Enggaak… nggaak sakit….. Iyaahhh bersihkan bagian dalamnya Mannnhh”
Aku tau bagian dalam ini pasti lebih kotor dari bagian luar.. Jadi Ginten semakin kencang maju mundurnya. Jariku sampai masuk ke dalam dengan sempurna.]
Hingga berapa lama kemudian…
“Aaagghh sudah bersih Rochman…sudah bersih … sekarang guyur aku lagi dengan air sumur itu”
“Semuanya guyur lagi Man… setelah itu gantian kamu yang akan saya mandikan.. Pokoknya semua harus bersih dan segar”
“Iyaaaa..iyaaa Ginten, gak usah bolak balik kalau bicara.. Aku lho sudah paham kalau semuanya harus dalam keadaan bersih”
Kuguyur dengan air sumur seluruh tubuh Ginten. Aku tau memang semua harus terkena air. Dan semua harus bersih.
Tapi yang aku heran….kami berdua ada disini dan agak berisik dengan suara air dan suara bicara kami, tetapi tidak ada seorangpun yang menuju ke sini.
Juga para penjaga malam itu.. Mereka tidak kesini juga
Apakah kami berdua disini dengan dijaga oleh makhluk halus sehingga tidak ada yang mendengar kegiatan kami berdua.
Selesai dengan mengguyur Ginten, sekarang dia beranjak dan mengambil timba yang sudah kosong
“Kamu maunya berdiri atau duduk seperti saya tadi Rochman?” kata Ginten dengan suara yang berbeda dengan sebelumnya. Suara dia lebih lembut.
“Ya berdiri dulu aja Ginten..nanti kalau kesulitan baru aku duduk kayak kamu gitu”
“Ya udah .. ayo sini kamu berdiri di depan saya dulu”
Aku berdiri tegak di depan Ginten..
Kemudian Ginten mengguyur air yang berasal dari sumur..
Air itu ternyata dingin sekali hingga aku menggigil kedinginan setelah guyuran pertama tadi..
“Kenapa man? Kedinginan….?”
“Iya Ginten…tapi tidak papa kok.. Ayo diteruskan saja mandinya…”
“Kalau kamu kedinginan nanti saya bisa buat kamu hangat dulu baru kemudian saya guyur lagi Man”
“Gak usah Ten.. kan ini baru guyuran pertama, nanti akan biasa juga kok”
Ginten mulai mengguyur tubuhku dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.. Dia mengguyur dua kali tubuhku.
Kemudian dengan telapak tangannya dia menggosok semua anggota badanku dari mulai bagian leher dulu hingga turun ke dada.
Tidak lupa dia juga menggosok bagian punggung yang jarang kugosok karena memang sulit menjangkau bagian punggung apabila kita sedang mandi.
Kurang ajar.. Dia seharusnya menggosok punggungku dari belakang, bukannya dari depan gini…
Kalau dari depan gini kan seolah aku dipeluk dari depan!
Apalagi zuzu dia yang besar itu sempat menempel di wajahku..dasar sialan Ginten ini!
“Ginten.. Kalau bersihin bagian belakang jangan gini dong.. Aku akan gak bisa bernafas kalau kena zuzumu kayak gini”
“Oh maaf Ma.. gak sengaja.. Iya nanti saya bersihkan dari belakang.. Tapi kayaknya punggungmu sudah bersih sih”
“Sekarang tinggal bersihkan bagian yang kotor saja Man… eh kamu mau kayak aku tadi mekhangkhang atau hanya berdiri saja?”
Terus terang man, kalau hanya berdiri saja saya kesulitan bersihkan bagian tersembunyi yang kotor itu”
“Aku duduk kayak kamu saja Ginten.. Dan bersihkan sampai bersih ya”
“Tenang saja Man… pokoknya kamu tenang dan tiba-tiba sudah bersih sendiri kok”
Aku duduk mekhangkhang. Di depan Ginten.. Ginten kemudian menunduk untuk membersihkan bagian yang nyelempit diantara dua kakiku.
“Eh terongnya saya bersihkan juga ya Man.. kamu kan gak ada reaksi juga dengan perempuan kan?”
“Iya bersihkan juga Ten…aku akan menikmati dengan tenang dan diam saja kok Ten”
Ginten yang bertubuh sintal sedikit gemuk itu kemudian membersihkan semua yang ada di bagian bawahku..
Perlahan lahan dia gosok terongku yang sedari tadi hanya tertunduk lemas tanpa ada reaksi sama sekali.
Kemudian tangan dia pindah ke bagian telur, dengan perlahan dan halus dia usap telur dengan sebelumnya diciprati air dulu.
Setelah selesai dengan urusan telur, dia kemudian mencengkeram terongku yang masih lemas tak berdaya itu.
“Man.. bagian dalam dari terongmu ini pasti bau dan kotor… kamu ini belum sunat ya Man?”
“Iya Ginten.. Saya dari kecil takut sunat.. Eh kenapa Ginten memangnya kalau tidak sunat?”
“Ya gak boleh.. Untuk kebersihan dan kesehatan sebaiknya kamu sunat”
“Eh iya.. Nanti kalau aku sudah punya uang.. Aku akan sunat”
“Ya sudah.. Sekarang bagian lipatan dalam terongmu ini akan saya bersihkan.. Karena bagian dalam lipatan itu pasti kotor”
__ADS_1
“Kamu diam saja karena cara bersihkan tidak menggunakan tangan.. Tapi harus menggunakan cara lain yang lebih efektif!”
“Pokoknya yang kamu tau terongmu sudah bersih luar dalam ok?”