
“Kalian duduk dan berdoa, semoga teman kalian bisa sembuh seperti sedia kala lagi” kata mbah Joyo
Bungkusan sarung itu sekarang mulai basah oleh darah dan mulai menjadi bau anyir dan busuk, tapi sedetik kemudian bau busuk yang luar biasa mulai keluar dari bungkusan kepala itu.
Aku ndak tau apa yang sedang dilakukan mbah Joyo kepada Blewah, yang pasti mbah Joyo hanya diam duduk bersila di depan tubuh Blewah dan ndas glundung.
Beberapa menit kemudian tubuh Blewah bergetar begitu pula kepala yang ada di dalam sarung.
Hihihih kepala yang ada didalam sarung itu sebenarnya kepala apa hayoooo, apa kalian pembaca bisa menebaknya.
Hingga beberapa saat kemudian Blewah membuka matanya, dia hanya melihat ke arah langit-langit rumah mbah Joyo tanpa berkata apa-apa, mata Blewah hanya bisa melirik ke kiri, kanan, atas bawah.
“Eh apa yang terjadi dengan teman kita ini mbah?” tanyaku ketika kulihat wajah Blewah yang aneh
“Huuuf, mbah sudah berusaha sebisa mungkin, tetapi teman kalian ini keliatanya gak beg alias belum penuh seutuhnya, tapi dia sudah kembali seperti semula”
“Mbah kawatir kalau bagian yang ada didalam tubuh teman kalian ini sudah masuk ke tubuh tanpa kepala dari ndas glundung itu. sehingga yang ada di ndas ini hanya tingal sebagian dari yang dia hisap dari khemaluan teman kalian ini”
“Apa yang bisa kami perbuat dengan keadaan ini mbah?” tanya Indah yang dari tadi hanya diam
“Tidak ada, kalian hanya menunggu hingga dia sembuh sepenuhnya. Sebenarnya dia sudah sembuh, tetapi belum penuh, mungkin dengan berjalannya waktu dia akan sembuh dengan sendirinya”
“Lalu bagaimana dengan kepala busuk itu pak, apa kepala busuk itu masih hidup mbah?” Tanya Glewo
“Kepala ini sudah tidak ada apa-apanya lagi, sudah kosong dan sudah mati, hanya bangkai busuk yang harus dimusnahkan segera” jawab mbah Joyo
“Nanti kita rebus beberapa kali dulu sampai bersih air rebusanya mas, tujuan direbus itu adalah agar kepala itu tidak meracuni tempat kita akan melarungnya, atau kita menguburkanya” kata mbah Joyo
“Setelah direbus kemudian dihancurkan dan dicincang halus mas, dan yang melakukan harus kamu mas Agus, karena kamu yang menangkap kepala itu” tunjuk mbah Joyo kepada ku
“Setelah kamu cincang halus termasuk tengkoraknya, kemudian kamu bakar mas, setelah dibakar baru dilarung ke laut saja agar lebih aman” jelas mbah Joyo sambil meringis kepadaku
“Yang kerjakan adalah mas Agus, semua mulai dari merebus hingga melarungnya., kita hanya melihat dan berdoa selama mas Agus melakukan aktifitas itu semua”
“K..kapan harus saya lakukan mb..mbah?” aku mulai curiga, jangan-jangan mbah Joyo ini sedang ngerjain aku
“Malam ini, jangan tunggu sampai matahari muncul, takutnya tubuh pemilik kepala ini akan mencarinya, karena meskipun kepala ini sudah tidak ada apa-apanya, tetapi masih mengirimkan sinyal kepada tubuh tanpa kepalanya”
“Rek, aku ndik mana ini rek” tiba-tiba Blewah duduk dari posisi tidurnya
__ADS_1
“Uuugh ambu opo iki rek , kok busuk sekali ambune cuok?”
“Iku lho mambu kepala kambing yang busuk , mau direbus Dogel, setelah direbus nanti tak cacah-cacah Wah, tapi setelah itu dibakar biar lebih enak wah hihihihi” kata Glewo
“Lho ndas wedus kan enak rek, tapi sayangnya sudah bosok ya rek” tanya Blewah agak tolol
“Lebih baik mas Nanta atau mas Blewah istirahat dulu di kamar, sementara Mas Agus masak kepala kambing itu, mas Nanta kan masih lemes kan badannya?” kata mbah Joyo
“Iya mbah, badanku rasanya remuk mbah, ndak tau kenapa, padahal tadi aku cuma tidur dan mimpi pergi jalan-jalan sama putri bunga”
Blewah menuruti apa yang dikatakan mbah Joyo dia tidur setelah disuruh mbah Joyo, sementara itu aku melaksanakan apa yang disuruh mbah Joyo untuk menghilangkan hawa negative yang akan mencariku, karena aku yang telah menangkap kepala itu.
Aku ndak bisa ceritakan proses demi proses detailnya, pokoknya air rebusan itu diganti hingga air rebusan berwarna jernih, setelah air itu jernih baru kupecah batok kepala dengan menggunakan parang.
Otak yang sudah berwana hitam dan sudah mbelenyek mencair itu kemudian aku cincang. Otak, mata dan beberapa bagian dari kapala yang lembek aku cincang halus, kemudian kutaruh dibaskom, sebelum batok kepala itu kuhancurkan pelan pelan.
Gimana baunya? Yah gak bisa dikatakan gimana, karena semua ini untuk proses menghilangkan pengaruh buruknya. Setelah cincangan daging-daging beserta otak, mata, dan tengkoraknya juga sudah selesai. Aku membuat api unggun di belakang rumah mbah Joyo.
Pelan pelan semua bahan sedap yang sudah aku bumbuhi ini kutuang ke nyala api yang besar hingga semuanya menjadi abu!...Selesai, tinggal buang ke sungai atau kelaut lah.
Hari sudah menjelang subuh, berarti kami semalaman ada disini, sampai sampai warkop milik mbah Joyo tutup gara-gara ulah kami.
“Bawa juga abu yang sudah kamu taruh di toples itu mas Agus, dan jangan lupa buang ke sungai abu itu” kata mbah Joyo
“Mas Agus bisa ikut mbah sebentar mas sini” panggil mbah Joyo di kamarnya
Aku masuk kedalam kamar mbah joyo yang tidak pernah dibuka dan tidak pernah ada yang berani masuk selain mbah Joyo sendiri kata Ki peli .
“Gini mas, tentang temanmu itu, mbah ragu apa yang ada didalam temanmu itu benar-benar temanmu aau bukan, karena setelah tadi mbah lihat, ada banyak yang masuk ke dalam tubuh temanmu setelah tadi dilakukan proses pengembalian”
“Tidak mudah…. Tidak mudah untuk mengembalikan orang yang sudah sebagian diambil oleh demit, karena pastinya di dalam demit itu bukan hanya milik temanmu saja, pastinya ada banyak sekali yang ada di dalam demit itu”
“Tetapi sebagian besar milik temanmu sudah kembali. Hanya saja, hanya saja yang mbah takutkan adalah apabila ada sebagian kecil milik orang lain atau bahkan milik demit itu yang ikut masuk ke tubuh temanmu mas”
“Nah itu yang harus kamu cermati dan harus kamu amati. Amati tingkah laku temanmu mas, apabila ada keanehan segera bawa ke mbah lagi, paham kan mas”
“Saya paham mbah, semua ini salah saya, jadi saya harus bisa mengembalikan teman saya seperti semula mbah”
“Bagus kalau kamu menyadari!”
__ADS_1
*****
Kami sudah ada di dalam mobil dan perjalanan pulang ke MJkt, tidak ada pembicaraan sama sekali selama di dalam mobil, Indah dan Glewo sedang tidur, mereka kecapekan , keempat anak kecil yang ikut kami sedang berdesakan di belakang.
Glewo dan Indah beserta empat anak kecil yang ikut kami ada di tempat duduk bagian belakang, sedangkan Blewah ada di kursi penumpang depan.
Blewah…, dia sedang duduk dengan mata melotot memandang ke jalan, Blewah sama sekali tidak bicara apa-apa selain hanya melotot ke arah jalan di depanya.
“Wah, opo yang kamu rasakan Wah, kok kamu diem aja dari tadi?” aku coba untuk membuka pembicaraan kepada Blewah
“Gak popo Gel, aku Cuma lihat jalan aja kok”
Jawaban dari seorang Blewah yang tidak biasanya, pasti ada sesuatu yang sedang disimpannya. Aku sudah kenal Blewah mulai awal tahun 90 an sehingga aku tau karakter Blewah.
Baiklah, kubiarkan dulu saja Blewah, sampai saat ini belum ada yang mencurigakan dari Blewah, sebaiknya kubiarkan dulu saja dia.
“Wah nek ngantuk kamu tiduro aja, aku nyetir sendirian gak papa kok, lagi pula aku kalau nyetir pagi gini malah ndak ngantuk” kuajak bicara lagi Blewah agar dia tidak hanya melotot melihat ke depan saja
“Gak popo Gel, aku ndak ngantuk” jawaban yang singkat sambil tetap melotot ke depan tanpa menoleh kearahku sama sekali
Pukul 07.23 mobil mulai masuk ke wilayah mjkt, tapi kedua temanku yang ada di belakang belum juga bangun, sementara itu kelakuan Blewah semakin tidak seperti biasaya. Nanti setelah masuk kota, aku akan menujuke jembatan sungai brantas untuk membuang abu.
“Eh Gel, eh kita nanti langsung pulang atau gimana” tanya Blewah tiba-tiba
“Opoko Wah, kamu mau kemana?”
“Ndak se Gel, soale eehh, aku... aku ketoke ndak bisa tidur di rumah mbahmu Gel, ndak tau aku harus segera pulang Gel”
“Pulang ke mana Wah, rumahmu kan di Sby, ngapain kamu jauh-jauh ke sana, kita kan sekarang tinggal di rumah mbahku kan”
“Eeeh anu Gel, kita harus balik ke sana, ada sesuatu yang ketinggalan disana Gel” jawab Blewah yang semakin membuatku bingung
“Balik ke Sby? Gitu ta, atau balik ke Hotel Waji?” aku beri penekanan ketika kusebut nama hotel terkutuk itu
“Mas, jangan kembali, lebih baik kita langsung pulang saja mas” kata Indah dari belakangku yang sudah bangun dari tidurnya
“Anu Ndah, ada yang ketinggalan disana. Iyo Gel eeh ke hotel Waji, tapi ndak usah bilang mbah Joyo pengacau iku Gel”
Waduh ono opo maneh iki Blewah rek, kenapa dia tiba-tiba minta kembali ke hotel Waji. Ini pasti ada hubunganya dengan yang ada di dalam tubuh Blewah.
__ADS_1