
“M..maksudnya apa mas” tanya Broni.
“Gak ada apa apa Bron , pokoknya bisa jaga diri, nek luwe yo mangan, nek ngising yo meneng nang jeding hehehe” Jawab Blewah
“Nek gitu tok siapa saja ya bisa mas Blew , tak kira ada sesuatu di dalam vila itu mas” potong Tifano
“Pokoke jangan berbuat aneh aneh, turuti omongan penjaga Vila, awakmu wis ketemu penjaga vilanya ta rek?” tanya Blewah lagi
“Sudah mas, orangnya agak ngeri pokoknya tampilane itu khas orang daerah sini, cuma waktu aku salaman tangane dingin” kata Tifano
“Dingin kan mungkin karena faktor hawa disana kan memang dingin nek jam segitu Tif” sanggah Broni
“Eh, Apa kita bisa masuk ke dalam sana rek? Aku penasaran sama Vila ini rek” tanya Blewah
“Gak bisa mas, kuncinya dibawa yang jaga, mungkin karena di dalam banyak lukisan antik an foto foto kuno, sehingga sama yang jaga vila itu dikunci terus” jawab Tifano
“Mas gimana, kalian bisa kan datang kesini, kalian ndak usah main, datang aja dan pokoke seneng seneng lah mas heheheh”
“Inshaallah kami kesini Bron, tapi tolong jangan diekspose ke media sosial apapun rek” jawab Glewo
“Yuk balik sudah siang iki rek” mumpung masih siang aku ingin mengajak mereka ke hotel waji, karena kemarin kami sempat ketakutan ketika ada di hotel itu
“Wis ada yang laper ta rek?, belum kan, semoga kalian tidak kelaparan rek, nanti kita cari makan di pct aja” aku segera membawa mereka ke hotel waji yang munkin memerlukan waktu sekitar dua jam dari sini
Sebenarnya waktu berangkat tadi kami lewat hotel itu, tetapi karena ada Broni dan Tifano maka kita ke vila putih dulu sebentar agar kita bisa agak lama di hotel Wajinya. Lagipula karna aku yakin setelah kita ke hotel waji, kita bakal males untuk ke mana mana lagi.
“Sekarang ke mana lagi ini mas” tanya Broni
“Kita ke pct Bron, nanti kita ngopi di warkop yang waktu itu kita malam malam mau ke prgn dan akhinrya motor tifano amblas ke jurang itu lho”
“Oh iya mas Gel, aku iling, ayo wis kesana mas” kata tifano
Tidak terasa kami sudah memasuki daerah pct, tepatnya di pinggiran pct yang masih berbataan dengan hutan, sebenarnya bukan hutan beneran tetapi kebon yang banyak ditumbuhi pohon yang besar.
Letak hotel itu disitu, dan letak warkop dekat situ, letak pasar agak ke arah situ heheheh, oklah kita bahas hotel Waji saja dulu.
“Nanti kita mampir ke hotel dulu ya rek, sebuah hotel yang menarik untuk dikunjungi” kataku kepada kedua temanku yang ndak tau tujuan kami ke mana
Pelan pelan mobil merapat ke kiri, tapi lebih baik kulewati dulu saja hotelnya untuk melihat situasi dulu, kalau memang aman dan nampak biasa saja, baru kita mampir hotel Waji.
Setelah melewati hotel dan kurasa aman, mobil kuputar balik untuk menuju ke hotel, tetapi aku tidak masuk ke dalam parkiran hotel, mobil kuparkir di tempat seperti kemarin malam waktu aku kesini bersama kedua temanku ini.
__ADS_1
Mobil kuhetikan dan kuparkir beberapa meter setelah area hotell Waji, siang hari sekitar jam 14.25 ini lumayan menyengat mataharinya sehingga kami buru buru masuk ke dalam halaman hotel yang ditumbuhi beragam pohon dan tanaman.
Kami berlima sekarang sudah ada di taman hotel, sebelah kanan kami pohon beringin, halaman ini lengang dan kosong, tetapi anehnya disini tidak seperti kamarin kami kesini. Rumput halaman hotel ini tidak setinggi waktu kemarin malam itu.
Memang kemarin malam aku tidak melihat rumput-rumput dengan jelas, tetapi kakiku bisa merasakan kalau kemarin malam itu rumput disini tinggi sekali, sedang kan sekarang rumputnya terpotong rapi mirip dengan waktu aku bersama Totok malam hari itu.
“Hmmm ada yang aneh disini rek, awas hati hati rek, kemungkinan hotel ini sekarang ada yang jaga lho ya” kata Blewah
“Maksudnya apa Wah?” Glewo penasaran
“Ada petugas jaganya gitu maksudku, jadi kita jangan seenaknya kesana kemari, bisa diamuk sama yang jaga hotel ini hehehe”jawab Blewah
“Ayo lebih baik kita ke kantor hotel, tanya tanya soal kamar dan harga sewa kamarnya rek” ajak Blewah
Kami jalan menyusuri taman hotel yang luas, memang benar rumput disini tidak setinggi yang kemarin malam kami kesini, bahkan pohon beringin di sebelah kanan kami sulur sulurnya tidak sebanyak dan sepangjang kemarin, pokoknya lebih terawat dari pada kemarin lah.
Pohon mangga di sebelah kananku pun nampak terpangkas rapi, tidak selebat kemarin malam, dibawah pohon mangga ini sekarang keadaanya berpaving, disini dilahan parkir berpaving ini lah tempat ku taruh mobil Totok waktu aku kesini bersama Totok.
Sekarang di depan kami sudah terlihat kantor hotel berwarna biru yang dinding dan pintunya mempunyai kaca yang lebar lebar, termasuk pintu kantor hotel itu.
Meskipun lengang dan tidak nampak ada tamu sama sekali, tetapi suasana disini masih beradab dibandingkan kemarin malam yang kelihatanya tidak terurus sama sekali.
“Ayo kita masuk ke kantor hotel itu rek, kita tanya-tanya harga kamar, aku kok malah kepingin nginep sini rek, kalau seumpama murah harga sewa perharinya ya ndak ada salahnya kalau kita nginep sini” kata Blewah sambil masuk ke dalam kantor hotel
Hmm kantor hotel ini berbeda dengan kemarin, kini nampak bersih terawat, di pintu kaca dan jendela kantorpun tidak ada yang namanya debu menempel, kacanya kinclong lah pokoknya, sama sekali berbeda dengan kemarin malam kami kesini.
Kalau aku perhatikan keadaan disini lebih mirip dengan ketika aku ada disini bersama Totok, hanya saja kan waktu itu malam hari, dan aku belum detail melihat apa yang ada disini.
Jeglek! ....., Blewah membuka pintu kantor hotel. Ternyata suara pintu ini berbeda dengan suara pintu kemarin malam, nampaknya engsel pintu saat ini sudah diminyaki, sehingga ndak terdengar suara krieeeet nya.
Suasana kantor hotel yang berbeda. Di sebelah kanan ada satu set tempat duduk kuno yang nampak bersih dari debu, di depan sekitar lima meter sebelah kiri ada meja resepsionis yang juga bersih pula, tetapi ndak ada seoranng pun yang jaga di balik meja itu.
“Oh itu mas ada bel tangan yang digunakan untuk memanggil petugas jaganya mas” kata Broni menunjuk kepada sebuah bel “Ting” yang terbuat dari stenless steel mengkilat yang dipermukaan bel itu tidak nampak sidik jarinya sama sekali
“TIIINNNG”..... suara bel yang unik, tetapi belum ada petuga resepsionis yang muncul. “TIIIING”.... kuulangi lagi menekan bel tangan itu.
Sebuah pintu di belakang meja resepsionis atau meja terima tamu terbuka. Aku deg deg an ketika pintu itu terbuka, karena aku yakin yang keluar dari sana pasti Baldy yang mengerikan.
“Selamat siang... ada yang bisa saya bantu mas” ternyata benar, yang keluar dari sana adalah Baldy, tetapi dia seolah tidak mengenalku sama sekali, bahkan aku sempat bertatap muka denganya, tetapi dia tidak menampakan wajah yang pernah bertemu denganku.
Glewo, Broni, dan Tifano sedang duduk di kursi pojok ruangan ini, hanya aku dan Blewah yang ada di depan meja yang tertulis resepsionis itu.
__ADS_1
“Saya mau tanya harga kamar yang muat untuk kami berlima pak” kata Blewah singkat
Terus terang aku sedikit heran dengan Blewah akhir akhir ini, dia itu sebenarnya seorang yang ndak mau tau urusan apapun atau gampangnnya “gak ngoros raimu” heheheh, tetapi beberapa hari ini dia kelihatanya mendominasi setiap langkah dalam urusan masalah lagu kami ini.
“Di belakang ada kamar berbentuk bungalow yang bisa diisi sebanyak itu mas” kata Totok tanpa ekspresi sama sekali “Kalau mau lihat-lihat bentuk kamarnya bisa saya antar kesana mas”
“Boleh pak, kami ingin lihat kamarnya dulu” kata Blewah antusias
Kuperhatikan di dinding belakang Baldy berdiri ada tempat gantungan anak kunci dengan nomor kamar yang sesuai dengan anak kuncinya, semua anak kunci kamar hotel ini ada di gantungan itu, jadi sama sekali tidak ada kamar yang terisi di hotel ini.
Baldy mengambil sebuah anak kunci yang ber angka 1+, berarti kamar itu adalah kamar yang ada dideretan dekat dengan lahan parkir. Tetapi beberapa detik kemudian dia kembali kan anak kunci itu , kemudisan dia mengambil anak kunci yang bertuliskan nomor 6+.
“Kok diganti kuncinya mas, kan kita mau lihat kamarnya dulu mas” kata Blewah
“Hanya yang nomor 6+ yang ada Acnya mas, lainya tidak ada acnya, pikiran saya kalau kamar diisi dengan lima orang maka didalamnya akan panas, jadi saya pilihkan kamar yang ada ACnya mas” jawab Baldy ketika ditanya Blewah
“Mari ikut saya mas, letak kamarnya ada di samping karena berbentuk bungalow” ajak Baldy keluar dari kantor hotel
Kami berjalan ber iringan, ke samping hotel dan ternyata sekali lagi tempat ini berbeda dengan kemarin malam kami kesini, tempat ini perasaanku mirip dengan ketika aku bersama Totok kesini. Akhirnya kami sampai di kamar paling ujung, yaitu kamar nomor 6+.
“Silahkan dilihat keadaan dalamnya mas” Baldy mempersilahkan kami masuk setelah baldy membuka pintu kamar nomor 6+
Kami tidak masuk ke dalam kamar, kami hanya melihat dari luar saja keadaan kamar nomor 6+ ini, Keadaan kamar yang sama persis ketika aku kemari.
“Berapa harga kamar ini permalam mas” tanya Blewah yang tetap saja dengan pendirianya
“Permalam 150 ribu rupiah mas” jawab Totok tersenyum, senyum yang aneh dan menakutkan bagiku , karena aku sudah pernah tinggal di kamar ini dan melihat aneka kejadian aneh pada waktu itu.
“Saya jadi sewa semalam saja mas” kata Blewah tanpa meminta persetujuan dari kami semua.
“Lho Wah....”
“Ssstttt wis , kita sewa semalam kamar iki rek” potong Blewah ketika Glewo hendak berkata sesuatu
“Baikah mas, mari kita ke kantor untuk proses administrasinya mas”ajak Baldy
“Gel, kamu ae yang kesana sama Glewo atau siapa gitu, aku tak disini dulu lihat lihat situasi kamar ini” bisik Blewah
Blewah ini kadang memang sifatnya itu seenak udele, dia itu sering seperti itu. Misalnya kalau pada waktu band kami ada tanggapan di acara sunatan atau kawinan, seumpama ada salah satu dari kami yang tidak bisa main maka dia tetep saja main dengan sisa anggota band yang ada. Jadi dia memang suka mementingkan diri sendiri
“Disini tidak ada breakfast ya mas, karena koki kami mengundurkan diri beberapa minggu lalu, jadi kami hanya menyewakan kamar saja. Kalau masnya ada kendaraan bisa diparkir di halaman depan hotel bawah pohon mangga itu, disini kalau malam aman mas” kata Baldy kepadaku
__ADS_1
Aku saat ini bersama Tifano dan Broni yang ikut ke kantor hotel, mereka berdua kayaknya ndak ada masalah kalau ikut dengan kami semalam saja.
“Kalian ndak papa kan kalau kita nginep sehari disini, itung itung refreshing rek, dari pada sumpek di kota Sby rek” aku coba untuk membujuk mereka agar kita ramai-ramai bermalam di sini