INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 208 (CEPAT LARI!)


__ADS_3

“Ada yang gak beres ini mas, lebih baik kita segera lari dari sini sekarang mas” bisik mas Nang


Kami berempat yang sedang menggotong Blewah berusaha lari secepat mungkin, ketika kami sudah ada diluar gedung tenyata anjing itu ada disana, dia melihat kami dengan diam, sementara di belakang kami atau tepatnya di dalam gedung itu ramai sosok yang berteriak kejaaaaar!


Anjeng itu diam sambil duduk dan kepalanya melihat ke arah kami yang sedang menggotong Blewah, kami tidak berani melewati anjeng itu karena dia tidak bergerak sama sekali.


“Bagaimana ini pak, anjeng itu diam saja dan melihat ke arah kita dengan telinga yang berdiri pak”


“Tenang nak Petro, anjing itu bukan anjing galak nak Petro, coba sekali lagi ajak dia bicara agar dia mengijinkan kita pergi dari sini nak” kata pak Tembol


Aku maju beberapa langkah ke depan, kuhampiri anjeng yang masih duduk di depan kami itu, anjeng itu masih melihat kami dengan matanya yang tajam dan telinga yang tegak berdiri, dia juga mulai menampakan gigi taringnya yang artinya dia merasa teracam atau merasa tidak suka dengan keadaan kami.


Aku harus bisa taklukan anjeng itu sekali lagi atau kami tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat. Aku jongkok di depan anjeng itu, aku jongkok dan diam dengan jarak sekitar satu meter di depanya. Kemudian kutatap mata anjeng itu tanpa berkedip sama sekali.


Kuajak bicara anjeng itu perlahan-lahan, aku berpacu dengan para pengejar yang saat ini masih belum keluar dari gedung di belakang kami, kuajak anjeng itu bicara hingga dia menggerakan telinganya, kemudian pangkal ekornya bergoyang goyang, meskipun memang tidak ada ekornya.


Mata anjeng itu mulai berkedip dan dia mulai menjulurkan lidahnya, aku yakin saat ini aku bisa menaklukan anjeng itu sekali lagi, secara perlahan-lahan aku berjalan sambil jongkok untuk lebih dekat lagi dengan anjeng itu hingga telapak tanganku bisa mengelus kepala anjeng yang pada awalnya mengerikan itu.


“Tolong antar kami pulang njeng, tolong antar kami pulang anjeng baik” kuusap kepala anjeng yang sudah terlihat santai  itu


Anjeng itu berdiri dan berlari kecil menuju ke arah keluar, pada waktu kami berjalan mengikut anjeng itu di bagian gedung tempat diskotik ghaib itu mulai keluar para panjaga rumah, mereka berteriak ke arah kami agar berhenti.


Anjeng itu berhenti berjalan ketika dia melihat kami yang masih belum bergerak sama sekali , kemudian anjeng itu menyalak atau njegog ke arah kami sekali saja. Mungkin dia bicara ayo cepat lari heheheh.


“Ayo lebih cepat kita berjalan rek” kami berempat tetap menggotong Blewah yang keadaanya lemah tak berdaya sama sekali


Anjeng penuntun itu menuntun kami hingga kami sekarang ada di dalam rumah, tapi kemudian di salah satu kamar muncul sosok yang mengerikan. Sosok itu tiba-tiba ada di depan kami yang sedang ada di dalam ruang yang mirip dengan kamar mayat itu.


“Siapa kamu!... Letakan dia, dia sudah menjadi bagian keluarga disini” teriak sosok yang berupa manusia bertelinga runcing dan ada taring kecil di mulutnya

__ADS_1


Sosok yang mirip manusia itu sudah menganggap Blewah sebagai kelurganya, apakah karena Blewah sudah mau meminum minuman yang berwarna merah itu?.


Ketika kami belum sadar dari kaget karena kehadiran orang itu, tiba-tiba anjeng yang menuntun kami menyerang orang itu, dan mengoyak tubuh orang itu hingga hancur berantakan, darah hitam muncrat dari jantungnya yang pecah karena gigitan anjeng besar itu.


“Nak Petro, sepertinya nak Petro harus ajak anjeng itu ke alam kita, dia membantu kita berkali-kali dan sekarang dia sudah membunuh salah satu penghuni disini, dan pastinya dia kan menjadi musuh bagi semua yang ada di rumah ini” kata pak Tembol


Anjeng itu melihatku dengan pandangan yang berbeda, terlihat lebih sedih, dia kelihatnya ingin bicara kepada ku bahwa dia sudah berkorban untuk kami dan kalian harus tolong aku agar selamat dari orang yang ada di rumah ini. Kutepuk leher anjeng itu dan kuelus beberapa kali kepalanya yang basah karana darah hitam sosok yang dia bunuh barusan.


Anjeng itu menyalak sekali, dan kemudian melompat dan berlari kecil ke arah luar sambil sesekali menoleh ke arah kami, dia merasa seakan akan jasanya diperlukan disini, mungkin selama ini anjeng itu mengalami kekerasan disini dan tidak ada yang membutuhkan atau mengelusnya.


“Ayo anak-anak, kita gotong Mas Blewah lagi sampai selamat tiba di alam kita” pak Tembol memberi kami semangat


“Pak, coba kita pikirkan pak, bagaimana kalau anjeng itu minta ikut dengan kita pak, bukan kita ajak lho pak, kalau kita ajak kan bisa saja dia masih kerasan disini pak, tapi kalau minta ikut kan berarti dia sudah ndak kerasan disini dan dia merasa bahagia bersama kita pak”


“Waduh, sebenarnnya saya setuju nak, tapi untuk itu kita harus tanya dulu kepada abah Fuad nak, karena kan dia yang memutuskan, bukan kita nak, saya sih ndak masalah kalau dia ikut dengan kita nak. Paling paling nanti dia jadi hantu kalau ada di dunia kita nak” kata pak Tembol sambil susah payah memegangi kaki Blewah.


Ketika kami mencapai ruang tamu, tanpa kami perkirakan sebelumnya, di depan sudah ada mahluk mengerikan yang menghadang kami, mahluk itu menunjukan taringnya dan meminta kami untuk berhenti dan meninggalkan Blewah disini.


Kami dikerumini oleh penghuni rumah ini yang rata-rata mempunyai taring di giginya. Sementara itu si Anjeng siap  melawan mereka dengan memamerkan giginya yang tajam dan mengerikan. Mas Nangpun juga siap dengan ilmu yang dia miliki.


Saat ini kami ada di ruang tamu rumah besar, sebenarnya tinggal beberapa langkah lagi kami bisa keluar dari sini, tapi karena dihadang mahluk aneh di pintu depan, akhirnya kami tertahan disini dan yang tadi mengejar kami pun sekarng mengepung dari segala arah.


“Kami akan hancurkan kalian apabila kalian berani mendekati kami” kata mas Nang tanpa rasa takut sama sekali


Aku sih pasrah dengan yang akan terjadi, aku sadar kami ada di alam yang berbeda, sehingga apapun yang tejadi sudah pasti kami tidak bisa menghalangi, kecuali mas Nang dan mungkin anjing yang kini ada di pihak kami.


Anjeng itu tidak diam, dia berjalan mengelilingi kami sambil memamerkan giginya yang mengerikan itu kepada mereka yang mengepung kami, anjeng itu kelihatanya ditakuti oleh mereka, buktinya mereka sedikit mundur ketika anjeng itu  melewati mereka.


“Kamu lihat anjeng itu mas, dia pelan-pelan berubah menjadi lebih besar dan semakin besar” kata mas Nang

__ADS_1


Iya bener kata mas Nangm anjeng itu pelan-pelan berubah menjadi menakutkan, dan kini ukurn anjeng itu sudah melebihi manusia dewasa.


“Kita harus siap-siap anak-anak, anjeng itu akan melawan mereka semua, kita harus siap dengan keadaan yang saya rasa akan berubah menjadi mengerikan” kata pak Tembol yang sedang melihat perubahan yang terjadi pada anjeng yang sudah menolong kami tadi.


Beberapa detik setelah pak Tembol bicara, tiba-tiba anjeng itu melompat dan menyerang sosok yang tadi menghalang pintu menuju keluar. Anjeng itu melompat dan menerkam leher sosok itu, kecepatan yang luar biasa menyebabkan sosok itu tidak sempat menghindar dan tiba-tiba kepala dia putus karena gigitan anjeng tepat di lehernya itu.


Kerumunan sosok yang mengelilingi kami perlahan lahan mundur ketika anjeng besar itu melihat mereka yang nampaknya ketakutan. Sosok anjeng itu tiba-tiba melompat dan dengan kukunya yang ternyata tajam dia mengoyak dada sesosok yang ada di dekatnya hingga tulang iganya rontok.


Sekarang sosok sosok yang menyerupai manusia itu kocar-kacir, mereka jelas ketakutan dengan anjeng yang dengan santainya sudah membunuh tiga penghuni rumah ini.


Sekarang sosok anjeng itu sudah berubah menjadi normal kembali, dia kemudian menggoggong sekali dan berlari kecil menuju ke luar rumah.


Kami pun kembali menggotong Blewah yang masih belum sadar itu menuju ke arah luar. Di luar ternyata masih menunggu sosok yang menyerupai abah Fuad, dia menunggu kami keluar dari rumah ini untuk membawa kami kembali ke alam kami.


Anjeng itu hanya diam dan melihat kami dengan diam, aku tau dia sudah menyelamatkan kami,  dan aku tau dia sudah mempunyai musuh banyak di rumah ini, aku tau dia pasti akan dibinasakan oleh majikan pemilik rumah  itu apabila majikanya itu datang.


“Abah Fuad, saya harus bawa anjing ini ke alam kita bah, saya tidak bisa meninggalkan dia disini, karena tadi saya sudah janji kepada dia untuk mengajak dia ke alam kita bah”


Tentu saja permintaanku ini ditolak mentah mentah oleh sosok yang menyerupai abah Fuad itu, dia berkata kalau anjieng itu berbahaya bagi semua mahluk hidup baik di alam ini atau di alam kita.


“Tidak bisa, anjeng itu tidak bisa kalian ajak ke dunia kalian, dia itu monster dan jangan kalian anggap dia itu hewan yang lucu, dia juga nantinya di dunia kita berupa hantu, bukan anjing nyata lagi” kata orang yang mirip abah Fuad itu


“Dia yang menyelamatkan kami semua hingga kami ada disini, kalau tidak ada anjeng itu tentu kami tidak ada di sini. Kami sudah mati disana!” kata pak Tembol dengan nada kesal


“Begini saja, tukar posisi saya dengan anjeng itu, biar saya ada disini saja” kata mas Nang


“Di dunia kalian saya kan juga mahluk tak kasat mata, jadi sama saja kan …. Anjeng itu juga nantinya jadi mahuluk tak kasat mata juga” lanjut mas Nang lagi


“Tidak bisa, kalian jangan bawa apapun yang berasala dari alam ini, kalian jangan tertipun dengan anjing itu” kata orang yang mirip abah Fuad itu

__ADS_1


Ketika kami sedang tawar-menawar dengan orang yang mirip dengan abah fuad, tiba-tiba dari arah taman dekat pohon beringin muncul sosok yang tidak kami perkirakan, dan sosok itu langsung menyerang kami yang sedang berbicara dengan orang yang mirip dengan abah Fuad.


Sosok mengerikan yang lebih mirip dengan beruang tapi berbulu gimbal dan bertaring itu tiba-tiba loncat dan akan menerkam orang yang mirip dengan abah Fuad. Aku langsung menyingkir dan berusaha menyelamatkan diri dari sosok aneh itu. tetapi tidak dengan orang yang mirip dengan abah Fuad!


__ADS_2