INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 90. TUBUH PEREMPUAN TANPA KEPALA


__ADS_3

“Ngapain balik ke Waji iku Wah, memangnya ada apa di rumah mbah ku” tanyaku makin penasaran


“Aku ndak bisa ninggalin sesuatu disana Gel, kasihan dia disana sendirian” celoteh Blewah yang makin ngawur


“Kamu ninggalin apa disana Wah, sesuatu yang pentingkah, misal gigi taring atau buku tts?” pancingku


“Nggak Gel, ini lebih penting dari itu semua, dia akan cari aku kalau ndak aku temui dia Gel” Blewah mulai memaksaku


Bahasa Blewah makin teratur dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, apa mungkin yang  ada dalam tubuh Blewah ini bukan dia ya, tetapi kenapa dia bisa manggil aku Gel?


“Tubuh tanpa kepala mas” jawab Indah tiba-tiba berbisik


“Benar itu Indah, aku merasa aku ninggalin tubuhku disana” jawab Blewah lagi


“Yang kamu tinggalin itu apa, terus kamu sekarang pakek apa mas?” tanya Indah


“Eh iya ya, lha ini aku kan lagi duduk di mobil Totok, kok iso aku merasa aneh ya?” kata Blewah dengan nada suara heran


“Sekarang banyak doa Wah, awakmu lagi ndak enak badan itu, jadi jangan mikir yang ndak-ndak dulu Wah”


Sejak dia terbangun di rumah mbah Joyo aku sudah merasa curiga dengan pandangan mata Blewah yang kelihatan aneh, apalagi sekarang dia merasa kalau dia meninggalkan tubuhnya di sana.


“Mas Agus, jangan lupa kita ke jembatan sungai brantas” kata Indah mengingatkanku


“Wah, liaten di belakang ini, ada siapa saja yang lagi duduk di sebelahku” kata Glewo yang duduknya persis dibelakang Blewah


Blewah menoleh ke belakang,  dia melihat keempat anak-anak yang tadi sempat bermain dengan Blewah di hotel Waji.


“Lho lapo kok demit demit cilik iku melok kita Gel” tanya blewah keheranan


“Gak popo Wah, mereka lho mau main sama kamu, jarene tadi kamu lagi main sama mereka, makane tak ajak sisan aja anak-anak itu Wah” kataku kepada Blewah yang nada suaranya mulai normal


“Arek cilik iku yang tadi narik-narik aku Gel, mereka tarik aku dari segala arah biar tulang-tulangku copot semua c*k”


Lhaaa nek gini Blewah sadar , dia menjadi Blewah sepenuhnya, baik nada suara, omongan dan raut wajah sudah menjadi Blewah seutuhnya. Tapi ndak tau lagi nek kumat-kumatan, itu yang bahaya!


“Kita pulang kan Gel, badanku rasane remuk kabeh Gel” kata Blewah


“Iku arek cilik iku ojok oleh masuk rumah rek, masio lucu mereka iku medeni” lanjut Blewah lagi


“Iyoooo , wis ta lah, pokoknya kamu istirahat ae lho Wah”


Mobil melaju ke arah dalam kota mjkt, sebelum masuk ke gang mbahku aku arahkan mobil menuju ke jembatan sungai brantas, aku harus melarung abu sisa pembakaran ndas Glundung itu.


*****


Selesai dengan melarung abu yang ada di dalan toples, kemudian kami  pulang  ke rumah mbahku, aku harus selalu perhatikan Blewah, karena kondisi dia belum stabil.

__ADS_1


Mobil sudah sampai rumah,  Indah dari tadi di dalam mobil sudah memakai jaket dan bertopi layaknya laki-laki. Dia harus berpakaian laki-laki agar bisa bebas di kampung mbahku.


“Mandi sana yang segar Wah, setelah itu kamu istirahat. Aku sama Indah mau bikin Indomi buat makan siang kita”


“Gel, arek-arek cilik iku gimana, mereka masih ada di luar, gak berani masuk rumah, soale rumah ini kan dibikin pagar ghaib sama mbahmu Gel” kata Glewo


“Oh iyo lali aku, sik tak kasih tau mereka dulu Wo, kasihan juga kalau mereka ada di luar”


Ternyata diluar mereka berempat sedang bermain di pohon jambu di depan rumah, mereka kelihatanya  bahagia dengan keadaan mereka sekarang.


“Mas. Anak-anak itu biarkan diluar dulu saja mas, tadi Indah sudah bilang sama mereka untuk diluar dulu sebelum mendapat persetujuan dari mbah putri”


“Mereka mau Ndah?”


“Mereka senang kok di luar sana mas, mereka bahagia bisa lepas dari induk semangnya mas, mereka


bebas dan menjadi anak kecil yang lucu lagi tanpa ada taring yang muncul dari mulutnya”


“Tetapi kalau mereka disakiti atau ada yang menyakiti kita, taring mereka akan keluar lagi mas”


“Ndah mereka ini makan apa, apa mereka tidak makan apapun selama disini, bukanya waktu di Waji mereka makan bangkai, minum darah dan lainnya. Lha kemudian setelah lepas dari Waji mereka makan apa Ndah?”


“Beda mas, ketika itu kan mas Agus ada disuatu masa dimana mereka adalah anak kecil yang sudah kerasukan, tetapi yang bikin bingung itu adalah di hotel itu antara masa lalu dan masa kini itu saling campur aduk”


“Jadi gampange untuk masa sekarang ini mereka adalah hantu yang tidak memerlukan makanan apapun mas, kecuali ada yang ingin memelihara mereka untuk tujuan komersial”


“Iya mas, biarkan mereka disana, nanti seumpama mbah putri ngijinkan mereka masuk, ya kita perbolehkan mereka masuk mas”


“Keliatannya nanti malam mbah putri akan nemui mas Agus deh”


“Kok Kamu tau kalau mbah putri nanti malam mau ketemu aku?”


“Hehehe rahasia mas, pokoknya mbah putri selalu tau apapun yang mas lakukan hihihihi”


*****


Malam hari tiba, kami masih ada diruang tamu untuk ngobrol tentang apa yang terjadi selama ini, hanya kami bertiga, aku , Glewo, dan Indah saja. Nanta sedari siang tadi tidur sampai saat ini.


“Mas, apa ndak sebaiknya mas Blewah dibangunkan saja, dia sudah lebih dari enam jam tidur mas”


“Tadi tak liat dia masih bernafas kok Ndah hihihih” jawab Glewo


“Tadi sudah aku bangunkan Ndah, tapi katanya masih ngantuk dan badanya capek semua. Biarlah dia tidur saja Ndah, sambil nunggu mbah putri”


“Mbahmu mau datang lagi ta Gel?” tanya Glewo


“Koyoke gitu Wo, makane kamu ndang tiduro ae lho”suruhku pada Glewo

__ADS_1


“Eh kalian merasa ndak malam ini kok di depan rumah rasane sepi sekali ya, biasane jam segini kan ada  bakul bakso lewat, atau paling tidak ada orang yang lewat lah, lha ini tak perhatikan sama sekali ndak ada yang lewat di depan rumah”


“Opo gara-gara ada empat anak kecil itu Ndah?” tanya Glewo


“Ndak juga mas Wo, mereka berempat sekarang lagi bermain di pohon jambu biji itu lho, mereka bahagia sekali setelah dibebaskan dari hotel Wiji, wajah mereka pun sudah berubah tidak sadis lagi”


“Iya sih Ndah, memang ada perubahan di wajah mereka kalau tak lihat Ndah” jawab Glewo


Malam berlalu dengan cepat, pukul 22.30 di rumah ini tinggal menyisakan aku dan Indah, Glewo sudah sejak pukul 21.00 tadi tidur, tapi saat ini aku merasakan ada hawa yang tidak seperti biasa.


Aku merasa udara di sekitar sini tidak sedingin tadi, udara agak berubah menjadi hangat, dan aku merasa suasana yang aku rasakan agak berbeda dengan sebelumnya.


“Ndah, kamu merasa ada yang berbeda ndak, aku kok rasanya gelisah dan sumuk ya?”


“Iya mas, Indah merasa ada gesekan sesuatu di sekitar area rumah ini mas, tetapi Indah belum bisa tau ada apa disini mas” kata Indah


“Eh Ndah, apa mbah putri jadi nemuin aku sekarang?”


“Harusnya jadi mas, tetapi sudah jam segini belum juga ada tanda-tanda kedatangan mbah putri”


Semakin lama, udara di dalam rumah semakin pengab dan hangat, sangat berbeda dengan jam-jam sebelumnya yang terasa dingin sejuk. Apakah aku harus membuka pintu rumah agar udara luar bisa mauk ke dalam sini?


Ketika aku akan membuka pintu, tiba-tiba Indah melarangku dengan memegang tanganku tanpa bersuara. Dia menyuruhku diam dengan menaruh telunjuk tangan ke bibirnya.


“Ada apa Ndah” tanyaku dengan berbisik


“Coba mas intip diluar sana ada apa mas” jawab Indah dengan berbisik juga


Masyaallah … diluar pagar rumah ada sosok tubuh perempuan tanpa kepala, sosok yang sedang berdiri diluar pagar, sosok itu tidak bisa masuk ke halaman rumah dikarenakan pagar ghaib rumah yang luar biasa kuatnya bagi mahluk yang mempunyai niat jahat.


Tubuh perempuan memakai daster yang warna dasternya sudah mengerikan karena percampuran antara darah, cairan tubuh yang keluar dari lehernya, dan nanah yang selalu tidak hentinya merembes dari ujung leher, benar-benar mengerikan.


Tubuh tanpa kepala itu hanya diam di depan pagar rumah, tangan dia tidak berusaha untuk membuka pintu pagar atau paling tidak melayang masuk ke dalam rumah. Dia hanya diam tak bergerak sama sekali.


“Mas, liaten itu empat anak balita itu, mereka  sudah berubah bentuk menjadi ngerik  mas,  mereka sudah mengeluarkan taringnnya, mereka siap menghadapi perempuan tanpa kepala itu mas”


“Jam berapa sekarang ini Ndah?”


“Sudah hampir jam 24.00 mas, sudah tengah malam mas”


“Harusnya jam segini mbah putri sudah datang Ndah, tapi kok sampai sekarang mbah putri belum datang juga Ndah”


“Mungkin sebentar lagi mas,  Indah takut kalau mahluk tanpa kepala itu berhasil menerobos pagar rumah mas”


Tidak lama kemudian listrik rumah tiba-tiba mati, ketika listrik rumah mati, mendadak mahluk perempuan tanpa kepala itu hilang, dia pergi dari rumah dan keempat amak kecil itu berubah menjadi lucu kembali.


“Dia sudah hilang dari sini Ndah, dan anak-anak itu sudah berubah lagi menjadi baik”

__ADS_1


“Iya lah mas, kan mbah putri sebentar lagi datang mas”


__ADS_2