
Pagi yang indah, suara beberapa burung sedang ngoceh di atas atap rumah, ada juga yang di pohon jambu biji depan rumah, sinar matahari sudah masuk melalui kisi-kisi rumah.
“Kalian berdua tak bangunin kenapa diam aja sih rek” aku tegur kedua temanku yang sekarang sedang duduk-duduk di ruang tamu
“Kapan kamu mbangunin kita Gel, wong kamu lho tidur ngorok di kasur atas sama Glewo gitu lho, aku lho gak bisa tidur gara-gara kamu ngorok c*k” kata Blewah
Kemudian aku cerita kepada kedua temanku bahwa aku tadi malam sempat bertemu dengan mbah putri dan mbah kakung, tetapi apa yang aku sampaikan itu hanya dianggap mimpi oleh kedua temanku
“Kamu ngimpi palingan Gel, lebih baik nanti kita sowan ke makam mbahmu dulu aja Gel” kata Glewo
“Iya nanti kita sowan ke makam mbah ku dulu aja, sekarang ayo ndang mandi, nanti dari makam kita sarapan soto yang ada didepan gang”
Saat ini pukul 08.15, matahari di kota ini benar-benar menyengat, kami berjalan kaki menuju ke makam mbahku, disini meskipun matahari menyengat, tetapi banyak pohon yang rindang juga.
Sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah ini ke makam mbahku, mungkin hanya sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah.
Lokasi makan mbahku ada di gang sebelah , dekat dengan taman makam pahlawan di kota ini, kami harus keluar gang, kemudian berbelok ke kanan menyusuri jalan besar.
Tidak jauh dari situ ada taman makam pahlawan, nah di belakang taman makam pahlawan itu adalah area pemakaman umum.
Di seberang pemakaman umum ada lapangan bola yang cukup luas untuk daerah ini.
“Ayo rek dicabuti dulu rumput liar yang tumbuh disini, setalah itu kita berdoa” ketika kami sudah sampai di depan pesarean mbah putri dan mbah kakung.
Permintaan mbah putri sudah aku lakukan, makam kedua mbahku sudah bersih dari rerumputan, untuk diketahui makam kedua mbahku ini berdampingan
Jadi ketika mbah kakung meninggal, keluarga kami memesan tanah disebelah mbah kakung yang rencananya untuk pesarean mbah putri.
Kami berjalan pulang ke rumah , tetapi kami sempatkan dulu untuk mampir ke soto langganan yang ada di depan gang.
Dulu ketika mbahku masih hidup, aku selalu makan soto disini, sotonya beda dengan di kota S, tetapi soto ini cukup menyegarkan meskipun agak beda dengan soto lamongan
“Lho ini mas Agus, cucune mbah putri kae?” tanya pedagang soto itu yang rupanya masih hapal dengan wajahku
“Iya pak , lama saya ndak kesini ya hehehe, semenjak mbah putri sedo keluarga kami ndak pernah kesini ya pak”
“Iya mas Agus , lha ya ngapain juga kesini mas, kan sudah tidak ada yang dituju disini kan, lha ini mas Agus kesini dalam rangka apa mas”
“Ini saya dan teman saya mau nginap beberapa hari disana pak, yah itung-itung rekreasi dari kota S pak hehehe”
“Lha apa mbak Puji yang bersih-bersih rumah ndak ngomong apa –apa soal rumah itu mas, kabarnya rumah itu singup je mas”
“Banyak penduduk disini yang sering mendengar suara atau penampakan dirumah itu mas, saya aja kalau malam tidak berani lewat di depan rumah mbah sampean itu mas, mending saya jalan memutar hehehe”
“Ah mosok se mas, saya dan teman saya disana ndak papa itu mas, mungkin baru sehari ya saya ada disini mas heheheh” kataku agak berbohong sedikit
“Oh iya ya, rumah sampeyan itu kan
dibelakang Mushola ya pak” tanyaku kepada pedagang soto
__ADS_1
“Iya mas betul, dibelakang mushola, jadi saya kalau malam mending lewat jalan gang sebelah, jadi agak memutar , dari pada lewat situ hehehe”
Setelah cukup basa basi dan cukup sarapan soto disini, kami pamit untuk kembali ke rumah mbah putri hehehe, memang rumah itu angker tapi aku ndak
mau ngomong ke pedagang soto itu.
“Janc*k Gel, kamu kok gak cerita ke dia kalau rumah itu memang singup, dan kita sempat ditakuti disana gel” tanya Glewo
“Jangan Wo , meskipun memang singup, tapi ada baiknya kita giring opini orang
bahwa rumah itu nyaman dan
tidak angker sama sekali”
“Kita akan lama disana, jadi kita harus kerasan, apapun yang terjadi kita tetap harus tetap tenang bagaikan renang di semak-semak rek hihihi”
Kami sedang jalan kaki menuju ke rumah mbahku, di sepanjang jalan ini nyaman sekali , karena pohon tiap rumah ukurnya besar-besar hingga daunya sampai bisa membuat adem udara yang panas.
“Mas!” suara perempuan terdengar di telingaku
“Mas Agus, ini aku Indah” kata suara perempuan itu
Kok hanya suara, kenapa tidak ada penampakan Indah, kenapa dia hanya
bersuara kepadaku saja.
“Indah tidak boleh masuk ke rumah itu mas, Indah dilarang sama orang tua yang ada disana, Indah sekarang tidak boleh masuk ke dalam rumah itu lagi”
“Sekarang indah ada dimana, kok aku ndak bisa liat kamu Ndah?”
“Indah ada disebelah mas Agus, ndak papa mas, nanti saja Indah menunjukan lagi penampakan tubuh Indah kepada mas Agus”
Kami sudah hampir masuk ke rumah, aku merasa ada apa-apa dengan Indah hingga dia tidak mau menampakan wujudnya.
“Ndah , kamu dimana ini aku mau masuk rumah lho ini Ndah”
“Indah dari tadi ada di sebelah mas Agus , mas Indah tidak bisa masuk ke dalam rumah, Indah hanya bisa duduk di teras rumah mas”
“Kalau mas Agus mau ngobrol sama Indah , mas Agus bisa duduk sama Indah disini mas”
“Gel ,sekarang apa yang harus di lakukan gel, mosok disini kita cuma diam aja Gel” tanya Glewo
“Kalian berdua belio apa gitu lho, belio rokok atau jajan rek, aku tak dirumah dulu sambil merenung apa yang harus kita lakukan lagi setalah ini”
Kedua temanku pegi mencari kios rokok , tadi aku udah kasih tau temenku di luar gang ini belok ke kiri beberapa ruko dari warung soto ada rokok dan aneka jajan pasar.
“Gimana Ndah , ada berita apa lagi kok kamu ndak bisa menampakan wujudmu
sekarang Ndah”
__ADS_1
“Indah dari semalaman mencari jasad Indah mas, tetapi ndak ketemu mas, Indah sedih, takutnya apabila Indah
sedih Indah akan kembali ke wujud yang menyeramkan mas”
“Makanya Indah ndak mau nunjukin
wujud Indah dulu kepada mas Agus sementara ini”
“Hmmm rumit juga Ndah kalau mau menemukan jasad yang usah lama, apalagi jasadmu dibuang di daerah sungai itu”
“Sebenarnya kamu ini orang mana Ndah, asalmu dari mana sih, kok naik Bus dari arah kota M gitu sih”
“Indah asalnya ya di Mjkt ini mas, Indah dari Gdg mas, pacar indah dari kota sebelah Mjsr, kami berpacaran ndak lama mas”
“Indah ke kota M kan karena mas Agus bolak balik memanggil nama Indah kan mas, makanya Indah cari mas, dan akhirnya ketemu waktu mas Agus
sedang mendorong gerobak bubur itu mas”
“Jadi karena pacaran yang tidak sehat itu , Indah hamil mas, Indah minta pertanggung jawaban dari pacar Indah, tetapi dia malah membawa Indah ke Pct, kemudian disebuah losmen Indah dibunuh mas”
“Wis, aku wis dengar ceritamu itu , tapi sayangnnya mayat itu sudah tidak ada disana, kamu ini kan sudah jadi hantu masak gak bisa cari tau dimana posisi jasadmu Ndah”
“Memang benar Indah ini hantu mas, tetapi tiap Indah membayangkan jasad Indah yang ada hanya kabut, Indah tidak bisa lihat posisi jasad Indah”
“Trus kalau kamu ndak Ingat, lha kenapa kamu kok bawa kami ke bawah jembatan sana itu Ndah?”
“Karena yang Indah ingat ya hanya disana mas, Indah tidak ingat selebihnya apa yang terjadi dengan jasad Indah”
“Rasanya tiap Indah mengingat-ingat ada
kayak kabut, semua menjadi kabur, sepertinya ada yang menutup-tutupin apa yang indah lihat”
“Susah juga Ndah kalau keadaan kayak gini, ada kemungkinan pacarmu ikut andil agar jasadmu tidak ditemukan dan agar kamu gentayangan mencari jasadmu” kataku
“Ya wis Ndah aku mau masuk dulu, mau beol, kamu gak masuk rumah?”
“Kan udah Indah bilangin mas, Indah tidak bisa masuk kesana lagi mas, rumah ini sudah ada pagarnya mas.
“Lha mahluk yang ada di dalam itu gimana Ndah masuknya?”
“Ndak tau mas, mereka itu juga kayaknya ndak bisa keluar dari sana, mereka itu berjubel di dalam rumah ini mas"
"Yang Indah tau rumah ini agak aneh mas, pokoknya yang ada di dalam itu banyak sekali, dan yang sudah di dalam tidak mau keluar lagi"
“Lho bukanya kamu awalnya bisa masuk ke sana Ndah, kok sekarang kamu ndak bisa masuk ke dalam ndah” tanyaku penasaran
“Awalnya memang bisa mas, tetapi setelah bertemu dengan orang tua yang ngakunya pemilik rumah ini, sekarang Indah sudah tidak bisa ke sana.
“Ya wis lah Ndah, aku tak masuk ya, aku kebelet ngising”
__ADS_1