INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 164 (PENYELAMATAN CHINTA)


__ADS_3

“Sekarang kalian bisa kesana, dan bawa kucing hitam ini, mungkin nanti Saripah akan membantu kalian heheheh” kata mbah Joyo sambil terkekeh


“Kalian berdua tinggal disini saja, biar kami berempat yang kesana, dibantu oleh Ngot dan indah” kata Dogel kepada Winna dan Chandra yang tadinya ingin ikut dengan mereka


Kami berempat berjalan masuk ke arah hotel yang saat ini sedang ramai dengan beberapa keluarga yang menginap di hotel ini.


“Ternyata Hotel ini rame juga pada saat ini. Beda dengan di masa kita, hotel ini benar-benar mengerikan Tro” kata Dogel


Kami berjalan melewati parkiran yang saat ini sudah mulai bertambah ramai, kemudian sebelum ruang lobby kami belok ke arah kanan memasuki pintu gerbang kecil, terus terang aku ikuti saja langkah Dogel dan Blewah yang mungkin sudah sering ke sini.


“Eh Wah, kok ada yang aneh dengan bangunan utama sebelah kiri kita ini ya. Coba liaten, di masa ini ada jendelanya, besar juga jendela yang berjajar jajar itu. Jendela itu koyoke adalah jendela kamar yang ada di bangunan utama Wah” kata Dogel


“Iyo Gel, di jaman kita kan itu hanya berupa tembok tok, gak ada jendelanya sama sekali yo” kata Blewah yang melihat lihat sekeliling


“Dari tadi kuperhatikan mulai dari kamar di depan hingga hampir di belakang ini tidak ada kamar yang kosong ya Wah, berarti hotel ini sebenarnya rame juga, tapi karena ulah Totok jadinya mengerikan” kata Dogel lagi


Kemudian Indah memperingatkan kami untuk berhati-hati, karena kita sudah ada di depan kamar 5+.


“Kalian lihat di depan kamar 6+ itu, ada beberapa mahluk ghaib yang menjaga pintunya, belum lagi di dalam kamar mas, jadi apa yang akan kalian lakukan mas” tanya Indah


“Biarkan kucing mbak Bashi ini jalan ke sana, biarkan dia usir yang ada di depan itu, nanti bagian kita yang ada di dalam sana” kata Dogel


“Mas Dogel, apakah tidak lebih baik kalian temani kucing itu mas, karena penjaga yang ada di depan teras kamar itu benar-benar mengerikan mas” kata pak Tembol


“Baik pak, ayo kita temani mbak Bashi rek, aku juga ndak tega kalau dia harus sendirian mengusir penjaga yang ada di teras itu” kata Dogel


Aku hanya manut saja apa yang mereka katakan, karena memang aku belum mempunyai apapun yang bisa digunakan untuk melawah ghaib, aku hanya bisa lihat mereka saja, tanpa bisa melawan.


Bulu kucing hitam itu meremang ketika dia ada di depan teras kamar, tidak lama kemudian mbak Bashi medesis kearah kiri dan kanan. Ternyata desisisan mbak Bashi ini sakti juga. Beberapa ghaib yang ada di teras menghilang dengan cepat setelah mendapat desisan mbak Bashi.


“Mosok se cuma kena desis mbak Bashi yang disana bisa hilang sih pak Tembol?” kataku kepada pak Tembol yang hanya menunggu mereka di depan kamar nomor 5+


“Hehehe mereka tidak hilang mas Petro, tetapi lapor ke bossnya kalau ada yang masuk ke kamar ini, sebentar lagi pasti ada bala bantuan yang datang, saya sudah hapal dengan kelakuaan demit yang licik seperti itu mas Petro” jawab pak Tembol.


Memang aku dan pak Tembol hanya menonton dari depan kamar nomor 5+, mengingat kami berdua tidak mempunyai apapun untuk pertahanan diri, jadi lebih baik kami  tidak ikut masuk ke dalam saja.


Karena keadan kami yang jauh dari kamar 6+, jadinya aku tidak bisa cerita apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar sana, apakah mereka memukuli demit-demit penjaga dengan sapu lidinya atau gimana, aku ndak tau.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Dogel dan Blewah keluar kamar dengan membopong Chinta, diikuti oleh Indah dan Ngot, sedangkan mbak Bashi ada di depan mereka, dia berlari menuju ke arah kami.


Mbak Bashi ternyata tidak hanya berlari di depan saja, dia kadang ada di bagian paling belakang, kadang di samping kiri dan kadan di kanang, aku ndak tau apa yang mbak Bashi lakukan itu, takutnya dia bisa keinjak kaki  Dogel dan Blewah.


“TROOOO, CEPAT NYALAKAN MOBIL, KITA PERGI DARI SINI CEPAAAT. PAK TEMBOL TOLONG BANTU KAMI AGAR LEBIH CEPAT LARI”   teriak Dogel yang sedang membopong Chinta


Pak Tembol kemudian ikut membantu Dogel Blewah agar lebih cepat jalan menuju ke arah parkiran. Sementara itu mbak Bashi berjalan di samping mereka dengan wajah yang menoleh ke kiri dan kanan


Aku lari menuju ke arah parkiran, hingga aku sampai ke dalam mobil. Segera mobil kunyalakan dan kuarahkan moncong mobil ke arah luar.


Apakah semudah itu.? Ternyata tidak, ketika kulihat dari spion aku tidak lihat apapun yang mengejar mereka, tetapi ketika kutolehkan kepalaku ternyata ada belasan demit yang sedang mengejar mereka.


Lalu siapa yang berusaha menghadang demit itu agar mereka bisa lancar masuk ke dalam mobil?


Ternyata yang luar biasa adalah mbak Bashi. Kucing hitam itu berjalan di belakang, dan kadan disamping mereka, dia  berusaha menghalau dan menghadang demit yang sedang mengejar.


Tidak lama kemudian rombongan yang sedang membopong Chinta sudah masuk ke dalam mobil termasuk mbak Bashi juga. Mobil segera kujalankan ke arah luar hotel dan kuparkir di depan warung mbah Joyo.


Chinta saat ini dalam keadaan tidak sadar, dan di tidurkan di dalam mobil….


“Untuk saat ini kalian sudah bisa mengambil teman kalian anak-anak, tapi apa yang sudah ada di kamar 6+ tidak akan semudah itu lolos dari Totok. Dia akan terus mengejar hingga dapat buruanya” kata mbah Joyo


Mbah Joyo saat ini kami ajak ke dalam mobil, karena sungguh susah untuk menurunkan Chinta ke warung kecil milik mbah Joyo.


Tidak lama kemudian mbah Joyo keluar dari dalam mobil, dia berjalan ke dalam warung  dengan tergopoh-gopoh, tidak beberapa lama kemudian dia keluar dari dalam warung dengan membawa segelas air putih dalam sebuah gelas kecil.


“MInggir anak-anak, saya akan usapkah air ini di wajah teman kalian, semoga belum terlambat” kata mbah Joyo yang kemudian membasahi wajah dan kepala Chinta dengan air yang ada di dalam gelas beberapa kali dengan doa-doa yang aku ndak paham.


Hingga beberapa kali diulanginya proses membasahi wajah dan kepala Chinta, hingga beberapa saat kemudian Chinta tersadar dari pingsanya. Chinta membuka matanya.


“Dudukan teman kalian, biarkan dia bernafas lega dulu anak-anak, untung belum terlambat, untung pengaruh orang jahat itu masih belum mencapai mata batinnya” kata mbah Joyo


“Biarkan dia duduk sebentar, kemudian carikan dia tempat untuk sembunyi dari yang akan mencari dia” kata mbah Joyo


“Untuk sementara ini kalian aman, karena hehehehe Saripaaah Saripah, kenapa kamu ada di dalam kucing ini sih?” kata mbah Joyo sambil mengangkat mbak Bashi


“Saripah teman saya akan selalu mendampingi kalian anak-anak, jadi kalian tenang saja selama kalian masih mencari tempat untuk sembunyi” kata mbah Joyo lagi

__ADS_1


“Maaf mbah Joyo, apakah mbah Joyo kenal atau dengan yang bernama abah Fuad yang ada di Sby?” tanya Dogel


“Saya tidak tau nak, tetapi kalau kalian malam ini ada janji dengan beliau segera saja kalian kesana, ingat ini masih sore, jadi kalian bisa tenang berangkat ke sby, karena setelah malam tiba, dia yang tadi menculik temanmu akan mencari ke seluruh pelosok” kata mbah Joyo


“Eh bagaimana mbah Joyo tau kalau kami akan ke rumah abah Fuad?” tanya Petro


“Hehehe cuma nebak saja kok mas hihihi, lebih baik kalian segera saja pergi ke sana, karena hari  semakin sore, dan untuk sementara ini lindungi teman kalian dari apapun yang mendekatinya selain team kalian ini” kata mbah Joyo lagi


“Chinta bagaimana keadaanmu “ tanya Winna


“Aku lemes sekali Winna, eh Chandra bagaimana kalian bisa menemukanku. Tadinya aku sudah putus asa ketika Totok mengajaku ke hotel ini, hhmmm uugh pusing sekali kepalaku” kata Chinta


“Nak Chinta diam dulu saja, kami  masih akan menempuh perjalanan ke Sby ini, nanti saja bicaranya setelah kita sampai ke tempat abah Fuad


“Eh pak Tembol, apakah kita tidak ke kosan mbak Chinta dulu, untuk ambil benda yang ada di atas dinding kamarnya itu?” tanya Petro


“Hmm iya nak, kita ambil juga saja nak. Takutnya benda itu berbahaya bagi dia. Nak Chinta, kita ke kosan nak Chinta dulu ya, saya mau ambil benda hitam yang diberi Totok dan dipasang di dinding kamar kos nak Chinta” kata pak Tembol


“Eh kalian ini siapa, dan bagaimana bisa tau tentang sesuatu yang diberikan Totok kepadaku?” tanya Chinta


“Sudah jangan banyak bicara dulu nak Chinta, pokoknya kami akan mengambil benda itu dulu, kemudian benda itu akan kami bawa ke tempat abah Fuad, pokoknya saya dan teman saya tidak ada maksud jahat nak, kami hanya membantu agar tidak ada lagi korban dari Totok” kata pak Tembol


Perjalanan sore hari menuju ke arah Sby ini terbilang cepat dan aman, tidak ada apapun yang mengikuti dan mengganggu kami, bahkan mbak Bashi saja masih tertidur pulas di pangkuan Dogel.


Pukul 17.30 masih ada beberapa waktu lagi sebelum maghrib tiba, kami sudah ada di depan kos kosan Chinta. Rencananya Pak Tembol dan Chinta turun dari mobil, tetapi melihat keadaan yang aneh ini mereka mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.


Kami hanya melihat kondisi depan kos-kosan Chinta yang Nampak gelap dan sepi dari dalam mobil. Tidak ada yang berani turun dari mobil.


Pak Jo penjaga kos kosan tidak ada di tempatnya, kosn kosan ini nampak gelap, sepi, dan lengang. Mereka bedua ragu untuk masuk ke dalam kos kosan dalam keadaan seperti ini.


“Kenapa kos kosan ini gelap nak, apakah biasanya juga seperti ini?” tanya pak Tembol


“Ndak pak, biasanya jam segini lampu depan kos-kosan, parkiran motor, dan halaman depan sudah dinyalakan, tapi memang anak-anak kalau jam segini pada belum pulang pak” kata Chinta yang keadaanya sudah pulih


“Nak Chinta, apakah biasanya tempat jaga pak Jo itu selalu gelap gitu?” tanya pak Tembol yang menunjuk ke sebuah banguan kecil tempat pak Jo penjaga kosan itu berjaga


“Tidak pak, selalu terang, dan kalau pagi siang sore malam jendela tempat dia selalu terbuka, tidak tertutup seperti itu pak”

__ADS_1


__ADS_2