INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 94. KEADAAN MBAH JOYO


__ADS_3

Setelah selesai dengan Bawok, kami memang mempunyai niat untuk berkunjung ke warung mbah Joyo, tetapi karena keadaan warung itu tutup, terpaksa kami akan datangi rumah beliau yang hanya berjarak sekitar hanya seratus meter dari hotel Waji.


“Kamu kok diem sih mbak Sum, padahal tadi kan gembira setelah ketemu Mbawoook, tapi kenapa wajahmu kok


sedih sih cuook hihihi” kata Glewo


“Ancuk Gel, baru iki aku liat wajahnya Blewah iso sedih gitu rek hihihihi, nggilani pol polan cuoook!” kata Glewo


“Ndak papa mas, ayo kita cepat ke rumah mbah Joyo saja mas” jawab Sumirah


Kami berjalan agak cepat menuju ke rumah mbah Joyo karena langit yang sudah mendung hitam yang menandakan akan turun hujan.


“Aneh yo rek, iki kan bukan musim hujan, kenapa langite kok mendung yo, mana anginya agak kentjeng sisan rek” kata Glewo


“Maksudnya gimana mas dengan kentjeng itu mas” tanya Blewah atau Sumirah yang sudah  berwajah ceria dan berjalan centil lagi. Berbeda dengan ketika kami baru saja akan keluar dari kantor hotel, wajah Sumirah yang terlihat sedih.


“Ya itu lho mbak Sum kentjeng itu sama dengan ngatjeng, jadi angine agak ngatjeng gitu mbak” kata Glewo ngawur


“Ngatjeng itu apa lagi sih mas, semasa Sumirah hidup, belum pernah dengar kata ngatjeng gitu mas” kata Sumirah semakin membuat bingung Glewo.


“Angine buanter mbak Mirah” jawabku dari pada makin panjang saja.


“Ealah angine ngatjeng itu artine  angine buanter gitu ta mas” kata Sumirah ndak bersalah


“Yooo wis itulah hihihihi”


Kami sudah ada di gang mbah Joyo, gang sempit ini berbeda dengan waktu sebelumnya kami kesini. Waktu kami kesini gang ini sepi sekali, tetapi sekarang banyak orang yang hilir mudik jalan di gang sempit ini.


Jarak kami dengan rumah mbah Joyo mungkin masih sekitar tiga puluh meteran lagi, aku penasaran dengan ramainya penduduk yang hilir mudik di gang ini, jadi kuputuskan untuk bertanya ke salah satu penduduk disini.


“Nuwun sewu pak, ada apa ya pak kok rame sekali keadaan disini?” tanyaku kepada seorang laki laki yang berumur mungkin setara dengan mbah joyo yang rambutnya sudah penuh uban


“Anu nak, mbah Joyo sedo barusan” jawab nya singkat


....MAK DEG!....


“Lho gerah apa to pak kok meninggal, soalnya saya kan kemarin malam dari sini pak, kok tiba-tiba meninggal” tanyaku dengan suara bergetar


“Waduh saya kurang tau nak, coba sampeyan tanyakan ke pembantunya saja nak si Kipli itu nak, mungkin

__ADS_1


dia tau tentang mbah Joyo”


“Ya sudah terima kasih pak, saya coba cari dimana Ki peli pak”


“Husssh ngawur ae kamu ini nak!, namanya itu KIPLI bukan KI PELI, jangan suka rubah nama orang menjadi jelek ah nak. Ya sudah sana, kamu cari sana anak buah mbah Joyo dulu”


Kami bergegas menuju ke rumah mbah Joyo yang nampak masih rame dengan penduduk sekitar yang melayat.


Kami sekarang sudah ada di depan rumah mbah Joyo, keadaan disini ramai sekali , Ki peli sedang sibuk untuk mengurus jenazah mbah Joyo.


Tetapi ada yang aneh disini, kenapa tidak ada keluarganya yang mengurusi mbah Joyo, saat ini yang sibuk riwa riwi hanya kipli  saja. Tapi  mungkin saja keluarganya ada di dalam kamar bersama jenazah mbah Joyo.


“Mas Peli” kupanggil kipeli yang sedang berbicara dengan salah satu tamu disana


“Waaaah  kalian datang, apa ada yang ngabari kalian mas, kok pas betul kalian kesini sekarang” kata Kipeli


“Ndak mas, kami tadi dari hotel, kemudian kami kesini, karena ada yang mau kami bicarakan dengan mbah Joyo”


“Begini saja mas, setelah ini kan jenazah mbah Joyo akan diurus mulai dimandikan hingga dimakamkan, nanti setelah semua selesai kalian kesini lagi tepat jam 23.00 mas, saya tunggu di warkop ya mas”


“Lhoo sik mas Peli, kenapa yang urus jenazah mbah Joyo kok penduduk sini, bukan keluarganya mas?”


“Oalah gitu to, mangkane kok yang urus adalah tetangga disni. Ya sudah mas, nanti malam kami akan kesini lagi jam 23.00 mas”


Aku sempat menanyakan dimana jenazah mbah Joyo, tetapi jawaban Ki peli hanya ada didalam kamar dan orang luar selain yang mengurusi dilarang melihat jenazahnya.


Kami keluar dari gang ini dengan penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan mbah Joyo, kenapa dia bisa begitu cepat meninggal sehari setelah peristiwa malam itu.


Atau mungkin Sumirah tau apa yang sebenarnya terjadi dengan mbah Joyo, apakah meninggalnya mbah Joyo itu ada hubunganya dengan para penunggu yang ada didalam hotel Waji.


“Mbak Mirah, tau ndak kenapa mbah joyo meninggal, apa ada hubunganya dengan para penunggu hotel?” tanyaku kepada mbak Mirah yang ada di tubuh Blewah


“Nanti saja kita bahasnya mas, ketika kita sampai rumah. Jangan disini atau sepanjang perjalanan ini mas, karena ada.....”


“Ada yang mengikuti kita dari tadi kan Mirah”  sambung Indah


“Iya mbah Indah, makannya saya dari tadi tidak komentar sama sekali tentang mbah Joyo mbak” jawab Sumirah


*****

__ADS_1


“Yang ngikutin kok masih ada aja ya mbak Mirah” kataku melihat spion mobil sambil menyipitkan mataku


“Gel fokus nyetir ae, gak usah tolah-toleh ke belakang segala, pokoknya hitam-hitam yang dari tadi ikut kita masih ada dibelakang kita lho” kata Glewo


Saat ini siang menuju sore, kami sudah mulai memasuki kota Mjkt, ketika kulihat di spion, hitam hitam yang belum jelas bentuknya itu masih mengikuti mobil yang kami tumpangi.


“Mas setelah sampai di depan rumah, mobil jangan diparkir di dekat masjid dulu. Di depan pagar mas Agus turun dan membuka pintu rumah untuk kami mas” kata Indah khawatir


“Memang ada apa Ndah, kenapa harus aku yang buka pintu rumah dulu?”


“Sudah jangan banyak tanya mas, pokoknya brenti di depan rumah dan buka pintu rumah segera, setelah kami bertiga masuk, baru mas Agus parkirkan mobil di samping masjid”


Mobil mulai masuk ke gang kampung rumah mbah ku, mobil kujalankan pelan-pelan karena jalan disini sempit, dan anehnya hitam-hitam itu masih melayang di belakang mobil.


Kuparkir mobil di depan pagar rumah, kemudian aku turun dan membuka pintu rumah , setelah itu  satu persatu Indah, Glewo, dan Blewah atau Sumirah masuk ke dalam rumah. Pintu rumah kututup ,kemudian kuparkir mobil Totok di sebelah masjid seperti biasanya.


“Sebenarnya ada apa Ndah, kok sampai sebegitunya kalian masuk ke dalam rumah?” tanyaku kepada Indah yang sedang duduk di sofa rumah setelah aku parkirkan mobil di samping masid


Kami sekarang ada diruang tamu, duduk bersama untuk membahas hitam-hitam yang ada diluar pagar. Dan sampai sekarang pun  bayangan hitam itu masih mondar-mandir di depan pagar.


“Hitam-hitam itu adalah suruhan dari waji yang membunuh mbah Joyo” jawab Indah


“Bagaimana kalian tau kalau dia adalah yang bunuh mbah Joyo tadi, kenapa tadi waktu di rumah mbah Joyo aku ndak lihat mahluk itu?”


“Karena mas Agus tidak pernah siaga, tidak penah menyipitkan mata dimanapun juga. Harusnya mas Agus itu selalu siaga dimanapun berada!” tegur Indah


“Ingat kata mbah putri mas, mas Agus itu lebih dari pada kami, yang seharusnya melindungi dan memutuskan sesuatu itu mas Agus, bukan kami. Kalau ada apa-apa yang tahu harusnya mas Agus dulu bukan kami mas!” Indah benar-benar emosi kepadaku


“Bener Indah Gel, semua ya kamu yang lebih tau. Soal kekuatan ya kamu yang lebih dari pada kami, jadi harusnya kamu bertindak lebih dari pada kami. Aku ae dari tadi ya tau kalau ada bayangan hitam yang bentuknya ndak jelas itu, cuma aku diam karena kuanggap awakmu tau itu Gel”


“Mas, maaf Saya mau bicara tentang mbah Joyo. Kemarin malam Bawok datang kesini, dia ingin tahu keadaanku, karena pada waktu itu mbah Joyo sedang diserang oleh demit yang berasal dari Waji”


“Mereka tidak suka karena mbah Joyo sudah mulai ikut campur urusan mereka dengan mas yang tubuhnya saya tumpangi ini”


“Semua berawal dari mas ini menemukan dompet pemilik Waji, jadi kalian harus lebih hati-hati lagi mas, karena mereka tetap menginginkan dompet itu dikembalikan”


“Mbah Joyo sebenarnya mampu melawan mereka, tetapi kata bawok fisik mbah Joyo pada waktu itu lemah karena sudah mengeluarkan energy untuk mengembalikan mas ini dari kondisi tidak sadarkan diri itu”


“Makanya ada baiknya juga kalau saya ada didalam tubuh ini, selama tubuh ini masih mendapat ancaman dari pemilik hotel itu, karena kata bawok ada rahasia penting yang di dalam dompet itu  mas”

__ADS_1


“Disini saya tidak menakut-takuti kalian, tetapi cerita saya ini berdasarkan info dari bawok tadi waktu kita kesana itu”


__ADS_2