INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 73. KETAKUTAN BLEWAH


__ADS_3

Dalam keadaan seperti ini harusnya tidak membuat kami takut, tetapi saat ini aku menjadi bener-bener setelah melihat gagang pintu yang terbuat dari besi itu bergurat gurat dan bahkan ada yang cuil karena digigit sesuatu yang bergigi tajam dan kuat.


Tetapi aku tidak tau apa yang membuat Blewah ketakutan, karena yang aku lihat hanya gagang pintu yang ada guratan guratan dan sedikit cuil karena sesuatu yang sangat tajam, aku tidak melihat apapun yang aneh disini.


Kami berjalan cepat menuju ke arah pintu masuk kantor hotel, saat ini  aku benar-benar ketakutan, dan ketakutanku ini tidak beralasan, aku menjadi ketakutan karena melihat Blewah yang tiba-tiba ketakutan.


Asal diketahui saja ketakutan seperti ini akan sangat membahayakan, karena akhirnya akal sehat kita hilang, setelah hilang yang ada malah halusinasi tingkat tinggi, karena kita tidak bisa lagi berpikir jernih.


Blewah mendahuluiku lari ke arah pintu kantor, suara gedebugkan langkah kaki kami menimbulkan gema yang berisik, aku tidak sadar apabila kami panik sepert ini akan menjadikan pikiran kita makin kacau, apalagi ditambah suara gedebukan langkah kaki yang bergema.


Aku harus bisa menenangkan Blewah yang makin panik, dia sudah mendekati pintu kaca hotel , bisa bisa pecah pintu itu kalau dia tetap lari dengan kecepatan seperti itu.


“Wah!..Stop!” teriaku dari jarak sekitar lima mater dari dia


Dan untungnya Blewah menyadari bahwa ada teman yang dia tinggal dibelakangnya. Mungkin dia tadi merasa sendirian hingga meninggalkan aku yang juga dalam keadaan ketakuta, Tetapi untungnya aku bisa membuat dia berhenti berlari


“Istigfar Wah , ingat kita sedang ada dimana, jangan gegabah dan jangan panik, kamu sendiri yang ingin ke dalam sini, kenapa sekarang kamu jadi panik dan lari koyok ngene?”


Aku sudah ada di samping Blewah yang dalam keadaan ketakutan , kupegang pundaknya ternyata tubuh dia dingin sekali , dingin akibat dari rasa takut yang sudah berubah menjadi kepanikan, dan kepanikan sudah merubah otaknya menjadi halusinasi.


 Tubuh blewah bergetar hebat, kuambil hpku dari tanganya yang berkeringat dingin,  kusenteri wajah dia yang pucat , aku tuntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat , eh mengucapkan istigfar bersama sama. Aku berusaha tidak terlihat takut di depan Blewah  agar dia bisa berpikir logis.


“Awakmu takut kenapa disana Wah, ada yang mau bunuh kamu?”


Blewah menggelengkan kepala  dengan cepat


“Apa tadi ada yang menakutimu?”


Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya


“Kamu kan punya sesuatu yang dari mbahmu, kenapa kamu lari koyok ngene?”


Blewah hanya diam dan menatapku dengan bergetar. Dia kayakya bener bener panik hingga tidak bisa berpikir logis. Aku harus keluarkan dia dari sini sesegera mungkin.


Kubuka pintu kantor hotel tanpa melihat ada apa saja di belakangku yang gelap gulita ini, kugandeng Blewah menuju ke halaman hotel dengan tetap aku ajak dia beristigfar. Kami berjalan dengan perlahan sambil kupegang bahu dia agar tetap tenang.


Pintu gerbang hotel sudah terlihat di depan, kami berjalan pelan sekali, pokoknya kami harus bisa keluar dari sini sekarang. Aneka mahluk berpakaian daster putih dan merah, dan juga berpakaian kain dengan ikatan di kepalanya bemunculan dan melihat kami berdua dengan heran.


Ada juga mahluk yang mirip kucing persia alias tubuhnya penuh bulu hitam yang gondrong, dia sempat menampakan diri di pohon beringin yang kami lewati, tetapi setelah tau yang lewat lebih seram dari pada dia, dia malah sembunyi lagi di dalam rimbunnya pohon beringin.


Alhamdulillah kami sudah keluar dari area hotel itu dengan selamat, sekarang lanjut jalan ke warkop mbah Joyo yang buka 24 jam. Ketiga temanku saat ini sedang menunggu disana, untung mereka kami suruh duluan ke warkop, coba kalau tidak.

__ADS_1


“Wah kita sudah ada di warkop iki , ayo duduk di situ” kataku kepada BLewah  yang masih gemetar dengan keringat dinginya


Setelah kududukan Blewah , aku menuju ke Mbah Joyo  memesan segelas teh hangat untuk Blewah .. tapi yang anehnya mbah Joyo tiba tiba menghampiri kami dengan membawa segelas ait putih dalam gelas tertutup.


“Biar saya saja yang menghadapi dia mas, kamu gabung sama tiga temanmu saja mas” kata mbah Joyo yang mendatangi Blewah yang sedang gemetar dan wajahnya pucat


Mbah joyo duduk di sebelah Blewah, dia tidak merapal doa apapun , dia hanya memberikan minum air putih itu kepada Blewah yang berkeringat dingin , gemetar, dan wajahnya pucat itu.


“Koe iki nyapo ning kene, ayo balik kono, sebelum tak sebul dadi abu lho yo” kata mbah Joyo  kepada Blewah yang masih  bergetar  dan berkeringat dingin


Setelah itu mbah Joyo menyuruh Blewah untuk minum air putih yang ada digelas yang dia bawa itu.


“Habiskan mas, jangan sampai tersisa ya” kata mbok Joyo yang kemudian kembali ke meja tempat dia berjualan lagi.


“Kalian tunggu saya hingga rewang saya datang mas, rewang saya sudah saya kabari untuk datang sekarang, nanti kalian ke rumah saya mas, kita ngobrol” kata mbah Joyo


Blewah semakin lama semakin sehat, wajahnya sudah tidak nampak pucat lagi. Dia mungkin sudah siap diajak bicara tentang  apa yang terjadi tadi.


“Gel aku minta es teh, tenggorokanku kering sekali Gel” permintaan pertama Blewah setelah mengalami ketakuan yang luar biasa


“Pak, teman saya minta segela es teh pak” kataku kepada pak Joyo yang ada dibelakang meja tempat dia jualan


“Kata mbah Joyo ndak boleh minum es teh dulu Wah, minumo iki disik ae”


Sekitar lima menit kemudian seorang pemuda gondes, gondrong mburi tipis samping yang berusia sama dengan kami datang, dia menggunakan sepeda motor keluaran tahun 80 an yang kelihatanya masih kinclong.


“Peli... Kipeli, tolong jagakan warung bapak ya, bapak mau pulnag sama kelima pemuda yang lagi lagi habis dari hotel itu Peli”


“Nama rewang saya Zulkifli, tetapi biasa saya panggil Peli saja nak, dia yang akan gantikan saya jaga warkop ini. Sekarang ayo ke rumah saya, akan saya pulihkan teman kamu ini mas” kata mbah Joyo sambil berjalan kaki keluar warung


“Eh naik mobil ini saja mbah,  biar lebih cepat” tawarku


“Ndak usah mas, kelamaan. Lagipula Jalan ke rumah mbah ndak bisa dimasuki mobil, kita jalan kaki saja, mobilnya biar disitu saja, aman kok disini kan ada Peli mas” kata mbah Joyo  yang jalan mendahukui kami


Kami berlima mengikuti mbah Joyo jalan menuju ke rumahnya, jalan kaki di daerah sini pada malam hari  benar benar terasa dingin dan segar, udara di kakii gunung ini membuat paru paruku terisi udara yang bersih.


Mbah Joyo berjalan cepat sekali untuk orang yang sudah berumur, kami yang masih muda ini ketinggalan jauh kalau tidak sedikit berlari. Benar-benar aneh orang tua itu, dia bisa jalan begitu cepat seolah olah kakinya tidak menapak jalanan.


Akhirnya setelah keluar masuk gang, kami sampai juga di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu sempit, rumah yang ada didepan kami ini bentuknya sederhana, tetapi kalau dilihat dari luar nampaknya nyaman untuk ditinggali.


“Ayo masuk ke dalam  rumah mas, anggap saja rumah sendiri mas” kata mbah Joyo yang membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci

__ADS_1


Rumah khas perkampungan di pct yang tanpa halaman sama sekali , masuk pintu pagar kecil yang terbuat dari bambu satu meter kemudian sudah pintu masuk rumah.


“Pintu rumah kok ndak dikunci mbah” tanya Glewo


“Buat apa juga dikunci nak, semua barang yang saya dapatkan ini adalah milik Gusti Allah, kalau memang waktunya untuk berpindah tangan itu juga karena Gusti Allah juga yang  ngatur, mungkin barang itu ndak cocok ada


bersama saya sehingga harus pindah ke tangan orang lain hehehe”


“Kok gitu sih mbah, lha kalau rumah ini tiba-tiba hilang atau terbakar apakah itu juga karena sudah tidak cocok ditinggali sama njenengan mbah?” tanya Broni yang tadi hanya diam saja


“Yakinlah mas, dibalik diambilnya titipanNya, Gusti Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi” kata mbah Joyo dengan tersenyum


“Ayo masuk mas” ajak mbah Joyo yang sudah ada di dalam rumah yang sederhana tetapi nyaman untuk ditinggali


Kami duduk di ruang tamunya yang hanya dialasi dengan selembar karpet yang bersih dan tebal, keliatanya karpet mahal yang sedang kami duduki ini.


“Ayo duduk, jangan khawatir karpet ini bersih kok nak, karpet ini baru seminggu mbah dapatkan, karena ada saja orang yang tiba-tiba memberi barang kepada mbah, seperti yang mbah bilang tadi kalau yang namanya titipan Gusti Allah itu tidak kekal, bisa saja di pindahkan oleh Nya kapan pun Allah berkehendak”


Hehehe bener juga apa yang barusan dikatakan mbah Joyo, tetapi kenapa sekarang dia mamanggil dirinya dengan sebutan “Mbah” ya, bukan dengan kata-kata “saya” seperti waktu di warkop itu


“Eh mas siapa sampeyan namanya, agar kita bisa saling kenal mas” mbah Joyo menanyakan nama kami


Setelah satu persatu kami perkenalkan diri, suasanya sudah menjadi akrab hal ini karena mbah Joyo pandai membuat suasana kaku menjadi cair.


“Eh mas Nanta atau dipanggil mas Blewah ya enaknya ini? hehehe” kata Mbah Joyo yang heran dengan nama julukan kami


Kami tadi berkenalan dengan menyebutkan nama asli dan nama pangilan, atau bahkan nama panggung kami agar mbah Joyo tidak bingung ketika kami sebuktkan Blewah atau Bunali, Dogel atau Kotak. Glewo atau Tongky


“Blewah saja mbah biar terdengar akrab dan tidak bikin malu  karena wajah saya yang nggedibal ini mbah, kalau saya dipanggil Nanta atau Agus Ananta rasanya kok eman eman namanya mbah heheheh” kata Blewah yang sudah kembali seperti semula


Untuk diketahui nama Asli Blewah adalah Agus Ananta atau biasa kami panggil Nanta, kalau aku Dogel nama aslinya Agus prayitno atau biasa kami panggil Gus, Kalau GLewo nama aslinya Sonny haksono dan seringnya dipanggil Glewo dan kadang dipangil Tongky.


“Ya sudahlah, sekarang sebagai langkah awal tolong sebutkan apa tujuan kalian kesana, tolong jangan bilang untuk uji nyali ya mas, karena belum pernah ada yang berhasil melakukan uji nyali disana”


“Gel, kamu aja yang cerita” suruh Glewo


Aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka akhirnya terjebak disana hingga Nanta atau Blewah mengalami ketakutan yang luar biasa.


“Jadi kalian kesana bukan maksudnya untuk menantang atau menguji kesaktiaan kalian?” tanya mbah Joyo heran


“Kesaktian apane mbah, wong kita ini ndak punya apa apa kok mbah, kami kesana hanya untuk menyelesaikan atau membereskan urusan dengan lagu kami yang ternyata tidak semudah itu, ternyata banyak sekali sangkutanya mbah” kataku

__ADS_1


__ADS_2