
“Ke kosan saya dulu saja, saya mau ambil pakaian saya dulu pak, sekalian titip pesan kepada pak Jono kalau-kalau ada saudara saya yang akan datang ke sana” kata Chinta
Mobil di arahkan Dogel ke kosan Chinta untuk mengambil perlengkapan dan pakaian Chinta, dan mungkin juga setelah ini kami akan menuju ke Mjkt mengambil pakaian milik Winna juga.
*****
Depan kos-kosan Chinta sekarang sudah terang, parkiran pun sudah penuh dengan mobil dan motor milik penghuni kos, penjaga kosan pak Jono pun ada di tempatnya.
“Temani saya dong mas, saya agak takut kalalu harus masuk ke sana meskipun sekarang keadaanya sudah ramai” kata Chinta
“Ayo wis mbak Chinta, tak temani” kataku sambil turun dari pintu depan mengikuti Chinta yang masuk ke pintu gerbang kos an, malam ini keadaan disini aman dan tenang, mungkin memang tidak ada apa-apa disini
Kami berdua memasuki gerbang area kos kosan, pak Jono ada disana dia sedang ngobrol bersama orang yang tidak aku kenal.
“Pak Jonoooo” sapa Chinta kepada pak Jono yang sedang ngobrol serius dengan orang yang mestinya bukan penghuni kos kosan ini, karena kos kosan ini hanya diperuntukan bagi perempuan saja.
Siapa itu yang sedang ngobrol bersama pak Jono, yang aneh adalah dia memakain udeng dan menggunakan pakaian surjan lurik jawa.
Jono tidak bereaksi ketika Chinta menyapanya, dia asik dengan wajah seriusnya ngobrol dengan orang yang memakai udeng jawa dan pakaian surjan lurik. Padahal jarak kami dengan Jono sekitar 10 meteran.
“Ayo kita naik ke atas saja mas, pak Jono keliatanya sedang sibuk dengan temanya” ajak Chinta yang berjalan lebih dulu
Kami sudah ada di lantai dua kos kosan, kemudian Chinta berjalan menuju ke arah kamarnya yang letaknya adalah kamar nomor tiga dari tangga.
“Sik Bentar mbak Chinta, aku kok merasa ada yang aneh disini”
“Ada apa mas, apa ada sesuatu yang mas Petro curigai?” tanya Chinta
“Hmmm iya mbak. Ini, letak kursi ini harusnya kan ada disana, bukan disini. Tadi waktu aku dan pak Tembol ambil barang yang ada di dinding kamarmu kursi ini tidak ada disini, melainkan ada disana mbak, di kamar yang paling ujung itu”
“Eh iya mas, aku kok tadi ndak perhatikan kursi ini ya, apakah ada orang yang duduk disini menunggu aku pulang ya mas” kata Chinta
“Atau ada orang yang berusaha melihat kondisi dalam kamarmu, kalau lihat posisi kursi ini ada di depan jendelamu gini kemungkinan dia sedang memanjat untuk lihat kondisi kamarmu dari ventilasi itu” tunjuku pada ventilasi kamar
“Waduuuh kalau gini mas Petro aja yang buka kamar aku mas, ini kuncinya” kata Chinta yang menyerahkan anak kunci kepadaku
Sebenarnya aku ragu juga untuk masuk ke dalam kamar ini, mengingat ada kursi disini dan kemungkinan besar orang yang barusan ada disini itu ingin tau apa yang ada di dalam kamar Chinta.
Aku masukan anak kunci itu ke lubangnya pelan-pelan agar enak, licin, dan tidak sakit… uughhhh. Hihihihi nggak ding ah, dasar pikiran kotor!
__ADS_1
Setelah kuputar anak kunci itu, kemudian handle pintu kutekan pelan-pelan, tetapi pintu kamar Chinta belum juga kubuka, karena aku harus merasakan bahwa di dalam kamar itu tidak ada siapapun.
Tapi ketika aku menoleh ke bawah, tepatnya ke keset yang ada di depan kamar Chinta, dan ketika belum kubuka kamar itu.
“Eh mbak, keset kamarmu kok kotor sekali sih, liaten ta banyak lempung dan tanah kebun gitu” tunjukku pada keset Chinta yang kotor, seolah olah ada orang yang kesini sehabis dari berkebun
Ketika kulihat sekali lagi ternyata itu adalah tanah lempung, tanah lempung yang ada di keset itu berwarna kemerahan, untuk diketahui di sekitar daerah sby ini tidak ada tanah lempung yang berwarna merah kecoklatan.
“Eh mbak sebentar ya, tanah yang ada disini ini kok mencurigakan ya, ehhmm tolong telponin teman yang ada di mobil, suruh Indah kesini mbak” kataku kepada Chinta
Tidak lama kemudian teman hantu kami Indah sudah ada di sebelah kami.
“Ndah, liaten tanah itu, tanah itu berasal dari mana?” tanyaku
Indah melihat dan meneliti serta membaui tanah yang ada di keset depan kamar Chinta hingga beberapa saat. Kemudian dia berkata kepada kami.
“Lempung itu bau mayat mas, tanah lempung itu berasal dari kuburan keliatanya mas Petro” kata Indah pelan.
“Nah kan mbak Chinta, sesuai dengan perkiraan dan kecurigaan saya, tanah lempung yang berserakan disitu itu berasal dari perkuburaan mbak” kataku dengan suara pelan agar mbak China tidak kaget dan tidak takut
“Eh Ndah, coba kamu lihat di dalam kamar kos, ada apa disana? Kok aku merasa aneh dengan yang ada di dalam kamar ini Ndah”
“Lebih baik mbak Chinta tidak masuk ke dalam, biar saya saja yang ambilkan benda yang mbak Chinta maksud” aku gemeteran rek kalau disuruh ambil pakaian dan jeroan jeroane hihihihi, tapi ya ini terpaksa atau kita turun dulu dan ajak Winna atau Chandra yang ambil pakaian Chinta
“Atau gini aja mbak, eeh lebih baik kita ke mobil dulu aja, dan diskusi dengan pak Tembol. Kalau seandainya mbak Winna atau mbak Chandra boleh ambil, mereka saja yang ambil pakaian mbak Chinta” kataku kepada Chinta yang masih saja bingung.
Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke mobil dan bercerita kepada pak Tembol tentang tanah kuburan yang ada di depan kamar Chinta dan yang ada di dalam kamar Chinta.
“Gini saja, kita temui penjaga kos Jono, kemudian kita ajak dia ke atas agar dia tau bahwa ada yang pernah kesini” kata pak Tembol
Akhirnya aku, Chinta, pak Tembol dan Indah menuju ke tempat Jono tinggal sebagai pengawas kos kosan, dan kebetulan dia sedang sendiri, sedangkan orang yang tadi bersama dia sudah tidak ada.
“Mas Jono, selamat malam mas” sapa pak Tembol ramah
“Oh iya pak selamat malam juga, wah ada mbak Chinta, kebetulan sekali mbak. Mbak barusan tadi ada orang yang kesini, dia ngotot ingin masuk ke kamar mbak Chinta, tetapi tadi tidak saya ijinkan ke atas mbak, dan sekarang orangnya sudah pergi” kata Jono
“Siapa namanya pak Jono” tanya Chinta
“Sinank nang mbak, dia ngakunya bernama Sinank nang, katanya dia berasal dari daerah Mjkt mbak” kata Jono
__ADS_1
“Bagaimana nak Chinta, apa kenal dengan yang namanya Sinank nang” tanya pak Tembol
“Tidak pak, sama sekali tidak kenal saya dengan yang namanya Sinank nang” kata Chinta
“Sekarang kemana oranya mas Jono” tanya pak Tembol
“Sudah pergi pak, tadi saya tanya katanya dia dari desa, dari saudara jauhnya mbak Chinta, katanya dia merasa kalau mbak Chinta dalam bahaya, dan dia juga bilang kalau dia harus ke atas karena di kamar mbak Chinta ada sesuatu yang bisa membikin mbak Chinta celaka” kata penjaga kos an
“Tapi ada yang aneh dengan orang ini pak, dia kayakanya memang dari desa, karena dia memakai udeng, kemudian dia memakai pakaian adat jawa yang model lengan panjang coklat dan garis garis itu lho pak, dia juga memakai celana panjang hitam dan sandal kulit yang tidak pernah saya lihat model sandalnya” kata Jono
“Hmmm begitu ya mas Jono, ada berapa orang yang tadi kesini mas Jono?” tanya pak Tembol
“Dia sendirian saja pak, tadi sempat saya tahan di pos ini pak, karena dia memaksa untuk naik ke atas pak” kata Jono lagi
“Ya sudah mas Jono, sekarang tolong antar kami ke atas, karena mbak Chinta ini kelihatanya takut kalau harus ke atas sendirian” kata pak Tembol lagi
Akhirnya kami berempat naik ke lantai dua kos kosan. Kemudian kutunjukan kotoran lempung yang ada di keset depan kamar Chinta.
“Pak Jono, apa tadi ada orang kesini? kenapa depan kamar Chinta ini kotor sekali pak?” tanya Chinta kepada Jono.
“Sama sekali tidak ada yang ke sini mbak, saya selalu jaga di depan. Ya hanya yang tadi itu yang berusaha masuk ke lantai dua ini dan memaksa untuk ke kamar mbak Chinta, karena ada sesuatu yang bisa membuat mbak Chinta celaka katanya”
“Pak, tanah lempung itu, kata Indah itu tanah kuburan pak” kataku ketika pak Tembol menyuruh Chinta untuk masuk dan mengambil pakaianya
Pak Tembol jongkok untuk melihat lempung yang ada di keset milik Chinta, kemudian dia mengambil lempung berwarna merah kecoklatan itu, kemudian dia mencium baunya.
“Ini tanah yang jarang ada di perkotaan, tanah ini adanya di pedesaan dan kemungkinan besar tanah ini berasal dari kuburan, karena ada bau mayat disini nak. Begini saja, biar saya dan nak Petro yang mengambil semua pakaian nak Chinta”
“Hmm dia mau main kasar sekarang, keliatanya dia ingin menyantet kamu nak Chinta. Tapi kata Jono tidak ada orang yang ke kamar nak Chinta, hanya ada orang yang bernama Sinank nang saja yang ditemui di pos Kos an” gumam pak Tembol
“Apakah kita sedang berhadapan dengan dua orang yang berbeda ya nak, tapi kata Jono tidak ada orang yang masuk kemari hmmm” gumam pak Tembol
“Asyudahlah…. Nanti saja kita bahasnya, sekarang yang penting mengungsikan ketiga anak perempuan ini dululah” gumam pak Tembol lagi
Sudah sekarang ambil semua pakaian nak Chinta semuanya, dan kita segera pergi dari sini” kata pak Tembol lagi
“Nak Chinta dimana tempat kopor dan pakaian nak Chinta semuanya, akan saya ambil semua saja nak,” kata pak Tembol
“Sebentar pak Tembol, di dalam sana juga ada tanah lempung juga” kata Indah
__ADS_1
“Ndak papa nak Indah, tanah lempung itu berlaku hanya kepada nak Chinta saja , untuk kami tidak akan berguna sama sekali , jadi kita masuk ke kamar ini dan tolong nak Chinta kasih tau dimana saja dan apa saya yang harus kami ambil” kata pak Tembol