INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 168 (PERBUATAN SIAPA INI)


__ADS_3

Akhirnya aku dan pak Tembol yang masuk ke dalam kamar Chinta, disaksikan oleh Chinta dan pak Jono. Selama kami ada di dalam kamar Chinta kami tidak akan menyentuh dan menginjak lempung atau tanah liat kuburan yang bertebaran di dalam kamar.


“Koper yang ada diatas itu pak, pakai koper itu saja untuk ambil pakaian Chinta yang ada di dalam lemari itu pak” kata Chinta setelah pak Tembol menanyakan tempat tas atau koper yang akan digunakan untuk memuati semua baju Chinta


“Nak Chinta apa ndak punya travel bag saja. Kalau bawa koper gini kok kesannya gimana gitu”kata pak Tembol


“Chinta hanya punya koper itu saja pak, itu muat kok kalau untuk semua pakaian Chinta” jawabnya lagi dari luar kamar.


Aku sih gak ngurus, mau pakai koper atau travelbag, pokoknya semua pakaian termasuk jeroan milik Chinta harus diringkesi semua hehehe.


“Ehmm untuk yang itu gimana nak Chinta” tunjuk pak Tembol kepada tumpukan bheha dan khancut hihihihi


“Emang kenapa pak, apa ndak muat itu tas kopernya?” tanya Chinta balik


“Muat kok nak, tapi cara ambilnya gimana nak, saya kok nderedeg mau ambil benda yang itu nak” kata pak Tembol lagi


Kesuen pak Tembol iki, langsung saya aku ringkesi tumpukan Bheha dan ****** tipis warna warni itu hihihi, tapi ya sempat nderedeg juga, soale aku ndak pernah berhadapan dengan benda yang macam itu, apalagi isine hehehehe.


“Wis beres pak, wis tak ringkesi hehehe, sekarang apa lagi yang harus kami ringkesi ini mbak Chinta?”


“Itu mas Petro disana kan ada dus akhua, nah isi laci meja itu tumplek semua ke dalam dos itu, dah gitu aja mas, lainnya ndak ada kok” kata Chinta lagi.


“Eh pak Jono, saya ini tidak pindah kos an, tapi saya pergi untuk beberapa hari saja, jadi kalau ditanya ibu kos, bilang aja saya sedang pulang kampung “ kata Chinta kepada Jono penjaga kos-kosan


Ketika kami sedang bicara dengan Jono, aku lihat Blewah turun dari mobil, dia menuju ke arah ruangan tempat Jono berada, dia juga meneliti tiap jengkal tanah yang ada di sekitar parkiran meskipun hanya diterangi oleh lampu halaman kos kosan.


Setelah itu Blewah menuju ke arah got depan kos kosan Chinta, dia terlihat jongkok di depan got itu, aku ndak tau apa yang sedang dilakukan Blewah disana.


Blewah kemudian berdiri, dia menuju ke arah jalan yang ada di depan kos kosan. Aku curiga dengan yang dilakukan Blewah ini, apakah dia menemukan keanehan disini atau gimana.


Setelah semua beres akhirnya kami berangkat juga ke Mjkt dulu untuk mengambil pakaian milik Winna juga, baru setelah itu kami ke tempat saudara Chandra.


Kita nanti di Mjkt makan dulu saja anak-anak, kita saking gupuhnya sampek lupa isi perut. Gimana mas Eko apa kita terus saja?” tanya pak tembol pada Eko yang masih ikut dengan kami


Eko hanya menjawab dengan menunjukan jempolnya, tapi aku jelas tau kalau dia keliatanya agak gimana gitu dengan apa yang tadi dia lihat di kos kosan Chinta.


Jadi mobil Winna saat ini berisi, aku, pak Tembol, Dogel, Blewah, Eko, Winna, Chandra, dan Chinta. Pas lah untuk mobil niaga dengan bangku yang disediakan untuk 8 orang ini.


“Kita langsung menuju Mjkt ya ini anak-anak” kata pak Tembol


Perjalanan balik ini disupiri Dogel yang bekas supir truk pasir jurusan lmjng- sby heheheh. Tapi memang untuk luar kota kita biasanya suruh Dogel yang pegang kemudi, karena dia itu tahan ngantuk dan paling enak kalau bawa mobil, beda dengan aku yang kalau bawa mobil ndang sampek ke tujuan saja.


Dalam perjalanan ini aku merasa ada yang sedang membuntuti mobil ini, tetapi tiap aku menoleh ke belakang tidak ada siapapun yang sedang membuntui mobil ini.

__ADS_1


“Kenapa Tro, kok kamu bolak balik lihat ke spion terus” tanya Dogel


“Mbuh Gel, rasane koyok ada yang membuntuti mobil ini, tapi tiap aku toleh ke belakang ndak ada siapapun Gel. Malah merinding nek koyok gini Gel”


“Podo Tro, dari tadi…, dari mulai kita lewat spnjg aku wis terasa koyok ada yang buntuti kita. Tapi tiap aku lihat spion, ndak ada siapapun di belakang kita” kata Dogel


“Wis pokoke kita bondo Bismillah ae Gel, semoga selamat sampai tujuan heheheh”


Dogel tetap  focus dengan kemudi yang ada di depanya, sementara itu Indah dan Ngot yang ada di antara kami terlihat agak gimana gitu sambil terus menerus melihat ke arah belakang.


“Apa yang kamu lihat Ndah?” tanya Dogel


“Indah ndak tau mas, tapi yang Indah rasakan adalah ada bau tanah kuburan yang persis dengan yang ada di kos kosan mbak Chinta” jawab Indah


“Sekarang pukul berapa Tro?” tanya Dogel tiba-tiba


“Sudah jam 22.10 Gel, wis bengi iki, kita harus lebih hati-hati lagi”


“Gel, nek tak rasakan, kita sekarang ini sedang diikuti sama sesuatu mulai dari kos kosan Chinta itu Gel, jadi tadi aku sempat lihat sekilas kalau kita sedang diikuti sama poci” kata Ngot tiba-tiba


“Iya mas Ngot, Indah tadi juga lihat poci yang kotor penuh tanah kuburan yang kadang terlihat kadang menghilang” jawab Indah


“Hmm apakah itu tadi yang masuk ke kamar Chinta? Tapi ndak mungkin lah, masak poci butuh kursi untuk masuk ke kamar Chinta rek” gumamku


“Sopo Wah orang yang tega lempar tanah kuburan ke dalam kamar Chinta?” tanya Dogel berbisik


“Uwong iku sing ngelarang Sinank nang masuk kesana, orang itu Jono atas perintah dari orang lain” kata Blewah dengan karepe dewe


“Ah gak mungkin Wah, ngawur ae awakmu iki” kata Dogel


“Gel, tadi waktu kamu sama pak Tembol tanya ada siapa saja yang masuk ke kosan ini. Jawabane Jono kan tidak ada kan? Memang tidak ada orang yang masuk ke sana kecuali satu orang, dia adalah penjaga kos an iku dewe” jawab Blewah.


“Deke memang tidak bohong, kerena di sana tidak ada yang masuk, tapi dia sendiri yang mengambil kursi itu dan memindahkan ke depan kamar Chinta. Hanya karena situasi yang gelap dia ndak liat kalau didepan ada keset”


“Akhirnya kaki dia tersandung keset, sebagian tanah itu tumpah ke keset, dan sebagian dia sebar ke dalam kamar Chinta melalui lubang ventilasi. Lampu disana memang sengaja dimatikan agar tidak terlihat siapapun kalau dia sedang berbuat aneh-aneh heheheh” kata Blewah


“Sik Wah, kenapa awakmu kok bisa sampai yakin yang ada di sana itu Jono dewe" tanya Dogel


“Tadi waktu kalian ada di atas, Sumirah sayangku juga ikut ke atas, kemudian setelah itu Mirah kembali ke aku dan cerita tentang apa yang tejadi di atas”


“Terus aku turun dari mobil dan masuk ke ruangan Jono, ternyata di lantai kamar Jono ada bekas lempung atau tanah liat yang ndak sengaja terinjak oleh dia hehehe”


“Kemudian aku keluar kamar, kulihat di tanah dan kerikil yang ada disana, ternyata juga ada bekas jejak tanah liat atau lempung yang masih basah juga, terus aku keluar pagar kosan, aku cari tempat orang membuang sesuatu”

__ADS_1


“Pertama aku buka bak sampahnya, tapi kosong, kemudian aku lihat got depan kosan. Ternyata disana ada satu kresek berisi tanah liat yang sudah bercampur dengan air got”


“Yang goblok itu yang kasih tanah lempung, kenapa sampai segitu banyaknya bawa tanah kuburan, bisasane kan cuma segenggam saja, ini sampai satu kresek kecil tanah lempung kuburan heheheh” kata Blewah lagi


“Mirah penasaran dengan orang yang datang ke tempat kosan Chinta tadi, dan kata Mirah orang yang datang itu bukan orang jahat, dia memang akan membantu Chinta apabila terjadi sesuatu dengannya, itu hanya perkiraan Mirah saja” kata Blewah lagi


“Ndak papa,nanti saja kita bicarakan lagi masalah ini, karena merka sekarang sedang tertidur semua. Nanti kalau sampai rumah saudara Chandra, kita bisa bicarkan lagi saja rek” kata Dogel


*****


 “Mbak Winna, bangun. Kita udah sampai di kos an mbak Winna ini” panggil Dogel kepada Winna yang tertidur bersama kedua temanya yang duduk di baris paling belakang


“Huaaaahmm jam berapa sekarang ini mas” tanya Winna


“Pukul 23.45 mbak, gimana?” jadi masuk ke dalam rumah atau gimana mbak?” tanya Dogel


“Iya mas, tapi tolong temani saya masuk mas, kalian kan tau kalau kamar saya  itu mengerikan karena ada lemari aneh itu mas” jawab Winna


“Ayo sama saya saja dan pak Tembol, eh Indah ikut kita ya, Ngot jaga di mobil saja”


Akhirnya aku,Winna, Pak Tembol masuk ke kosan Winna melewati pintu depan, kos-kosan ini yang pada masa depan adalah toko Gemezzz yang kalau malam gini agak bikin merinding juga.


“Pak Tembol, sebelum saya masuk, tolong dilihat dulu keadaan kamar saya pak” kata Winna yang nampaknya ketakutan itu


“Sekarang kan ada nak Indah, biar nak Indah saja yang melihat keadaan kos kosan nak Winna, kita tunggu kabar dari nak Indah dulu saja nak”


Ruang tamu tempat kos Winna dalam keadaan gelap gulita, kebiasaan disini kalau malam memang lampu ruang tamu harus dimatikan untuk menghemat listrik. Tapi kalau di sebuah rumah kos seperti yang ditempati Winna ini jela horror juga.


“Eehh lampu ruang tamu apa ndak sebaiknya dinyalakan pak?” tanya Winna


“Ndak usah nak, biar Indah saja yang lihat kondisi disini, kalau memang aman, baru kita masuk ke kamar kamu” kata pak Tembol


Tidak perlu waktu lama Indah sudah kembali ke tempat kami yang ada dipojokan ruang tamu.


“Di dalam tidak ada tanah liat kuburan pak, tapi keliatanya habis ada sesuatu yang masuk kesana” kata Indah kepada kami


“Hmm maunya apa orang itu, kenapa dia sampai memasukan orang ke sini, dan menyebar tanah kuburan di tempat nak Chinta” gumam pak Tembol


Memang sih model kos an antara Chinta dan Winna ini berbeda, kalau Chinta kan berupa bangunan tingkat dua dengan kamar yang berjajar. Sedangkan yang ada di tempat Winna ini berupa sebuah rumah dengan kamar yang disewakan untuk tempat kos.


“Begini saja, biar saya dan nak Petro yang ambil pakaian nak Winna, dan tolong kasih tau kami apa saja yang harus kami ambil dari kamar nak Winna, ndang selesai, ndang ngungsi di tempat saudara nak Chandra, ndang mikir lagi apa yang selanjutnya kita lakukan”


Tetapi ketika aku dan pak Tembol akan masuk ke dalam kamar Winna, tiba-tiba Indah yang  tadinya ada di sekitar kami melarang untuk masuk ke dalam kamar Winna.

__ADS_1


“Pak , jangan masuk  dulu, di dalam ada poci yang baru  kelua dari lemari. Dia keliatanya sedang melakukan sesuatu di dalam kamar itu” kata Indah


__ADS_2