INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....33. Rencana menikahkan


__ADS_3

Rumah Painah seperti biasanya, pintu pagar  yang tidak pernah terkunci.


Tapi aku dan Ginten tidak berusaha masuk ke dalamnya, kai berdua hanya ada di depan pagar dan ingin bertema pada demit yang masih ada diluar.


Wujud demit itu agak ganjil.. Yah lebih tepatnya seperti manusia yang cacat tubuh.


Kepala yang sangat besar seperti terkena penyakit hidrosefalus, tangan kiri yang buntung, bentuk mata antara kiri dan kanan yang tidak simetris, dan keanehan lainnya.


Demit itu sedang melihat ke arahku, dia keliatanya tau siapa aku , tapi terus terang aku gak ada urusan sama dia, aku hanya ingin tau kenapa dia kok gak kesakitan seperti aku dan mungkin yang lainya yang ada di dalam rumah Painah.


“Heh demit.. Kenapa kamu kok gak kesakitan?”


“Siapa kamu… ternyata benar dugaanku, kamu bisa lihat saya” jawab demit itu


“IYa aku bisa lihat kamu dah yang lainnya… aku cuma mau tanya ke kamu, kenapa kamu tidak kesakitan seperti yang lainya?”


“Karena aku beragama!”


“Apa agamamu demit?”


“Agamaku kristen.. Jadi aku gak takut dan gak merasa kesakitan dengan suara adzan itu”


“Ah sudah kuduga hahaha pasti kamu bukan beragama Islam, terus yang pada masuk ke dalam itu kenapa?”


“Mereka kesakitan seperti kamu, tetapi pemilik rumah ini menjanjikan mereka yang ada di dalam sana tempat tinggal yang nyaman tanpa rasa sakit karena suara Adzan itu”


“Kok bisa yang punya rumah menjanjikan hal seperti itu demit?”


“Iya… tadi pemilik rumah ini datang ke  makam yang dekat dengan masjid itu…. Pemilik rumah ini berkata apabila ada yang kesakitan akibat suara masjid, bisa berlindung ke rumah saya saja”


“Waaw…pantesan tadi ketika kami berdua ke makam untuk menjenguk Painah, banyak demit yang keluar dari makam itu demit”


“Tapi apakah rumah ini memang maman untuk mereka semua demit?”


“Iya.. buktinya yang ada di dalam sana tidak keluar lagi.. Saya sebenarnya mau masuk… tetapi saya kan tidak merasakan kesakitan akibat suara adzan itu. Jadi saya tetap di luar saja dan nanti saya akan pulang ke rumah saya”


“Hahahaha bisa aja di Marwoto itu mencari dukungan demit yang ada di kuburan itu untuk mendapat perlindungan dan mencari pasukan”


“Kalian berdua ini siapa.. Kenapa di dalam tubuh kamu ini ada kekuatan iblis ?”


“Hehehehe saya Rochman … saya setan dari masa lampau .,. Eh..lebih tepatnya setan yang pensiun dan  dapat kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan di dunia”


“Wah hebat juga.. Apakah dosa-dosamu sudah diampuni Tuhanmu hingga kamu menjadi calon penghuni syurga?” tanya demit itu


“Hahahahah aku tidak punya Tuhan… aku hanya punya raja iblis dan aku tetap akan bahagia ada di dalam neraka yang sangat dalam”


“Ah  ternyata kamu  ini setan gila… maaf saya kira kamu ini adalah calon penghuni syurga”


“Hehehe buat apa cari syurga kalau kita sudah nyaman ada di neraka, dan saya tidak akan mau memeluk agama manapun”


“Eh kamu tinggal dimana Rochman?”


“Aku dan GInten ada dirumah ujung sana, yang dulu ditempati oleh mahasiswa perempuan”


“Kalok kau mau main ke rumahku ya tidak papa, tapi ya hanya rumah yang sederhana ,dan tidak ada makanan untuk demi berupa kemenyan, dupa atau lainya”


Hmm jadi gini caranya si Marwoto mencari bantuan demit yang akan menolongnya, dia mencari di tiap kuburan yang dekat dengan mushola atau Masjid.


Aku rasa cukup untuk sekarang ini, nanti tengah malam aku dan Ginten akan kesini lagi untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Marwoto.


“Ayo Ten…kita pulang saja, tengah malam nanti kita kesini lagi”


“Man… coba kamu lihat di balik jendela kamar rumah Painah… ada yang sedang memperhatikan kita”


“Hehehe iya…dari tadi aku juga sudah lihat. Dan yang ada di kamar itu bukan Marwoto atau Suparmi, melainkan itu Suharto”

__ADS_1


“Dan dia kelihatannya tau apa yang sedang bapaknya lakukan, dan dia kelihatanya tidak suka dengan yang dilakukan bapaknya Ten”


“Benar Man…kapan-kapan kita bisa dekati Suharto itu.. Untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh bapaknya Man”


“Eh Demit…. Siapa namamu?”


“Saya belum punya nama… saya dibunuh ketika ada di dalam kandungan, jadi belum ada yang memberi saya nama”


“OH ya wis.. Akan aku carikan nama yang pas buat kamu mit demit….”


“Tapi kalau kamu belum punya nama, bagaimana kamu bisa punya agama?”


“Hehehe mudah saja.. Waktu itu saya bertemu dengan hantu pendeta.. Saya ditawari masuk agama dia.. Yah apa salahnya untuk  dekat dengan Tuhan.. Ya saya mau aja ikut dengan agama hantu pendeta itu”


Aku dan Ginten berjalan pulang, sengaja ku jalan agak cepat, karena sebentar lagi adzan isya berkumandang, dan aku gak mau kesakitan seperti tadi.


Aku merasa ada yang tidak beres dengan yang akan dilakukan oleh Marwoto di rumah Painah itu, aku merasa ada yang janggal disana.


Tapi aku harus tau apakah itu merupakan sebuah rencana marwoto untuk desa ini atau untuk desa sebelah, karena apabila itu adalah rencana untuk desa sebelah, aku harus melindunginya.


Karena nantinya aku akan tinggal disana bersama Ginten.., aku nggak mau ada apa-apa dengan tempat yang aku akan tinggali.


“Kok kamu dari tadi diem aja Man?”


“Pasti kamu lagi mikir sesuatu kan Man?”


“Iya Ten… aku sedang berpikir tentang Marwoto dan apa yang akan dilakukan Marwoto dan Ginten di desa sebelah”


“Kok kamu mikirnya sampai ke sana Man, bukanya misi kitas sudah mulai berjalan dengan pindahnya Marwoto kesini?”


“Iya Ten.. hanya saja aku merasa kayaknya ada yang tidak benar dengan memindahkan Marwoto kesini”


“Kayaknya bakal ada masalah lagi dengan memindahkan Marwoto kesini Ten”


“Gini saja Man… tengan malam nanti sebelum kita ke tempat Marwoto… kita ke Painah dulu saja. Diskusi dengan dia dulu saja Man”


Menunggu tengah malam tiba, aku terus memikirkan apa yang akan terjadi disini atau di desa sebelah, aku terus  berpikir tentang sesuatu yang akan menimpa desa sebelah setelah kepergian Marwoto dari sana.


Bukanya aku takut akan terjadi apa-apa disana, tetapi  dengan adanya Marwoto disini pun aku takut kalau disini maupun disana akan ada sesuatu yang akan terjadi.


Karena apa, karena tidak ada pengaruhnya dia ada disini atau disana, jauh atau dekat dengan ibunya sama saja. Malah yang aku takutkan adalah seorang ibu yang akan menuruti apa kemauan anaknya hanya dalam usaha untuk bisa dekat dengan anaknya lagi.


“Ten.. kamu lagi ngapain ?”


“Lagi liatin tingkahmu yang aneh Man.., dari tadi kamu melamun terus.. Saya gak mau mengganggumu Man”


“Sini Ten,... aku butuh pelukanmu Ten, aku pengen manja sama kamu Ten… ndak tau pikiranku kok rasanya ruwet Ten”


Ginten yang tadinya sedang duduk di pojokan kemudian merangkak mendatangi aku.


Dia duduk di sebelahku, entah aku merasa nyaman kalau bisa dekat tubuh Ginten.. Rasanya aku gak mau kehilangan Ginten.


Aku rangkul Ginten yang ada di sebelahku. Aku ciumi leher Ginten…


Tidak tau kenapa tiba-tiba aku punya kemauan untuk lebih dekat dengan Ginten…kemudian aku sandarkan kepalaku ke pundak Ginten.


“Kok aneh kamu Man…memangnya kamu lagi mikir apa Man?”


“Ndak tau Ten..pokoknya kepalaku saat ini rasanya berat sekali Ten”


“Aku merasa apa yang kita lakukan dengan membantu Painah ini akan berakibat buruk bagi kita berdua”


“Maksudmu apa Man?”


“Kita berdua sudah punya identitas diri Ten… kita punya rencana untuk tinggal di desa sebelah…. Tapi dengan keadaan Marwoto yang sekarang ada disini, aku makin merasa khawatir Ten”

__ADS_1


“GIni aja Man.. sekarang yang sedang kamu  pikirkan apa?”


“Aku nggak tau Ten… pikiranku banyak dan campur campur”


“Coba kamu pilah Man…pikiran yang paling buat kamu khawatir itu apa?”


“Pikiran seorang ibu yang akan melakukan apa saja agar anaknya bisa dekat dengan ibu itu Ten”


“Itu yang sekarang jadi pikiranku Ten


“Painah yang akan melakukan apa saja agar Marwoto bisa dekat dengan dia lagi… gitukah yang sekarang sedang kamu pikirkan Man?”


“Iya Ten… itu yang sedang aku pikirkan..”


“Saya paham Man, dan masalah ini harus kita sampaikan ke Painah, kegalauanmu ini beralasan Man.. kamu tidak akan dapat jawaban apabila kita tidak tanya ke ibunya langsung”


“Nanti malam ya Ten.. kamu yang bilang ke Painah Ten…”


“Iya Man… saya akan bilang ke Painah” Kata Ginten yang kemudian berbalik arah menatapku dan membenamkan wajahku ke bagian dadanya yang ukurannya nggilani.


*****


“Kalian tidak usah khawatir kan saya” kata Painah


“Yang harus kalian khawatirkan adalah dia mulai menggalang demit-demit disini untuk menjadi anak buahnya, seperti yang dia lakukan di desa sebelah”


“Iya kami tau itu mbok Painah, tetapi  yang kami takutkan itu … maaf ya mbok.. Apabila Marwoto mulai dekat dengan mbok Painah, dan kemudian dia meminta bantuan kepada njenengan untuk melakukan hal-hal yang negatif”


“Sementara itu mbok Painah merasa.. Aduh ini anakku….. Aku harus bantu anakku apapun yang terjadi… istilahnya cinta ibu kepada anaknya itu tidak ada batasnya” kata Ginten


“Yah hal itu bisa saja terjadi pada orang tua kepada anaknya, dan hal itu tidak mungkin bisa dihindari, tetapi tidak semua orang tua itu akan meloloskan permintaan anaknya”


“Yang penting untuk saat ini kalian berdua bikin desa sebelah tenang dulu dengan kepergian anak saya…”


“Bikin desa sebelah itu tetap seperti sedia kala dan jangan sampai berubah. Jangan lupa jaga desa itu, karena bisa saja anak saya tidak terima dengan keadaan ini”


“Satu lagi yang paling penting untuk kalian berdua. Buatlah keluarga kecil yang bahagia.. Bukankah disana ada rumah Ginten…. “


“Hmmm kok kelihatannya ada yang berubah sama kamu Rochman…. Sepertinya kamu dan Gdfinten habis melakukan  ehem ehem dengan sukses ya?”


Sialan…..aku ketauan mbok Painah… !


Ini gara-gara Ginten yang mulai membenamkan wajahku ke dadanya tadi…akibatnya semua menjadi keterusan dan berkelanjutan!.


Tapi tetap saja rasanya hambar. Aku tidak bisa merasakan sesuatu yang istimewa.


“Nganu mbok… semua terjadi karena tidak sengaja..”


“Disengaja atau tidak…semua akhirnya terjadi juga kan Man… dan kamu tidak menolaknya kan Man?”


“Nah kalau sudah seperti ini kalian lebih baik menikah saja…. Bukannya kalian sudah punya KTP  yang menyatakan status kalian ini Menikah, meskipun tidak ada buku nikahnya”


“Tapi mbok….”


“Gak usah pakek tapi-tapian…. Kamu akan saya nikahkan, tapi hanya nikah siri saja…”


“Kebetulan saya kenal seorang ustad  di daerah sini, dia beberapa kali minta bantuan saya untuk memecahkan kasus ghaib yang tidak bisa diselesaikan oleh manusia”


“Besok pagi kalian jangan kemana-mana, jangan ke rumah Ginten dulu… akan saya datangkan seorang ustad untuk menikahkan kalian”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Untuk para pembaca...


saya mohon maaf.... untuk sejarah rochman ini akan saya buatkan novel tersendiri terpisah dari novel ini...

__ADS_1


hal ini dikarenakan ada teguran dari pihak NT.


Jadi mohon maaf Dan terima kasih


__ADS_2