INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 140 (MAYAT NENEK BERKAOS KUNING)


__ADS_3

“Wis aku ae Wah yang deketin memedi iku, siapa tau ternyata deke iku agen togel yang nyamar Wah hihihihi” kata Petro yang kemudian mendekat ke arah orang yang sedang Jongkok dan memakai kaos berwana kuning itu


“Sik Tro, ojok-ojok itu orang lagi ngising Tro, perhatikan dulu bagian bawah nya Tro, jangan sampai kita membuat kaget orang yang sedang ngising, bisa-bisa tae’nya masuk lagi ke dalam, kan kasihan Tro” kata Ngot


“Gigikmu rebondingan Ngot!. Mana ada orang ngising di sini, iya nek kamu, ngising di depan got  rumahnya orang cyook!” jawab Petro yang pelan-palan jalan mendekati orang yang sedang jongkok di pinggir dinding terowongan


“Ojok lali sapu lidimu siapkan Tro, siapa tau tiba-tiba orang itu berbalik arah dan menerkam kamu cyok!”


“Wis ojok berisik Wah, aku lagi konsentrasi iki hehehehe” jawab Petro yang ternyata sudah siap dengan sapu lidi di tanganya.


Petro berjalan semakin mendekati sosok orang yang secara samar-samar sedang jongkok di depan kami, tetapi masak iya sih ada manusia yang bisa hidup disini?


Petro sudah ada di belakang sosok yang memakai kaos kuning yang kemungkinan besar kaos pemberian partai politik yang sedang malakukan kampanye heheheh.


Dengan keberaniannya tangan kanan memegang sapu ijuk atau sapu lidi , tangan kirinya menyolek bahu sosok yang memakai kaos kuning dengan gambar lambang partai politik di tengahnya.


Ketika beru saja dicolek, ternyata sosok itu jatuh terjengkang ke depan dengan tulang belulang  dan tengkoraknya yang jatuh berantakan.


“Asem igh.. tibake mayat yang sudah kadaluarsa rek hehehehe” kata Petro


“Onook maneh kata-kata mayat kadaluarsa rek hahahah. Orang itu sudah mati lama Tro hehehe nyalimu sangar rek” kata Ngot


Ternyata yang ada di depan itu adalah mayat yang sudah lama mati, keliatanya mayat perempuan tua yang memakai kaos partai berwana kuning dengan bawahan jarik batik yang sudah kusam warnanya.


“Aku lho sudah tau dari awal kalau itu mayat yang sudah lama. Mangkane aku ndak maju hehehe” jawab ngot


“Aku kok rasane pernah tau sosok yang memakai kaos partai kuning dengan jarik batik yang lusuh ya hehehehe, tapi aku aku males ingat-ingat ah” kata Dogel


“Gak ngurus raimu Gel, koen iku cuma pangecut banyak bacot cyok!” tukas Blewah


“Mas Petro nyalinya luar biasa hehehehe, boleh dong pimpin kita, mas Petro jalan di depan ya, biar Mirah yank yank an sama mas Blewah hihihihi” kata Sumirah


“Oooo arek gendeng, yank yank sama diri sendiri, ya wis gak papa aku di depan sama mbak Bashiii hahahah” kata Petro kemudian jalan lagi


Perjalanan yang mereka tempuh semenjak bertemu dengan mayat yang kata Ngot adalah mayat kadaluarsa itu semakin menanjak, seolah-olah mereka menuju ke  daerah pegunungan.

__ADS_1


“Rek, kalian apa ndak merasa haus ta?” tanya Dogel  kelelahan


“Ya pastinya haus Gel, tapi kan kita masih ada di dalam terowongan, dan untungnya hawanya mulai terasa dingin, mungkin di depan sana ada kulkas yang tutupnya terbuka” jawab Petro asal


“Tenang Gel, nanti di depan ada warung yang jual minuman dan jual nasi rames plus ind*mie kok, hihihih” jawab ku


Kucing hitam bernama mbah Bashi berjalan berdampingan dengan Petro, kadang Petro menggendong kucing itu, kadang kucing itu dibiarkan jalan sendiri sesuai dengan instingnya.


Hingga pada suatu daerah yang makin terjal tanjakanya kami merasa kecapekan dan kehausan yang sudah pada tingkat level es campur.


“Jarak ini masih jauh kah Ndak, Ndah?” tanya Petro yang ada di posisi depan


“Keliatanya sebentar lagi kita sampai di ujung terowongan mas” jawab Indah yang ada di posisi paling belakang


“Iya rek, kita harus segera keluar dari sini lho, soale minyak tanah yang ada di lampu minyak ini mungkin tinggal sedikit” kata Blewah sambil menggoncang-goncangkan isi minyak yang ada di dalam lampu teplok itu


Kucing mbak Bashi mengeong pelan sambil menoleh ke arah kami, mungkin dia menyuruh kami untuk melanjutkan perjalanan segera mungkin.


“Ayo lanjut rek, kata mbak Bashi sebentar lagi kita sudah sampai di ujung terowogan dan disana ada warung yang jual aneka gorengan dan minuman dingin rek hehehehe” kata Petro


“Gimana gel, dilanjut apa ndak kita ini Gel” tanya Petro kepada Doegl yang masih saja diam


“Karepmu tro, terserah apa katamulah rek” jawab Dogel


“Ok gel, kita jalan lagi sampai di ujung terowongan yo. Ayo rek jalan lagi, Mbak Bashi sudah mulai jalan iki rek” kata Petro bersemangat.


Hawa di terowongan ini semakin menanjak semakin dingin, apa mungkin di sekitar sini ada mata airnya ya, atau kami sekarang ada di atas pegunungan? Sebenarnya ini perjalanan yang nekat. Karena kita tidak tau dimana akhir dari terowongan ini.


Kalau seumpama berakhir di sebuah hutan atau tanah datar ya ndak papa, lha kalau ternyata berakhir di sebuah jurang yang cadas dan terjal apane gak kita harus balik lagi dengan perjalanan yang memakan waktu tidak sebentar ini.


“Rek, kalian merasakan adanya angin semilir rek, koyoke kita sudah dekat dengan pintu keluar dari terowongan ini rek” kata Petro yang ada di posisi depan bersama mbak Bashi


“Iya Tro, ada angin semilir yang bisa aku rasakan, ayo lebih semangat lagi rek, siapa tau kita sudah dekat dengan ujung terowongan dan disambut tujuh puluh dua bidadari heheheh”


“Cyook Wah! iku lak matek cyook!” teriak Petro

__ADS_1


Mbak Bashipun merasa terpacu juga, dia mempercepat langkahnya. Angin semilir semakin terasa di wajah  kami, samakin lama di kejauhan ada secercah cahaya yang nampak.


“kita sudah dekat rek hehehehe, aku penasaran iki, kita nanti tembus dimana ya hihihih” kata Petro


Udara dingin dan cahaya yang semakin dekat di depan makin meyakinkan kami bahwa kami sekarang ada di daerah pegunugan, bukan ladi di Mjkt yang letaknya di dataran rendah meskipun sejauh 60 km lebih dari garis pantai.


“Ternyata apa yang kupikirkan bener, kita ada di lereng jurang rek” kataku dengan lemas


“Iyo Wah, tapi untunge lereng ini cukup landai untuk dilewati rek, tapi kita harus kemana ini Wah?” tanya Petro


Kami sekarang ada di pintu masuk gua yang tetutup oleh semak belukar, dan ketika tadi kami buka  ternyata kami ada di lereng jurang yang landai, tetapi yang jadi pertanyaan, kami harus ke atas atau kebawah.


Kucing hitam mbak Bashi, seekor kucing yang kutemukan secara aneh di dalam kamar mandi toko Gemezzz ini ada di sebelahku. Dia hanya duduk sambil melihat ke sekeliling.


“Sik bentar Tro, tak liatnya di sekeliling sini, siapa tau ada jalan setapak  yang bisa kalian lewati” kata Ngot yang kemudian pergi meninggakan kami untuk mencari cara agar kami yang manusia bisa melewatinya.


Suasana di sekitar mulut terowongan ini merupakan jurang landai yang penuh dengan semak belukar, termasuk semak belukar yang menutupi sebagian besar mulut terowngan.


Tidak lama kemudian Ngot datang lagi setelah melihat sekeliling jurang.


“Kalok kalian mau ke atas jelas tidak mungkin rek, karena di atas itu berupa tebing batu cadas yang terjal, jadi satu-satunya cara adalah turun ke jurang melewati jalan setapak yang ada di sebelah kiri kalian rek” kata Ngot


“Nanti di bawah sana ada mata air yang sangat jernih, dan airnya bisa kalian minum” lanjut Ngot yang sekarang ada di sebelah kami.


“Jurang ini namanya jurang samber Nyowo” kata Indah tiba-tiba


“Kok kamu tau Ndah?” tanya Petro


“Tadi  indah liat di google map hihihih, ndak ndaaak  hehehe, kan indah syudah mati. Indah merasa pernah ada disini mas, Indah merasa pernah ada di sini sebelumnya” jawab Indah


“Ya sudah, ayo kita jalan rek, Ngot kamu di depan kami Ngot kamu yang buka jalan, Indah kamu di belakang, lihatin kita dari belakang ya” kataku kepada Indah


Petro menggendong mbak Bashi agar dia tidak hilang di hutan, sementara itu lampu minyak sudah kumatikan. Dogel ada di belakangku dengan tidak bersuara sama sekali.


Betul juga kata Ngot, kini Petro berjalan mengikuti Ngot dan ternyata ada jalan setapak yang menurun. Jalan itu berupa batu kali yang ditata sedemikian rupa hingga menyerupai jalan setapak. Mbak Bashi santai ada dalam dekapan Petro, selama perjalanan dia tidak menampakan sikap waspada sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2