
Mobil sudah kusiapkan, rumah sudah terkunci aman, anjing siluman sudah siaga di depan rumah, anak-anak kecil sudah siaga di dalam rumah.
"Ayo kita berangkat mas, semakin cepat semakin baik mas" kata Indah
Tengah malam pukul 24.15 kami meninggalkan rumah menuju ke toko Gemezz hanya untuk menuruti perasaan Indah saja yang mengatakan kalau disana mungkin sedang ada sesuatu, dan mbah Saripah ingin bertemu dengan kami secepatnya.
Jarak antara rumah mbahku sampai di toko Gemezzz tidak jauh, mungkin hanya sekitar sepuluh menit perjalanan dengan mobl, kami sekarang sudah ada di sekitar toko Gemezzz.
“Mas, parkir disana saja mas, agar tidak mengundang perhatian orang” Kata Indah sambil menunjuk ke area yang terlindung dengan pohon yang rindang, tempat biasanya kami parkirkan mobil ketika mengintai keadaan toko Gemezzz
“Mas Glewo dan mbak Sumirah tunggu disini ya, jaga dan siap apabila terjadi sesuatu ya, saya mau kesana sama mas Agus” waduh Indah kok malah gitu sih, malah merinding aku. Sakjane ada apa sih ini
Aku dan Indah menyeberang jalan yang sudah sepi karena sudah melewati tengah malam. Malam Ini toko Gemezzz tetap terlihat sama dengan malam-malam sebelumnya, sepi gelap dan kotor penuh debu dan sampah daun.
“Mas kita ketemu sama mbah Saripah disamping saja mas, dibawah pohon yang kemarin mas Agus panjat itu” kata Indah yang kemudian mengajaku ke halaman samping toko yang gelap gulita.
Kami berdua ada dibawah pohon yang sekarang semakin rindang dan sekarang malah dihuni oleh para tante-tante girang berdaster putih berambut gimbal yang suka tertawa cekikikan dan mengerikan itu. Makanya akusebut tante girang , soalnya semua suka tertawa sedirian
“Tunggu disini mas, Indah mau memanggil mbah Saripah dulu”
“Memangnya ada apa sih Ndah, kok sampek mbah Saripah manggil kamu segala?”
“Mbah Saripah bukan butuh sama Indah mas, tapi Beliau butuh sama mas Agus” kata Indah dengan singkat jelas dan padat
Aku dan Indah duduk di sebuah batang kayu besar yang melintang diantara semak dan rerumputan. Ketika kami sedang menunggu mbah Saripah, tiba-tiba ada seberkas sinar sebesar bola tenis yang yang berasal dari atas atap toko.
Sinar itu tiba-tiba berubah menjadi sosok manusia yang bernama mbah Saripah. Tetapi bukan sosok manusia yang nyata, hanya berupa bayangan yang hampir nyata.
“Selamat malam mbah, kami datang sesuai dengan permintaan mbah Saripah” kata Indah
“Selamat malam juga cucuku sing ayu, memang mbah sempat kirim telepati ke dirimu cu, karena mbah perlu sama nak Agus “ kata mbah Saripah sambil melihatku
“Inggih mbah, ada yang bisa saya bantu mbah?” tanyaku dengan sesopan mungkin
__ADS_1
“Begini nak Agus, ehmm nak Agus kan dari pct, dari hotel Waji, betul kan nak?”
“Emhhh, dan kalian kan sempat ketemu dengan mbah Joyo yang sekarang sudah meninggal dan abunya sudah kalian larung di sungai Berantas kan?”
Wah, makin aneh saja ini, kenapa sampai mbah Saripah bisa tau tentang apa yang terjadi di pct ya? Dan sekarang malah nyandak-nyandak mbah Joyo yang sudah almarhum sisan.
“Iya mbah , eeh ada apa dengan mbah Joyo ya mbah, kok mbah Saripah bisa tau?”
“Gini nak, kegiatanmu di hotel Waji yang sempat bikin bingung dunia ghaib di segitiga mjkt, pct, dan Gebang ini mengakibatkan saya sebagai penjaga mjkt merasa kalian sudah melangkah terlalu jauh”
“Meskipun sekarang mbah Joyo sebagai penjaga di Pct sudah meninggal, saya tetap bisa kontak beliau, karena arwah beliau masih ada di sekitar sana, lebih tepatnya di sekitaran warung dia nak”
“Tapi bukan itu masalah yang mbah khawatirkan, disini kalian sudah membangunkan amarah yang namanya tidak boleh disebutkan itu nak, yang kalian tau sebagai Totok itu”
“Dia marah besar karena teman kalian telah menemukan Dompet yang sudah lama dicari-cari oleh yang namanya tidak boleh disebutkan itu nak”
“Saya tidak tau apa isi dompet yang ditemukan oleh teman kamu, bahkan kenapa dompet itu menjadi biang kemarahanya, saya juga belum paham nak”
“Dan juga kenapa dompet itu bisa sampai tidak ditemukan oleh yang tidak boleh disebutkan namanya itu juga saya belum tau”
“Hotel itu sekarang mirip dengan gunung yang siap meletus nak, dan sayangnya sekarang gunung itu sudah mulai mengerluarkan laharnya, sekarang yang namanya tidak boleh disebutkan itu mulai menjalin hubungan dengan penguasa vila putih di Gebang Prgn setelah sekian lama mereka berpisah”
“Dan aktifitas yang tidak boleh desebut namanya itu merupakan suatu masalah serius bagi demit-demit di sekitarnya yang mengakibatkan ketidak seimbangan alam ghaib disekitar sini dan sana”
Mbah Saripah terdiam sejenak setelah mengatakan kalimat terakhir itu, dia sempat mengambil nafas panjang dan kemudian melanjutkan omongannya lagi.
“Semua masalah ini hanya kamu yang harus dan bisa menyelesaikanya, hal ini sudah digambarkan jauh hari oleh leluhur-leluhur disini”
“Pesan saya satu saja, jangan main-main dengan yang ada di vila putih Gebang, masalahmu disini sudah terlalu berat, kamu tidak akan mampu apabila yang disana mulai ikut campur urusanmu nak”
“Pokoknya selesaikan sebelum gunung api ini meletus, sekarang masih melelehkan laharnya, kamu harussegera tutup lahar itu agar tidak meletus lebih hebat lagi, paham kan nak apa yang saya katakan” kata mbah Saripah
“Sebenarnya saya ini kan sedang mencari orang yang mengakibatkan lagu kami menjadi ajang untuk bunuh diri mbah, selain itu saya sedang mencari jasad Indah ini” sambil kulihat Indah
__ADS_1
“Mbah paham apa yang kalian lakukan itu baik, tetapi sekarang kalian sudah melangkah terlalu jauh , hingga apa yang menjadi tujuan kalian secara tidak sengaja sudah terlewatkan”
“Sekarang kalian sudah masuk lebih jauh ke area yang tidak boleh dimasuki, bahkan sekarang banyak ghaib yang resah akibat apa yang kalian lakukan”
“Lantas bagaimana mbah? Apa yang harus kami lakukan?”
“Apa yang harus kalian lakukan?, hehehe itu pertanyaan yang tidak tepat untuk ditanyakan nak, karena semua ini kalian yang memulai, sehingga kalian lah yang harus menyelesaikannya”
“Mohon bimbinganya mbah, saya harus mulai dari mana mbah, saya takut kalau salah langkah lagi dan mengakibatkan meledaknya gunung yang lain”
“Kalimat ini yang saya tidak suka. Setelah apa yang kalian lakukan memporak-porandakan apa yang sudah ditata oleh leluhur disini, sekarang kalian tanya apa yang harus dilakukan” kata mbah Saripah dengan nada yang tidak ramah
“Begini saja, tujuan akhir kamu adalah membunuh yang tidak boleh disebut namanya, atau yang kalian biasa panggil Totok itu”
“Untuk ke arah sana, kalian harus mencari jejak awal dia sebelum menjadi penguasa yang namanya tidak boleh disebutkan. Carilah siapa yang pertama kali dia temui sebelum dia menjadi yang ditakuti oleh Demit di area segitiga Mjkt, Pct, Prgn”
“Kalau kamu bingung, saya dan mbah Joyo siap untuk membantumu. Tapi hanya membantu dalam memberi informsi saja, kami tidak ingin beradu kekuatan dengan mereka”
“Dan kalau kamu telanjur melangkah ke Vila putih, segera temui pemilik depot makanan yang bernama SARIJEMB atau biasa saya panggil mbaH SARI”
“Memang dia sudah lama meninggal, tetapi kamu pernah bertemu dengan beliau waktu kamu makan di sebuah depot makanan bersama Totok itu”
“Mbah Sari atau Sarijemb akan membantumu sebatas kasih informasi seperti saya ini, tidak lebih dan tidak kurang”
“Ya sudah mbah, akan saya selesaikan apa yang sudah saya mulai. Sekarang apa yang harus saya lakukan mbah. Saya tanya ini agar tidak salah langkah lagi yang mengakibatkan gunung lainya akan meletus mbah”
“Sekarang kamu pulang dan lakukan kegiatanmu, kamu harus bisa merasakan getaran-getaran halus dari gelombang energi di sekelilingmu yang dikeluarkan oleh mahluk tak kasat mata.
Biasanya apabila sedang terjadi sesuatu, maka mahluk tak kasat mata itu akan mengeluarkan gelombang energi yang berbeda.
“Dari gelombang energi itu adalah merupakan pertanda sedang terjadi sesuatu dan kamu akan tau apa yang kamu akan lakukan nak”
“Untuk saat ini kamu coba untuk berdiam diri, dan rasa keheningan serta gelombang yang dipancarkan oleh mahluk tak kasat mata disekelilingmu”
__ADS_1
“Dari sana kamu akan bisa menemuiku, mbah Joyo dan mbah Sari atau Sarijemb yang ada di Gebang. Sekarang pulanglah , karena sudah hampir pagi”
Setelah berkata seperti itu , kemudian mbah Saripah menghilang dari hadapan kami berdua.