INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 206 (KERASAN?)


__ADS_3

“Ini lebih mirip dengan kamar tahanan nak, tapi kenapa kosong? Kalau benar teman kita ada disini ya berarti kita harus ajak mereka keluar dari sini dengan membobol pintu tahanan ini nak” kata pak Tembol


“Tapi selama kita jalan kenapa kamar-kamar itu kosong semua pak, kita harus cari kedua teman kita pak, ingat kita tidak punya waktu banyak untuk selamatkan teman kita pak” kata Dogel


Ruangan berbentuk persegi dan saling berhadap-hadapan ini lumayan luas juga, tetapi kami belum juga menemukan kedua teman kami yang katanya ada disini. hingga sampai hampir habis kamar-kamar itu kami lewati tapi kedua teman kami belum juga kelihatan.


“Pak, kenapa kok belum kelihatan juga Blewah pak, dimana mereka berdua pak, tinggal dua kamar lagi tapi teman kita belum juga kelihatan pak” kata Dogel


“Kita periksa dengan teliti lagi saja nak, siapa tau ada kamar di balik kamar nak, karena cuku aneh juga, kenapa sampai ruangan-ruangan itu kosong, kalau kosong kenapa sampai dijaga dengan anjing kan nak” kata pak Tembol


Kami ulangi lagi berjalan dari ujung ke ujung untuk melihat kembali keadaan di dalam ruangan itu, dan ternyata memang tidak nampak sosok sama sekali di tiap ruangan yang ada disini. Apakah memang ada ruangan rahasia lagi disini yang kita tidak tahu?


“Harusnya tidak sesepi ini nak, harusnya ada yang ditahan disini, tapi kenapa kok disini tidak ada orang sama sekali” kata pak Tembol


Kita naik keatas dulu nak, karena disini sudah kita periksa hingga dua kali tetapi tidak ada siapapun yang ada di dalam ruangan di dasar kolam renang ini.


“Hmmm saya tau nak!. Tahanan itu tidak ada disini, tetapi tahanan itu ada di ruangan lain. Memang benar anjing itu menunjukan tempat ini, ini memang tempat mereka ditahan, tapi mereka saat ini tidak ada disini siang ini, mereka lebih memilih tinggal di rumah atas sana”


“Kenapa pak Tembol kok bisa berpikiran begitu pak, apakah bapak lihat ada yang disini sebelumnya pak” tanya Dogel


“Tadi saya lihat di salah satu ruangan yang ada diujung sana, di dalam situ ada tempat tidur yang acak-acakan, jadi pikiran saya di sana pernah ditiduri, jadi ada yang pernah tidur disana tetapi saat ini mereka tidak ada disana” kata pak Tembol


“kita kembali lagi saja ke permukaan nak, kita cari di tiap ruangan yang ada di rumah ini, karena ruangan yang ada di rumah ini masih banyak yang belum kita lihat nak”


Kami akhirnya naik kembali ke atas melalui kabut hijau yang sangat bau itu hingga kami sekarang ada di tepi kolam renang dimana anjing penjaga rumah ini masih menunggu kami di pinggir kolam renang. Anjing itu gembira ketika melihat kami keluar dari dalam kolam.


“Coba nak Petro ajak bicara anjing itu, siapa tauuuu, siapa tauuu dia pahan dengan omongan nak Petro, dan akhirnya dia akan menunjukan dimana kedua teman kita berada nak” kata pak Tembol


Kuhampiri anjing yang masih duduk menanti kami dengan setia. Kemudian aku bicara di depan anjing itu koyok wong edan, sakjane ya percuma juga kita bicara dengan hewan, tapi apa salahnya kita coba dulu siapa tau anjing itu paham dengan omongan ku.


Anehnya setelah aku bicara dengan anjeng itu, tiba-tiba anjeng itu berdiri dan seolah mengajak kami menuju ke tempat lain yang belum kami periksa..


“Apa kita ikuti anjing itu lagi pak” tanya Dogel


“Kita ikuti saja nak siapa tau dia mengajak kita ke tempat yang tadi nak Petro sempat katakan kepada asyu itu nak” jawab pak Tembol

__ADS_1


Anjeng itu tidak kembali ke tempat kami tadi datang, tapi anjeng itu mengajak kami ke arah samping kolam renang, disana ada semacam bangunan tersendiri yang tertutup rapat, kami berjalan menuju ke arah yang dituju asyu itu.


Mungkin bangunan itu dulunya tempat untuk kamar ganti setelah mandi di kolam renang, juga mungkin juga tempat untuk menyimpan peralatan untuk membersihkan kolam renang.


“Perasaan saya di dalam bangunan berbentuk persegi yang tertutup ini kita akan bertemu dengan mahluk lainya dan kemungkinan juga teman kita nak, ayo kita cari dimana pintu masuknya nak” kata pak Tembol


Anjeng itu terus menuntun kami ke samping bangunan berbentuk persegi itu, dan ternyata di samping ada sebuah pintu yang dalam keadaan tertutup. Jadi kami harus membukanya untuk bisa masuk ke dalamnya. Anjeng itu duduk di depan pintu yang harus kami buka untuk tau apa yang ada di dalamnya.


“Sebentar pak, biar saya bukanya saja pak. Saya juga curiga kalau di dalam sana ada sesuatu yang kita cari pak” kata Dogel yang kemudian mendekati pintu yang dalam keadaan tertutup itu


Dogel menempelkan telinganya di sisi pintu itu untuk mengetahui apakah ada kegiatan di dalam sana, Dogel beberapa kali memindah posisi telinganya agar terdengar suara yang ada di dalam ruangan itu.


“Di dalam tidak terdengar suara apapun, tapi kita tetap harus membukanya untuk mengetahui apa yang ada di dalam sana, kalau kita cuma mencuri dengar seperti ini jelas ndak akan tau apa yang ada di dalam sana” kata Dogel setelah selesai menempelkan telinganya di sisi pintu


Kemudian dogel memegang handle pintu yang terbuat dari besi kuningan, berbeda dengan yang ada di dalam rumah yang terbuat dari stainless steel itu. Secara perlahan Dogel memutar gagang pintu yang berbentuk bulat hingga terdengar bunyi klek sebagai tanda bahwa pintu itu sudah bisa dibuka.


Dogel menoleh ke arah pak Tembol untuk meminta persetujuan menarik atau mendorong pintu yang gagang pintunya sedang dia pegang itu. Pak Tembol menganggguk tanda setuju kepada Dogel untuk membuka pintu itu secara perlahan lahan.


Dogel menarik daun pintu itu hingga keadaanya terbuka lebar, ketika daun pintu itu sudah terbuka, tiba-tiba anjeng yang menuntun kami hingga sampai disini itu masuk ke dalam bangunan yang berbentuk persegi itu, dia masuk dan menoleh ke arah kami yang masih ada di luar.


“Ayo kita masuk anak-anak, keliatanya anjeng itu menyuruh kita untuk mengikutinya lagi nak” kata pak Tembol


Pak Tembol memasuki ruangan yang sudah terbuka pintunya itu, diikuti oleh aku dan Dogel. Kami berjalan pelan dan tentu saja sambil tolah toleh, karena di dalam sini ternyata ada dua sekat ruangan dengan shower di atasnya yang gunanya untuk bilas diri setelah kita berenang di dalam kolam renang yang mungkin sebelumnya berisi air itu


Tetapi di bagian dalam ada ruangan lagi yang lebih besar dari pada tempat bilas diri itu, dan ruangan itu ada juga pintu yang harus kami buka untuk bisa masuk kedalamnya.


Anjeng itu lagi-lagi duduk di depan pintu yang dalam keadaan tertutup itu, kemudian dia memandang kami, mungkin dia berkata agar kami membuka pintu itu dan masuk ke dalamya, heheheheh itu mungkin lho ya.


“Biar saya bukanya saja nak, kalian agak jauh dari posisi saya nak, agar kalau ada apa-apa kalian bisa selamatkan diri dengan lari dari sini sekencang mungkin menuju ke luar nak” kata pak Tembol yang sudah siap untuk membuka pintu itu


Pelan-pelan pak Tembol membuka pintu yang ada di depanya, pelan-pelan dia dorong pintu itu ke dalam, akhirnya pintu itu terbuka dan di dalamya ada hal yang tidak kami duga sama sekali.


Gelap dan temaran, kadang  lampu warna warni dan lampu sorot menyorot ke arah kami yang bikin silau, suara musik disko tahun 80an terdengar keras di telinga kami, dan ada beberapa orang yang sedang joget, kenapa di dalam sini ada area diskotiknya?


“Heheheh iki lak lagu jaman aku SD Tro, nek gak salah judule ‘Silent Morning’ hihihihi” kata Dogel yang sedang menikmati lagu dengan mata yang terus mencari sosok Blewah dan Sinank nang.

__ADS_1


“Iyo Gel. Sakjane iki era jaman opo se, mosok era jaman bapak pembangunan Soeharto jaman orde baru hihihihi…enak jamanku thoooo”


“Nak, kita harus fokus mencari teman kalian nak, bukanya fokus dengan lagu ini, kita jangan terpengaruh dengan suara musik hingar-bingar yang ada disini nak” kata pak Tembol yang seolah mengingatkan kami akan tujuan kami disini


Aneh ya, padahal tadi waktu kita di depan tidak terdengar suara musik sama sekali, berarti ruangan itu benar-benar kedap suara. Aku tetap mencari temanku diantara puluhan orang yang sedang bersenang-senang disini.


Mereka semua sama dengan kami, sehingga kami tidak menyolok diantara mereka. Yang membedakan mungkin hanya pakaian kami yang agak berbau tahun dua ribuan, kemudian telinga kami yang tidak ada runcingnya di ujungnya. Juga yang agak aneh, ada beberapa orang disini yang di giginya ada taringnya.


“Membaurlah dan jangan menarik perhatian anak-anak, jangan lupa tetap fokus mencari teman kalian yang pastinya ada sekitar sini” kata pak Tembol yang kemudian membaur dengan orang-orang yang ada disini.


Aku dan Dogel tetap mencari teman kami diantara muda mudi tahun 80 an yang agak aneh bagiku, karena meskipun mereka ada di area penuh lampu disko dan musik yang berhentak, tapi wajah mereka sama, wajah mereka tidak menunjukan ekspresi, wajah mereka rata-rata datar saja.


“Mereka ini berasal dari mana ya Gel, dan kenapa wajah mereka tidak berekspresi semua, dan yang aneh lagi, disini cuman ada dua minuman, yang satunya berwarna merah gelap dan satunya puth bening mirip air mineral biasa” bisiku kepada Dogel dan Dogel hanya mengangguk saja tanpa berkomentar sama sekali


Sewaktu kami sedang mencari kesana kemari, kami akhirnya dapat menemukan mas Nang atau yang bernama lengkap Sinank nang. Dia hanya sendirian duduk sambil melamun.


“Gel, itu mas Nang Yo” bisikku kepada Dogel. Kemudian kami berdua hampiri mas Nang yang sedang duduk sendirian, kami dekati mas nang yang nampaknya tidak menikmati suasana ini sama sekali


“Mas Nank….” Sapa Dogel


Orang itu terkejut memandang kami berdua, dia hanya memandang kami berdua beberapa saat, dan kemudian dia berkata


“Kalian sudah mati? Kenapa kalian ada disini. Kalau sudah mati lebih baik ke alam tenang kalian saja mas” kata mas Nang yang mengira kami berdua sudah mati


“Kami belum mati mas, kami kesini untuk mas Nang dan Blewah, kami kesini untuk menjemput kalian berdua” jawab Dogel


Wajah mas Nang mendadak berubah, ada aura kebahagiaan ketika kami katakan bhwa kami kesini untuk menjemput mas Nang dan Blewah.


“Mana Blewahnya mas?” tanya Dogel


Mas Nang tidak berkata apapun selain menunjuk  ke arah tengah area, dimana disana ada Blewah yang sedang joget nggilani bersama seorang perempuan. Wajah mereka berdua nampaknya bahagia sekali.


“Itu Sumirah kah yang bersama Blewah mas, yang sedang asik joget-joget itu?”


Mas Nang tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya mengangguk saja!.

__ADS_1


__ADS_2