
“Totok atau siapapun itu yang bernama Nabil itu merupakan orang yang sama. Mereka itu orang yang sama dengan yang sedang dilawan oleh teman kalian yang sekarang ada di vila putih” kata abah Fuad
“Setelah kalian mendapatkan teman kalian, dan setelah mas Nang bisa kembali ke alam ini lagi, dan plus kalian mendapatkan anjeng yang bisa membantu kalian, kini saatnya kekuatan yang ada pada kalian harus kalian gabungkan dengan mereka yang ada di vila putih”
“Kini saatnya kalian bergabung dengan mereka, karena agar lebih fokus dan tidak terpecah-pecah seperti ini. jadi ada baiknya kalian pergi ke vila putih, kemudian disana kalian bisa diskusikan apa yang harus dilakukan, karena dengan begitu kalian bisa mengalahkan Nabil atau Totok atau Rochman” kata abah Fuad lagi
“Saya sempat punya pemikiran seperti itu bah, karena musuh kami ini sama saja tidak ada bedanya, jadi pemikiran saya itu lebih baik kami menggabungkan diri saja bah” kata pak Tembol
“Karena sekarang masih malam, kalian tidur saja disini dulu, dan setelah subuh kalian berangkat ke sana, ke vila putih. Karena teman-teman kalian masih ada disana dan sedang melakukan perlawanan kepada mereka yang berusaha mengambil harta yang ada di dalam sana”
“Hanya saja abah belum tau apa yang sedang dicari oleh mereka yang ada disana, karena sekarang banyak sekali yang berusaha mendapatkan apa yang ada disana” kata abah Fuad
“Disini ada mbak Bashi seekor kucing hitam, kemudian kalian juga sudah dapat anjing penjaga rumah yang ada di alam ghaib, disini juga ada mbak Indah dan mas Ngot, juga ada mas Nang. Mereka semua bisa kalian andalkan, ada juga mbak Mirah juga yang dengan setia menjaga mas Blewah kan. Jadi saya rasa kalian sudah lengkap untuk bergabung dengan yang ada di vila putih”
Aku ndak tau apakah dengan bergabungnya ini kami dapat membinasakan Nabil atau Totok atau siapapun itu, tapi sebenarnya asik juga kalau bisa gabung dengan Novi dan teman-temanya, paling tidak kami bisa melakukan sesuatu bersama sama.
“Bagaimana nak Petro, nak Blewah, nak Dogel. Apakah kalian mau bergabung dengan anak-anak Sutopo yang sekarang sedang melindungi nak Winna, nak Chandra, dan nak Chinta?” tanya pak Tembol
“Jelas kami mau pak “ kata Dogel dengan yakin
Malam ini kami gunakan dengan istirahat, sementara itu Semprul ada di depan pintu luar rumah abah Fuad, dia tetap dengan setia menjaga kami, anjing yang malang, karena di alam ghaib dia disia-siakan oleh pemiliknya.
Pagi sebelum subuh abah fuad membangunakan kami agar kami sholat subuh berjamaah di ruang tamu yang tidak begitu besar ini. Karena rencananya setelah sholat subuh kami akan pergi ke vila putih dan bergabung bersama mereka yang ada disana.
Setelah kami lakukan sholat subuh berjamaah, kemudian pak Tembol menyuruhku untuk mengirimkan pesan singkat kepada Novi yang ada di vila putih.
“Sudah saya kirimkan sms pak, agar bisa dibaca langsung, dari pada pesan lewat aplikasi wa yang kadang-kadang selalu pending apabila keadaan sinyal tidak begitu baik”
“Ya sudah ndak papa nak Petro, yang penting sudah terkirim dan sekarang kita siap siap untuk menuju ke vila putih
Setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada abah Fuad dan mas Eko yang banyak membantu kami dalam menghadapi masalah ini, kemudian kami undur diri menuju ke vila putih.
Pagi yang masih gelap kami berangkat menuju ke arah vila putih. Aku, pak Tembol, dogel, Blewah, dan mbak Bashi adalah mahluk yang nyata dan ada di dalam mobil dengan nyamanya.
Sementara itu Indah, Ngot, anjeng kami yang sudah berkenalan dengan Ngot dan Indah, beserta mas Nang juga ada di dalam mobil, sesekali mereka melayang di luar ketika mereka curiga dengan keadaan di sekitar jalan yang kami lalui ini.
Pukul 08.30 kami sudah memasuki daerah prgn, sengaja kami tidak lewat daerah pct, karena kami menghindari pusat dari daerah kekuasaan Nabil atau Totok, kami lewat jalan yang ramai dengan truk dan bus yang berjalan pelan, karena jalan di sekitar Pndn itu agak menanjak keadaanya.
“Nak Petro, apakah ada balasan dari nak Novi atas sms mu tadi nak” tanya pak Tembol
“Sebentar pak, saya nyalakan dulu ponsel saya pak, karena dari tadi ponsel saya dalam keadaan mati pak”
Kunyalakan ponselku, ternyata ada balasan dari Novi atas smsku yang berbunyi: mbak Novi, setelah subuh kami akan menuju ke vila putih bersama pak Tembol, Dogel, Blewah dan Mirah, dan kucing mbak Bashi. Kemudian yang tak kasat mata itu Ngot, Indah, Mas nang, dan anjing baru kami yang bernama Semprul.
__ADS_1
Sedangkan jawaban Novi adalah: siap mas, akan kami tunggu sekitar jam 09.00 an di sisi jurang biasanya. Pak Tembol tau tempat itu mas. Tapi nanti mobilnya tolong parkirkan di masjid sebelum perempatan menuju ke vila. Di sebelah kanan ada masjid, dan bilang ke marbotnya kalau disuruh Saeful untuk parkir disitu.
Setelah kubaca sms balasan Novi dengan suara yang agak keras agar pak Tembol, Dogel, dan Blewah dengar, kemudian pak Tembol tersenyum.
“Ayo segera kesana nak, saya tahu masjid itu dan saya tau sisi jurang yang dimaksud oleh Novi nak, nanti kita berhenti dulu di warung, pesankan nasi bungkun yang banyak sekalian nak, pesankan tiga puluh nasi bungkus lauknya terserah, untuk sarapan kita dan mereka nak” kata pak Tembol
“Kalau tidak salah di sebelah masjid ada warteg mas. Kita bisa mampir ke warteg itu mas, sebelum kita lanjutkan perjalanan menuju ke vila putih” kata pak Tembol
“Bukan yang depot rawon itu pak?” tanya Dogel
“Bukan nak, nanti lah kita parkir dulu mobil ini di masjid, nanti kita jalan ke warteg, dan kemudian cari ojek yang mau antar kita ke atas nak. Eh maaf nak Dogel bawa uang kan?” tanya pak Tembol
“Tenang saja pak, kemarin kan saya bawa uang lumayan yang saya simpan di rumah di mjkt pak. Yah untuk hidup sehari hari kita pak selama kita sedang melakukan misi ini pak” jawab Dogel
Masjid yang dimaksud sudah terlihat di depan, kemudian mobil diarahkan menuju ke halaman masjid yang lumayan luas. Halaman masjid yang mungkin bisa menampung dua bus ukuran besar heheheh.
“Itu kan mobil yang dibawa anak-anak Sutopo pak, apa kita parkir di sebelah mobil itu saja pak?” tanya Dogel
“Iya nak, parkir disebelah mobil itu saja nak, agar terlihat rapi, tapi tunggu dulu nak, saya harus mencari pengurus masjidnya dulu, minta ijin untuk parkir disini atas nama Saeful” kata pak Tembol
Setelah pak Tembol bertemu dengan pengurus masjid dan bilang kalau kami parkir disini atas ijin dari Saeful, akhirnya mobil diparkir di sebelah mobil Novi. Kemudian kami berjalan kaki menuju ke warteg kecil yang ada disebelah masjid.
“Eh pak, apa tidak terlalu banyak pak kalau tiga puluh bungkus pak, takutnya tidak akan termakan dan mubazir pak. Gimana kalau dua puluh bungkus saja pak”
“Jadi dua puluh lima bungkus mungkin cukup ya pak”
“Ya sudah nak, dua puluh lima bungkus saja kita pesannya nak“
Aku dan pak Tembol masuk ke dalam warteg yang ternyata di dalamnya ada beberapa orang yang masih makan, disana ada tiga orang yang sedang sarapan sambil ngobrol.
“Bos, nang vila putih iku lho saiki kok onok ae sing kesana, keliatanya disana mulai ada kegiatan pembangunan tah” tanya orang pertama
“Ngawur ae, iku bukan pembangunan atau renovasi, iku ngono orang-orang yang cari harta karun yang konon akeh nang kono ndeng!” jawab orang kedua
“Iyo syu! Aku yo pernah lewat sana malam-malam, mereka iku koyoke dukun ya, dan ada suara koyok sedang menggali sesuatu nang kono, aku yakin disana ada orang-orang yang iseng lagi. Ngene ae cak, lebih baik kita laporno pak babinsa ae, biar mereka yang mengecek apa yang sedang terjadi disana” kata orang ketiga
Pak Tembol memandangku dengan tatapan aneh, karena mendengar pembicaran orang yang sedang sarapan itu, setelah semua pesanan selesai, kami segera pergi dari sini dan menuju ke pangkalan ojek yang tidak jauh dari warung yang tadi kami pesan makanan.
Ternyata dipangkalan ojek hanya ada satu ojek yang sedang mangkal, tetapi disana ada empat motor.
“Ojek pak, untuk empat orang bisa pak?” tanya pak Tembol
“Sebentar pak, saya panggil teman saya dulu, mereka sedang sarapan di warteg itu kok pak, sebentar ya” jawab tukang ojek itu kepada pak Tembol
__ADS_1
“Pak jangan-jangan yang tiga orang diwarung itu tukang ojek yang disini pak, mereka tadi kan sempat ngobrol tentang orang-orang yang ada di vila putih pak” tanya Dogel
“Iya nak Dogel, gini saja…. Kalau mereka tanya-tanya sedang apa kita keatas, bilang saja kita disuruh orang yang tinggal di sebelah vila putih untuk kirim makanan bagi mereka, dah gitu saja, kalau ditanya macam-macam bilang saja ndak tau, karena tugas kita hanya kirim makanan untuk mereka saja” kata pak Tembol
Aku, dogel, dan Blewah setuju dengan yang alasan yang nanti kita jawab apabila ditanya oleh tukang ojek.
Dan ternyata benar juga, ketiga orang yang ada di warteg itu adalah ojek semua, sekarang sudah ada empat ojek yang akan mengantar kami menuju ke atas, mbak Bashi ada di dalam gendongan Dogel sedangkan nasi bungkus yang jumlahnya dua puluh lima bungkus itu dibagi menjadi tiga tas kresek yang ada di tangan ku, pak Tembol, dan Blewah.
“Kalian ini mau minta diantar ke mana ya?” tanya salah satu dari empat orang itu
“Kami disuruh sama pemilik rumah yang ada di sebelah vila itu untuk kirim makanan kepada mereka pak” jawab pak Tembol dengan tersenyum.
“Wah, hahahah ngantar makanan saja sampai empat orang segala pak hahahah” tanya salah satu dari mereka
“Iya pak, sekalian kami ingin jalan-jalan ke atas sana pak, saya kepingin lihat vila yang diatas sana itu pak, yang katanya banyak orang yang sedang mencari harta disana pak” kata pak Tembol
Tanpa banyak bicara kami segera naik ke ojek masing-masing. Pak Tembol duluan yang berangkat sedangkan kami ada di belakang ojek pak Tembol. Hingga di suatu tempat pak Tembol menghentikan ojek itu. kemudian pak Tembol turun.
“Kita harus jalan kaki ke sana anak-anak, karena kata mereka kita kan tidak boleh menggunakan ojek heheheh” Kata pak Tembol kepada kami dengan agak keras agar didengar oleh keempat tukang ojek itu.
Kami menunggu hingga keempat tukang ojek itu tidak terlihat, kemudian pak Tembol mengajak kami menyusuri sisi jurang yang lumayan mengerikan.
“Gel. Awas mbak Bashi jangan sampai lepas dari gendonganmu Gel”
Kami berjalah beriringan, posisi paling depan adalah Sinank nang, kemudian indah dan Ngot sedangkan paling belakang aku dan Semprul. Teman hantu kami menjaga dari segala kemungkinan yang akan terjadi disini.
Lima belas menit kami jalan kemudian pak Tembol menyuruh kami untuk berhenti.
“Di dapan sana itu adalah pintu gerbang yang akan kita masuki anak-anak, tetapi kok tidak ada penampakan nak Novi sama sekali. Tolong dong nak Indah dan nak Ngot, tolong kalian keliling di sekitar sini untuk mencari nak Novi.
*****
Selamat pagi untuk para pembaca yang saya hormati
Untuk Novel Indah Laminatingrum mungkin akan saya sudahi hingga di bab ini… masih mungkin lho ya, karena permasalahan tentang lagu yang menyebabkan kematian sudah diketahui.
Nah untuk kelanjutan dari anak-anak BLukuthuq dan pak Tembol, mereka akan bergabung di novel dua penginapan, karena tujuan mereka sekarang adalah membunuh Totok dan melindungi tiga perempuan yang bernama Winna, Chandra dan Chinta.
Dan saya minta maaf karena lambat dalam update novel. Dan tulisan saya banyak typonya juga, dikarenakan saya dan keluarga sedang dalam perjalanan ke luar kota dan terkena traffic jam yang luar biasa, sehingga saya tidak ada kesempatan untuk update.
Sebenarnya kesempatan untuk update itu tetap ada, ketika dalam keadaan yang macet parah hingga berhenti total. Hanya saja otak saya tidak bisa berpikir penuh karena stress juga lelah memikirkan keadaan di jalan. Sekian dan terimakasih
Salam hormat
__ADS_1
Dewa Ayu Yudhari ( Mbak Bashi)