
“Seandainya aku dan Ginten sudah punya KTP terus gimana To.. apa kamu masih mau usir kami?”
“Kemudian setelah punya KTP, aku dan Ginten akan merubah surat tanah dan rumah yang ada disana, kemudian kami berdua tinggal disana, dan ber KTP pula… apa kamu masih mau mengusir kami Marwoto?”
“Terus seandainya bisnis kotor kamu aku hentikan semua… termasuk demit demit kamu sudah kami binasakan, apakah kamu masih sombong sama kami To!”
“Demit yang kamu kirim kepada kami, tidak ada yang bisa melawan kami Marwoto… kamu harusnya kirim malaikat, bukanya kirim setan ke kami”
“Dan seandainya kami berhasil dalam usaha kami dan kamu jatuh miskin…. Apa kamu masih tidak ingat sama ibumu Marwoto?!”
“Ingat To… kamu bukan lawan kami berdua… kekuatan kami sekarang berasal kekuatan orang yang melahirkan kamu, kekuatan dari orang yang kamu lupakan dan kamu tindas hihihihi”
“Ten… kamu jangan diam saja, ayo ngomong sesuatu untuk Suparmi dan Marwoto yang gobblok ini”
“Malas ah Man… mereka bukan lawan saya, saya malas bicara sama orang yang bukan lawan sepadan kita…yuk kita pergi dari sini saja, kita bersih bersih rumah saja Man”
“Oh iya Man… tolong kasih tau ke mereka berdua.. Kita akan sering sering kesini, dan suruh mereka berdua ini untuk membukakan pintu rumah, dan mempersilahkan kita masuk ke sini”
“Tapi aku sekarang juga malas ngomong sama dua orang yang ada di depan kita ini Ten… mereka berdua ini mirip sampah yang bau!”
“Tapi aku yakin Ten… mereka berdua dengar apa yang aku kita ucapkan ini”
“Yuk.. udahan kita disininya Man… ke rumah saya saja yuk”
“Eh kita perlu pamit ke Marwoto dan Suparmi yang sedang berdiri mematung di depan kita ini apa nggak Ten?”
“Maksudmu apa Man… pamit sama orang yang tidak tau diri dan tidak mengurus ibunya?... saya kira gak perlu Man.. kita langsung pergi dari sini saja… besok kita kesini, pokoknya kita akan ada disini terus Man!”
Hahahaha wajah Rochman bener-bener merah padam… aku tau dia ingin sekali melawan aku dan Tina, tapi dia nggak punya kekuatan untuk melawan kami.
Dia hanya bisa melihat aku dan Tina bicara saja, dan dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun hihihi.
Akhirnya aku dan Ginten berboncengan lagi menuju ke rumah Ginten yang masih kotor, mungkin besok pagi kami kesini lagi untuk bersih bersih rumah, selagi pembuatan KTP masih dalam proses.
“Man…tadi kamu lihat muka si Marwoto?”
“Hahahaha wajah orang yang gak mau kalah,i tapi terpaksa untuk kalah karena dia jelas gak bisa melawan kita berdua Ten”
“Iya bener Man… kira-kira apa yang akan dia lakukan kepada kita besok ya Man?”
“Yang pasti Marwoto akan berusaha mengalahkan kita Ten, karena dia punya harga diri yang harus dipertahankan di depan penduduk sini”
“Pokoknya Ten…kita harus siaga.. Oh iya… nanti malam mampir ke makan mbok Painah yuk Ten… kepingin laporan sama mbok Painah Ten”
“Nggak usah kamu laporio mbok Painah sudah tau apa yang sedang kamu lakukan Man, dia bisa lihat sendiri kok, dan dia masih setuju atas apa yang kita lakukan”
“Berarti gak usah ke makam Beliau untuk laporan Ten?”
“Iya.. gak usah Man”
Aku dan Ginten sekarang menuju ke Gebang, setelah dari rumah Ginten untuk mengambil satu buah perhiasan kecil yang dimiliki Ginten.
Aku kayuh sepeda pak Peno lebih cepat dari biasanya, karena saat ini sudah menjelang siang hari, tadi kami kelamaan di rumah Marwoto, akibatnya kami sekarang terburu-buru ke Gebang.
“Man… nanti alamat yang ada di Ktp ditulis apa?.. Alamat kita yang ada di rumah, atau di rumahku tadi itu?”
“Kita nanti menetapnya kan di desanya Marwoto, ya kasih aja alamat desanya Marwoto saja”
“Tapi masalahnya kita tidak tau nama desa RT/RW, alamatnya..nomornya juga”
“Alamatnya kan ada di surat kepemilikan rumahmu Ten?”
“IYa…. tapi nggak aku bawa Man… “
“Waduh bener juga Ten… mana kita sudah hampir sampai di Gebang pula, gak mungkin kalau harus balik lagi ke rumah mu Ten”
“Udahlah Man.. lihat nanti saja, mungkin dia akan mengusahakan alamat yang kita inginkan”
Gebang siang ini… udara sangat panas.. Nggak terasa bajuku penuh dengan keringat.
Aku dan Ginten langsung menuju ke depot rawon yang menurutku suasananya agak aneh, tapi makanan rawonnya sangat enak
__ADS_1
Di depan depot rawon ternyata sudah ada sepeda motor milik pak Peno yang terparkir, berarti pak Peno dari tadi sudah ada disini.
*****
“Selamat siang Pak Peno… maaf kami terlambat, karena tadi habis bersih-bersih rumah di desa sebelah pak”
“Nggak papa mas Tok… saya yang kepagian sampai disini, agar keadaanya tidak ramai”
“Nah ini mas Tok, teman saya yang bisa urus KTP tanpa surat apapun, mas Tok tinggal foto saja nantinya”
“Nama teman saya ini pak Tolani”
“Sekarang mas Tok harus putuskan alamat yang akan tertera di KTP”
“Itu dia pak Peno… saya bingung pake alamat mana, karena saya dan Ginten lupa dengan alamat yang ada di desa sebelah itu pak”
“Begini saja pak Totok… kasih tau saya dimana letak rumah kalian berdua, biar saya yang akan urus semuanya. Pokoknya pak Totok dan istrinya terima KTP jadi” kata pak Tolani
“Eh apa setelah ini kita ke sana pak, lihat rumah saya yang ada di desa sebelah?”
“Kalau seperti itu lebih baik mas Tok, kalian bisa antar pak Tolani untuk lihat rumah kalian… tapi maaf, saya tidak bisa antar karena saya harus masuk kerja” kata pak Peno
Siang hari ini setelah mengantar pak Tolani melihat rumah Ginten, dan selesai dengan urusan alamat, akhirnya kami berdua bisa pulang ke rumah.
Kata Tolani tadi, proses pembuatan KTP dan KK mungkin butuh waktu semingguan, dengan pembayaran setelah semuanya jadi.
Siang ini aku dan Ginten sudah ada di rumah dengan keadaan keringat yang luar biasa, karena terik matahari siang hari ini yang lumayan panas.
“Ten…. tadi kamu merasa ada sesuatu nggak waktu makan rawon di depat tadi?”
“Iya… kerasa enak, karena rawonya enak Man heheheh”
“Oh Gendeng kamu Ten!... maksudku hal-hal ghai gitu Ten”
“Oh kalau gituan memang terasa pekat sekali, mungkin itu arwah dari pemilik depot rawan itu, dan saya rasa itu bukan penglaris kayak yang ada di pasar itu Man”
“Iya Ten., benar kamu… tapi ada yang aneh, seolah olah aku merasa diusir dari depot itu”
“Aku dibuat seperti tidak betah berlama-lama ada di depot rawon itu Ten”
“Eh Ten… malam ini kita gak usah jualan yuk… kita ke rumahmu saja Ten. lagipula persediaan baju bekas kita tinggal sedikit Ten”
“Nah itu Man, saya kan sudah pernah bilang kamu untuk cari penjual pakaian bekas, agar kamu bisa berjualan lagi disana”
“Iya Ten… tapi aku kan nggak tau harus cari penjual pakaian bekas itu dimana?
“Pelan pelan kita nanti cari Man, dan harus dapat, agar kamu bisa berjualan terus di pasar Gebang sana”
*****
Malam hari setelah terdengar suara Adzan yang selalu bikin aku panas. Kami bersiap ke desa sebelah…
Alasan aku kepingin pergi dari desa tempat aku tinggal selain alasan karena tidak enak dengan yang punya rumah, karena rumah ini agak dekat dengan masjid, apalagi corong pengeras suara masjid arahnya ke rumah ini.
Akibatnya kalau ada suara adzan atau pengajian… badanku rasanya sakit semua dan pegal-pegal, rasanya pingin aku sabotase pengeras suara masjid itu agar suaranya tidak terlalu keras.
Wajar kalau aku merasa sakit semua… karena aku ini kan sejatinya ciptaan Tuhan…. Hanya saja selama ini aku diasuh setan.
Seperti malam ini setelah aku mendengar suara Adzan malam, tubuhku rasanya sakit, tulang juga rasanya pegal pegal.
Tapi malam ini aku dan Ginten harus ke rumah sana, dan menyalakan lampu minyak di rumah itu, agar Marwoto tau kalau aku dan Ginten ada disana.
Kenapa harus lampu minyak, bukankah disana sudah ada listrik yang masuk desa?
Karena sejak dulu rumah Ginten ini kan kosong, ketika Indonesia sudah semakin makmur, dan ketika ada pemasangan listrik…rumah Ginten dilewati, karena rumah ini saat itu keadaan kosong.
“Man… apa yang akan kita lakukan di rumah ini?”
“Ya cuman duduk berdua sama kamu aja Ten, sambil nunggu apa yang akan dikirim Marwoto kesini”
“Cuma duduk berdua aja Man… padahal keadaan kamar saya dengan nyala lampu minyak ini sangat romantis lho… apa kamu gak mau belajar menjadi seseorang yang romantis kepada pasanganmu?”
__ADS_1
“Hehehe… aku belum punya pasangan humu Ten, tolong carikan yang sesuai dengan seleraku Ten”
“Kamu ini gak sembuh-sembuh dari sakitmu Man… rubahlah pikiranmu Man..lihatlah bentuk tubuhku ketika aku telanjiang, rasakan aroma perempuan yang khas ini Man”
“Heh… jangan buka baju di hadapanku Ten… aku gak doyan sama prempuan!”
“Ok Man… besok menjelang subuh aja kamu akan aku buat nyaman Man hihihi, sekarang waspadalah karena saya merasa ada yang gak beres disini Man”
“Iya Ten… aku juga merasa ada yang gak beres disini, tapi yang aku rasakan itu masih jauh dari sini”
“Hmmm aku tau ini Man, cepat kamu ke rumah Marwoto… disana sepertinya ada dukun yang sedang berusaha menggambar kita, sepertinya Marwoto memanggil dukun”
“Kamu disini atau ikut denganku Ten?”
“Ayo.. aku ikut kamu Man”
“Sebenarnya kita tidak mempan dengan dukun-dukun cabul… tapi yang kena dampaknya itu demit-demit yang ada di rumah ini Man, mereka yang masih muda akah kesakitan dan pergi dari sini”
“Dan akhirnya rumah ini akan kosong, dan mudah untuk dimasukan demit suruhan marwoto”
Malam-malam aku dan Ginten berjalan ke rumah Marwoto yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal Marwoto.
Mulai di perempatan jalan aku sudah bisa mencium bau kemenyan…. Kemungkinan besar kemenyan ini berasal dari rumah Marwoto.
“Ayo cepat Ten…. bau kemenyan sudah cukup tajam di daerah ini”
“Iya Man.. bau ini memang berasal dari rumah Marwoto"
“Aku penasaran… dukun apa yang sedang disewa Marwoto, dan kenapa dia sampai menyewa dukun Man”
“Bukannya dia sudah punya kekuatan yang berasal dari dua penguasa daerah sini Man”
“Nah itu yang dari tadi sedang aku pikirkan Ten…apa dia sudah gak mampu lagi menggunakan kekuatanya, sehingga dia harus sewa seorang dukun”
Ketika aku sudah sampai depan rumah Marwoto yang keadaanya gelap gulita, aku tidak menemukan penjaga rumah yang bernama Joe Kowiyono itu.
“Rumah ini gelap Man…apa dukun yang ada di dalam sana itu tidak butuh penerangan untuk mengambil sesuatu atau melakukan sesuatu hihihi”
“Iya Ten… malahan sekarang rumah ini berbau busuk.. Mirip baunya Misnah yang waktu itu bangkainya ada di di ruang bawah tanah”
“Gimana menurutmu Ten… kita disini atau masuk ke dalam saja?”
“Terus terang Man… apa yang mereka lakukan ini tidak akan membuat kita kesakitan…sia-sia saja mereka itu… salah sasaran”
“Lhaiya Ten… mosok setan dilawan sama setan… hahahah”
“Ayo ketuk pintu rumahnya Man… kita ajarin dulunya agar pintar dan tidak asal kirim barang aneh-aneh kepada kita”
“Maksudmu apa dengan kirim barang aneh-aneh ke kita Ten?”
“Coba kamu lihat di sekitar kamu berdiri. Banyak paku berkarat, silet berkarat, kawat dan barang jelek lainnya yang jatuh di sekitar kita berdiri Man”
“Wahahahh bener juga kamu Ten.. kalok gini caranya kita bisa jualan besi tua aja Ten… daripada jual baju bekas hahaha…..Wuiih di samping kakiku banyak paku dan benda jelek lainya hihihii”
“Ayo kita ketuk rumahnya saja Man.. dasar orang gobblok bisanya sewa dukun dan diajak ke rumahnya. Harusnya gak usah bawa dukun ke rumah, cukup dia yang ke rumah dukun itu kan Man”
“Mungkin Marwoto ini kan orang terhormat, mana mau orang terhormat datang ke rumah dukun yang jelek… bisa-bisa turun derajat”
“Lho tapi ada lho man pejabat yang akhir akhir ini suka mendekati wong cilik…padahal dia itu pejabat.. Tapi dia mau nandur padi sambil jalan maju, terus megang pacul untuk menanam pohon juga Man”
“Halah itu lak di negara Konoha… di negara kita gak ada yang kayak gitu Ten… ayo kita masuk ke rumah Marwoto saja, daripada mikirin wong gede yang dari Konoha”
*****
“Permisi… selamat malam ibu dan bapak Marwotooooo, saya boleh masuk ke dalam.. “
“Kurang keras Man.. dia gak denger suaramu itu”
“Eh iya Ten… “
“Permisi … selamat malam Suparmi dan Marwoto dan dukun yang sedang ada didalam… boleh kami masuk ke dalam, kami mau kembalikan benda-benda aneh yang kalian kirim ke kami”
__ADS_1
“Kalau kalian yang didalam tidak mau buka pintu, akan saya dobrak dan saya kembalikan paku berkarat ini… dari pada kami jual dan akhirnya kami jadi kaya”
“Kayaknya kurang keras Man… atau telinga mereka pada congek semua ya?”