
“Kalung sopo yo iki kira-kira Gel. Kalok inisial nama istrinya Ibor dan Wildan bukan N Gel. Tapi nek ada yang bawa pacar ke sini ya ndak tau lagi. Tapi ndak mungkinlah ada yang bawa pacar nginap disini” kata Glewo
“Iyo Wo. Perasaan anak anak Sutopo gak sebegitu penjahat khelamin lah, aku kan ya kenal mereka sudah lama Wo, mereka bukan tipe yang suka main perempuan. Bahkan mereka kebanyakan malah cuma jomblo ae hahahah”
“Jugaan aneh lho, kalung ini lepas bukan karena pengaitnya lepas, tetapi karena putus rek” kata Glewo lagi
“Kalau dugaan saya, ada apa-apa dengan pemilk kalung berbandul N ini mas” kata Sumirah
“Maksudnya gimana mbak Sum?” tanya Glewo
“Seorang perempuan pasti akan mencari kalung ini dimanapun lokasi dia pernah lewat, apalagi kalung ini berbahan emas dan putus di depan pagar vila ini.
“Dan anehnya tidak ada yang menemukan disini, harusnya disini kan banyak orang yang lalu lalang, mas Agus saja dengan mudahnya bisa melihat kalung ini ada disini”
“Pintu pagar ini kan sudah pasti akan sering dilewati orang, harusnya orang yang lewat itu akanlihat kebeadaan kalung ini lah ,apalagi kalau siang hari” kata Sumirah yang ternyata pandai juga berlogika
“Indah merasakan hal yang mengerikan disini mas, Indah dengar ada suara-suara orang minta tolong dan ada juga suara yang tersiksa mas, tapi terus terang Indah tidak bisa menembusnya, ada kabut yang amat pekat diantaranya”
“Iya mbak Indah, Saya juga merasakan yang sama dengan mbak Indah, tapi barusan Bawok kesana mbak, Bawok masuk ke dalam vila. Dan katanya ada bekas banyak darah yang sudah tidak nampak lagi”
“Gini aja , untuk memastikan disana tidak ada apa-apa, lebih baik aku masuk kesana saja, karena kalau kita tidak membuktikan sendiri kan tidak akan tau apa yang terjadi disana rek”
“Gel, ini bukanya bekas roda kendaraan ya? Koyoke roda bus mini atu sebangsa mobil Elf yang biasanya digunakan untuk travel itu lho” tunjuk Glewo pada tanah basah yang ada di depan vila
“Iyo Wo, tapi kendaraane lho ndak ada didalam sana rek, jadi kesipulanku mereka sudah pulang, dan acaranya sudah selesai. Jadi kita tidak usah masuk kesana. Ok!”
“Ndeh, tadi katamu kamu mau masuk kesana Gel, tapi kok sekarang malah kamu minta pulang lho. Awakmu iki pancen gak pasti Gel, gak koyok pom bensin yang pasti pas!”
“Lha itu lho ada jejak kendaraan besar, dan sekarang kendaraane ndak ada disana, berarti kan mereka kan sudah selesai acara dan sudah pulang to”
“Gini ajalah, kita masuk saja dulu , lihat sekeliling dan setelah itu pulang, sesuk isuk telponen arek-arek Sutopo, wis gitu ae yo, setuju ya”
__ADS_1
“Iya wis, ayo kita masuk ke dalam, mumpung pagarnya ndak digembok rek” kata Glewo sambil mendorong-mendorong ke dalam pintu gerbang vila yang terlihat mewah dan unik itu.
“Mas, bawok apa saya suruh untuk jalan di depan, dia tadi kan sudah masuk kedalam dan ternyata di dalam tidak ada siapapun. Tetapi kalau saya suruh ke depan siapa tau memang perlu mas”
“Ndak usah mbak Mirah , dia suruh jaga di mobil saja, kalau ada yang macam-macam suruh usir saja mbak”
Setelah Sumirah memberi perintah kepada Bawok untuk berjaga di mobil, kami berempat masuk ke dalam vila. Ketika pertama kali kujejakan kakiku di halaman vila, aku langsung merasakan banyak korban yang mati dengan mengerikan disini.
Halaman vila ini benar-benar terawat, tanaman dan pepohonan terpotong rapi, tetapi ada sesuatu yang janggal disini. Kenapa tidak ada yang jaga, atau setidaknya penunggu vila, dan satu lagi kenapa pagar vila tidak terkunci apabila memang tidak ada penjaga vila yang bertugas menunggu vila.
“Eh rek, kita ini masuk ke properti milik orang lain lho ya, dan ada hukumnya kan rek heheheh, apa nanti ndak masuk pasal pidana ta? hihihi” tanya Glewo
“Koyok eruh-eruho hukum pidana ae *** raimu Woooo Wo, kalau apabila ada yang jaga, yo kita bilang
aja survei vila tengah malam, mau liat keadaan vila malam-malam, siapa tau ada yang mengerikan atau tidaknya hehehe”
“Halah cangkemu Gel, cangkem bosok!, alasan kok survei malam-malam, lha mosok arep bikin acara Uka uka cyok! Hihihih”
Teras vila yang unik dan bernuansa kolonial ada di depanku, termasuk sebotol minuman keras bermerk lokal yang botolnya mirip botol bensin eceran yang bentuknya jemblung, minuman itu teronggok di lantai teras.
Aneh juga isinya masih penuh, dan keliatanya baru diminum sedikit. Ndak biasanya lho botol minuman keras yang isinya masih banyak gini tertinggal. Aku yakin minuman ini milik anak-anak Sutopo.
“Eh Gel iku ada minuman raja jemblung, tapi anehnya kok isine masih banyak ya Gel, gak biasanya lho koyok gitu itu, biasanya selesai acara musik mereka mabuk-mabukan, dan pastinya minuman itu sudah kosong” kata Glewo
“Iyo Wo, gak mungkin anak-anak Sutopo ninggalkan minuman yang masih terisi penuh disini”
“Ada yang mencurigakan disini rek, kita ndak tau apa yang sedang terjadi disini, tetapi aku merasa ada yang aneh disini, gimana kita teruskan masuk ke dalam atau ndak?”
“Masuk aja Gel, kita sudah ada di teras, nanggung kalau kita ndak teruskan, kita juga belum liat dimana teman kita pasang panggung dan alat musik mereka kan Gel”
“Kita lihat ke halaman belakang saja Wo, mungkin panggungnya atau bekas panggugnya ada disana”
__ADS_1
Setelah dari teras kami beralih ke halaman belakang, halaman belakang ini menurutku tempat mereka ngadakan acara musik, karena ndak mungkin ngadakan acara musik di depan, bisa-bisa yang punya vila akan ngamuk kalau tanaman mereka hancur.
Senterku arahkan ke mana mana di sepanjang radius 3 meter, pokoknya aku bisa tau jalan yang kita lalui ini aman atau tidaknya. Takutnya ada ulaaaaa atau binatang mengerikan yang menghadang kami.
Pelan tapi pasti kami sudah masuk ke bagian samping vila, bagian samping ini tidak terlalu lebar karena mungkin hanya diperuntukan pegawai atau asisten rumah tangga vila ini untuk masuk ke dalam vila.
Area samping vila ini mungkin hanya selebar 3 atau 4 meteranlah, kami terus menuju ke arah belakang vila, dan ternyata benar, di bagian belakang ini ada panggung dan seperangkat alat sholat eh, seperangkat alat musik yang keadaanya berantakan.
“Gel, kok panggunge dan alat musike masih ada disana, malah itu ada beberapa gitar yang tergeletak, seolah olah mereka pergi dari sini dengan tergesa gesa Gel. Rodok medeni Gel”
“Iya Wo, kok aneh ya, gitar bagi mereka kan sudah merupakan kebutuhan utama, lha kok digeletakan gitu aja se, kok ndak diringkesi. Pasti ada sesuatu yang terjadi sama mereka iki Wo”
“Mas, lebih baik kita balik saja mas, perasaan Indah ndak karuan mas, perasaan Indah sebentar lagi ada sesuatu yang akan terjadi disini mas”
“Iya Ndah, ayo kita pergi dari sini, cukuplah untuk malam ini kita lihat apa yang ada disini, pokoknya kita tau kalau di disini ada sesuatu yang membuat mereka pergi meninggalkan semua peralatannya disini”
Kami segera pergi dari sini. Tidak hanya Indah, akupun merasakan akan ada sesuatu disini, sesuatu yang mungkin berbahaya bagi kami.
Ketika kami berjalan menuju ke arah mobil, ketika kami sudah ada di halaman depan vila. Tiba-tiba kabut mulai datang.
Kabut itu berwana keabu-abuan, meksipun disini masih gelap, tapi kabut yang datang itu benar-benar jelas. Kabut yang berwarna kelabu dan bergumpal gumpal datang ke arah kami berempat.
“Eh Indah, kabut apa yang ada didepan kita itu, apakah berbahaya bagi kita Ndah?”
“Indah belom tau mas, tapi keadaan seperti ini sangat aneh kalau tiba-tiba ada kabut yang datang, apalagi kabut itu tebal dan berwarna kelabu”
“Gel, apa ndak sebaiknya kita menghindari kabut itu, karena perasaanku tentang kabut yang ada didepan kita itu aneh sekali”
“Menghidar ke mana Wo, kita ada di halaman vila, mosok ya harus masuk ke dalam sana rek, tapi nek misale kita terobos saja kabut itu gimana rek?”
“Kita diam saja disini mas. Biarkan kabut aneh itu melewati kita mas” kata Indah yang wajahnya sudah panik
__ADS_1
Kabut itu semakin mendekat kearah kami, sedangkan kami tidak tau harus kemana lagi untuk sembunyi dari kabut itu. yang pasti kami pasrah saja dan banyak berdoa memohon keselamatan untuk kami berempat.