
“Terus jasad Indah gimana mas, Indah ndak akan bisa tenang kalau gini terus mas, Indah pingin tenang mas” kata Indah mulai menangis darah
“Janc*k , kamu jangan nangis gitu rek , aku takut, ada darah yang keluar dari matamu itu lho Ndah” kata Blewah
“Wis gini aja, sementara kita menunggu
waktu tenang para preman pemburu kami , gimana kami datangi rumahmu, pasti rumahmu dekat sini kan Ndah” tanyaku
“Iya mas, rumah indah dekat sini kok, di daerah sini juga mas, ndak jauh dari sini kok mas”
“Besok aja coba kita cari rumahmu, sementara ini biarlah kami berpikir tentang nasib kami dulu Ndah, kami masih bingung dengan lagu kami soalnya” kataku
“Yuk kita balik ke rumah aja rek, aku ngantuk iki rek” ajak Blewah yang sudah mulai bosan dengan keadaan disekitar sini.
Sebenarnya jarak antara rumah ke jembatan ini tidak terlalu jauh, maklum kota ini kan tidak terlalu besar, sehingga kami bisa melalui jalan tembus.
Tetapi berhubung kami terlalu capek dan malas untuk jalan kaki, makanya kami gunakan angkot untuk pulang ke rumah mbahku.
Hari sudah mulai sore ketika kami sampai ke rumah mbahku yagn ada di jalan MB1 ini, sebelum masuk ke rumah, kami sempatkan dulu untuk mampir ke mushola yang hanya berjarak 10 meter dari rumah.
Sore ini kami ingin tenang dulu , kami sudah semenjak kemarin malam sama sekali belum membuka aplikasi sosial media semacam eFBe.
“Wo, mana tadi nomor yang baru kita beli tadi , aku pingin pasang di Hpku , pingin tau ada berita apa lagi di seputaran Grup fb kita”
Nomor kartu Hp ini barusan kami beli waktu pulang ke rumah. Didepan gang kebetulan ada yang jual kartu perdana.
Nomer Hp sudah kupasang, sudah kuaktifkan juga paket datanya, kini aku siap untuk membuka aplikasi eFBe.
“Janc*k sudah ada lebih dari lima ratus orang yang inbox ke ke kita rek” kataku
“Gel, matikan Fb iku, jangan kamu aktifkan c*k, alamat Fb kita bisa di tracking sama preman suruhan jutawan arab kayak iku!” teriak Blewah
Segera aku matikan Hpku sekalian saja, dari pada malah nomor hp baru kami bisa dilacak oleh mereka karena tadi aku sempat membuka Fb.
“Huuh bahaya Gel , wis mending kita kalau mau liat Fb ke warnet ae, mungkin di warnet gak gampang di tracking c*k” kata Glewo
“Podo ae Wo, warnet bisa ditracking, kita tidak bisa ditracking, tapi akibatnya seluruh pelosok kota ini akan diobok-obok suruhan jutawan kaya itu rek” kata Blewah
“Terus gimana kita tau perkembangan kasus lagu kita rek, kalau kita ndak bisa liat fb kita, siapa tau ada yang mati lagi akibat lagu kita lagi rek”
“Sementara ini kita diam dulu aja Gel, gak
usah menghubungi siapapun atau lihat akun sosmed kita, pokoke sementara ini kita buta berita dulu ae ben tenang disik
suasanane” katak Blewah bijaksana
Setalah sholat maghrib berjamaah di muhsola dengan beberapa warga kampung ini, sekarang kami hanya habiskan waktu dengan duduk di dalam rumah.
Tv kecil yang ada di bufet rumah mbahku ini ternyata rusak, tv ini bisa nyala, tetapi sayangnya hanya satu stasiun Tv yang bisa ditangkap oleh Tv kuno ini , yaitu stasiun Tv nasional hehehe.
“Indah mana rek, kok dari tadi gak keliatan” tanya Glewo
“Mbuh Wo tadi dia ada, tapi sejak kita tadi dari jembatan cari jasad dia setelah itu dia hilang, gak muncul sama sekali sampai sekarang”
__ADS_1
“Apa Indah marah sama kita Gel” tanya Glewo lagi
“Lha lapo kok dia marah, dia marah kenapa? Opo karena kita ndak bisa cari jasad dia?”
“Jasadnya kan sudah lama hilang disana,
siapa tahu jasadnya dibuang ke sungai brantas c*k”
Sekarang sudah pukul 22.00 , tukang bakso terakhir lewat pada pukul 21.30, suasana di kampung ini sepi sekali, apalagi ternyata rumah ini juga minim cahaya lampu.
Di ruang tamu ini hanya diterangi satu buah lampu dop kuno berwatt rendah yang berwarna kuning atau coklat yang cahayanya membuat ruang tamu ini sedikti serem.
Apalagi di dapur, hanya ada lampu ukuran lima watt yang menempel di dinding dapur, semakin telihat dan terasa horor lah.
Begitu juga di dalam kamar, pokoknya lampu di seluruh ruangan di rumah ini mungkin berukuran lima watt selain diruang tamu yang lebih terang tetapi
berwarna kuning atau coklat.
“Suasana disini kok semakin lama makin aneh ya rek dan semakin panas juga lho, apa ndak baiknya kita buka pintu ruang tamu aja rek” tanyaku
“Iyo Gel, rasane pengab, sumuk, sumpek, gerah, dan rasane bikin gak kerasan
disini” jawab Blewah
Di dinding rumah ini ada jam dinding kuno yang selalu berbunyi sesuai dengan hitungan waktunya, kayak sekarang ini sudah pukul 23.00, jam dinding itu berbunyi sebelas kali.
Kami duduk di sofa L yang menghadap ke arah dapur, meskipun terhalang bufet tetapi aku masih bisa melihat arah kamar mandi dan dapur.
“Rek, di deket kamar mandi itu kok kayak ada banyangan yang melayang rek, bayangan itu ndak jelas, tetapi kalau kalian perhatikan bayangan itu akan bergerak ke arah kita rek” kata Glewo
Di sekitar rumah ini suasananya hening, baik diluar atau di dalam rumah suasannya hening, sehingga suara selemah apapun akan terdengar oleh telinga kita.
Saat ini di keadaan rumah dengan pencahayaan yang bisa aku bilang remang-remang ini makin mencekam, akupun bisa mendengar suara anak kecil yang sedang menangis
Tetapi bisa saja itu anak dari tetangga
sebelah, gak mungkinlah itu suara dari dalam rumah ini, karena disini kan tidak ada siapapun, aku mencoba untuk berlogika saja atas apa yang barusan aku dengar.
Susasana tetap hening, sepi sunyi, kemudian Glewo mencengkeram
pahaku.
“c*k Wo , koyok homo ae rek, ngapain kamu pegang pahaku c*k”
“Bayangan iku muncul lagi Gel, liaten ta itu di sebelah kamar mandi, coba kau tamatkan Gel ada bayangan yang sedang melayang c*k”
“Ayo keluar ae rek, gak betah aku didalam rumah pengab, sumuk gerah iki rek” kata Blewah
Blewah membuka pintu rumah, baru saja dia membuka pintu tiba-tiba dari arah luar tercium bau wangi sekali.
“Wangi opo ik Gel, wangi nemen diluar sini, bau wangi opo yo iki Gel?” tanya Blewah
“Kayaknya aku pernah tau bau khas ini Wah”
__ADS_1
“Ini kan bau minyak serimpi, setahuku biasanya buat orang meninggal Wah, wis tutup ae pintunya c*k, diluar pasti ada sesuatu iku” kata Glewo
Aduh rek , disaat koyok gini malah Indah ndak muncul sama sekali, lantas apa yang harus aku lakukan?
Memang rumah mbahku ini sudah lama kosong, semenjak mbahku meninggal rumah ini tidak ada yang menempati, pernah sih dikontrak orang, tetapi belum ada satu tahun orang itu pergi.
Besok aku harus cari tahu ke yang biasanya membersihkan rumah ini, sebenarnya ada apa disini, mengingat kami akan lumayan lama disini.
Belum lama setelah Glewo bilang bahwa ada bayangan di dekat kamar mandi, kemudian kami mendengar suara aneh lagi, suara tangisan bayi.
Tangisan bayi itu berasal dari bagian belakang rumah, atau mungkin bagian dapur, untuk diketahui di belakang rumah ini adalah sawah dan kebun pisang.
“Ayo kita masuk kamar ae rek, mungkin di dalam kamar bisa lebih tenang dari pada disini” ajakku kepada dua temanku
Kami bertiga akhirnya setuju untuk masuk ke dalam kamar, anggapan kami di dalam kamar kami tidak akan bisa mendengar suara tangisan, dan tidak akan melihat bayangan mengambang.
Kamar depan ini mungkin berukuran sekitar tiga x empat meter dengan satu jendela kayu yang menghadap ke bagian halaman depan rumah, kamar ini sudah
cukuplah untuk kami bertiga tidur disini.
Di dalam kamar ini hanya terdapat sebuah dipan kuno ukuran besar , dipan yang terbuat dari kayu jati karena kami kesusahan untuk menggeser dipan itu agar mepet dengan tembok kamar.
Selain dipan kuno juga ada lemari pakaian kuno dan meja tulis semacam meja kerja plus kursinya yang khas jaman dahulu, semua perabot ini berwarna hitam dan berbahan kayu jati.
Waktu udah menunjukan pukul 01.30, suara detik dari jam dinding kuno yang
terpsang di kamar ini malah membuat suasana makin mencekam.
“Gel aku kebelet pipis c*k, anterin aku” kata Glewo tiba-tiba
“Ayo wis, aku juga kebelet rek, Wah kamu di kamar atau ikut juga ke kamar mandi?” tanyaku
“Gak Gel, aku disini aja, disini ketoke lebih
aman dari pada di luar nungguin kalian pipis” jawab Blewah
“Sopo sing kebelet pipis Wah, iku lak Glewo yang kebelet, lha aku kebelet ngising c*k”
“Kamu ikuto Wah, temenin aku dan Glewo c*k, gak berani aku rek” kata ku
Akhirnya kami bertiga keluar dari kamar menuju ke kamar mandi yang letaknya di belakang sebelum dapur dan di depan kamar belakang yang katanya agak semriwing.
“Kamu dulu ae wo, pipiso dulu, aku sama Blewah nunggu di depan pintu kamar mandi” kataku kepada Glewo
“Pintu kamar mandi ndak tak tutup ya Gel, aku wedi rek di dalam situ sendirian” kata Glewo yagn sudh ada di dalam kamar mandi
“C*k, rumangsamu aku doyan tekos curutmu itu ta Wo, tutupen ae kamar madine c*k” kata ku
Aku dan Blewah nungguin si Glewo yang sedang pipis, tetapi anehnya sudah lama Glewo di dalam kamar mandi mungkin sudah sepuluh menit dia ada di kamar mandi, tetapi ndak ada suara apapun dari dalam kamar mandi.
“Wah, kok Glewo gak ada suarane, jangan-jangan dia pingsan di dalam sana Wah”
“Ah mosok se Gel, Glewo lho gak
__ADS_1
mungkin semaput c*k, deke lho tahan banting hihihihih..hihihihi...Hihihihi ”
Aneh juga , apa yang harus aku lakukan, kenapa Blewah tertawa di saat seperti ini, ada yang gak beres iki ketoke dengan Blewah dan Glewo.