
Mobil kami terus melaju di jalan yang tidak bisa dikatakan bagus ini, mobil terus melaju hingga kami bertemu dengan perempatan jalan.
“Terus saja mas Dogel kalau belok kiri itu ke desa yang kata pak Tembol hilang itu mas, tapi di jaman kami KKN desa itu ada dan banyak penduduknya juga” kata Winna
“Iya saya ingat jalan ini, disebelah kiri kita nanti ada semacam danau ya nak Winna?”
“Ada pak, danau itu angker, tidak ada yang berani bermain ke sana kecuali orang-orang tertentu pak, katanya ada siluman perempuan cantiknya pak heheheh” kata Chandra
“Iya saya tau nak, bahkan perempuan itu sempat ikut dengan Dani, dia suka sama Dani hehehe. Perempuan itu adalah adik dari Mak Nyat Mani sendiri” kata pak Tembol
Mobil akhirnya tiba di sebuah gapura desa. Gapura desa yang catnya masih nampak bagus, pasti ini bikinan anak-anak KKN itu.
“Gapura desa ini tiap tahun selalu berubah warna dan berubah bentuk pak hehehe, karena ada saja yang melakukan kegiatan KKN di desa ini heheheh” kata Chandra yang sekarang sudah bisa tersenyum cantik
“Kita langsung saja menuju ke warung mbok Nah nak, karena sudah siang ini nak, saya takut kalau kita kesorean ada di luar rumah mbahnya mas Dogel” kata pak Tembol
Setelah mengikuti arahan penunjuk jalan dari tiga perempuan bernama Winna, Chandra, dan Chinta. Akhirnya kami tiba di sebuah warung makan di sebuah desa yang agak jauh dari pemukiman kota.
Warung makan yang mugkin bisa dibilang tidak bagus sama sekali, tetapi ndak tau dari masakanya, buktinya pak Tembol dan ketiga perempan ini sampai kepingin makan disini lagi.
“MBOK NAAAAAAH…….” teriak Winna ketika dilihat di dalam warung itu tidak ada orang sama sekali
“Ayo kita ke rumahnya yang ada di belakang Win, siapa tau dia sedang tidur siang kayak biasanya itu hihihii” ajak Chandra kepada Wina Vvo
Akhrinya mereka bertiga yang menuju ke belakang, ternyata di belakang itu adalah rumah pemiliknya, makanya tiga perempuan itu langsung menuju ke arah belakang.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan kegirangan dari dalam rumah yang ada di belakang warung, mereka ternyata sudah bertemu dengan mbok Nah yang ada di belakang rumah.
“Kalian kok bisa sampek kesiniiii itu lhoooo. Gimana ceritanyyaaaaa?” kata perempuan agak gendut yang memakai daster itu
“Mbo Nah, kami bersama pak Tembol kesininya mbok” kata Chandra
“Siapa lagi itu pak Tembol mbak, saya kok ndak kenal” kata mbok Nah yang ternyata tidak mengenal pak Tembol akibat dari perubahan sejarah yang dilakukan oleh pak Tembol dan anak-anak Soetopo
“Ah sudahlah mbok Nah, pokoknya kami kesini hanya kangen sama mbok Nah dan masakan mbok Nah hehehe” kata Chinta
“Mbok Nah masak apa hari ini “ tanya pak Tembol tiba-tiba
”Nganu pak, eh saya masak jangan terong, ikan goreng, sambel terasi, sama tempe tahu pak, gimana pak njenengan mau tho pak” tanya mbok Nah
__ADS_1
“Wis sembarang mbok Nah, pokoknya saya kangen sama masakanya mbok Nah yang luar biasa itu. apalagi sambelnya hehehe” kata pak Tembol
“Lho memangnya bapak pernah kesini to? Kok saya sudah lupa sama bapak” sahut mbok Nah
“Sudah tidak perlu diingat ingat lagi mbok, hehehe” sahut pak Tembol
“Oh iya nak Dogel, tolong mbak Bashi dikasih makan ikan goreng itu nak” suruh pak Tembol
Mbak Bashi yang selalu ada di dalam gendongan Dogel memang seekor kucing yang pendiam, dia tidak akan minta makan kalau tidak dikasih oleh Dogel, atau kalau dia sudah benar-benar lapar.
Kucing itu sifatnya berbeda dengan kucing lainya, dia juga jarang sekali mengeong kalau tidak perlu sekali, kucing itu selalu menjiati bululnya kalau terkena kotoran meskipun sedikit, beda dengan Blewah yang nggilani, gak pernah mandi dah busuk selalu.
Ketiga perempuan itu ada di dalam warung , mereka membantu mbok Nah untuk menyiapkan piring dan lainya, dan yang aneh itu perempuan bernama mbok Nah itu suaranya ngeri.
Cara bicaranya aneh, ngecepret, dan suaranya itu selalu keras dan melengking tinggi, hingga aku bingung dia ini manusia atau peluti kereta api.
“Heh anak-anak, kalian apa sudah ketemu dengan Totok di kota sana? Dia kan sudah setahun lalu pindah ke kota, dia juga bilang kalau akan mencari kalian, katanya dia kangen dengan kalian lho hihihih” kata mbok Nah
Seketika suasanaya yang awalnya gayeng tiba-tiba menjadi kaku. Ketiga perempuan itu saling bertatap muka, mereka bertiga bingung mau jawab apa dengan pertanyaan mbok Nah itu.
“Kami tidak pernah ketemu mbok” jawab Winna tiba-tiba dengan singkat
“Wah masakanya mbok Nah ini memang luar biasa sekali ya hehehe, tidak berubah dari jaman ke jaman” puji pak Tembol
“Wah bapak iki lhoooo, kok bisa se dari jaman ke jaman iki lho, saya kan ada di jaman ini saja pak hehehe ngomong-ngomong saya kok rasanya pernah lihat sampeyan ya pak, tapi saya lupa saya pernah ketemu dimana gitu pak”
“Yoweesss, eh mbok nah pernah tau yang namanya pak Haris ndak, dia ganteng kayak belanda gitu” tanya pak Tembol Tiba-tiba
“Oalah Haris orang aneh yang suka bantu-bantu bersih bersih, orang itu selalu ada dimana saja pak, ya disini di gebang, di desa Br sebelah juga, pokoknya dia selalu menawarkan diri untuk bersih bersih rumah dan pekarangan. Kok sampeyan bisa tau sama yang namanya Haris pak” tanya mbok Nah
“Pernah ketemu di Gebang, tapi kabarnya dia berasal dari sini?” pak Tembol memancing mbok Nah, karena tidak ada yang tau Haris iu berasal dari mana
“Dia itu orang aneh pak, tiba-tiba muncul saja disini, kemudian luntang lantung tidur di mushola, kemudian ada warga yang suruh dia untuk membersihkan halaman rumah, karena rajin dan ganteng, akhirnya banyak warga sini yang memakai jasanya untuk membersihkan rumah mereka pak”
“Lho berarti kasusnya sama seperti Rochman eh Totok dong mbok Nah, Totok kan juga gitu, dia tiba-tiba datang kesini dan luntang lantung juga kan, kemudian dia tinggal di sebuah rumah warga hingga ketemu dengan ketiga mahasiswa ini kan heheheh” tunjuk pak Tembol kepada Winna, Chandra, Chinta
“Lhooo sampean kok bisa tahu keadaan mereka berdua sih, wah wah wah medeni ikiiiiii, sampean ini sebenarnya siapa sih pak” kata mbok Nah dengan wajah bingungnya
“Hehehe saya pernah ada disini mbok. Jadi aneh juga ya mbok antara Haris dan Totok bisa sama gitu ya nasibnya” pak Tembol keliatanya sudah mulai menemukan titik terang terkait dengan Totok dan Haris.
__ADS_1
“Oh iya mbok, disini ada yang bernama Marwoto tidak?” tanya pak Tembol yang makin membuat mbok Nah hampir jatuh pingsan karena pertanyaan pak Tembol itu hehehe
“Lancang kamu, dia adalah tetua kami, kami sangat menghormati dia, panggil dia dengan mbah Woto, jangan hanya nama Marwoto saja!”pekik mbok Nah tiba-tiba
“Hehehe iya mbok Maaf, saya soalnya ketemu dia itu masiih muda dan saya selalu panggil dia dengan sebutan mas To hehehe” kata pak Tembol lagi
“Eh boleh tau dimana rumah beliau mbok?” tanya pak Tembol kepada mbok Nah
“Sampeyan ini bikin bingung saja pak, saya ini bingung dengan kedatanan kalian, kemudian saya juga merasa pernah tau dengan bapak ini, tetapi saya lupa dimana dan siapa bapak ini” kata mbok Nah
“Kalian ikuti jalan ini, nanti sebelah kanan ada mushola, maju dua puluh meter, kemudian tanya sama penduduk disana rumah mbah Woto” kata Mbok Nah memberikan penjelasan
“Kita selesaikan makan dulu anak-anak, baru setelah itu kita kunjungi teman baik bapak sewaktu di masa lalu yang bernama Marwoto, tapi seharusnya kalian bertiga juga tau lho, karena kalian bertiga sempat mencari rumah mbah Woto bersama kami” kata pak Tembol
“Waduh, maaf pak, saya tidak merasa mengenal dan tau yang namanya mbah Woto” sahut Chandra
Kami lanjutkan makan siang ini hingga tuntas, dan setelah itu kami akan mencari rumah tetua desa ini yang bernama mbak Woto
“Mbok Nah, kami pamit dulu ya, kapan-kapan kami akan kesini lagi untuk mencicipi masakan mbok Nah lagi” kata Winna dan akhirnya kami pamit untuk menuju ke rumah mbah Woto.
“Di depan sana nanti ada mushola nak, nanti setelah mushola berhenti dulu saja, biar saya yang tanya ke penduduk disini rumah mas To” kata pak Tembol
“itu pak di depan itukan masjid pak, sekalian kita sholat dhuhur juga pak” kata Dogel
Akhirnya sebelum kami menuju ke rumah mbah To, kami lakukan sholat Dhuhur dulu bersama di masjid desa ini, aku hanya ikut saja tanpa tau siapa mbah To itu, tapi apabila memang baik dan bisa membantu kami ya ndak papalah.
“Pak, itu ada bapak-bapak yang jalan kaki, tanya ke orang itu dulu saja pak, siapa tau dia tetangganya mbah To” kata Dogel yang selalu bersama mbak Bashi.
Pak Tembol menghampiri bapak-bapak yang sedang berjalan menuju ke arah jalan yang menuju ke rumah mbah To.
Setelah berbincang bincang dengan orang yang sedang jalan tadi, akhirnya pak Tembol kembali ke tempat kita menunggu yaitu di depan mushola.
“Di depan sana kira-kira dua puluh meter ada rumah dengan pagar bambu yang banyak tanaman hiasnya, itu adalah rumah mbah To kata orang tadi bapak tanyakan itu” kata pak Tembol.
Mobil di arah kan pelan beberapa meter ke depan …
“Pak, kayaknya rumahnya yang itu ya pak” tunjuk Winna pada sebuah rumah permanen dengan pagar bambu dan aneka bunga hias yang ada di sekitar pagar bambu itu
“Berhenti disini saja dulu nak Agus, saya mau tanya ke pemiilik rumah itu apakah benar rumah itu adalah rumah dari mbah Woto”
__ADS_1
Pak Tembol masuk ke pekarangan rumah yang ada di depan kami ini, setelah mengetuk beberapa kali, keluarlah seorang laki-laki yang tua, kemudian mereka berdua bersalaman, tertawa, dan kemudian berpelukan.