INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 104. HARTA MBAHKU


__ADS_3

“Aku tau tempat yang ada di kartu nama itu Gel, kita kesana saja” kata Glewo


 “Lapo kesana Wo, gak usah cari masalah lagi lah, lagi pula keuangan kita sudah menipis iki, gak ada masukan tapi habis di bahan bakar dan makan rek”


Uang pemberian Totok pembagian hasil toko Gemezzz sudah menipis, mungkin bisa unuk makan beberapa hari lagi saja, dan untuk uang bensin mngkin tidak ada.


“Mas Agus ndak usah khawatir, kapan hari mbah Putri pernah bilang ke Indah, Indah di suruh tunjukin titipan mbah Putri kepada mas Agus kalau suatu saat mas Agus kehabisan uang”


“Maksudnya gimana Ndah, aku sama sekali gak paham apa maksudmu Ndah”


“Mas Agus tunggu disini dulu, Indah mau  ke kamar dulu sebentar”


Indah masuk ke dalam kamar mbah Putri, kemudian dia keluar lagi ke ruang tamu sambil membawa sebuah kaleng bekas biscuit khong guan yang nampaknya sudah tua, karena ada karat di tiap sisinya.


Tetapi yang aneh kaleng Khong guan itu nampaknya berat, hingga Indah kesulitan membawanya  ke ruang tamu.


“Sik Ndah, diam disana, biar aku saja yang bawa” kata Glewo yang segera menolong Indah membawa kotak kaleng bekas biscuit itu


Kotak kaleng bekas merk khong guan yang mungkin berisi rengginang itu ditaruh di tengah meja ruang tamu. Kami hanya memandangnya tanpa berbuat apa-apa hingga Indah menyuruhku membuka kaleng itu.


“Mas Agus sebagai cucu mbah Putri yang harus membuka kaleng itu, Indah saja sampai sekarang tidak berani membuka kaleng itu karena pesan mbah Putri yang boleh buka hanya mas Agus saja”


“Kalok liat dari beratnya, kayaknya isinya bukan uang Gel, tapi batu akik heheheh, soale berat sekali rek” kata Glewo


“Heheheh ngawur ae mas Glewo iki. Ya udah mas Agus cepat buka dong, Indah penasaran apa isi dari kaleng itu mas”


“Wo tolong ambilkan pisau atau obeng Wo”


Kuambil kaleng bekas kue yang terkenal dengan wadah untuk rengginang, kaleng yang di tiap sisinya sudah penuh karat itu kupegang dan aku cungkil menggunakan obeng yang diambil Glewo dari kotak peralatan yang ada di kamar belakang.


Kucungkil pelan-pelan kaleng yang lumayan berat itu hingga tutup kaleng bisa terbuka sedikit, dan kemudian kutarik kuat-kuat.


“ALLAHU AKBAR!” teriak Indah ketika aku membuka salah satu dari benda yang terbungkus kertas,   sebuah anting berwarna kuning dan berukuran cukup besar, mungkin jumlahnya mencapai puluhan benda berwna kuning yang kemungkinan besar berbahan dasar emas


Anting, cincin, gelang, dan beberapa logam emas batangan kecil itu ada di dalam kaleng biscuit, benda yang jumlahnya mencapai puluhan biji itu hanya dibungkus dengan kertas seadanya dan ditata di dalam kaleng.


“Gini ya rek, aku harus konfirmasi sama mbah putri dulu, karena harusnya harta ini kan masuk harta warisan yang harus dibagi ke anak-anak mbahku, bukan ke cucunya model aku ini”

__ADS_1


“Jadi harus jelas dulu untuk apa harta sebanyak ini, kalau memang harus diwariskan, ya aku akan bilang ke budeku sebagai anak mbah putri yang paling tua”


“Jadi untuk sementara kaleng khong guan ini kututup dulu saja hingga kita mendapat info dari mbahku”


“Tapi  gini Gel, dimana kamu akan simpan kaleng itu. Karena sebelumnya kan kita ndak tau ada harta yang begitu banyak disini, dan kita ndak kepikiran untuk pergi meninggalkan rumah”


“Lha sekarang, kita sudah tau ada harta yang luar biasa jumlahnya. Lalu apa kita ndak kepikiran kalau kita tinggalkan rumah ini?” tanya Glewo


“Gini lho Wo, rumah ini kan sudah bertahun tahun kosong, dan tidak ada yang berani masuk ke rumah ini, lalu ya anggap seperti biasa saja, anggaplah tidak ada apa-apa disini. Yakinlah bahwa tidak ada yang bisa masuk  kerumah ini Wo”


“Oh itu Ndah, kaleng itu kamu ambil di mana?”


“Kaleng ini tergeletak di pojok atas lemari mas, makanya kan kotor dan karatan. Indah dikasih tau mbah Putri dan disuruh ambil di atas lemari besar yang ada di kamar mbah Putri” jawab Indah


“Ya sudah Ndah, kamu kembalikan dulu saja, karena harta ini harusnya adalah hak anak-anak dari mbah Putri, jadi aku harus ketemu sama Mbah Putri dulu untuk tanya soal  Ini Ndah”


Kaleng kotak biscuit Khong guan itu dikembalikan Indah ke tempat asalnya karena aku harus tanya mbahku dulu itu harta apa, karena apabila memang harta peninggalan mbahku, harusnya kan diwariskan ke anak-anaknya.


Tapi kalau menyangkut tentang ilmu warisan, terus terang aku ndak paham sama sekali hehehe, pokoknya aku harus tanya ke mbahku dulu tentang harta yang ada di atas lemari itu.


Malam pun tiba, setelah sholat isya berjamaah di mushola, aku berniat tidak ke mana mana, aku hanya kepingin istirahat di rumah saja sambil bersantai tidak memikirkan apapun.


“Gak dulu Wo, aku juga lagi nunggu siapa tau mbahku mau ketemu sama aku nanti malam, lagi pula otaku masih buntu gara-gara tadi pagi aku dituturi sama bu Puji depan rumah”


“Lho iyo ta? Kamu dituturi opo ae Gel, kok aku ndak denger ya waktu kamu dipanggil bu Puji itu Gel?”


Aku cerita kepada Glewo tentang apa yang dibicarakan bu Puji kepadaku tadi pagi. Glewo kaget juga kalau bu Puji ternyata tau apa yang sedang kita kerjakan.


“Terus gimana ini Gel. Apa kita stop dan pindah ke tempat lain?”


“Pindah gundulmu Wo, pindah kemana ndeng?. Memangnya ndak butuh dana untuk tinggal di tempat lain?”


“Cari yang gratisan lah Gel, pasti ada tempat yang gratis, dan bisa kita tempati sepuasnya” kata Glewo yang suka berhayal


“Kita bisa pindah ke Waji atau ke vila putih heheheh, tak jamin gratis Gel hihihihi”


“Hmmm idemu masuk juga Wo, kita bisa pindah sementara saja, kita coba nginep di waji sehari saja dulu, baru kemudian kita balik kesini lagi. Setuju gak awakmu Wo”

__ADS_1


“Heheheh, gak setuju blas Gel hehehe, tadi aku kan cuma guyonan Gel, tapi kalau kamu memang niat nginep disana yo ayo ae wis hehehe”


“Kita pikir besok aja Wo, sing penting semoga mbahku datang malam ini, jadi aku bisa jelas penggunakan harta itu untuk apa saja”


“Terus terang aku ndak enak juga dengan harta yang pasti nilainya besar itu, dan kenapa tidak dari dulu dibagikan kepada anak-anaknya, dan kenapa kok baru sekarang diberikan kepada cucunya”


“Mungkin mbahmu punya alasan tertentu dengan ditunjukanya harta itu kepadamu Gel, hanya saja alasan itu tidak sempat diberitahukan kepada keturunanya karena mungkin mbah Putri keburu meninggal" Glewo mencoba memberikan logika.


"Itu semua bisa terjadi mungkin karena mbah Putri sudah sakit mas, dan beliau sudah tidak ingat apa-apa sehingga tidak sempat diberitahukan kepada anak-anaknya" kata Indah


"Bisa juga Ndah, masuk akal juga apa yang barusan kamu katakan itu. Eh tapi apa malam ini mbahku ada niatan datang kesini Ndah?"


"Indah belum dapat kabar mas, biasanya kan kalau mbah Putri mau datang, beliau selalu memberikan tanda dulu kepada Indah mas, tanda itu bisa berupa mimpi atau kadang bisikan-bisikan gitu mas"


"Ya sudah lah, malam ini kita gunakan untuk tidur nyenyak rek, karena beberapa hari ini kan kita tidak bisa tidur dengan nyenyak. Terus terang aku sudah ngantuk rek"


Aku berharap malam ini bisa ketemu mbahku untuk menanyakan perihal harta yang nilainya pasti besar. Mudah-mudahahan mbahku berkenan menemuiku.


"Aku tak tidur ae dulu Gel, gak kuat ngantuk pol ku Gel" kata Glewo yang bejalan menuju ke kamar depan tempat dia selama ini tidur bersamaku


Aku tetap bertahan di ruang tamu, tak betah betahkan melek agar tidak ketiduran ketika mbah Putri datang kesini. Karena nanggung juga kalau aku tidur, karena sekarang sudah pukul 22.45.


Di jam segini suasana di rumah dan di luar rumah benar-benar sepi. Sebenarnya desa atau kampung itu cocok untuk orang kota yang ingin istirahat melepas penat setelah seharian penuh berada di hiruk pikuknya kota.


Ndak terasa sekarang sudah menginjak pukul 23.30, harusnya pada jam-jam ini mbahku datang menemuiku, tapi kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tandanya?


Biasanya kan pakek acara listrik mati dulu, kemudian di kamar yang sekarang dipakai tidur Indah ada cahaya yang redup, kan gitu biasanya. Tetapi sampai sekarang kok belum ada tanda- tanda itu.


24.05, aku masih terjaga di ruang tamu yang sudah dari tadi aku matikan lampunya, ruang tamu ini memang sengaja aku bikin gelap agar apa yang ada di sini tidak telihat dari luar.


Tiba-tiba pintu kamar mbahku terbuka, Indah keluar dari kamar dan menghampiriku.


"Lho ada apa Ndah, kok kamu belum tidur sih jam segini?" tanyaku


"Indah ndak bisa tidur mas, Indah merasa kita harus ke toko Totok mas, toko Gemezzz. Indah merasa mbah Saripah penjaga disana ingin bertemu dengan kita mas"


"Lho gimana kamu bisa tau kalau mbah Saripah kepingin ketemu sama kita Ndah?"

__ADS_1


"Indah bisa merasakanya mas, ayo kita kesana sekarang mas, Indah yakin mbah Putri belum akan datang kesini hari ini mas, ajak dan bangukan mas Glewo juga mas" ajak Indah yang wajahnya keliatan khawatir


"Yang Indah rasakan sekarang sedang ada aktifitas di toko gemezzz mas, dan mungkin juga ada Totok disana mas"


__ADS_2