
Aku kembali ke rumah, setelah beberapa orang membantu pak Tukio, karena aku akhirnya mengiyakan apa yang dimau oleh Ginten.
Aku jelas tidak bisa menolak apa yang diinginkan Ginten, karena apabila aku tolak maka Ginten akan membunuh pak Tukio yang tadi sudah pingsan itu.
Hanya daja Ginten tidak menjelaskan apa yang dia maui, Ginten pergi begitu saja ketika aku mengiyakan apa yang dia tanyakan sebelumnya.
Kalau begini caranya, aku harus pergi dari desa ini, dari pada ada korban lagi yang diakibatkan olehku, tapi aku harus pergi ke mana?
Aku juga harus punya tempat tinggal dan aku harus punya pekerjaan agar aku tetap bisa hidup..
Sisa malam ini aku gunakan untuk berpikir apa yang harus aku lakukan, karena jelas aku tidak mungkin ada di esa ini dengan Ginten yang berusaha mempengaruhi aku.
Hingga tidak ada yang bisa kupikirkan lagi, dan akhirnya aku tertidur….
Suara pujian pujian sebelum adzan subuh yang berasal dari pengeras suara masjid sangat mengganggu tidurku!
Kepalaku rasanya panas dan pusing.. Padahal sebelum sebelumnya selama ada disini aku tidak pernah terganggu dengan suara itu.
Ingin rasanya ku rusak pengeras suara yang ada di atas masjid itu…..
Aku duduk di ruang tamu dengan perasaan dongkol dan kepala pusing akibat dari kurang tidur semalam dan mungkin juga akibat dari datangnya Ginten ke dalam kehidupanku.
“Aku harus pergi dari sini secepatnya…”
Matahari sudah mulai muncul dari arah timur.. Aku masih duduk di ruang tamu dengan perasaan jengkel karena kurang tidur!
Hari ini aku tidak akan kemana-mana, aku akan ada disini saja untuk beberapa waktu.
Nanti agak siangan aku akan ke desa sebelah, hanya sekedar jalan-jalan saja, siapa tau disana ada tempat tinggal yang bisa digunakan dengan gratis seperti disini.
*****
Sepeda milik tetangga ini kukayuh menuju ke arah desa sebelah…
Untuk ke arah sana tidak perlu memutar keluar dari desa ini, kita cukup lewat bagian belakang desa saja hingga, nanti aku akan lewat jalan yang di sisi kanan berupa persawahan dan sisi kiri adalah sebagian hutan dan sebagian adalah kebun pisang.
Pagi menjelang siang ini hawa di sekitar jalan tembusan yang menuju ke desa sebelah sangat panas.. Tetapi dengan adanya sawah dan kebun pisang dan sebagian hutan membuat panas ini tidak terasa.
Akhirnya aku sampai juga di depan gapura desa… Hmmm gapura ini benar-benar berbeda, sudah dipugar lebih tinggi dan catnya sangat bagus.
Di sebelah gapura ada lampu penerangan jalan, mungkin kalau malam gapura ini akan terlihat terang.
Dulu di depan gapura ini ada warung jelek milik saudara GInten yang bernama Juriah.. Tapi aku tidak tau dia sekarang ada dimana dan bagaimana nasibnya.
Sepeda kukayuh melewati gapura desa… jalan desa ini sudah beraspal sangat bagus, beda dengan desa sebelah yang jalur aspalnya banyak lubang dan sudah lama tidak ada perbaikan jalan.
Sepanjang aku memandang.. Rumah penduduk disini sebagian besar sudah berubah menjadi modern dan sebagian besar permanen.
“Aku penasaran dengan rumah GInten.. Dan bekas rumah mbok Ju yang ada bagian kiri desa ini”
Sepeda kukayuh dengan cepat menuju ke perempatan yang sekitar dua puluh lima meter lagi di depanku…
Di perempatan itu nanti kuarahkan sepeda ke kiri, nanti disana ada rumah Ginten dan yang di pojokan itu rumah Juriah yang dulu sempat disewa oleh anak-anak Sutopo.
__ADS_1
Setelah semakin dekat dengan posisi rumah…
Ternyata rumah Ginten sudah mulai hancur… karena tidak ada yang memelihara dan menempatinya.
Kukayuh sepeda menuju ke ujung jalan…..
Rumah Juriah juga sama saja.. Malah bagian belakang rumah itu sudah ambruk..
Ternyata dua rumah itu keadaanya parah juga….Sebenarnya aku ada niatan untuk menempati salah satu rumah itu, tetapi karena keadaanya sudah sebegitu buruknya, jadi ku urungkan niatku untuk tinggal.
Aku kembali ke perempatan jalan , kalau lurus aku akan bertemu dengan rumah sakit kecil yang waktu itu tempat mengobati kakiku yang luka.
Kalau aku belok ke kiri… maka aku akan ke hutan, dan seharusnya di tengah hutan itu ada gubuk tempat zaman dulu aku dan pak Tembol tinggal ketika aku dalam keadaan sakit parah.
Aku diam di perempatan, karena aku ragu akan ke mana…. Kalau ke kiri ke gubuk maka aku akan kembali ke keadaan yang mengerikan.
Bukannya apa.. Karena aku sudah berniat untuk berubah….tidak akan menjadi Rochman yang dulu lagi… namaku sekarang Totok.
Nama Totok bukan kupilih seenaknya saja, karena nama Totok itu adalah nama Ghaib ganteng yang menemaniku dan menyayangiku ketika aku ada di ruang bawah tanah rumah Putih.
Ketika aku masih bernama Syalala.. Sebelum Totok musnah karena melawan setan yang ingin memperebutkan aku!
Aku masih berdiri di perempatan jalan hingga ada seseorang yang menyapaku.
Orang tua dengan rambut yang sudah beruban.. Dia sedang ada di sampingku, dia mengendarai sepeda motor keluaran terbaru.
“Sampean mau ke mana, dan dari mana.. Kok saya tidak pernah melihat sampeyan disini” tanya seseorang yang tiba-tiba ada disebelahku
“Kamu bilang dari desa sebelah.. Tapi saya tidak pernah bertemu kamu ketika saya sedang ada di desa sebelah untuk menemui ibu saya” kata orang itu lagi
“Eh saya baru saja ada disana, ketika ada anak-anak KKN pak, saya sebelumnya entah dari mana, pokoknya tiba-tiba saya ada di padang rumput itu”
“Sudahlah.. Kamu balik saja ke desa sebelah… disini tidak ada rumah kosong yang bisa ditinggali…”
“Sebenarnya ada.. Itu rumah Ginten dan Juriah yang hancur.. Tapi mereka tidak pernah ada disana”
“Ya sudah pak… saya akan kembali ke desa sebelah..eh maaf, nama bapak ini siapa?”
“Nama saya Marwoto.. Panggil saja lek To”
“Dan saya tidak mengijinkan orang yang tidak jelas macam kamu ada di desa ini”
“Karena desa ini sudah aman tenteram dan tidak kurang apapun, jadi tolong jangan bikin masalah di desa saya ini”
Hmm ternyata dia ini Marwoto… huh sombong sekali kelakuannya, seolah olah dia yang menguasai desa ini.
Jadi setelah dia dan Suparmi berhasil memakmurkan desa ini.. ..Desa sebelah tidak dia makmurkan.
Padahal tujuan dulu itu kan memakmurkan dua desa….
Tapi biar saja, dia sudah mengusirku, dan akan aku buat dia menyesal karena mengusirku, akan aku buat maju penduduk desa sebelah.
“Baiklah pak.. Saya akan pergi dari sini”
__ADS_1
“Iya.. jadi maaf saja, saya tidak bisa membantumu untuk mencarikan rumah tinggal bagi kamu” kata Marwoto lagi
Kukayuh sepeda ini menuju ke desa sebelah…
Apakah Marwoto itu dari dulu seperti itu, apakah dia memang sesombong itu, apa Mak Nyat Mani dan Soebroto tidak salah milih orang?
Tapi memang dari dulu kan aku belum pernah bertemu dengan Marwoto, waktu itu aku kan hanya anak buah Dimas yang ada di sekitar rumah putih.
Aku tidak pernah diajak mereka untuk bertemu dengan Marwoto maupun Suparmi kan.
*****
Sore hari sebelum aku berangkat menuju ke gebang.. Hari keduaku berjualan pakaian bekas di gebang.
Sore ini aku bawa lebih banyak pakaian, agar pembeli bisa memilih pakaian apa yang mereka sukai, berdagang itu ternyata tidak semudah apa yang aku pikirkan.
Apalagi sekarang aku harus mencari tempat yang lebih terang agar barang daganganku laku.
“Tidak perlu cari tempat yang terang Man.. berjualan lah seperti biasa”
Tiba-tiba suara Ginten muncul lagi di kepalaku, aku tau dia pasti akan selalu ada di sekitarku, karena aku sudah mengiyakan apa yang dia maui.
“Lalu aku berjualan dimana Ginten?”
“Dasar manusia tolol… tidak perlu kamu tanya dimana dimana.. Cukup berjualan seperti biasanya saja,ikuti apa yang aku perintahkan tolol!”
“Iyaaaa.. Iyaaaa. Akan aku turuti apa maumu Ginten!”
“Heh… yang sopan kalau bicara dengan orang yang lebih tua… jangan asal panggil nama saja!... panggil saya mbok Ginten!”
“Iyaaaa…maaf mbok Ginten…”
“Gimana.. Sudah selesai ngomongnya, aku mau berangkat ke kota sekarang”
Tidak ada jawaban dari Ginten… yang artinya dia sudah pergi dari sekitarku.
Terus terang, setelah aku menjadi manusia.. Aku tidak bisa melihat makhluk ghaib lagi, tapi aku masih bisa mendengar apa yang Ginten katakan kepadaku.
Kukeluarkan sepeda yang memang disuruh tetangga sebelah yang bernama pak Peno untuk aku pakai terus menerus..
Bagian belakang sepeda aku muati dengan karung yang berisi pakaian, dan terpal untuk berjualan di pasar.
“Berangkat jualan mas Totok?” sapa pak Peno dari halaman rumahnya
“Inggih pak Peno… pokoknya berusa terus agar punya uang pak hehehehe”
“Bagus.. Bagus…. Saya senang sama orang yang giat dan rajin seperti mas Totok ini… dan semoga sepeda itu bisa membantu mas Totok agar sukses selalu
“Terima kasih pak Peno…. Saya berangkat dulu pak”
Pak Peno yang begitu baik kepadaku, aku tidak rela apabila Ginten melakukan sesuatu kepada pak Peno, memang aku harus pindah dari desa ini.
Tapi gimana lagi, di desa sebelah ternyata ada penjaganya yang akan menggonggong tiap orang yang datang ke sana.
__ADS_1