
“Mbah tau kamu dalam masalah besar Gus, tapi jangan sampai masalahmu dan temanmu itu berakibat buruk dengan keluarga kita Gus, koe kudu iso selesaikan semua ini secepatnya Gus”
Mbah putri berbicara tanpa melihatku, dia tetap menghadap ke cermin di depanya, cermin yang satu set dengan meja rias kuno.
“Sekarang apa yang kamu rasakan di tubuhmu Gus”
“Belum ada mbah, eeh atau aku sekarang bisa lebih sensitif lagi ya mbah?
“Salah! ...berarti ibadahmu kurang tekun, ibadahmu kurang rajin dan koe kurang pasrah kepada Gusti Allah. Kabeh orang bisa sensitif, tapi sing nang njero awakmu kui berlipat lipat besarnya dari sensitif saja!”
Setelah itu suasana menjadi sunyi dan sepi, mbahku tidak bekata kata lagi, aku bingung harus berkata apa kepada mbah putriku yang kini sedang duduk diam menghadap cermin.
“Baik mbah aku akan lebih giat dan tekun dalam beribadah lagi, dan semoga masalah kami bisa cepat selesai mbah”
“Hmm bagus Gus, satu lagi yang harus kamu perhatikan, Indah itu anak baik, bantu dia untuk menemukan pembunuh dan jasadnya, inshallah kalau kamu bisa temukan jasad dan selesaikan masalah Indah, maka masalahmu sendiri juga akan selesai”
“Ingat kata-kata mbah ini ya Gus, kemapuan mu tergantung dari ibadahmu, jangan buat mbah putri dan mbah kakung tidak tenang di alam mbah Gus”
Setelah perkataan terakhir itu kemudian mbah putri pelan-pelan menghilang dari kursi meja rias, setelah itu seluruh lampu rumah kembali menyala.
Aku cukup bingung dengan perkataaan mbahku tadi bahwa aku harus temukan dan menyelesaikan masalah Indah agar permasalahan band kami bisa selesai juga.
Aku menuju keluar, kubuka pintu rumah dan kupersilahkan semua temanku masuk ke dalam rumah, adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang, aku harus mandi untuk ikut sholat berjamaah dengan penduduk di kampung ini.
Seluruh temanku juga segera mandi untuk sholat berjamaan di masjid , hanya Indah yang jaga rumah sementara selama kami semua ke muhsola sebelah rumah.
Setelah selesai dengan sholat berjamaah di mushola, semua temanku pada tidur, wajarlah mereka kecapekan semua setelah semalaman kami melakukan perjalanan yang berakhir dengan motor Tifano yang masuk ke jurang.
Aku menuju ke kamar belakang, kutemui Indah yang sedang duduk sendirian di pinggir dipan.
“Kamu kenapa Ndah, kok diem aja”
“Ndak papa mas, Indah ndak enak sama teman mas Agus yang sudah kehilangan sepeda motor karena Indah tidak memperingatkan sebelumnya”
__ADS_1
“Karena pada waktu itu di sebelah kanan banyak mahluk Ghaib tua dan kuno yang selalu ingin masuk ke dalam tubuh teman mas Agus, terutama tubuh Tifano yang kata mereka enak untuk dimasuki”
“Asal mas Agus tau , disana disekitar vila yang teman mas mau sewa itu banyak sekali mahluk jahat yang akan mencelakai mereka mas, dan mahluk itu kebanyakan adalah mahluk ghaib kuno yang sudah lama tinggal disana”
“Hhmm berarti kamu tadi malam itu membantu kami hingga kamu tidak sempat memperingati kami Ndah, Gitu?”
“Coba kalau kamu nyata, pasti kamu akan aku peluk kamu Ndah, sayang nya kamu ini adalah hantu Ndah”
Aku lihat wajah Indah yang pucat itu kemudian tersenyum kecil. Aku cukup lega karena Indah sudah mulai tersenyum lagi. Sekarang tinggal bagaimana caranya agar aku bisa menemukan jasad Indah sesuai dengan permintaan mbah putriku tadi.
“Ndah seandainya nih ya, seandainya jasad kamu aku temukan, lantas hadiah apa yang akan kamu kasih ke aku Ndah” tangtangku ke Indah
“Hehehe mas Agus minta hadiah apa dari Indah lho mas, Indah kan Cuma hantu, mana bisa Indah berikan sesuatu bagi mas Agus?”
“Terserah Indah dong mau kasih aku apa Ndah, pokoknya akan aku usahakan untuk menyingkap misteri jasadmu, dan kamu harus siapkan hadiah buat aku Ndah”
Ndak tau kenapa makin hari aku makin suka dan mungkin juga cinta dengan mahluk tak kasat mata ini, padahal maih banyak perempuan yang bukan tak kasat mata, tetapi ndak tau kenapa kok rasanya beda sekali dengan Indah.
“Mesti ini rek, kamu kenapa sih kok sukanya baca apa yang aku pikirkan Ndah. Ndak baik tau, nanti jadi kebiasaan lho. Masak ada suami istri yang istrinya suka baca pikiran suaminya, ntar suaminya jadi makin kurus aja Ndah”
“Iih kok mas Agus pikiranya tentang suami istri sih, memangnya mas Agus sudah mau menikah ya?” tanya Indah penasaran dengan wajah cemberut
“Hehehehe memannya aku ndak boleh nikah Ndah, aku kan berhak nikah sama orang yang paling aku cintai Ndah hehheh
Siang hari yang panas, kami sedang bersantai di dalam rumah karena udara amat panas untuk kegiatan di luar, tetapi hal ini tidak menyurutkan teman –temans Sutopo untuk membahas acara yang akan dilakukan di vila itu.
“Eh rek, apa ndak sebaiknya kita balik kota S dulu, setelah itu dari sana kita bisa survey ke vila itu rek” kata Ukik yang masih getol membahas acara musiknya.
“Gini ae lho kik, kita kan baru saja kena musibah, motor Tifano sekarang ada di dalam jurang dan ndak bisa diambil, apa acara ini kita pending dulu aja Kik” kata Broni
“Waduh ojok gitu Bron, soale arek punk kota Psrn sudah mau ikut acara kita, mereka bahkan sudah mau urunan sisan lho Bron, nek misal ndak jadi apane aku ndak gembuk Bron hehehe”
“Ngene rek, lebih baik kalian rundingkan dulu ae rek, sekalian kalian lihat dulu sejarah dari vila yang akan kalian sewa iku rek, takutnya ada apa-apa disana yang akibatnya kalian yang akan susah rek”
__ADS_1
“Iya bener mas Dogel Kik, motorku wis tak relakan ilang lah , mungkin sebagai tumbal acara hehehe, untuk sebuah vila yang akan dijadikan acara musik keras dengan pesta miras pastinya yo rodok bahaya juga rek” kata Tifano
“Jadi menurutmu harus gimana Tif, oklah soal motormu aku prihatin, tapi nek acara iki ndak berlangsung awak dewe bisa gembuk Tif” jawab Ukik lagi
“Ngene ae, kan sekarang ada dua motor, ada baiknya kalian berempat pergi kesna liat vila itu, wis gitu ae lebih aman kan” kataku menengahi
“Iyo wis, aku tak disini aja rek, atau ikut jaga parkir sama mas Blewah di toko gemezzz, kalian berempat ae budalo kesana rek”
“Yo wis, sepakat yo, kita berempat kesana, minus kamu ya Tif. Nek gitu habis ini ae kita berangkat kesana rek, dari pada nanti kemalaman “ kata Ukik yang paling semangat
Sore hari sekitar pukul 16.30 mereka berempat berangkat ke kawasan Prgn, Tifano tidak ikut bersama mereka. Mungkin Tifano sudah merasa ada yang melarang untuk berangkat kesana, sehingga dia memutuskan untuk tinggal disini saja.
Sore hari sebelum magrib keempat anak itu belum juga muncul di sini, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
“Ayo kita berangkat ke toko Gemezz rek, nanti Tifano bantu Blewah jaga parkir ae ya, aku sama Glewo jaga pakaian di dalam heheheh”
Kami berangkat tanpa ada perasaan apapun hingga kami tiba di toko Gemezz yang sekarang kondisinya tutup, lampu tidak ada yang nyala sama sekali. Tetapi pelangan sudah mulai antri di depan toko.
“Gel kok aneh ya, tokonya kok tutup ya Gel, tapi mobil Bejo itu ada di samping toko iku Gel, jangan-jangan di dalam toko terjadi sesuatu Gel” kata Glewo
“Tapi kita ndak bisa masuk ke dalam Wo, soale satu satunya pintu untuk masuk ke dalam toko itu ya melalui depan itu, nek pintu harmonikanya masih tutupan gitu mana bisa kita masuk”
“Coba kita ke samping aja mas, disamping itu kan tanah kosong keliatanya mas, coba kita kesana mas, siapa tau ada pintu atau sesuatu yang mengarah ke dalam mas” usul Tifano
Kami berempat menuju samping toko yang berupa tanah kosong dan ilalang yang tinggi, benar juga di ujung pojok ada kisi-kisi kamar mandi yang lampunya tidak boleh dimatikan.
Di posisi luar sini ada pohon mangga milik umum yang lumayan besar dan dahannya sampai hampir mengenai jendela atau kisi-kisi kamar mandi.
“Kalian tunggu dibawah aku akan naik ke atas situ, siapa tau dari atas akan kelihatan sesuatu, atau bisa juga kita masuk ke dalam sana melalui jendela kamar mandi itu “ kata ku
Aku naik ke atas dahan pohon yang salah satu dahan pohon mangga itu hampir mengenai jendela kamar mandi. Ketika aku melongok ke jendela itu tiba-tiba ada wajah buruk rupa yang menghalangiku
AKU TIDAAAK SUKAAA SAMA KAMUUUU!.... teriak wajah tua buruk rupa itu
__ADS_1