
Meskipun kami dalam ancaman...tetapi akhirnya kami putuskan untuk melihat inbox fb sebentar, karena kami butuh info sekecil apapun tentang masalah ini.
“Ada berita apa lagi rek di Fb kita atau di sosmed rek” tanyaku
“Gak ada yang penting Gel, cuma tadi
aku kok sempat liat ada berita orang mati lagi di Fb Band kita, tadi ada yang ngabari gitu”
“Tapi tak cari lagi kok udah ndak ada beritanya, apakah udah dihapus sama yang ngepost? Karena takutnya itu berita basi “ kata Glewo
“Nek aku Wo, gak peduli, mau ada yang mati kek, atau tawuran , atau tukaran rebutan bojo, aku gak peduli, pokok lagu kita tambah laris ae rek” kata Blewah
“Ngawur ae Wah, utegmu umbahen pakek teletong sapi dulu sana, biar rodok bener c*k”
“Eeh rek, apa yang akan kita lakukan
hari ini dan seterusnya disini rek, mosok kita cuma GGMT, glundang-glundung mangan turu ae rek selain cari jasad Indah” tanya Glewo
“Oh iya, iki tentang Indah, ada sesuatu yang mencurigakan rek, mumpung dia diluar, gak bisa masuk kesini, aku akan ceritakan ke kalian aja rek”
Aku ceritakan kepada mereka berdua apa saja yang tadi aku bicarakan bersama Indah, memang ada sedikit keanehan di dirinya.
Karena seolah olah Indah itu menghantui tiap orang yang menyanyikan lagu band kami, setelah Indah menghantui mereka kemudian datang mahluk aneh yang masuk tubuh yang tadi dihantui olehnya.
“Lha kalau yang aku alami, aku juga merasakan itu waktu aku berangkat kesini naik bus dari kota M ke kota S rek, bahkan mulai dari kontrakan rasane ada yang ngikuti aku”
“Waktu aku selesai maghriban di Bus, Indah tiba-tiba ada disampingku, dia tersenyum liat aku sholat”
“Lha pikiranku, apakah karena aku sholat akibatnya aku terbebas dari demit yang kata Indah masuk ke dalam tubuh itu?”
“Atau mungkin kalau aku ndak sholat bisa aja ada memedi yang masuk ke dalam tubuhku dan mengajak aku kendat gantung diri rek”
“Iyo Gel masuk akal juga nek kayak gitu, tapi kita harus selidiki juga apa memang Indah memang murni tidak menghantui arek-arek yang bunuh diri itu?
“langkah awal lebih baik kita kerumah Indah ae rek, katanya rumahnya di gdg, kan deket dari sini di desa Gdg, di situ rumahnya”
“Lha tapi kita naik apa ke sanane Gel,
kita bertiga nek naik angkot terus ya ngentekno duit rek, tapi nek jalan kaki ya ndak mungkin” kata Glewo
“Coba tak ke tetangga depan yang bersih bersih rumah, beke dia ada kendaraan yang bisa kita sewa rek, tapi kalau ada cumak motor tok gimana rek, mosok kesannya gonceng bertiga rek”
“Kamu sama Glewo ae Gel, aku tak dirumah aja nunggu kalian,” kata Blewah
“Yo wis nek gitu , aku tak ke depan,
siapa tau ada kendaraan yang bisa kita pinjam, kan lumayan rek iso gawe
__ADS_1
jalan-jalan rek”
Aku keluar rumah kemudian menuju ke rumah mbak puji, mudah-mudahan mbak Pujinya ada di rumah, dan mudah-mudahan ada kendaraan yang bisa kita pinjam dari dia
“Bu puji ada dik?” aku bertanya kepada anaknya yang sedang njaring uget-uget untuk pakan ikan yang ada di akuarium
“Ada mas, bentar ya, aku panggilin ibu dulu mas” anak itu berlari menuju ke dalam rumah sambil teriak memanggil ibunya yang mungkin sedang masak di belakang
“Bu Puji, saya mau tanya, apa ada kendaraan apa saja yang bisa saya pinjam untuk ke daerah G bu?
“Waduh maaf dik Agus, kendaraan motornya sekarang lagi dipakek bapake tole yang lagi ada garapan di dekat RS Gatoel”
“Tapi di belakang ada bentor (becak motor) mas, sudah ndak dipakek lagi soalnya bapake tole ndak mau mbecak lagi, kalau dik Agus mau pake ya monggo lho dik”
“Aah kebetulan ada bentor, jadi kami bertiga bisa pergi bersama-sama, jadi bentor ini boleh kami pakai ya bu Puji?”
“Silahkan dik Agus, bentor itu sudah lama mangkrak di sini , bapake sudah ndak mau pake bentor itu lagi, semenjak keluarga dik Agus membelikan kami mesin jahit”
“Sekarang kami menerima jahitan untuk penduduk kampung ini. Jadi kalau dik Agus mau pakek bentor itu yang monggo dik”
“Oh iya bu Puji, ada yang mau saya tanyakan lagi mengenai rumah itu hehehe”
“Dik Agus mau tanya apa lagi to, ada sesuatu dengan rumah itu?” Bu puji balik bertanya dengan tersenyum kepadaku
Senyum yang mengandung makna atas apa yang tadi aku tanyakan ke dia, keliatanya memang ada yang akan dia bicarakan kepada ku
“Kalau yang dik Agus maksud itu tentang banyaknya penghuni yang ada disana itu ya memang gitu dik, semenjak mbah putri meninggal disana tiap hari makin banyak saja penghuninya"
“Tapi rata-rata tidak mengganggu kok kalau..mmmm kalau mbah putri datang kesana dik”
“Kalau ada mbah putri datang , demit yang ada disana itu pada lari semua, tetapi setelah mbah putri pergi mereka pada datang lagi”
“Lho bu Puji juga tau kalu mbah putri kadang datang ke rumah itu bu”
“Iya dik Agus, saya juga bisa melihat hal ghaib, memang turun temurun dari keluarga saya juga bisa melihat gituan”
“Makanya rumah itu selalu saya bersihkan dik, karena dik Agus sendiri kan tau kalau mbah putri paling tidak suka rumah yang kotor, mbah putri dari dulu paling marah kalau liat rumah kotor kan dik”
Benar juga apa yang dikatakan bu Puji ini ,memang mbahku paling tidak suka kalau rumah itu kotor , semasa mbahku hidup rumah itu selalu bersih, bahkan sprei putih yang ada di kamar tamu pun selalu putih bersih tanpa noda.
“Iya betul bu Puji, saya semalam didatangi mbah putri, tapi sebelumnya saya sempat ditakuti oleh demit disana bu”
“Demit itu menyamar menjadi kedua teman saya, dan mengajak saya ke kamar mandi, ketika dikamar mandi saya curiga dengan tingkah laku teman saya, kemudian saya bacakan ayat kursi”
“Demit itu sempat melukai dik Agus tidak, karena disana memang ada demit yang suka berbuat jahat kepada para pejalan kaki yang melintas di depan rumah ini pada malah hari”
“Demit jahat itu suka menakuti pejalan kaki dik, sehingga penduduk sini kalau malam hari tidak pernah berani jalan lewat sini , mereka memlilih memutar lewat gang sebelah dik”
__ADS_1
Aku kemudian ceritakan ke bu Puji ketika semalam aku ditemui mbah putri dan mbah kakung di rumah itu, dan ternyata bu Puji tidak heran dengan ceritaku.
“Dik Agus memang sudah ditunggu mbah Putri, dia menunggu dik Agus di rumah ini dan menginap disitu, saya ndak tau apa kenapa mbah putri kok menunggu dik Agus”
“Lho apa mbah putri pernah bicara sama bu Puji kalau mbah putri ingin bertemu dengan saya bu?
“Beberapa kali dik, ketika saya bersihkan rumah itu, saya kalau bersihkan rumah itu selalu malam hari, karena kalau pagi sampai sore saya sibuk njahit”
“Rumah itu seminggu dua kali selalu saya bersihkan, biasanya hari senin dan kamis dari setelah maghrib hingga sebelum isya dik”
“Pernah suatu kali waktu saya sedang beres-beres, Mbah putri menampakan diri duduk di sofa biru dan menghadap ke kamar yang ada didepanya”
“Saya tanya, ngapunten mbah , apakah saya ada salah sama mbah , kok mbah menampakan diri kepada saya?”
“Mbah putri cuma bilang kalau sedang menunggu cucunya yang bernama Agus yang dulu tiap minggu selalu nyekar ke sareanya”
“Tadi saya sudah nyekar ke sana bu, dan semoga mbah putri sudah terobati rasa kangenya terhadap saya bu”
“Tapi sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan mbah putri dik Agus, sesuatu yang mungkin mbah putri sendiri yang akan berbicara dengan dik Agus”
“Tentang apa itu buPuji, dan bagaimana bu Puji bisa tau kalau mbak putri ingin bicara dengan saya?”
“Nah ini dik, beberapa minggu lalu seperti biasa saya kalau habis maghrib kan membersihkam rumah itu, kemudian ketika saya membersihkan meja makan, tiba-tiba mbah putri datang lagi”
“Seperti biasanya dia duduk di sofa biru menghadap ke kamar depan, seperti sebelumnya saya ucapkan salam dulu, setelah itu saya minta maaf kalau saya ada salah hingga mbah putri datang lagi”
“Kemudian dia berkata, aku kepingin ketemu dan ngomong karo cucuku Agus, nek cucuku merene suruh cucuku turu nang kamarku, setelah itu mbah putri menghilang”
“Kesimpulan saya, mbah putri kepingin bicara sendiri dengan dik Agus, saran saya lebih baik dik Agus nanti malam tidur saja di kamar mbah putri”
“Ya nanti malam saya usahakan tidur di kamar mbah putri bu, tapi aman kan dikamar itu bu?”
“Aman lah dik Agus, memang ada apanya disana dik heheh, ndak ada apa-apanya kok hehehe”
Wah ketawanya bu Puji ini kok penuh arti ya, apa dia berkata jujur dengan apa yang dikatannya tadi tentang mbah putri yang ingin ketemu aku?
“Oh iya dik Agus, perempuan cantik yang selalu ada di depan rumah itu siapa ya, kok saya lihat dia datang bersama dik Agus kemarin itu”
Aku kaget juga waktu bu Puji berkata tentang Indah, apakah aku harus berterus terang kepada dia atau gimana enaknya.
“Memangnya bu Puji juga bisa lihat perempuan yang ada di depan rumah itu” tanyaku
Bukanya Indah pernah bilang kalau yang bisa lihat dia adalah yang dikehendaki nya, lha kok bu Puji bisa lihat Indah?
“Iyalah dik Agus, kasihan dia, keliatanya ada beban yang belum diselesaikan di dunia, keliatanya dia belum bisa damai dik”
“Hehehe saya juga tidak tau siapa dia Bu, tapi mungkin dia suka dengan salah satu dari temanku itu bu hehehe”
__ADS_1
“Ya sudah bu, saya akan panggil kedua temanku untuk membantu saya mengambil becak hehehe”