INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....16. Ancaman Marwoto


__ADS_3

Perempatan desa sudah di depan kami, setelah itu kami akan belok ke kiri. Setelah beberapa meter belok kiri maka akan sampai di rumah Ginten.


“Ten… kira-kira kamu masih ingat dengan keadaan rumahmu nggak?”


“Ya masihlah Man, eh Boneka ku masih ada disana Man?”


“Boneka mengerikan itu masih ada heheheh, memangnya boneka itu gunanya untuk apa sih?”


“Dulu boneka itu yang diberi oleh Mak Nyat Mani.. gunanya adalah agar aku bisa masuk ke dalamnya dan bergerak seperti manusia”


“Tapi itu kan dulu.. Dulu waktu aku belum bisa berubah menjadi manusia”


“Boneka itu biarkan saja disana Ten buat nakut nakuti orang, jangan dibuang”


“Ya jelas jangan dibuang Man, soalnya boneka itu kan terbuat dari tubuh manusia yang sudah dikeringkan dan bagian organ dalamnya sudah dibuang… sayang kalau harus dibuang Man..”


“Selain boneka disana semoga masih ada peninggalan saya jaman dulu, semoga tidak hilang dan nanti bisa dijual untuk biaya hidup kita”


“Memangnya kamu nyimpen apa disana Ten?... Uang?”


“Heheheh kita lihat nanti saja Tok…semoga masih ada dan tidak dicuri orang”


Ketika kami sudah tinggal beberapa meter lagi dari rumah Ginten…tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggil kami


“Heiii berhenti kalian..”


“Itu yang manggil kita itu pasti Marwoto Ten, aku hapal suara Marwoto”


“Ya sudah Tok, kita ajak bicara saja, ini kan memang rumah saya Tok”


“Apa kamu punya bukti nyata tentang rumah ini kalau memang benar-benar rumahmu?”


“Harusnya ada Tok.. tapi nggak tau lagi, ada sesuatu yang saya simpan di dalam kamar”


“Kamu simpan apa di kamar itu Ten?”


“Ada deh, laki-laki gak perlu tau apa yang disimpan perempuan, semoga barang itu tidak hilang dicuri orang”


“ Heii berhenti… kalian mau  ke mana?” teriak orang yang sedang berlari kecil menuju ke arah kami berdua


Sial … ketemu dengan Marwoto lagi.


Bisa panjang urusanya kalau ada orang sombong itu lagi.


“Kamu lagi kamu lagi!… sedang apa kamu bersama dengan perempuan ini?” tanya Marwoto dengan sinis


“Saya mau antar Ginten ke rumahnya pak”


“Hahahah mana ada Ginten disini, dia sudah lama mati, dan rumah ini tinggal menunggu akan saya miliki, saya gusur dan saya bangun untuk rumah anak saya”


“Bagaimana bapak bisa seenaknya memiliki rumah yang bukan hak milik bapak” seruku dengan agak emosi


“Hahah semua bisa saya lakukan.. Saya penguasa daerah ini”


“Maaf pak… saya Ginten” sela Ginten tiba-tiba


“Iya mbak.. Saya tau .. tapi Ginten sudah lama mati, sedangkan mbak ini Ginten yang mana  ya? Hehehe”


“Saya kerabat Ginten pak… bapak bisa menanyakan kepada saya tentang apa saja yang bapak ketahui  tentang Ginten”


“Kalau bapak tidak tau apa-apa tentang Ginten, berarti bapak hanya mengaku ngaku kenal dengan Ginten”


Marwoto terdiam sejenak..


Dia menatap Ginten dengan tajam, seolah dia sedang mempelajari wajah dan tubuh Ginten.


Hingga beberapa detik dia tetap memandang Ginten, hingga kemudian dia tertawa seolah mengejek aku dan Ginten.


“Hehehe, kalau kamu memang keluarga Ginten, bisa tunjukan kepada saya bukti kepemilikan rumah ini”


“Ayo kita masuk pak… untuk diketahui mbok Ginten tidak pernah mengunci pintu samping.. Tetapi dia selalu mengunci pintu depan” kata Ginten kepada Marwoto’


“Tok.. buka pagarnya dulu dan pastikan tidak ada ular atau binatang melata yang ada di sana”


“Iyaa Ten.. sebentar aku periksa dulu bagian taman depan rumah mu ini”


Setelah aku rasa aman.. Tidak ada binatang apapun. Juga  rumput ilalang itu sebagian kecil sudah aku cabut agar mudah untuk dilewati


“Mari pak .. eh pak siapa namamu?” tanya Ginten dengan tenang

__ADS_1


“Saya Marwoto pemilik dan penguasa desa ini!” jawab Marwoto


“Sejak kapan desa ini ada pemiliknya, akan saya laporkan bapak ke polisi kalau masih mengaku desa ini milik bapak” jawab Ginten.


“Sekarang pak Woto periksa dulu pintu depan rumah ini… masih terkunci atau tidak” suruh Ginten


“Gila apa saya yang periksa.. Siapa kamu kok suruh-suruh saya buka pintu rumah ini”


“Tok.. buka pintu itu agar si Woto tidak banyak mulut”


Aku maju untuk membuka pintu depan rumah Ginten… ternyata terkunci rapat.


“Terkunci Ten…” teriakku


“Nah sudah lihat kan pak Woto.. pintu rumah ini terkunci kan… tetapi pintu samping tidak pernah saya kunci. Saya yakin selama ini penduduk sini dan kamu juga pak.. Pasti pernah masuk ke rumah saya”


“Tapi kalian pasti ketakutan ketika melihat boneka yang mirip dengan saya kan hahahah” kata Ginten kepada marwoto


“Saya tidak pernah masuk ke rumah ini, karena saya tau di dalam rumah ini tidak ada apa-apanya!”


“Hehehe tidak mungkin pak Woto.. saya tau kalau bapak sering kesini, saya bisa buktikan bahwa bapak sering kesini” tantang Ginten


Marwoto hanya diam saja ketika Ginten mulai berani bicara..


Tapi itu biasa saja… yang selanjutnya akan dikatakan Ginten mungkin lebih menyakitkan lagi.


“Saya tau kalau boneka saya yang ada di dalam rumah ini merangsang kamu untuk beronani disini pak marwoto, saya bisa tunjukan ke kamu dimana posisi kamu dan dimana kamu menumpahkan cairan mani itu”


“HEEEEI KAMU BICARA APA ..KAMU MAU MEMFITNAH SAYA!” teriak Marwoto


“Sudah -sudan Ten.. tidak usah membahas yang tidak-tidak, sekarang kalau kamu memang keturunan Ginten dan tau seluk beluk rumah ini, buka pintu rumah itu dan tunjukan kepada kami berdua bahwa kamu memang berhak atas rumah dari keluargamu ini”


“Iya.. akan saya tunjukan dimana Ginten menyembunyikan surat kepemilikan rumah ini”


Ginten berjalan ke arah pintu depan rumah yang masih terkunci rapat di teras rumah Gintan ada dua buah kayu yang menyangga atap teras agara teras itu tidak panas atau terkena hujan.


Ginten kemudian mengetuk ketuk salah satu dari tiang penyangga atap teras, kemudian dengan mencungkilnya dia membuka semacam celah sempit.


Ternyata di dalam celah sempit itu ada sebuah anak kunci yang sudah berkarat.


“Ini kunci pintu depan yang tidak pernah dibuka oleh Ginten. Anak kunci ini selalu dirahasiakan Ginten, tetapi tidak kepada keluarganya yang ingin berkunjung ke rumah”


Marwoto tidak menjawab apapun, wajah dia kelihatan masam dan kurang suka dengan apa yang akan dilakukan Ginten.


“Sebentar… kalau kamu memang keluarga dari Ginten…harusnya kamu tau apa yang ada di dalam ruang tamu itu. Apakah ada barang berharga disana, atau hanya boneka buruk saja”


“Jangan bilang itu boneka buruk Marwoto… mbok Ginten sering lihat kamu ngochok dengan melihat boneka Ginten  itu hahaha, apa Suparmi kurang menggairahkan untuk kamu”


“KURANG AJAR KAMUUUU!” teriak Marwoto kemudian maju dan hendak memukul Ginten…tetapi yang terjadi adalah  dia tidak bisa menggerakan kakinya sama sekali.


“Sudah  jangan melawan saya dulu Marwoto.. Akan saya jelaskan apa yang ada di dalam sana sehingga Ginten sampai  menyembunyikan anak kunci itu di situ” kata Ginten sambil tersenyum


“Di dalam adalah ruang tamu yang Indah dengan berbagai hiasan yang berasal dari emas dan perak, juga ada lukisan yang Indah  hahahaha” kata Ginten lagi sambil tertawa


“Ah sudahlah.. Ayo masuk ke rumah Ginten….”


Ginten memasukan anak kunci itu ke lubangnya, kemudian memutar anak kunci itu ke kiri.


Ternyata pintu depan rumah Ginten itu bisa dibuka dari luar.


Bau pengap keluar dari dalam ruang tamu Ginten…


Eh ternyata itu bukan ruang tamu. Tapi semacam ruangan yang berbeda dengan kalau kita lewat pintu samping.


“Hehehe kamu pasti belum pernah masuk ke sini kan Marwoto.. Jadi lebih baik tidak usah masuk saja, lebih baik kamu pulang saja.


“Nanti sore saya akan bawakan bukti kepemilikan rumah ini, akan saya tunjukan kepadamu bahwa rumah ini masih milik saya”


“Eh atau nanti sore akan saya bawakan boneka saya juga pak,agar bapak lebih leluasa untuk ngochok  tanpa perlu diam diam masuk ke rumah saya. Karena rumah saya ini akan saya tempati secepatnya”


Genden Ginten ini… cari masalah dia, harusnya gak usah menyerang Marwoto dulu. Tunggu saatnya yang tepat.


Tapi kenapa dia berani mengolok olok Marwoto seperti itu.


Kita saat ini dalam keadaan yang kalah… karena kita tidak punya KTP… dan itu pasti nanti akan dijadikan alasan Marwoto untuk mengusir kami.


“Kalian boleh tinggal disini” kata Marwoto tiba-tiba


“Tetapi sebagai orang yang mengarut desa ini, saya perlu melihat KTP kalian berdua”

__ADS_1


“Jangan sampai kalian ini sebagai pendatang liar yang seenaknya saja masuk ke wilayah saya. Saya tidak mau penduduk disini terganggu karena ulah orang-orang liar seperti kalian berdua”


“Hehehe tenang saja pak penguasa, kami kesini tidak untuk tinggal disini sementara ini, kami kesini hanya untuk melihat rumah Ginten, karena saya adalah Ginten”


“Dan saya akan melakukan perbaikan terhadap rumah ini secepatnya. Dan setelah itu baru kami akan tinggal disini dan memberikan KTP kami ke sampean pak” jawab Ginten


“Oh itu terserah kalian,,,pokoknya saya tidak mau lihat kalian berdua  ada disini untuk jangka waktu yang lama, dan kemudian tolong buktikan bahwa rumah ini memang milik Ginten”


“Tenang saja pak Penguasa… lebih baik kamu pulang saja… kasih kepuasan istrimu si Suparmi itu, atau saya akan kirim boneka ini ke rumahmu”


“HUUH… kalian akan menyesal, tunggu pembalasan dari saya!”


Marwoto pergi dari sini dengan marah…aku tidak tau apa yang akan dilakukan Marwoto setelah ini.


Dia tadi sempat mengancam kami, terus terang untuk saat ini aku belum siap untuk melakukan apa-apa pada Marwoto, karena yang aku pikirkan saat ini hanya cari uang dulu.


Tapi nggak tau kenapa tiba-tiba Ginten menyerang Marwoto membabi buta seperti itu, dan aku yakin pasti ada alasan yang tepat atas kelakuan Ginten itu.


“Ten.. kamu kenapa kok  gitu sih?”


“Biar aja Tok.. kamu ndak  tau kan apa yang sering dia lakukan disini. Dia sering melakukan pelecehan terhadap boneka ku itu”


“Dia sering onani sambilk menggesek gesekan terongnya ke pantar bonekaku”


“Jangan-jangan dia itu penggemar lubang ***** seperti aku ini Ten”


“Coba aja kamu ajak dia indehoy Tok… siapa tau dia itu ternyata humu”


“Ah malas ah Ten… syilit orang kayak gitu pasti jorok.. Banyak bekas tai yang menempel di sela keriput syilitnya hehehe”


“Nah…sekarang apa yang akan kita lakukan Ten?”


“Pertama kita masuk, kemudian tutup pintu depan ini dulu Man… setelah itu aku akan buka baju dan ngemud terongmu lagi, agar kamu normal hehehe”


“Waaaah rencanamu ternyata busuk Ten… mending aku pergi dari sini saja hahaha”


“Sialan kamu Man.. mosok mau disembuhkan aja gak mau sih”


“Gak perlu sembuhkan aku Ten… sekarang apa yang akan kita lakukan di rumahmu ini”


“Hehehe ayo kita masuk, saya mau  tunjukkan kamu barang-barang berharga milik ku yang saya simpan disini”


Aku dan Ginten masuk keruangan yang pintunya dibuka dari depan…


Ternyata ruangan ini jauh berbeda dengan ketika aku masuk lewat pintu samping..


Ruangan ini bersih… hanya ada meja,kursi dan satu buah tempat tidur saja, tetapi lantai dan bagian lain disini jauh lebih bersih daripada ruangan lain.


“Eh bagaimana bisa ruangan ini bersih Ten..”


“Iya  Man.. ruangan ini saya persiapkan apabila sewaktu waktu saya berubah dan memerlukan tempat tinggal tetap seperti sekarang ini”


“Disini saya simpan semua harta saya dan surat rumah ini…Ruangan ini akan berbeda apabila yang membuka pintu itu bukan saya, karena di slot kunci pintu itu ada semacam arah membuka yang berbeda”


“Ayo coba kita keluar, kemudian kamu yang buka pintu ini”


Aku dan Ginten keluar…


Kemudian aku coba untuk membuka kunci pintu itu seperti kunci pintu pada umumnya.


Ketika kubuka … ternyata tembus ke ruangan yang ada boneka Gintenya.


“Tuh kan Man… kalau yang buka kamu.. Maka tembusnya ya di ruang tamu”


“Sekarang kunci lagi pintu ini, biar saya yang buka dari luar”


Benar juga… setelah yang membuka Ginten yang terbuka adalah pintu yang menuju ke ruangan yang hanya ada meja kursi dan tempat tidur .


Dipojokan juga ada lemari yang terbuat dari kayu jati.


“Duduk dulu saja kamu Man… saya akan cari dulu berkas-berkas rumah ini, dulu saya simpan di lemari ini ketika saya masih hidup”


“Ten.. kamu itu kadang panggil aku Tok.. kadang Man..yang jelas lah..salah satu saja…TOTOK atau ROCHMAN”


“Heheheh… ya wis…aku panggil kamu Man aja ya?”


“Jangan… mending Totok aja lah Ten”


“Hah cerewet kamu Tok!”

__ADS_1


“Ya dah… sana cari dulu.. Aku mau istirahat dulu sejenak Ten.. capek juga jalan dari desa kesini”


“Tapi jangan sekali kali tidur di tempat tidur itu Tok”


__ADS_2