LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM

LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM
CH. 107


__ADS_3

Xi mendapatkan peningkatan yang sangat drastis, dan memiliki kekuatan fisik yang setara bahkan jauh melebihi seorang tank. Ia dapat merasakan aliran energi yang amat kuat mengalir di dalam darahnya, serta menyebar ke seluruh tubuh.


Airis dan Astia yang melihat itu terdiam sesaat. Mereka tidak bisa memikirkan banyak hal di dalam pikirkan mereka. Mereka ingat, kalau baru saja kemarin malam Xi berhasil mencapai Rank S. Rank yang bahkan sangat sulit untuk di capai bagi setiap makhluk hidup, bahkan kemungkinan mereka tidak bisa mencapainya.


Setiap makhluk hidup, baik itu manusia atau pun monster, memiliki batasan mereka masing - masing. Setelah mereka mencapai rank yang telah menjadi batasan mereka, maka mereka tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan Rank mereka lagi. Kecuali sebuah keberuntungan ada di pihak mereka.


" Benar - benar luar biasa, aku bisa merasakan tubuhku menjadi lebih kuat dan lebih ringan dari sebelumnya. Item - item yang aku dapatkan tadi malam tidak mengecewakan ku. " Kata Xi dalam hatinya sambil menguji kemampuan fisiknya. Ia merasa fisiknya juah lebih baik dari sebelumnya.


" Xi - Sama, apa kau baik - baik saja? " Tanya Airis yang khawatir melihat semua kejadian tadi.


" Aku baik - baik saja, jangan khawatir... Aku merasa ada perubahan dalam wilayah pembunuhku. " Balas Xi.


Dari kejauhan, terdapat sekelompok orang dalam jumlah besar tampak dengan cepat bergerak ke tempat Xi berada. Mereka dapat menemukan lokasi Xi berada dengan melihat pusat pusaran topan besar yang muncul tadinya.


Orang - orang datang dengan menunggangi kuda yang tampak kekar, dengan setiap kuda mengenakan zirah yang terbuat dari kulit binatang buas. Mereka semua bergerak secara terpisah dengan membentuk beberapa kelompok, agar target yang mereka incar tidak dapat melarikan diri dari sisi mana pun.


" Target ada di depan, siapakan diri kalian semua! " Kata seseorang berbadan besar dan kekar. Ia memiliki keriput di wajahnya serta dengan janggut yang amat tebal layaknya surai singa, dengan rambut yang di ikat terlihat seperti ekor kuda. Penampilan nya cukup menyeramkan bila di lihat oleh anak kecil, dengan pakaian yang terbuat dari kulit hewan buas yang berkualitas, ia tampak seperti pemimpin dari kelompok itu.


Tidak perlu waktu lama untuk mereka sampai di tempat yang mereka inginkan. Dan tampak di hadapan mereka semua, terdapat satu pria muda dan dua wanita cantik bersama pemuda itu. Pria berbadan besar itu maju mendekati ketiga orang itu sambil menunggangi kudanya.


Pria besar itu berada di depan Xi sambil menduduki hitamnya yang sangat gagah. Sambil berpose dengan sangat gagah layaknya seorang pemimpin, ia mengacungkan senjatanya yang berupa sebuah tombak kepada Xi. Dengan raut wajah yang menyeramkan ia berkata " Nak, apa kau yang membuat pusaran angin itu? " Tanya pria besar itu kepada Xi.


Pria besar dan kekar itu adalah pemimpin dari kelompok bandit hutan yang sangat terkenal di Kekaisaran Fafnir. Ia terkenal suka merampas barang - barang milik orang lain bersama dengan kelompok nya. Mau itu barang milik para petualang, mau pun pedagang akan ia rampas. Tidak peduli walau orang yang ia rampas itu dari keluarga bangsawan atau pun bukan.


Dengan jumlah anggota nya yang sangat banyak, mencapai ratusan orang lebih. Membuat dirinya sangat terkenal di kalangan bangsawan sebagai bandit yang suka membuat masalah. Para bandit hutan ini sangat percaya diri dengan kekuatan mereka.


Mendengar pertanyaan dari boss bandit itu, ali - ali orang akan menjawab pertanyaan dari pria menyeramkan itu, namun tidak untuk Xi. Ia bahkan tidak mengatakan sepata kata pun, bahkan hanya memberikan tatapan sinis kepada boss bandit itu yang mengarahkan ujung tombaknya kepada dirinya.


Melihat pemuda yang ada di depannya tidak meresponnya sedikit pun membuatnya kesal. Ia merapatkan kedua rahangnya sambil menggesekkan giginya dengan kesal. Dengan raut wajah yang menyeramkan dan tampak marah ia pun berkata " Nak, aku tidak tahu apakah kalian ini tuli atau bisu? Tapi, ada bagusnya kalau kau menjawab pertanyaan yang di tanyakan oleh orang dewasa. Aku akan bertanya kepada kalian bertiga sekali lagi, apakah kalian bertiga yang menyebabkan angin topan itu? Jika kalian menjawabnya, mungkin akan aku pertimbangkan untuk membiarkan kalian pergi hidup - hidup. " Kata Boss bandit itu sambil melototi mereka bertiga dengan tajam. Matanya terbuka sangat lebar, dan terlihat hampir seperti ingin keluar dari tengkoraknya.


Mendengar itu Airis menatap Astia. Tampak keduanya saling mengangguk, mengerti satu sama lain.


" Lalu, apa yang akan terjadi jika kami tidak menjawabnya? " Kata Airis dengan santai sambil bertanya kepada Boss bandit itu. Tampak senyum santai yang Airis tunjukkan kepada Boss Bandit itu, seperti sebuah senyuman yang meremehkan.


Boss Bandit yang mendengar pertanyaan barusan, ia merasa jengkel. Apa lagi saat Airis bertanya kepada dirinya dengan santai seolah tidak takut sedikit pun kepada dirinya. " Aku adalah Boss Bandit yang sangat terkenal Sanzun, di pandang rendah oleh seorang wanita muda seusianya... Membuatku sangat marah... " Kata Boss bandit itu dalam hatinya. Sambil mengingat masa - masa dirinya yang merampas dan membunuh orang lain yang menentang dirinya sesuka hati. Penjahat besar yang bahkan membuat Kaisar geleng - geleng kepada saat memilikirkannya. Tidak satu pun orang yang pernah memandang rendah dirinya, kecuali, ketiga orang yang ada di hadapannya saat ini.


Tampak ketiganya terlihat sangat sombong, menganggap kalau kelompok nya bukanlah apa - apa di hadapan mereka. Boss bandit mengerutkan keningnya menatap ketiganya dengan sinis lalu berkata " Aku akan membunuh kalian, lalu akan ku giling daging kalian dan akan ku jadikan makanan anj*ng! " Kata Sanzun dengan nada marah dan mengancam. Ia melepaskan aura nya yang sangat kuat. Energi sihir mengalir deras bercampur dengan udara hingga menciptakan sebuah pusaran angin yang menerbangi dedaunan pohon.


Kelompoknya tampak tertekan dan tidak sanggup untuk menahan aura kuat dari Sanzun yang memberikan tekanan kepada mereka. Angin kencang yang membentuk pusaran pun menghantam mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Sementara itu, Sanzun yang melepaskan tekanan yang amat kuat tampak memerhatikan ketiga orang yang sombong tadi. Dia sangat yakin kalau ketiganya akan terkena dampak dari tekanan yang ia hasilkan. Namun, setelah ia melihat dengan jelas, tampak ketiga orang itu masih berdiri dengan santai di tempatnya dan tampak tidak menerima efek apa pun.


Hal itu jelas membuatnya terkejut sampai berkeringat. Dalam hatinya pun ia berkata " Apa... Mereka tidak tertekan oleh tekananku? Kecuali petualang tingkat S Rank... Semua petualang di bawah tingkat A Rank pasti akan menerima dampaknya! HUH! MUNGKINKAH! Me mereka... Petualang Rank S?!! " Kata Sanzun dalam hatinya. Kedua matanya terbuka lebar setelah menyadari orang yang ada di hadapannya saat ini berada di peringkat Rank S.


Wajah pucat dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Aura nya yang kuat pun mulai memudar. Hembusan angin kuat yang terbentuk olehnya pun perlahan menghilang. Tampak perlahan ia menarik kembali tombak yang ia acungkan pada pria itu, dan mundur perlahan dengan perasaan cemas. Jantungnya berdetak kencang, hingga menimbulkan suara yang keras bahkan sampai bisa di dengar oleh semua orang yang ada di sana.


Para bawahannya merasa bingung dengan sikap yang di tunjukkan oleh boss mereka. Melihat Sanzun yang perlahan melangkah mundur, membuat mereka semua semakin bingung. Dalam kebingungan itu, salah satu dari bandit itu pun berkata " Boss mundur karena lawannya tidak layak untuknya, mungkin Boss ingin kita menghabisi mereka karena ia tidak mau mengotori tangannya. " Kata Bandit itu. Tampak bandit tersebut telah salah paham terhadap Bossnya yang melangkah mundur kebelakang dengan kuda yang di tungganginya.


Mendengar itu membuat bandit lainnya pun juga ikut salah paham. Mereka juga ikut berpikir kalau Boss mereka hanya sedang tidak mood untung bertarung dengan orang lemah.


" Boss adalah orang yang hebat, mungkin saja dia sudah kehilangan mood untuk melawan mereka. "


" Hahaha kau benar, lawannya tidak bisa di bandingkan dengan Boss. "


" Boss, kau benar - benar pria sejati, kau tidak ingin melawan yang lebih lemah darimu, dan memberikan kita kesempatan untuk menghabisi mereka. "


" Hidup Bos!!! "


Kata para bandit sambil memuji Sanzun yang merupakan Boss besar mereka. Mereka menyoraki Sanzun yang saat ini ada di depan mereka semua.


Akan tetapi, Sanzun yang melihat para bawahannya sedang menyorakinya aksinya itu merasa sangat cemas. Wajahnya sangat penuh dengan keringat dan pucat. Dalam hatinya, ia pun bergumam dengan takut " Apa - apaan kalian?... Sebegitu nya kah kalian ingin melihat aku terbunuh oleh ketiga orang itu? " Kata Sanzun dalam hatinya.


Melihat itu, Astia bingung. Ia pun sedikit menunjukkan sihirnya di hadapan mereka semua. Sambil tersenyum ia pun berkata " Orang - orang ini sedikit berlebihan... Sepertinya harus di serang dulu, agar mereka bisa diam... " Kata Astia sambil menunjukkan sihir eleman apinya. Tampak sebuah bola api yang panas melayang di tangan kanannya.


Melihat wanita berambut pirang menunjukkan kemampuan nya, para bandit pun memandang remeh hal tersebut. Mereka merasa sangat percaya diri dapat mengalahkan wanita pirang itu sebelum wanita itu melemparkan bola api yang ada di tangannya.


Dengan tatapan dan senyuman yang meremehkan mereka pun berkata " Heh, sepertinya wanita ini ingin menyerang kita... Hahah lucu sekali! " Kata salah satu bandit sambil tertawa.


" WUAA! Aku sangat takut, apakah dia akan membunuh kita semua dengan satu serangan? Hahahaha! " Lanjut Bandit lainnya sambil tertawa.


Sanzun yang merasakan aura yang berbahaya terpancar dari wanita berambut pirang itu, ia pun bergumam " Tidak... Ada yang salah dengan wanita itu! " Kata Sanzun dalam hatinya.


Ia pun memperingati para bawahannya sambil menarik tali kuda yang ia pegang. " Berhenti! Jangan lakukan tindakan gegabah! " Perintah Sanzun meminta mereka untuk tidak bertindak macam - macam.


" Intuisi mu sangat bagus, tapi sudah terlambat! " Kata Astia sambil melemparkan bola api yang ada di telapak tangannya pada kumpulan bandit yang ada di depannya.


Sebuah bola api berukuram cukup besar melayang dengan cepat ke arah kumpulan para bandit. Melihat bola api yang di lemparkan oleh wanita berambut pirang itu membuat mereka terkejut karena ukurannya bola apinya tiba - tiba saja membesar.


Merasa adanya banyak yang akan menimpa mereka, sesegerah mungkin mereka menarik tali kuda, dan berusaha untuk menghindari bola api besar itu. Namun, karena jaraknya yang sangat dekat, di tambah dengan kecepatan bola api itu juga cepat. Membuat mereka tidak sempat untuk menghindarinya. Sehingga, membuat bola api yang besar itu pun menghantam mereka dengan sangat keras hingga menyebabkan sebuah ledakan yang cukup kuat.

__ADS_1


Hembusan angin yang di hasilkan dari ledakan itu pun cukup kencang menampar wajah. Tampak raut wajah terkejut terpajang di wajah mereka melihat kuatnya ledakan bola api yang di lemparkan oleh wanita berambut pirang itu.


Sanzun yang melihat itu hanya bisa diam terkejut. Matanya hampir saja copot saat melihat hasil dari ledakan bola api itu. Beberapa pohon yang ada di sana hangus terbakar, dan meninggalkan sebuah bekas dari ledakan itu. Mereka yang terkena ledakan bola api itu, telah tergeletak di tanah dan tidak bergerak. Walau begitu, ledakan dari bola api itu, tidak sampai membuat mereka kehilangan nyawa.


" Mereka masih hidup... Di bawah ledakan besar itu? Jika wanita itu menggunakan kekuatan penuhnya... Aku tidak tahu mereka akan menjadi apa... " Kata Sanzun dalam hatinya. Ia tidak dapat membayangkan kengerian dari kekuatan wanita berambut pirang itu. Dengan skill sihir kelas menengah, dapat menghasilkan kerusakan yang luar biasa. Sanzun pun merasa, dia tidak akan mampu untuk mengalahkan wanita berambut pirang itu walau bersama dengan bawahannya.


" Sudah tidak mungkin buatku untuk menang kalau mencoba melawan... Puluhan bawahan elite ku langsung di jatuhkan hanya dengan sekali serang. " Lanjut Sanzun.


" Sepertinya kau terkejut dengan kekuatan itu, bagaimana kalau kau menemaniku... Berduel! " Ucap seorang wanita dengan santai. Lalu secara tiba - tiba wanita menarik pedangnya dan langsung menyerang Sanzun.


Sanzun yang terkejut, dengan sigap ia memblokir tebasan pedang dari wanita itu. BANG! Sanzun berhasil menahan tebasan pedang wanita itu dengan gagang tombaknya yang pajang. Walau begitu, ia merasa tertekan sampai membuat berkeringat saat menahannya.


Sanzun menahan tebasan pedang dari Airis, namun ia kewalahan karena Airis memiliki kekuatan yang lebih besar darinya. Sanzun bingung dengan Airis yang bisa menekannya begitu saja dengan tubuh kecilnya itu. Semakin lama dirinya semakin di dorong mundur oleh Airis, sehingga membuatnya terjatuh dari kuda yang ia tunggangi.


Di saat itu, Airis tidak melepaskannya begitu saja. Ia melanjutkan nya dengan menusukkan pedangnya pada Sanzun. Melihat itu, Sanzun dengan sigap menghindarinya dengan berguling ke arah lain. Ia pun selamat dari tusukan pedang yang sangat berbahaya itu.


" Tadi itu berbahaya, jika aku tidak menghindarinya... Maka kepalaku sudah berlubang! " Kata Sanzun dalam hatinya. Mukanya penuh dengan keringat karena terus - terusan di tekan oleh Airis.


Airis menyerang Sanzun tanpa henti, setiap ayunan pedang yang Airis tebaskan sangat berbahaya, dan selalu menargetkan jantung Sanzun.


Dengan penuh usaha kerasnya, Sanzun menghindari dan menangkis setiap tebasan pedang yang Airis tebaskan. Sanzun terus di serang oleh Airis hingga ia terpojok dan nebrak sebuah pohon. Airis menebasnya tanpa ragu, dengan sangat kuat. Hingga tebasan pedangnya mampu memotong pohon dengan sangat mudah.


Sanzun yang berhasil menghindar, tampak darah mengalir dan membasahi wajahnya. Terdapat sebuah goresan luka yang timbul karena terkena sedikit sayatan pedang dari Airis. Sanzun semakin berkeringat dan ketakutan karena ia benar - benar tidak memiliki kesempatan untuk menang bertarung melawan Airis.


" Kenapa kau melamun! Terima ini! " Kata Airis sembari menebaskan pedangnya kepada Sanzun dengan sangat cepat.


Sanzun terkejut karena Airis tiba - tiba muncul di hadapannya dan langsung menyerang nya begitu saja. Merasa tidak sempat untuk menyerang balik, Sanzun pun berpikir untuk memblokir nya menggunakan tombaknya.


TANK! Sanzun terkejut. Tombak yang merupakan sebuah artefak Rank B tidak sanggup menahan tebasan pedang itu dan membuatnya terbelah menjadi dua bagian. " Sialan... Apa ini akhir dariku? " Kata Sanzun dalam hatinya. Ia sudah pasrah dengan hidupnya yang telah berada di ujung pedang itu.


Sebelum pedang milik Airis mengenai Sanzun, pedang itu berhenti tepat di lehernya Sanzun. Semua bandit yang melihat itu sangat terkejut karena Boss mereka dapat di kalahkan dengan mudah oleh seorang wanita, tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti sedikit pun.


Sementara itu, Sanzun juga ikut terkejut melihat pedang Airis berhenti tepat sebelum pedang itu menebasnya. Jandungnya terus bedebar - debar karena takut.


" I itu berhenti... Apa dia membiarkan aku tetap hidup? " Kata Sanzun dalam hatinya sambil bertanya pada dirinya sendiri. Ia pun mengangkat kepalanya, dan dengan ekspresi wajah bingungnya menatap Airis dengan muka penuh keringat.


Airis menarik pedangnya kembali lalu menyarunginya. Sambil menyarungi pedangnya kembali ia berkata " Tidak perlu pasang muka takut begitu, kan aku sudah bilang tadi kalau ini cuma duel... Aku tidak punya niatan untuk membunuhmu kok. " Kata Airis dengan santai. Sebenarnya, Airis hanya ingin menguji kemampuan nya setelah ia mencapai Rank S. Sejatinya Airis ingin menguji kemampuan dengan melawan monster, namun karena ia belum sempat bertemu dengan monster, jadi ia menggantinya dengan Boss bandit yang tiba - tiba saja datang mengalangi mereka pergi.


Sanzun hanya bisa diam saja setelah mendengar itu. Ia merenung memikirkan bila mereka berdua bertarung serius, mungkin hari ini akan menjadi akhir dari hidupnya. Ia pun menghelahkan nafasnya, dan bersyukur karena masih bisa hidup. " Kali ini... Aku salah sasaran... " Gumam Sanzun sambil mengutarakan penyesalan nya. Ia tidak berpikir kalau tindakan yang ia ambil ini bisa saja menjadi akhir dari kelompoknya. Karena, orang yang mereka jadikan target, bukanlah orang yang lemah. Melainkan, orang kuat yang sedang berpura - pura lemah dan tidak menunjukkan kekuatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2