LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM

LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM
CH. 147


__ADS_3

Dua Lightning Tiger melesat ke arah dirinya dengan sangat cepat, semua orang yang melihatnya sangat khawatir termasuk Yumiko, Airis, Astia, dan yang lainnya juga. Namun, dari semua orang yang ada, hanya dirinyalah yang menanggapi situasi ini dengan tenang. Karena, pada saat ia melihat kedua Lightning Tiger yang menuju ke arahnya, ia sama sekali tidak merasakan adanya niat membunuh dari kedua makhluk buas tersebut.


Setibanya keduanya di dekat Xi, tiba - tiba keduanya berhenti. Mereka berdiri di hadapan Xi, dan mengendus aroma tubuhnya. Mencium aroma Xi memiliki aroma yang sama seperti yang mereka cium saat di bawah bukit, keduanya pun menjadi senang, dan mulai mengusap - usapkan tubuh mereka di kaki dan tangan Xi dengan manja.


Saat melakukan itu, keduanya terlihat sangat imut seperti seekor kucing yang manja. Namun sejatinya mereka adalah seekor harimau yang ganas. Hanya saja, mereka menunjukkan sisi lembut mereka kepada orang - orang yang dekat dengan mereka.


Semua orang tercengang, rahang mereka jatuh ke lantai. Menyaksikan binatang buas yang sangat berbahaya berubah menjadi jinak dan terlihat seperti anak kucing yang manja, membuat mereka tidak dapat berpikir.


" I ini... Bohongkan? "


" Bagaimana mungkin... Lightning Tiger yang ganas itu berubah dan terlihat seperti anak kucing di hadapannya? "


" Aaaaaaa, apakah dunia saat ini sedang kacau? Bagaimana kedua makhluk itu bisa jinak kepada orang itu? "


Mereka terheran - heran, dan tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. Mereka masih tidak dapat menerima dengan apa yang di lihatnya dengan mata kepala mereka sendiri, dan memganggap apa yang di lihat itu hanyalah sebuah mimpi.


Tapi, saat masing - masing dari orang - orang itu mencubit diri mereka sendiri, akhirnya mereka sadar, apa yang mereka lihat sebelumnya ini adalah kenyataan, dan bukanlah bualan dari ilusi buatan.


" Apa - apaan ini, kenapa aku merasa dunia tidak adil kepadaku?! Kenapa kedua monster itu tidak memilihku saja sebagai majikan mereka? Aaaaaaa! "


" Sungguh dunia ini kejam! "


" Sialan! Bocah laki - laki itu sangat beruntung bisa mendapatkan kedua lightning tiger dengan mudah bahkan tanpa perlawanan, aku benar - benar iri dengannya! "


Semua orang marah dan merasa tidak terima dengan kenyataan hidup ini. Mereka bertanya - tanya, kenapa tidak mereka saja yang di pilih oleh kedua monster itu? Kenapa harus bocah laki - laki yang terlihat lemah itu?


Pemandangan ini, mengumbar kebencian bagi banyak orang, dan tidak sedikit dari mereka yang iri melihat situasi tersebut.


Semua mata tertuju kepada dirinya, namun Xi sama sekali tidak menghiraukan mereka. Apa pun yang mereka bicarakan, dan apa pun yang mereka dikusikan, Xi tidak memperdulikannya. Selama tidak mengganggu dirinya, dan tidak berniat atau berencana untuk membunuhnya, Xi akan membiarkan dan melepaskan mereka. Namun, itu akam berbeda bila mereka berusaha atau berencana untuk membunuh Xi, sebelum mereka datang dan memburu Xi, Xi - lah orang yang akan datang pertama kali menghampiri mereka untuk merenggut nyawa mereka.


Saat melihat kedua harimau itu dari dekat, Xi menyadari sesuatu memgenai kedua harimau tersebut.


" Eh? Kedua harimau ini... Aku merasa tidak asing dengan mereka? Seharusnya, kedua Lightning Tiger ini adalah bayi lightning tiger yang aku temukan di hidden word kota Jisa. Aku tidak menyangka, hanya dalam waktu yang sesingkat ini mereka sudah menjadi sebesar dan sekuat ini. Monster memang beda. " Gumam Xi dalam hatinya. Setelah mengingat - ingat kembali, Xi menyadari kalau kedua lightning tiger tersebut adalah bayi monster yang dulunya pernah ia berikan kepada Aiko, Su, dan Annya.


Xi mengusap kepala kedua harimau itu dengan lembut, itu membuat keduanya merasa sangat nyaman, sampai membuat keduanya jatuh ketanah karena sudah tidak sanggup untuk menahan kenyamanan tersebut. Namun, dalam hati mereka, mereka masih ingin lebih, itu lah kenapa mereka menggeliat - geliat di tanah layaknya kucing pada umumnya.


Suara seorang wanita terdengar, tampak seorang wanita yang berlari itu memanggil nama kedua harimau itu. " Haku, Haka... Hah, hah, kenapa kalian berlarian seperti itu? " Ucap wanita itu dengan nafas yang ter engah - engah. Ia lelah berlari karena mengejar keduanya.


Melihat familiarnya terbaring di tanah, itu sempat membuatnya bingung. Namun, saat melihatnya lebih jelas, keduanya baik - baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mereka hanya terbaring lemas di tanah.


" Apa yang terjadi kepada mereka berdua? Apakah mereka tertidur karena terlalu lelah? " Tanya Su kepada dirinya sendiri. Su kini telah tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik, kecantikannya sangat terkenal di kota dia tinggal. Ia adalah putri tercantik di antara putri keluarga bangsawan lainnya yang ada di kotanya.


Melihat wanita itu, Xi merasakan sebuah aura yang menurutnya sangat familiar. Eksistensi yang tenang, dan memiliki energi yang dingin layaknya es, Xi menyadari kalau wanita tersebut adalah Su. Seseorang yang penah menjadi rekannya di kota Jisa dulu.


" Su, apa itu kau? " Ucap Xi, memanggil wanita itu sambil menanyakan apakah ia benar - benar Su yang dia kenal dulu saat di kota Jisa.


Su menoleh kearah sumber suara itu, dan ia berbicara sambil melihat seorang pria berambut putih yang berdiri di antara Lightning Tiger. " Ya? Apakah kita pernah... " saat melihatnya lebih jelas, ia berhenti bicara sejenak. Menyadari kalau yang dihadapannya adalah orang yang ia kenal, yaitu Xi. Su Memunjukkan ekspresi terkejutnya, sekaligus ia juga senang karena dapat bertemu dengan Xi lagi setelah lama tidak bertemu. " Kak Xi, ternyata itu kau. Aku hampir tidak menyadarinya, karena keberadaan mu tidak bisa aku rasakan. Dan sepertinya, kau juga menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. " Ucap Su kepada Xi.


" Benarkah? " Tanya Xi sambil memgangkat satu alisnya.


Su mengangguk pelan, menyatakan itu benar. Dan dia juga melihat seseorang yang juga masih ia kenal. " Dan kau Airis kan? Senang bisa bertemu denganmu lagi. " Ujar Su menyapa Airis yang juga merupakan temannya saat di Kota Jisa.


Airis hanya mengangguk menanggapinya, ia tidak mau banyak bicara, itu di karenakan ia lupa dengan Su yang di karenakan mereka jarang bertemu. Airis hanya diam, untuk menyembunyikan kecurigaan nya terhadap Su, agar Su mengira kalau dia benar - benar tidak lupa dengan nya.


Di lain sisi, Su senang karena Airis masing mengingatnya. Di saat yang sama, tiba - tiba datang seorang wanita cantik dan manis. Dia melompat dan datang langsung memeluk Xi dengan sangat erat.


Hal itu membuat semua orang terkejut. Bahkan Su yang datang bersamanya juga ikut terkejut.


" Kak Xi, sudah lama tidak bertemu aku merindukanmu! Apakah kau juga merindukan ku? " Ujar gadis itu. Ia begitu periang dan kekanak - kanakan, namun ia selalu berpikir positif, dan baik kepada semua orang.


Su yang melihat temannya tiba - tiba datang langsung memeluk Xi, ia pun berkata " Aiko, apa yang lakukan? Kau tidak boleh seperti itu... " Ucap Su kepada Aiko. Ia berkata seperti itu kepada Aiko, karena tindakan seperti itu tidaklah sopan untuk seseorang yang baru saja di temuinya.


Aiko yang mendengarnya, menjawab " Hee?! Kenapa? Aku rasa itu tidak masalah karena dia Kak Xi. " Balas Aiko kepada Su. Ia membanta perkataan Su. Bagi Aiko, selama itu Xi, itu tidak masalah, karena ia menganggap Xi sebagai saudaranya sendiri. " Kak Xi pernah mengatakan ini kepadaku, mau waktu berlalu bertahun - tahun sekali pun, aku tetaplah anak kecil dimatanya. " Ujar Aiko membela diri agar tidak di salahkan.


Sementara itu, Xi yang mendengarnya, wajahnya berkeringat dan bergumam " Kapan aku mengatakan itu? " Xi pun heran darimana Aiko mendengar kata - kata tersebut. Karena merasa tidak nyaman, Xi melepas pelukan Aiko dengan pelan sambil berkata " Aku tidak tahu kapan aku mengatakan itu, tapi kedepannya kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi. Sekarang kau sudah dewasa, berbeda dengan dua tahun yang lalu. " Ucap Xi kepada Aiko.

__ADS_1


Xi menambahkan " Aku tidak melarangmu bersikap manja, tapi jika kau melakukan ini, khususkan lah untuk keluargamu, terutama kedua orang tuamu atau saudara dan saudarimu. " Lanjut Xi.


Aiko terdiam sejenak mendengarkan penjelasan Xi, alih - alih mendengarkan dengan baik, apa yang Xi katakan tadi masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Tidak ada satu pun ucapan Xi yang melekat pada Aiko. Ia hanya diam sambil tersenyum masih kepada Xi.


Xi menghelakan nafasnya, dan berpikir memang melelahkan jika memiliki seorang adik seperti Aiko. Itu mengingatkannya pada Alsia yang selalu bersikap manja kepada dirinya ketika ia masih berada di bumi.


" Nee, omong - omong Su... Apakah kalian hanya datang berdua? " Tanya Airis kepada Su.


Su menggelengkan pelan kepalanya, dan mengatakan kepada Airis " Tidak, kami datang bersama saudara kami. " Jawab Su.


Airis bingung, siapa yang di maksud saudaranya. Karena saat ini ia hanya melihat Su dan Aiko saja, dan untuk kedua Lightning Tiger tidak di hitung.


" Lalu dimana saudaramu? " Tanya Airis lagi kepada Su.


Su menjawab pertanyaan Airis dengan ekspresi wajah yang tidak enak, dan sedikit berkeringat. Su merasa sedikit bersalah karena berlarian mengejar Haka karena khawatir, sehingga ia dan Aiko meninggalkan saudara dan saudarinya di belakang.


" Eeee, sepertinya mereka tertinggal di belakang saat kami mengejar Haka dan Haku. " Jawab Su. Su berkeringat, dan merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Ini mengenai saudaranya yang mungkin akan membuat masalah kepada Xi dan teman - temannya.


Tak lama saat Yu menjawab pertanyaan Airis, seorang pria yang gagah datang menghampiri Yu sambil ngomel - ngomel. " Hei, Yu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau meninggalkanku sendirian di belakang? Jika kau ingin mengejar Haka, tunggulah aku! Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada dirimu? Apa yang harus aku katakan kepada ayah jika adikku yang bodoh ini terluka? " Ucapnya sambil ngomel - ngomel kepada Yu. Pria ini adalah saudara laki - laki Yu, tidak seperti adiknya yang pandai dalam menggunakan sihir, pria ini mengikuti jejak ayahnya dan mewarisi ke ahlia seni pedang yang menakjubkan. Nama pria ini Girad Hiroshi, seorang anak pertama dari keluarga bangsawan di keluarga Hiroshi. Ia juga seorang knight bertingkat Rank S, yang mana itu adalah yang terbaik di antara yang terbaik.


Yu menanggapi omelan kakaknya dengan wajah murung, namun ia tahu kakaknya sebenarnya hanya mengkhawatirkan dirinya.


Setelah selesai mengomeli Yu, Girad menatap Xi dengan sorot matanya yang tajam. Dalam pandangannya, dia melihat Xi ini seorang bajingan bejat yang suka bermain dengan banyak wanita. Girad tidak menyukai Xi, kerena merasa Xi ini bukanlah pria yang baik dan tidak cocok dengan adiknya.


Melihat adanya banyak wanita cantik berkumpul di sisinya, menambahkan kesan buruk dirinya di mata Girad. Bukan hanya sekadar tidak suka, tetapi ia juga iri kepada Xi karena begitu populer di kalangan wanita. Itu membuatnya menjadi kesal dan jengkel.


Menanggapi sorot mata Girad yang tajam, Xi menyipitkan matanya sambil memasang muka datar. Dari ekspresi yang di tunjukkan Girad kepada dirinya, Xi sudah dapat menebak jika Girad tidak menyukai dirinya berada di dekat Yu.


" Ku tahu kau tidak suka kepadaku, tapi apa - apaan tatapan itu? Bukankah itu terlalu berlebihan? Kenapa tidak kau hentikan saja, ku takut bola mata mu akan lepas dari wajahmu. " Ujar Xi dalam hatinya, sambil tersenyum canggung saat membicarakan Girad kakak Yu dalam hatinya.


Melihat sorot mata kakaknya yang tajam tertuju kepada Xi, Yu berpikiran kalau kakaknya ini ingin berkenalan dengan temannya, namun ia malu karena ini kali pertamanya dia bertemu dengan teman - temannya.


" Maaf terlambat memperkenalkan diri, teman - teman namaku Yu Hiroshi, dan ini kakak ku Girad Hiroshi. Dia agak sedikit pemalu, tapi dia orangnya baik. Ku harap semuanya dapat berteman baik dengannya. " Ucap Yu. Ia sekali lagi memperkenalkan dirinya kepada Xi dan rekan - rekannya. Karena banyak dari mereka yang tidak Yu ketahui, dan tidak pernah Yu lihat sebelumnya. Sudah sewajarnya bagi Yu untuk memperkenalkan dirinya kepada teman - teman Xi supaya mendapatkan kesan yang baik dari mereka dan dapat akrab.


Girad yang mendengar adiknya menjelek - jelekan dirinya di hadapan teman - temannya, ia tidak dapat terima, dan membanta semua perkataan Yu dengan nada yang keras. " Ka - kau sembarangan kau! Aku ini bukan pemalu! Hanya saja aku tidak suka berteman dengan orang lemah, apa lagi orang yang terlihat mencurigakan seperti orang itu, mau di lihat dari sisi mana pun, dia terlihat seperti orang jahat! " Ujar Girad, membanta kalau dirinya bukanlah seorang pemalu. Ia juga mengecap Xi sebagai seorang penjahat, dan untuknya, seseorang seperti itu tidaklah layak untuknya di jadikan seorang teman.


Meski ia berbicara dengan suara yang tinggi, namun kenyataannya ia sama sekali tidak marah kepada Yu. Hanya menunjukkan kewibawaan nya sebagai seorang pria.


Airis, Astia, Yanzams, Ciara, dan Nue mendengar tuannya sedang di rendahkan dan di hina oleh Girad mereka sangat kesal. Aura yang kuat dan mengerikan terpancar masing - masing dari mereka, dan semua itu tertuju kepada Girad yang baru saja menjelek - jelekkan tuan mereka.


Girad yang merasakan aura mencekap dan terasa seperti niat membunuh yang teramat kuat dari orang - orang itu, ia terasa terintimidasi oleh mereka, hal itu membuat keberaniannya yang sangat besar menciut dalam sekejap.


Dengan seluruh tubuh yang gemetaran, dan wajah yang menghitam di sertai dengan keringat yang banyak. Girad bergumam dalam hatinya mengenai orang - orang itu " Niat membunuh yang luar biasa... Apa - apaan orang - orang ini? Gawat, sepertinya aku sudah mencari masalah dengan orang yang salah?!! " Gumamnya.


Sementara itu, Xi yang mendengar ocehan Girad hanya diam sambil sedikit tersenyum canggung. " Apa yang dia katakan juga tidak salah, memang tidak ada hal yang baik dariku tapi... Melihatnya di intimidasi oleh mereka semua aku merasa kasihan. " Ucap Xi dal hatinya, ia hanya bisa menutup mata saat melihat Girad di intimidasi oleh para bawahannya.


" Ohya! Siapa ini yang terlihat seperti anak kecil yang di bully? " Suara seorang wanita yang merdu terdengar. Seorang wanita cantik nan seksi datang menghampiri mereka. Wanita cantik ini adalah saudari tertua Aiko di dalam keluarganya. Ia dan Aiko memiliki kelas yang sama, yaitu seorang Support dengan kemampuan utama menyembuhkan. Hanya saja, yang membedakan di antara keduanya adalah pengalaman, dan ranking mereka. Aiko saat ini adalah seorang Healer Rank A, sementara dirinya adalah seorang Healer Rank S.


Tidak hanya pengalaman dan kemampuan mereka yang berbeda, tapi juga kepribadian mereka. Aiko yang terlihat seperti seorang gadis mudah yang manis, kekanak - kanakan nan periang, dan kakaknya benar - benar menunjukkan aura kedewasaannya layaknya seorang kakak. Itu benar - benar sempurna, dan sangat memikat hati para pria. Kecantikan nya luar biasa, dan sulit untuk para pria menolaknya.


Pesona yang ia tunjukkan membuat banyak mata para pria tertuju kepada dirinya, tak terkecuali Girad yang sangat mengidolakannya. Akan tetapi, di antara para pria - pria itu, hanya ada satu orang pria yang tidak tertarik dengan pesonanya, bahkan pria itu tidak menunjukkan respon apa pun terhadap dirinya.


" Eh? Pria ini... Sangat berbeda. Tidak seperti pria lainnya, dia terlihat tenang dan bahkan terlihat tidak tergoyahkan di hadapan wanita cantik sepertiku? Ehmmm, hehe, dia cukup menarik... Aku menyukainya. " Ujar nya dalam hati. Melihat respon Xi yang tenang menghadapinya, membuatnya kagum dan menjadi tertarik kepada Xi. Akan tetapi, yang tidak ia ketahui, sebenarnya Xi memang tidak tertarik kepada dirinya, mau sebagus apa pun tampilannya, itu tidak akan membuat Xi terpengaruh atau pun jatuh ke tangannya.


" Kakak, akhirnya kau datang! Sini biar ku perkenalkan kau dengan orang yang sering ku bicarakan! " Ujar Aiko dengan cepat meraih tangan kakaknya, dan menarik nya.


" Kak Xi, perkenalkan. Ini kakak ku Ran, dia seorang healer Rank S. " Lanjut Aiko kepada Xi.


Ran, sebagai kakaknya Aiko, ia menjitak kepala Aiko. Dengan raut dan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal, Ran pun berbicara kepada Aiko sambil merapatkan giginya. " Bocah bodoh, kenapa kau malah seenaknya memberitahukannya kepada orang asing! " Ujar Ran kepada Aiko.


Aiko yang kepalanya di jitak, ia langsung memegang kepalanya dan menangis. Ia pun berlari dan bersembunyi di belakang Yu. Sambil menangis, ia juga menjawab tuk membanta perkataan Ran.


" Tidak, kak Xi bukan orang asing, dia juga kakak ku! " Ujar Aiko sambil menangis.


Xi yang melihat dan mendengarnya, malah malu sendiri. Wajahnya juga berkeringat karena memikirkan sifatnya Aiko benar - benar mirip dengan Alsia.

__ADS_1


Karena adiknya yang begitu bersih keras menganggap Xi bukan orang luar, ia tidak dapat melakukan apa pun selain memurutinya. Jika tidak, ia khawatir Aiko akan menangis seharian. Dan itu pasti akan merepotkan dirinya.


" Haaa, terserah kau saja. " Ucapnya kepada Aiko. Pasrah karena Aiko masih terus menangis. " Ne, seperti yang Aiko katakan, aku saudarinya Aiko. Kalian bisa memanggilku Ran. " Ujar Ran kepada semua orang.


Semua orang mengangguk, menyambut baik. Melihat Xi, Ran pun maju beberapa langkah sambil mengucapkan " Jadi dirimu ya, yang selalu di bicarakan oleh adik ku. Xi kan? " Ucap Ran kepada Xi.


Xi menanggapinya hanya dengan anggukan pelan.


Ran melanjutkan. " Aku tidak tahu apa yang membuat adik ku begitu kagum padamu, tapi Yu pernah mengatakan kepadaku kalau kau ini orang yang kuat. Walau aku tidak tahu seberapa kuat dirimu, tapi yang pasti aku harus mengucapkan terimakasih kepadamu. " Ujar Ran. Ia menunjukkan niat tulusnya, bersikap dengan sopan layaknya seorang wanita bangsawan. " Tuan Xi, terimakasih sudah mejaga dan merawat adik ku dengan baik di Kota Jisa. Kebaikan tuan Xi pasti akan kami ingat selalu. " Lanjut Ran.


Xi yang mendengar penyataan tulus dari Ran, senang namun sekaligus juga tidak nyaman karena di lihati oleh banyak orang.


" Angkat kepalamu, tentang Aiko, aku juga tidak melakukan banyak hal. Mereka semua dapat bertahan juga berkat kemampuan mereka masing - masing. Aku hanya membantu sedikit. " Ucap Xi, sedikit merendah pada Ran, karena ia tidak ingin terlihat menonjol di hadapan banyak orang.


Ran tertawa kecil sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia berkata kepada Xi " Tidak perlu merendah seperti itu, aku yakin kau orang yang luar biasa karena Yu yang mengatakannya. Semoga kita bisa akrab, dan menjadi rekan baik dimasadepan. " Ujar Ran sambil menjulurkan tangannya kepada Xi.


Xi menjaba tangan Ran dengan senang hati, semua itu bukan karena Ran cantik, tapi karena Aiko yang telah menganggapnya sebagai seorang saudara. " Ya, mohon bantuannya. " Balas Xi kepada Ran.


Setelah berjaba tangan, Ran melihat rekan - rekan Xi. Disana ia melihat adanya Yumiko, yang mana dia ketahui Yumiko ini adalah anak dari Ratu Elsia. Melihatnya berada di dekat Xi, Ran merasa jika Yumiko dan Xi ini memiliki hubungan yang dekat.


" Maaf keterlambatan saya menyadari Putri, saya Ran memberi hormat kepada Putri Yumiko. " Ucap Ran kepada Yumiko.


Yumiko yang melihat Ran menundukkan kepalanya untuknya merasa tidak enak. Ia pun lekas meminta Ran untuk mengangkat kepalanya kembali dengan berkata " Nona Ran, anda tidak perlu sesopan itu. Lagi pula ini di tempat umum, kau bisa berbicara santai denganku layaknya seorang teman. " Ucap Yumiko.


Ran tersenyum legah, karena Yumiko memaafkan kelancangannya barusan. Ia pun mengangkat kepalanya, sambil berkata " Putri, sepertinya anda memiliki hubungan yang dekat dengan Xi, apakah kalian berdua pasangan? Kalau iya, maafkan saya dan adik saya karena sudah lancang. Melihat pria yang gagah, dan selalu tenang ini membuat saya tertarik pada awalnya. Sangat berbeda dengan seorang pria yang saya kenal ini begitu kekanak - kanakan. " Ucap Ran kepada Yumiko.


Wajahnya memerah saat Ran mengatakan dirinya dan Xi adalah pasangan. Ia malu untuk mengatakannya, tapi mendengar nya juga membuatnya senang. " Tidak, tidak apa... Dan juga, aku dan Xi... " Ucap Yumiko malu - malu untuk mengakuinya.


Walau bersikap tenang seolah tidak mendengar apa pun. Tapi dalam hatinya ia juga merasa malu. Xi pun berpikir keras, ia mencoba untuk mencari sebuah alasan untuk mengubah topik pembicaraan. Karena jika terus membicarakan ini, membuatnya semakin malu.


Di saat Xi kebingungan untuk mencari topik, tiba - tiba Aiko menyeletop dan menanyakan sesuatu kepada Xi dengan penuh semangat.


" Kak Xi, kita kan sudah lama tidak bertemu, aku tahu kak Xi sangat kuat. Tapi, seberapa kuat dirimu yang sekarang? Apakah kau sudah bisa mengalahkan naga? " Tanya Aiko kepada Xi dengan penuh semangat dan juga penasaran.


Xi yang mendengar pertanyaan Aiko, ia pun legah karena Aiko membantunya mengalihkan topik pembicaraan. Namun Ran yang mendengarnya malah merasa malu karena Aiko menanyakan sesuatu yang begitu mustahil. Ia pun menarik telinga Aiko, karena sudah menanyakan sesuatu hal yang konyol kepada Xi.


" Hal konyol apa lagi yang kau tanyakan? Selamah apa pun seekor naga tetaplah seekor naga. Mereka makhluk yang kuat dan agresif, sangat teritorial dan membenci semua makhluk yang memasuki teritorialnya. Seekor naga yang masih muda saja mampu meratakan sebuah kota, apa lagi yang sudah dewasa, pastinya sudah mampu menghancurkan sebuah negara. Menanyakan itu kepada kakak mu bukankah itu hal yang bodoh? " Ujar Ran kepada Aiko sambil memarahinya karena terlalu blak - blakan.


" Eee, emang apa salahnya? Kan aku hanya bertanya! " Ucap Aiko.


" Jika kau bertanya aku sekuat apa aku juga tidak tahu, tapi jika kau bertanya apakah aku sudah pernah mengalahkan naga? Ya, aku pernah. Aku pernah mengalahkan seekor dragon king yang saat itu mengamuk di kekaisaran. " Jawab Xi, ia pun menunjukkan buktinya dengan menunjukkan sebuah bola mata naga dari Dragon King Drozan yang pernah ia kalahkan dulu. Melihat mata naga yang besarnya bahkan melebihi telapak tangan Xi, bahkan saat sudah di perkecil. Itu membuat semua orang terkejut, yang mana mereka dapat melihat dengan jelas itu benar - benar mata seekor naga. Bahkan hanya dengan melihat bagian tubuhnya dari naga yang sudah mati, masih memberikan perasaan ancaman untuk mereka. " Ini aku dapatkan dari Dragon King yang sudah aku kalahkan saat bertarung melawannya. " Lanjut Xi.


" Kau... Kau membunuh seekor dragon king? Bahkan ayahku yang membawa banyak pasukan saja tidak mampu tuk melukai naga setingkat dragon king. " Ucap Girad dengan tidak percaya. Namun, melihat bukti di depan matanya, kini ia sadar seberapa besar perbedaan kekuatan antara dirinya dan Xi. Seseorang yang bisa mengalahkan seekor naga sudahlah hebat, tapi membunuh seekor dragon king ini terlalu luar biasa. Di dunia ini, bahkan para lima pahlawan tidak ada di antara mereka yang pernah membunuh dragon king. Malahan, mereka yang di bantai oleh dragon King.


" Tidak heran kenapa begitu banyak wanita cantik di sisinya, ternyata dia sekuat ini. Itu artinya, di generasi kami, pemuda ini adalah yang paling kuat, dan yang terbaik di antara yang terbaik. Pemuda terkuat sekaligus petualang terkuat saat ini adalah dia. Jika aku berhadapan dengannya... Sudah pasti aku bukan tandingannya. Menjadikannya musuh terlalu berbahaya, aku bersyukur karena Yu berteman baik dengannya. " Ujar Girad dalam hatinya. Memikirkan Xi yang mampu membunuh dragon king, sudah membuatnya stres. Apa lagi jika menjadikannya musuh, pasti akan menjadi bencana untuk negaranya. Karena hal itu, ia pun merubah pandangannya terhadap Xi, dan membiarkan Yu berteman baik dengannya, agar dapat menjalin buhungan persahabatan yang baik di masa depan. Dan tentu saja, berhubungan seseorang yang luar biasa pasti sangat menguntungkan.


" Kak Xi... Kau benar - benar luar biasa! " Puji Yu.


" Waaaa, keren sekali. Karena kak Xi yang mengatakan sendiri, tentu aku mempercayainya! Ini keren, terlalu keren! " Ujar Aiko. Sambil memuji kehebatan Xi, ia juga dengan penasaran dan penuh semangat memegang dan menyentuh mata naga yang ada di telapak tangan Xi.


Melihat kenyataan tersebut, Nue dan Ciarra menyadari sesuatu. Bahwa kekuatan yang mereka banggakan saat ini tidaklah dapat di bandingkan dengan tuan mereka. Dapat di akui bahwa diri mereka itu kuat, dan yang terbaik di antara yang terbaik. Tapi, membandingkan prestasi mereka dengan tuan mereka, membuat mereka sadar betapa lemahnya diri mereka di hadapan tuannya. Tuannya sudah terlalu kuat.


" Jadi selama ini, saat ia bertarung denganku malam itu... Itu bukan hanya sekadar kebetulan. Tapi sudah di rencanakan olehnya... Dan selama pertarungan malam itu, bahkan ketika kami sudah serius... Seperti tuan belum mengeluarkan kekuatan penuhnya. " Ujar Nue dalam hatinya. Ia menyadari kala itu, mereka memang sudah melakukan kesalahan, hingga mereka begitu sial karena bertemu dengan Xi yang lebih kuat dari mereka. Tetapi, Nue tidak menyesal, malahan ia senang karena dapat bertemu dengan seseorang yang kuat. Ini menjadikan pengalaman sekaligus pembelajaran hidup untuknya. Bahwa ia tidak boleh meremehkan orang lain selemah apa pun orang itu, karena ia tidak akan tahu seberapa besar kekuatan yang di sembunyikan oleh orang itu.


Ciarra dalam hatinya berkata " Tidak heran dia mampu mengalahkan aku dan Nue, ternyata tuan ini orang yang luar biasa. Tapi, dengan kekuatan sebesar ini, kenapa ia masih membutuhkan kami? Padahal ia bisa mencapai pencapaian yang lebih besar tanpa bantuan kami. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi mengikuti tuan merupakan keputusan yang tepat. Aku harus menjadi lebih kuat lagi agar bisa terus mengikutinya walau itu hanya dari belakang. " Ciarra termotifasi untuk menjadi lebih kuat ketika tahu Xi mampu membunuh dragon king. Ia pun menjadi lebih bersemangat lagi untuk menjadi lebih kuat, dan lebih kuat lagi agar dirinya dapat terus mengikuti Xi ke perjalanan yang lebih jauh dan lebih luas dimasa depan.


" Kak Xi, karena kau sudah pernah mengalahkan seekor naga, apakah kau tertarik untuk melawan naga lagi? " Tanya Aiko kepada Xi.


Xi tersenyum ringan, menjawab pertanyaan Aiko dengan pelan " Ya, jika memang itu ada, aku ingin menghadapinya. " Jawab Xi yang tertarik. Karena setahunnya hanya dragon king lah yang dapat membuatnya bertarung dengan kekuatan penuh.


" Benarkah? Kalau begitu kenapa kita tidak ke sarang naga sekarang? Di hutan besar Green Forest ini terdapat sarang naga tanah. Naga itu sangat kuat, dulunya ia pernah membantai banyak petualang yang memasuki wilayahnya... " Ucap Aiko dengan penuh semangat. Ia ingin mengajak Xi ke sarang seekor naga tanah yang masih berada di wilayah hutan besar Green Forest. Lebih tepatnya adalah perbatasan antara hutan besar Green Forest dan Swamp Forest. Tapi, saat ia ingin mengatakan lokasinya sarang naganya berada, ia berhanti berbicara karena mendengar suara teriakan seseorang.


" TOLONG! TOLONG KAMI! HAH, HAH... KITA SEMUA DALAM MASALAH SEKARANG! ADA MONSTER YANG SEDANG BERGERAK KEMARI DALAM JUMLAH BESAR! " Teriak seorang petualang yang tergesah - gesah dan di penuhi oleh banyak luka di tubuhnya. Tidak hanya dirinya, tapi juga semua anggota partynya semua juga terluka. Bahkan beberapa di antara mereka sudah tidak sadarkan diri.


Sontak teriakan pria itu membuat semua orang sangat terkejut sekaligus panik. Mereka tidak percaya jika ada monster dalam jumlah besar sedang bergerak. Tapi, melihat pria itu dan anggota patinya terluka parah dan ketakutan, mereka pun berpikir kembali tentang apa yang di katakan oleh pria tersebut. Jika memang ada monster dalam jumlah besar sedang menuju ke arah mereka, sudah jelas kalau mereka saat ini sedang dalam masalah.

__ADS_1


__ADS_2