LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM

LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM
CH. 211


__ADS_3

Pertempuran berlangsung sangat lama, para monster yang mencoba untuk menginvasi hutan kematian, mereka sangat di sulitkan oleh para monster yang muncul dari hutan kematian, terutama para iblis yang juga ikut bertempur menambahkan kesulitan bagi mereka yang ingin menginvasi.


Para iblis punya kendali yang baik dalam menggunakan sihirnya, dalam pertarungan mereka sangat kuat berhadapan dengan lawan mereka, serta raja mayat yang ikut bertempur, ia menghabisi musuh - musuhnya dengan mudah, tidak satu pun dari para monster itu yang bisa berhadapan dengan raja mayat.


Sampai saatnya tiba raja mayat di serang lalu di hempaskan beberapa meter dari tempatnya oleh seekor monster.


" Kekeke dasar lemah, hanya seginikah kemampuan mu? " Ucap Pemimpin dari High troll, ia menggunakan gada besarnya untuk menghempaskan raja mayat.


Raja mayat memandangi Pemimpin High Troll itu dengan sinis, mengcengkramkan tangannya pada tanah dengan kuat, serta menguatkan kakinya. Dengan cepat ia melompat menuju pemimpin High Troll dan memukulnya.


Pemimpin High Troll menahan pukulan dari raja mayat dengan gada besar, gelombang kejut yang mereka hasilkan membuat beberapa monster yang di sekitar mereka terhempas. Mereka pun saling berhadapan satu sama lain, salinh menukarkan serangan mereka.


Pemimpin dari ras Oni Hanssassi dengan pedangnya ia mengalahkan banyak monster yang menginvasi membuat dirinya menjadi sasaran dari pemimpin suku Ogre, mereka saling bertukar serangan sejak lama. Pertarungan mereka membaut kerusakan yang besar di tanah.


" Hanya seginikah kemampuan mu? " Ujar pemimpin suku Ogre sambil meremehkan Hanssassi.


Sambil menahan serangan dari musuhnya itu ia menjawab " Ha ini belum seberapa. " Ucapnya lalu memblokir serangan selanjutnya dari pemimpin suku Ogre.


" Ke kau cuma omong besar saja, kemampuanmu sungguh memalukan! " Ucap pemimpin suku Ogre menganggap remeh musuhnya.


" He baiklah aku akan serius... Jujur saja aku gak mau pake Skill ini... " Ucapnya sambil menutup matanya, lalu ia membuka matanya perlahan sambil bergumam ' Sebenarnya aku ingin memberikan skill ini kepada tuanku sebagai hadia, tapi orang ini sungguh memaksaku menggunakannya. ' Ujarnya dalam hati.


Seketika aura di sekitarnya berubah, energi sihir miliknya meningkat drastis, dirinya di selimuti dengan aura merah yang menyelah.


Hanssassi menebaskan pedangnya kepada pemimpin suku Ogre, dan membuatnya termundur beberapa meter dari tempatnya. Melihat kekuatan yang di miliki oleh Hanssassi, ia sungguh terkejut, karena serangan Hanssassi membuatnya terpukul mundur.


' Kekuatan yang luar biasa... Dia benar - benar serius, aku harus mengakhiri ini dengan cepat! ' Ujar pemimpin Ogre dalam hatinya.

__ADS_1


Ia beradu pedang dengan Hanssassi, pertarungan mereka sangat sengit, namun perlahan kekuatan milik Hanssassi bertambah semakin kuat, dan membuatnya di tekan sedikit demi sedikit.


Hanssassi saat ini ia sedang dalam mode amukan dari skill yang ia gunakan, walau bukan sebuah Skill awakening tapi skill tersebut adalah skill yang spesial dan lebih spesial di antara skill lainnya.


Skill seri tujuh dosa besar, dosa amarah. Saat ini Hanssassi tenggelam dalam amarahnya karena skill wrath miliknya. Ia mendapatkan skill seri tujuh dosa besar karena kemarahannya akan kehilangan kekuarganya yang hanya menyiskan putrinya seorang saja, saat itu ia sangat marah hingga membantai semua orang yang ada di hadapannya, tidak peduli siapa pun itu, lawan mau pun kawan ia membantai semuanya.


Sampai akhirnya ia tersadar karena tangisan dari putrinya, dan membuatnya menjadi tenang dan kembali mendapatkan kesadarannya kemabli, dan saat itu ia berpikir untuk tidak menggunakan skill miliknya lagi.


Sementara yang lain di sibukan oleh para monster, lord orc disaster yang mengamuk, ia berhadapan satu lawan satu dengan Airis. Lord orc disaster yang menyerang Airis dengan membabi buta, ia terus melancarkan serangannya tanpa henti, namun tidak satu pun dari serangannya berhasil mengenai Airis.


Airis menunjukkan ekspresi yang sangat tenang saat menghindari semua serangan dari Orc Lord Disaster, baginya serangan dari Orc Lord Disaster tidak secepat serangan monster lain yang ada di dalam labirin.


Setiap harinya ia selalu sparing berhadapan dengan Ranbel untuk mengasa kemampuan berpedangnya, ia juga mendapatkan banyak pelajaran dari Ranbel, karena hal itu membuatnya sangat percaya diri untuk menghadapi musuh - musuhnya.


Ia menarik katananya dengan cepat, dalam sekali tebasannya membuat satu tangan dari Orc Lord Disaster terputus.


" AAAAARRRRGGGG!! " Orc Lord Disaster berteriak sangat keras karena kesakitan. Namun ia mengabaikan rasa sakit itu dan melanjutkan untuk menyerang Airis. Tidak satu pun serangannya berhasil mengenai Airis, hal itu membuatnya sangat kesal.


" Kau lumayan juga, tidak aku sangkah ada orang sekuat dirimu! " Ucap Goblin Emperor kepada Karina.


" Jangan salah paham... Masih ada orang yang lebih kuat lagi yang belum muncul. " Balas Karina.


Mereka melanjutkan pertarungan mereka, saling menghantamkan senjata mereka untuk menentukan pemenang di antara mereka berdua. Pertarungan yang sengit berlangsung sangat lama, setiap terjadinya benturan antara dua senjata menyebabkan hembusan angin yang kuat di sekitar mereka.


Pertempuran yang berlangsung cukup lama membuat darah berjatuhan membasahi tanah, gerombolan monster yang masih hidup terus maju kedepan, mengijak mayat rekan mereka dengan kaki mereka yang di lumuri oleh darah rekan mereka sendiri. Tidak ada kata mundur dalam pertarungan mereka.


Jauh di belakang, Astia memunculkan lima bolah cahaya dan menembakkannya ke segala arah. Menyebabkan lima ledakan di tempat yang berbeda beda, kelima serangan itu berhasil membunuh banyak monster yang ingin menginvasi hutan kematian.

__ADS_1


Sambil terseyum manis, ia memunculkan banyak sekali bola cahaya di belakangnya, dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. Semua bola cahaya itu ia tembakkan ke arah para monster, menyebabkan tubuh mereka semua berlubang karena terkena serangan Astia.


" Kau penyihir sialan!! Aku akan membunuhmu!! " Ucap Pemimpin High Orc dengan kesal, ia menerobos dengan cepat melewati para undead yang menghalangi dirinya. Sambil memegang senjata yang berupa seperti sebuah pisau yang besar, ia berlari menuju Astia.


Astia terseyum, lalu memunculkan sebuah bola mana, sihir tingkat rendah yang biasa di gunakan oleh penyihir tier bawah. " Coba kau tahan ini... " Ucap Astia sambil terseyum dan melepaskan bola mana.


Dengan cepat bola mana itu menuju High Orc Lord, namun dengan satu gerakan senjata yang ada di tangannya, ia berhasil membelokkan arah serangan dari bola mana milik Astia.


Akan tetapi serangan yang ia belokkan mengenai monster lainnya yang sedang bertarung, dan membuat monster yang terkena serangan itu mati.


" Sungguh ironisnya pengorbanan rekanmu. " Ujar Astia sambil terseyum.


" Diam!! Kau yang membuatnya mati!! " Balasnya dengan keras tanpa menghentikan langkahnya.


" Biasanya aku akan menggunakan sihir yang kuat untuk membunuh musuh seperti kalian, tapi akan lebih baik jika kalian menjadi prajurit kegelapan milik Xi - Sama. " Ucap Astia memunculkan banyak tombak cahaya di belakangnya. Mengarahkan semua tombak cahaya yang ia buat kepada para monster lalu melepaskannya.


Tombak cahaya yang bergerak dengan sangat cepat menembus tubuh para monster, dan membuat mereka mati di tempat. Pemimpin dari High Orc terkena beberapa tombak cahaya milik Astia namun tombak cahaya itu tidak menembus tubuhnya.


" Sialan... Serangannya menembus kulitku! " Ujar Pemimpin High Orc.


Astia terseyum saat melihat serangannya miliknya tidak menembus kulit musuhnya " Kau punya kulit yang tebal di antara yang lainnya, gak heran dirimu bisa menjadi pemimpin mereka. " Ujar Astia memuji ketahanan yang dimiliki oleh Pemimpin High Orc Lord. " Selanjutnya akan sedikit lebih kuat. " Ucap Astia memunculkan beberapa tombak cahaya di belakangnya. Melepaskan tombak cahaya itu kepada pemimpin High Orc.


Segerah ia memblokir serangan Astia dengan senjata yang ia pegang dengan cara mengkis semuanya. Serangan yang begitu cepat dapat ia tangkis, namun satu tombak cahaya melewati wajahnya dan menyebabkan sedikit goresan pada wajahnya.


Ia teralihkan pada tombak cahaya yang menggores wajahnya, hingga serangan Astia yang selanjutnya mengenai tangannya yang sedang memegang senjatanya itu.


" ARGG!! "

__ADS_1


Serangan lain pun mengenai dirinya, mulai dari kedua lututnya, kedua bahunya, dan beberapa menembus badannya, hingga membuat beberapa tombak cahaya menancap pada tubuhnya.


Ia pun menatap Astia yang telah menyiapkan serangan terakhirnya yang beripa tombak cahaya yang ukurannya lebih kecil dari sebelumnya. Ia melihat Astia yang terseyum dengan mata Astia yang juga tertutup membuat dirinya gemetaran. Ia ingin berteriak, namun sebauh tombak cahaya menancap di mulutnya dan merusak pita suara miliknya, sehingga dirinya tidak dapat mengeluarkan sebuah suara sedikit pun.


__ADS_2